Daniel pov
"Daniellll!!!" aku menoleh saat ada seseorang memanggilku, saat aku berbalik kulihat Vella sedang berlari kearahku.
"Ada apa?" tanyaku cuek dan melanjutkan jalanku, sekarang sudah jam istirahat, dan aku akan pergi ke mesji tempatku biasa melaksanakan sholat.
"Daniel kamu cepat banget jalannya, tunggu sebentar" aku menghentikan jalanku saat aku sudah sampai diparkiran, kulihat Vella menundukkan badannya.
"Huuhhh, aku capek ngejar kamu"
"Siapa suruh mengejarku, kamu bisa berjalan"
"Tapi aku memanggilmu, tak bisakah kau berhenti sejenak tadi"
"Aku sudah berhenti tadi, tapi saat aku tanya ada apa kau diam saja"
"Yah baiklah, aku hanya ingin menanyakan, apakah kau sudah menerima email dariku?"
"Belum"
"Tapi semua orang dikantor sudah menerimanya"
"Aku belum membuka email hari ini"
"Tak bisakah kau lembut saat berbicara pada wanita?"
"Tidak"
"Daniel"
Aku melihat wajahnya memerah karna sikapku yg terlalu cuek, ingin sekali rasanya aku tertawa melihat wajahnya sudah seperti tomat.
"Hahahahahahahaha" tawaku lepas begitu saja tanpa kusadari.
"Ah ya baiklah Vella, aku minta maaf, aku buru buru, aku pergi ya, nanti akan aku buka email darimu, oke" aku menaiki motorku dan pergi meninggalkannya yg kulihat masih diam mematung, dasar wanita aneh, satu hari ini kulihat dia seperti mendekatiku.
Tapi tiba tiba fikiranku teralihkan, aku tidak melihat Zahra hari ini, kemana dia, fikirku.
Vella pov
Aku masih diam mematung ditempat parkiran, entahlah, aku baru saja melihat sesuatu yg sebelumnya tak pernah aku lihat, aku baru saja melihat Daniel tertawa begitu lepas, aku perhatikan wajahnya begitu tampan, baru aku sadari semua itu.
Aku berbalik dan berjalan menuju kantin, sepanjang jalan aku terus tersenyum mengingat kejadian tadi, sungguh itu hal pertama yg aku alami seumur hidup, dan jantungku berdetak tidak seperti biasanya.
"Hai Vella, senyum senyum aja, liatin abang ya?" aku memutar bola mataku malas.
"Hei Parmin, stop mengganggu saya, okey, saya tidak pernah liatin kamu bahkan senyum senyum sama kamu, you understand?!!" ucapku lalu pergi meninggalkannya, dia salah satu karyawan biasa, dia memang suka sekali menggangguku, kuakui dia cukup tampan, tapi sikapnya yg seperti itu membuatku bosan, kudengar dia terus memanggilku, aku pun terus berjalan tanpa memperdulikannya.
Zahra pov
Mama calling...
Hpku bergetar saat aku sedang membantu mamaku memasak, kulihat mama Rian menelfonku.
"Assalamualaikum ma"
"Walaikumsalam Zah, kamu dimana?"
"Zahra dirumah ma, kenapa?"
"Ga apa apa kok Zah, mama cuma mau kabarin acara pernikahan kalian besok di hotel, mama udah pesen pake jasa WO, nanti mama sms in nama alamat hotelnya sama namanya, semuanya udah selesai kok, besok supir mama akan jemput keluarga kamu"
"Ma, kok dihotel segala, Zahra kan udah bilang kita nikahnya sederhana aja"
"Ini permintaannya Rian Zah, mama ga bisa nolak, papa Rian juga setuju, lagian dekorasinya tetep sederhana kok, mama yakin kamu suka, ga mewah mewah banget kok Zah"
"Hmm, yaudah deh ma ga apa apa, makasih ya ma, maaf kalo ngerepotin mama"
"Ga apa apa Zah, mama seneng kok liat kalian bisa bersama"
"Alhamdulillah sudah takdir Allah ma"
"Mama juga udah pesen kamar untuk kalian, setelah acara selesai kalian bisa langsung istirahat"
"Terima kasih ma"
"Sama sama Zah, oh ya kamu udah undang temen temen kamu?"
"Udah kok ma, Vella yg undangin temen temen kantor Zahra"
"Alhamdulillah, yaudah kalo gitu mama mau pergi dulu sama papa"
"Iya ma, hati hati, assalamualaikum"
"Walaikumsalam"
Aku masih tak menyangka bahwa mamanya Rian begitu antusias dengan pernikahan ini, padahal aku hanya menginginkan pernikahan yg sederhana saja, bagiku ijab qobul saja sudah cukup, tapi sudahlah tak baik mengeluhkan rezeki dari Allah, semoga Allah ridho.
Daniel pov
Aku sudah sampai dikantor saat jam istirahat berakhir, aku memasuki lift dengan karyawan kantor lainnya.
"Eh udah pada nerima email dari Vella?" ucap salah satu karyawan didepanku, aku berdiri dibagian lift paling belakang.
"Oh, soal undangan pernikahan itu, aku udah buka tadi" ucap wanita disampingnya.
"Ga nyangka ya, akhirnya mereka nikah juga, padahal udah lama banget aku ga liat mereka ketemuan kayak dulu" mereka saling mengobrol dan aku hanya mendengarkan dengan penasaran, siapa yg akan menikah sebenarnya.
"Dia kan ditugasin kerja ke luar makanya mereka ga pernah ketemu, sampe dia pulang malah langsung ngelamar, so sweet banget ada cowok kayak gitu" ucap wanita itu lagi, sampai aku ingin bertanya tiba tiba saja lift terbuka dan mereka keluar.
Aku segera menekan tombol lift agar menuju ke lantai tujuh, tak sabar aku ingin melihat isi email dari Vella, siapa yg akan menikah sebenarnya, tiba tiba saja perasaanku tidak enak, apakah dia yg akan menikah, fikiranku langsung kacau memikirkannya.
Saat lift terbuka dan sampai di lantai tujuh, aku segera keluar dan berlari menuju ruanganku.
"Daniel" kudengar Vella memanggilku, tak sengaja aku menabraknya saat berlari.
"Maaf Vella"
Aku langsung melanjutkan jalanku, saat sudah sampai aku langsung menghidupkan komputer ku, beberapa lama aku menunggu akhirnya koneksi internetnya sudah tersambung, langsung aku membuka email, jantungku terus berdetak kencang.
Aku membuka email dari Vella untuk semua orang kantor, aku benar benar sangat terkejut dengan isi email tersebut, badanku terasa sangat lemas, aku terdiam beberapa saat.
Itu benar, dia akan menikah, Zahra menikah dengan Rian, besok jam 10 pagi, ya Allah, inikah takdirmu, inikah jawabanmu untuk doa ku selama ini, mengapa begitu sakit, aku mengusap wajahku kasar.
"Bersabarlah, ini takdir Allah" aku mendongak dan melihat pak Rafi berdiri disampingku, memegang pundakku.
"Inshaa Allah aku ikhlas jika dia bahagia" aku masih menatap komputerku, masih dengan tampilan yg sama.
"Ini bukan akhir dari segalanya, percayalah Allah masih mempunyai kejutan yg sangat indah untuk mu"
"Terima kasih abi"
Dia menepuk pundakku pelan lalu pergi ke mejanya, aku masih terdiam di tempat dudukku, semangatku sudah benar benar hilang, aku bangkit dari tempat dudukku, saat ini aku benar benar membutuhkan tempat yg menenangkan hatiku.
Aku menuju ke atas gedung, mungkin tempat itu sedikit menenangkan hatiku saat ini, sudah beberapa kali aku ke tempat itu, tak ada satupun orang disana.
Aku berjalan dan berhenti ditembok pembatas, kulihat kebawah, sangat tinggi, fikirku, tapi tak ada fikiranku untuk lompat, aku menatap lurus ke depan, tak tau lagi apa yg harus aku fikirkan.
"Kau tak berniat untuk melompat kan ?" kudengar suara wanita dibelakangku, sepertinya aku mengenali suara itu, sedikit aku melihat kebelakang, dan benar saja, itu Vella, tapi kenapa dia ada disini.
"Dan kau tak berusaha menguntit kemana aku pergi kan?" ku dengar dia tertawa kecil.
"Untuk apa? Ini juga bukan tempatmu saja, aku sering kesini bersama Zahra, lalu kau, sejak kapan tau tempat ini?" ucapnya yg menyebut nama itu, membuatku mengingat kembali undangan itu.
"Bukan urusanmu" aku benar benar tak ingin berdebat saat ini.
"Yah, memang bukan urusanku" kulihat dia berdiri disampingku namun jarak kami cukup jauh.
"Besok kau akan datang?" ucapnya saat kami diam untuk beberapa saat.
"Bukan urusanmu!!!"
"Heyyyy, aku hanya bertanya, aku tau memang bukan urusanku, tapi tak bisakah kau menjawab pertanyaanku!!" kulihat wajahnya memerah karna emosi, dan aku slalu ingin tertawa melihat wajah lucu nya itu.
Aku menahan tawaku dan memalingkan wajahku ke arah lain agar dia tak melihat wajahku.
"Maaf"
"Aku fikir kau akan mengatakan bahwa itu bukan urusanku!!!"
"Memang"
"Daniellll!!!!!!"
"Hahahahahhahahahahaha huhhh" tawaku lepas begitu saja melihat wajahnya yg lucu.
"Oke oke, maaf Vella, sungguh wajahmu sangat lucu saat kau marah"
"Bukan urusanmu!!"
"Hey itu kata kataku"
"Bukan urusanmu!!"
Sepertinya aku yg sekarang dibuatnya emosi.
"Oke kita impas, hmmm?!"
"Yah baiklah Daniel"
"Aku akan datang besok"
"Serius? Kau benar akan datang? Apakah kau sanggup melihatnya...ehm maksudku apakah kau benar akan datang?"
Aku langsung menatapnya, kulihat dia sedikit gugup.
Vella pov
"Memangnya kenapa dengan mereka?"
"Tidak apa apa, jika kau mau, kau bisa datang bersamaku setelah kita ke gereja, besok kan hari minggu, kau mau?"
"Aku tidak bisa"
"Kenapa? Apa kau tidak pergi ke gereja?"
"Tidak"
"Kenapa?"
"Bukan urusanmu!"
"Ehm ya baiklah Daniel, aku tak memaksamu, tapi aku berharap kau akan berubah fikiran, aku permisi"
Aku pergi dengan rasa sedikit kecewa, dia masih sama dengan sifatnya yg cuek, tapi aku sedikit bahagia bisa membuatnya tertawa disaat hatinya sedang sakit, semoga ini awal yg baik untukku.
Fahri pov
Aku menerima undangan lewat email dari Vella yg isinya membuatku sedikit terkejut, undangan pernikahan Zahra, tapi kenapa dia tak pernah cerita padaku bahwa secepat ini akan menikah, tiba tiba saja hatiku sedikit sakit, kenapa aku baru mengetahuinya.
Aku mencari nomor Zahra di hp ku, semoga saja aku bisa memarahinya karna tak memberitahukanku.
Calling Zahra...
"Assalamualaikum"
"Walaikumsalam"
"Ada apa mas ?"
"Seharusnya aku yg bertanya ada apa"
Kudengar dia hanya tertawa, dasar gila, fikirku.
"Tidak lucu Zahra"
"Tapi kau lucu saat tertawa"
"Yah terserahmu, dan sekarang tolong jelaskan isi dari email yg dikirim Vella"
"Yah baiklah pak tua, aku akan menikah besok dengan Rian"
"Secepat itu, kenapa tak memberitahuku?"
"Ini sudah terlalu lama untukku, maaf aku tak memberitahumu karna pasti kau akan tau nantinya"
"Jadi kau menyamakanku dengan yg lain"
"Maybe"
"Zahra"
"Haha, iya maaf pak tua, datanglah besok, orangtuaku menanyakanmu"
"Yasudah, salam untuk mereka"
"Akan kusampaikan, assalamualaikum"
"Walaikumsalam"
Aku mematikan telfonnya, hatiku benar benar tak tau lagi harus apa, hanya mencoba mengikhlaskannya sekarang, semoga dia bahagia dengan pilihannya.
♥♥♥♥♥♥♥
Mengikhlaskan adalah hal yg terbaik
Namun adalah cara yg paling sulit