Musibah botol infus

2176 Words
Pagi harinya, kami di bangunkan oleh kakak-kakak yang juga dinas lapangan sama seperti kami. Begitu nyawa terkumpul, kami pun sama-sama terkejut. Pasalnya, yang rencana awal mau bangun subuh, malah ketiduran lanjut sampai jam setengah 8 pagi. Kami sama-sama takut kena' marah, karena pasti udah ditunggui sama yang lainnya. Jam segini itu, seharusnya kami dah kumpul untuk absen dan bersiap-siap pulang. "Nyenyak kali tidurnya klen, dek? Gak tau klen kan, dah dicariin klen daritadi. Untung ada yang liat klen tidur disini semalam. Kalo' gak, di tinggal pulang lah klen" Kakak itu berujar sambil geleng-geleng kepala dan tertawa ringan, melihat rupa kami yang baru bangun tidur. 'Pasti abang-abang semalem ini yang ngasih tau kami ada disini' Ujarku dalam hati sambil pandang-pandangan dengan Tria dan Anggi, mendengar kata-kata kakak yang membangunkan kami ini. "Emang siapa kak yang ngasih tau kami tidur disitu, kak?" Tanya Tria penasaran, walaupun sudah tau siapa orangnya. "Itu... ada 1 orang dari Akper Wira yang ngasih tau" Jawab kakak itu sambil berjalan ke ruang Nurse station. Tria menatapku sambil menjawab "Ohhh...". Dalam hati, kami membenarkan jawaban awal kami. Sambil membuntuti kakak tadi ke ruang Nurse station, kami harap-harap cemas. Takut kena' marah karena ketiduran dan terlambat bangun. Sampai ruangan Nurse station, benar saja sudah pada kumpul semua dan sedang menunggu kami. Tanpa ba-bi-bu kami pun disambut dengan sorakan dari para pegawai. "Oowwhhh... Inilah yang dicari-cari daritadi, baru nongol. Dimananya klen tidur, dek??? Nyenyak kali klen tidur, iya?? Muka klen pun masih kusut gitu?! Belom cuci muka klen kan???" Sambil geleng-geleng kepala para pegawai menanyai kami. "Di gudang orang ini tidur kak" Jawab kakak-kakak yang menjemput kami tadi. "Enak kali orang ini tidur kak. Kasur yang di gudang di susun orang itu kak, jadi tempat tidur. Nyaman lah tidurnya" Sambung kakak tadi sambil tertawa. "Pande kali klen yaa?? Kenapa sampek kesana klen tidurnya?? Disini pun bisanya tidur, dek. Enggaknya kami larang-larang klen tidur, loh deeekkk. Ngertinya kami kalo' ngantuk klen, kan??? Karena kami pun sama dek" Jelas kakak pegawainya panjang lebar. "Nanti malam masih dinas disini klen kan, selama seminggu ini??? Tanyanya. "Iya, kak" Jawab kami serentak. "Yaudah, nanti malam sama-sama kita tidur disini, ya dek??" Peringatnya kemudian. "Iya, kak". "Tapi, yang perempuan aja tidur di dalam. Yang laki-laki terserah tidur dimana, asalkan masih di ruangan 9 ini" Peringatnya lagi. "Iya, kak" Ucap kami lagi dengan serempak. Setelah itu, kami mulai absen pulang. Lalu bersiap-siap untuk menuju ke peraduan masing-masing. "Buk, yok lah pulang kita. Masih ngantok aku looohhhh..!!" Ujar Tria. "Iya, aku pun rasanya masih ngantok kali pun. Asalkan jangan ketiduran di angkot aja nanti kita. Hahaha..." Jawabku sambil tertawa. Kami pun melangkah menuju ke luar rumah sakit. Sebelum pulang kami sempatkan membeli sarapan dahulu, agar nanti tidak perlu bolak-balik kesana-kemari mencari makanan kembali. Sesampainya di kos, ku buka jilbabku. Belum lagi ku tanggalkan baju yang ku pakai, langsung ku buka makanan yang ku beli tadi. Perut ku sudah meronta-ronta minta diisi daritadi. Selesai acara ganjal-mengganjal perut, barulah ku lanjutkan dengan menyegarkan badan. Tak lupa sekalian aku mencuci baju kotor yang sudah lumayan menumpuk, karena beberapa hari ini hayati berasa lelah bangetzz. Masalah perut sudah, menyegarkan badan juga sudah, sekarang di lanjut dengan merebahkan diri kembali. Mencoba untuk menyambung mimpi-mimpi indah yang sempat terpotong tadi pagi, karena di bangunkan paksa oleh keadaan. Beberapa jam kemudian... Aku menggerakkan-gerakkan badan ku ke kanan dan kiri. Di lanjut kemudian dengan mengangkat kedua tangan ku ke atas. Peregangan. Barulah setelah itu ku buka mataku perlahan, mencoba berkolaborasi dengan cahaya terang yang sedikit demi sedikit masuk menerobos ke dalam mata. Mengusap wajah yang kusut sambil menguap. Lalu mendesah lega. Aaaahhhhh... Nyamannyaaa... Memang benar kan, senyaman-nyamannya tidur di luar sana, lebih nyaman di kamar sendiri. Mau awak tidur sambil ngorok kek, mau sambil nunggiing keekkk... Gak kan ada yang tau dan protes. Tull tak??? Sambil mengumpulkan nyawa yang masih di awang-awang, aku masih bermalas-malasan di tempat tidur. Tok... tok... tok... "Ai, masih tidurnya dirimu?? Dah siang ini looohhh... Gak laper kau??" Suara Kak Umil mengusik khayalan panjang ku. "Hmmm... Iya, kak. Dah bangun aku kok" Sahutku padanya. Lalu beranjak membuka pintu. Terlihatlah senyum manis tetangga sebelah dinding kamarku ini. "Kakak belom beli makan rupanya??" Tanyaku heran, biasanya sambil jalan pulang kak Umil langsung beli lauk tuk makan siangnya. Yang ku lihat, dia masih rapi kok dengan baju kuliahnya. Kayaknya pun, dia baru pulang. Terlihat dari dia yang masih menyandang tas di pundaknya. Cuman, mukaknya dah sedikit kucel. Teringat beberapa hari belakangan ini dia dan kawan-kawannya sedang sibuk melakukan tinjauan ke beberapa perusahaan tuk tugas lapangan mereka nanti. "Belom lah..! Makanya, kakak mau ngajak kau makan" Jawabnya agak ngegas, mungkin bawaan cuaca yang hari ini terasa lebih terik daripada biasanya, dan mungkin juga karena cacing-cacing yang di dalam perutnya sudah mengadakan demo besar-besaran. "Hehehe... Ya udah looohhhh... Gak usah ngegas gitu" Aku cekikikan liat wajahnya yang mulai belang karena tersengat sinar matahari. Biar cepat dan lebih efisien katanya, jadi dia merelakan wajahnya yang putih mulus itu terbakar sambil motor-motoran kesana-kemari. "Kok, item??" Usilku sambil mentoel pipinya. "Jerawatan lagi" Lanjutku memanasi. "Biasanya kata orang nih yaaa... Yang lagi berjerawat itu berarti lagi berbunga-bunga hatinya, makanya untuk mengungkapkannya dengan tumbuhlah itu bunga-bunga cinta yang bertebaran di wajjah tuu wajhiyyah. Lah iniii... bunga taiikk ayam. Hahahaha... Udah item, beruntusan pulak. Noh, apalagi noh yang bintik-bintik di hidung?? Tanda lokasi yaa??? Kayak GPS. Hahahaha..." Puas aku meledeknya sampek sakit perut. "Monyyett laaahhh..." Makinya. "Gak usah kau urus-urus mukak ku yaaa...!! Ini yang namanya perjuangan di akhir semester!! Belom aja kau rasakan!!" Jawabnya dengan menggebu. "Ehh... kita perjuangannya gak panas-panasan sambil wara-wiri motoran ya buuukkk...! Kita adem ayem ngeremnya di rumah sakit. Pergi rapi, pulangnya juga rapi tuh! Emang situ yang heboh sana-sini dah kayak kang ojek! Hahahaha... Kang ojek mah enak masih di bayar, lah situ malah ngeluarin dollar buat minyak" Balasku lagi. Beginilah kami kalau sudah jumpa, rame. Makanya, kalau ada yang pulkam pasti rindunya tuh ngalahin rindu sama ayang. hehehe... Perasaan punya ayang. Hahahaha... Adaaa... Tapi, masih belom jelas hilalnya dimana. Hahahaha... Sama aja bohong duuuunngggg... "Udah lah, ayookkk! Cari makan kita, kecian nanti baby cak nya guling-guling di dalem cini karena belom di kasih jatah makan sama mbokke" Ucapnya nelangsa. "Cup.. cup.. cup.. cuuuppp... Syabar yua sayooonnnggg. Onti mau cuci muka and hapus iler dulu, baru kita let's gooo... Okray..." Ku elus perutnya sambil berucap, lalu ku acungkan jempol ku sebagai tanda kesepakatan bersama. "Ocay... ocay..." Jawab si emak baby cak sambil membentuk bulat jari telunjuk dan jempolnya. Setelah beberapa ratus tahun kemudian... Ceileeeee "Udah?" Si emak baby cak ku liat melongokkan mukaknya dari balik pintu kamarnya, mendengar aku membuka pintu kamar ku kembali. "Udah, yuk" Ajakku sambil menutup pintu. Berhubung anak kos, jadi kami mencari makanan yang murah tapi mengenyangkan. Dimana lagi tempatnya kalau seputaran Dr.Mansur??? Yaaa... di rumah makan Zam-zam lah tempatnya. Yang kuliah seputaran jalan Dr.Mansur pasti ngerti dong! Selesai makan, kami kembali ke kos. Kami kembali pada aktivitas kami masing-masing. Aku dengan laporan tugas ku, sedang kak Umil langsung ngedekem di dalam kamarnya entah apa yg di kerjaannya. Berhubung sudah sore, baju-baju yang ku cuci tadi ku angkat dan ku lipat rapi. Menunggu waktu dinas, aku pun merapikan kamar ku. Lalu mengisi perutku. Karena selesai Maghrib, waktunya bersiap-siap meluncur ke lapangan. Tepat pukul 7, aku pun berangkat ke rumah sakit. Tak lupa pamitan pada tetangga sebelah kamarku. Seperti biasa, ku lalui jalanan dengan menaiki angkot. Jam segini lagi rame-ramenya di jalanan. Banyak yang hilir mudik pulang dari bekerja atau mungkin ada juga yang berangkat bekerja seperti aku sekarang ini. Karena memang jadwalnya dinas malam di rumah sakit jam 8 malam. Sesampainya di ruangan, ku lihat sudah banyak yang berkumpul. Aku pun ikut bergabung, setelah menyimpan tas ku terlebih dahulu. "Dek, cak kau carikan dulu anak dari Akper Wira itu dek. Dari semalam ku tengok gak ada yang nampak satu pun batang hidungnya" Perintah kakak pegawai kepada ku. "Haa?? Emangnya ada kak anak Akper Wira yang dinas disini?? Akper Wira yang dimana itu kak??" Tanyaku bingung. "Ehh... Aku juga baru dengar loh kak, kalo' ada Akper Wira" Sambung Tria juga penasaran bertanya. "Ihh ada loh dek. Gak pernah klen dengar rupanya??" Heran pegawainya liat kami yang kayak orang kebingungan. "Enggak, kak" Sahut Tria. "Ada loohhh... Masa' belum jumpa klen?? Ada itu 2 orang, laki-laki. Yang 1 besar tinggi pakek kacamata. Yang 1 lagi juga tinggi, ganteng kayak orang India gitu mukaknya. Yang pakek kacamata siapa namanya?? Kok lupa aku, yaaa???" Ucapnya sambil mengerutkan dahi karena lagi mengingat nama anak Akper Wira tadi. "Si Heri, kalo' gak salah namanya yang besar tinggi pakek kacamata kan??" Di bantu jawab oleh kakak pegawai yang lainnya. "Oohh... Iya, yang 1 namanya Heri. Yang 1 lagi siapa?? Tanjung-tanjung gitu kan marganya" Tanyanya memastikan kepada kawannya yang lain. "Haa... Iyaaa, itu. Aku pun gak ingat yang 1 lagi namanya, yang ku ingat cuma marganya" Jawab yang lainnya. "Pokoknya, sebelum kau dapat orang itu berdua, jangan balek kau ya dek?? Pokoknya harus kau bawa orang itu berdua, baru boleh kau balek. Tugasmu ini sekarang. Siapa namamu dek?" Tanyanya. "Aida, kak" Jawabku pasrah. "Pokoknya sebelum dapat kau orang itu, jangan kau balek. Paham??" Perintahnya lagi. "Paham, kak" Dengan langkah gontaii, aku keluar ruangan Nurse station tuk mencari 2 orang kandidat tersangka DPO (Daftar Pencarian Orang). Dan gegara tuh 2 orang, jadi aku yang repot. Mana belum kenal lagi sama orangnya yang mana. Haaahhh... Lalu, ku lihat ada 1 orang laki-laki seperti yang dibilang kakak pegawai tadi ciri-cirinya. Ku datangi langsung orangnya. Mungkin karna merasa diperhatikan, yang tadinya pandangannya menunduk mengarah ke ponselnya, sekarang langsung mendongak dan langsung tersenyum manis melihat kedatanganku. "Abang, bang Tanjung ya???" Tanyaku sambil menunjuk tepat ke arah wajahnya. Ehh... Dianya cuma mengangguk sambil senyum-senyum. Langsung menyimpan ponselnya ke dalam saku celana, sambil berdiri tegak di hadapan ku. Tinggi siiihhh... Aku aja sampek ndungak liatnya (menengadahkan kepala ke atas). "Abang di cariin tuh, sama kakak pegawainya!!" Ucapku agak kesal karena ngeliat dia yang masih senyum-senyum gak jolas gitu. Manis siiihhh... Tapi, apa gak pegal tuh pipi senam mulu!! Ehh... Dianya juga masih tetap senyum aja sambil manggut-manggut, dah persis kayak burrung kutilang. Karena merasa sudah ketemu, aku pun langsung balik badan dan melangkah ke ruangan Nurse station lagi, dengan maksud ingin menyerahkan tersangka DPO ini. Tapi, baru beberapa langkah aku baru ingat sama kawannya yang 1 orang lagi. "Kawan Abang yang 1 lagi, mana?? Dicariin juga tuh" Ujarku sambil melangkah. "Masih di bawah dia, nungguin kawan yang lain" Jawabnya. Begitu hampir sampai ke ruangan, lengan bajuku di tariknya. Mau gak mau ya aku pun berhenti dan balik badan melihat ke arahnya. "Apa sih bang, narik-narik bajuku??" Kesalku. "Tadi, adek disuruh nyari Abang mau ngapain?? Kok Abang jadi takut, ya??" Ujarnya sambil berusaha melindungi diri di balik tubuhku. "Ya, gak tauuu... Makanya, dinas jangan lari-larian, dicariin kan jadinya!! Kena' marah baru tau loohhh..." Ku takuti aja sekalian. "Abang gak lari-larian loohh...! Cuma sering menghindar ke ruang radiologi aja, tempat kawan Abang. Disana sepi, jadi enak kalo' mau tiduran. Hehehe..." Ucapnya tanpa dosa. "Tuh kaaannn...!! Ku aduin yaa sama kakak pegawainya!!" Ancamku. "Janganlah dek, nanti Abang kena' marah. Gak kasian adek liat Abang??" Ucapnya sok melas. "Ya udah, ayoklah. Ngapain pula jadi berondok disini kita??" Ajakku sambil menarik tangan ku, yang masih di gandolinya. Ku tinggalkan dia, mau tak mau dia pun ikut masuk juga. "Haaa... Ini dia anak Akper Wira, itu kan?! Ehh.. mana kawan mu yang 1 lagi, dek?" Tanya pegawainya sambil celingukan mencari kawannya. "Masih di bawah dia, kak" Jawabnya sambil mencari tempat duduk, tepat di depan ku. Lagi-lagi dia tersenyum melihat ku. Tak lama muncul kawannya. Akhirnya mereka berdua habis di interogasi oleh para pegawai. Dan sebagai hukumannya, mereka di suruh merapikan lemari tempat penyimpanan cairan infus. Berhubung juga karena mereka yang lebih tinggi dibandingkan kami semuanya, makanya mereka yang disuruh. Pas lagi beberes, bang Tanjung tiba-tiba berdiri dari posisi jongkoknya. Pas kebetulan juga, pintu lemari yang terbuka malah bergeser. Karena gak lihat-lihat, akhirnya punggungnya menabrak pintu lemari yang terbuka tadi. Bruuukkk Upss... Pasti sakit kan ya, kena ujung pintu lemari gitu. Bruukk Eehh... Dah jatuh malah ketimpa tangga pula', ku rasa itu pas kali lah mendeskripsikan keadaannya sekarang ini. Dah lah nabrak ujung pintu lemari punggungnya, malah jatuh pula' lagi 1 botol penuh cairan infus ke atas punggungnya tadi yang kebentur. Ck... ck... ck... Kesiannyaaaa... Ku rasa sakitnya ya sakit lah, tapi malunya itu yang lebih besar. Sontak kami yang ada di ruangan itupun langsung tertawa terbahak-bahak melihat kejadian tersebut. Sebenarnya ada rasa kasihan siiihhh... Tapi, lebih ke lucu aja jadinya. Dia sempat mengaduh, tapi lanjut beberes lemari juga. Setelah selesai, dia pun beranjak untuk mencari tempat duduk. Karena tempat duduknya tadi sudah di duduki oleh yang lainnya, aku pun berinisiatif memberikan tempat dudukku. Ada rasa kasihan dalam hati ku, itulah aku yang memang mudah kali iba ngelihat yang begituan. "Sini bang, duduk" Ku persilahkan dia menduduki tempat dudukku tadi. Begitu dia duduk, kuusap sayang punggungnya bekas kena' musibah tadi. Sambil berbisik, "Sakit, ya bang??" Tanyaku. Tapi, tetiba datang jahilku. "Sakit, sih sakit. Tapi, lebih besar malunya kan?? Hahaha..." Ejekku. Dia cuma bisa tertunduk, sambil menahan malu. Ya Allah... Jahatnya aku. Hahahaha...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD