Part 8 - Kebahagiaan Zahra

1019 Words
Keesokan harinya... Author pov Zahra berjalan dengan cepat menuju bandara, dia dengan semangat menjemput orangtuanya bersama 2 orang kakaknya dan suami mereka. "Ayahhhh!!!!" panggil Zahra dengan semangat. "Zahra" Zahra mencium tangan mereka satu persatu tak terkecuali keponakan Zahra yg masih kecil pun gantian menyalaminya. "Kita langsung kerumah Zahra ya" Mereka pergi menggunakan mobil Zahra. "Zah, kemarin ibunya Rian nelfon mama katanya mereka akan datang kerumah kamu" "Iya ma, mereka juga sudah mengatakan pada Zahra bahwa mereka akan datang saat mama sama ayah udah disini" Beberapa mereka berbincang melepas kangen saat diperjalanan, mereka sampai dirumah Zahra. "Zahraaaa" "Vella, sini" Vella berlari menghampiri Zahra, karna rumah mereka bersebelahan jadi tak butuh lama untuk sampai. "Vella kenalin ini keluargaku" Vella menyalami kedua orangtua Zahra dan kakaknya. "Kamu kok ga bilang keluargamu akan datang?" "Mau bikin kejutan aja" "Zah kamu apaan sih, emangnya ada sesuatu ya jadinya mereka datang, biasanya kamu yg pulang" "Ehmmm, hehe, ngobrol didalam yuk, mah ayo masuk" Mereka masuk kedalam rumah untuk sekedar istirahat setelah perjalanan jauh. Zahra mengajak Vella masuk ke kamarnya dengan semangat, sudah beberapa hari ini dia tak bercerita pada sahabatnya itu. "Zah kamu kenapa sih kayaknya seneng banget" "Vel, aku akan menikah" ucap Zahra begitu semangat. "Dengan siapa?" "Dengan Rian" Vella pov Hatiku mendadak terasa nyeri, bukan karna aku cemburu dengan Rian tapi aku merasakan akan ada hati yg sangat sakit. Sanggupkah Daniel mengetahui semua ini, haruskah aku melarang Zahra menikah dengan Rian dan menyuruhnya kembali pada Daniel, aku rela jika melihat orang yg aku cintai bahagia, lalu bagaimana denganku, apakah aku tak pantas bahagia. "Vel kamu kok melamun, kamu ga seneng ya aku akan menikah" "Eh, itu, ehmm, maaf Zah, hehe" "Kamu kenapa?" "Aku...aku seneng kok, selamat ya, tapi kenapa kamu baru memberitahuku?" "Maaf Vel, soalnya beberapa hari ini aku sedikit banyak fikiran" Aku hanya tersenyum mendengarnya, aku tau dia selalu memikirkan Daniel, mungkin ini saatnya aku berusaha membuka hati Daniel untukku, aku janji aku yg akan membahagiakan Daniel, aku yg akan menumbuhkan senyum dibibirnya, karna meski bersama Zahra pun aku tak yakin mereka bisa bersama karna keyakinan mereka pun berbeda. "Kapan kamu akan menikah?" "Secepatnya Vel, malam ini keluarga Rian akan datang, kamu temenin aku ya, kamu disini aja" "Aku akan temenin kamu Zah" Author pov Tak terasa hari semakin senja, di kediaman Zahra terlihat mereka sibuk menyiapkan beberapa makanan untuk tamu yg akan datang, Vella pun antusias membantu mereka. "Vella, orang tua kamu kemana?" tanya ibu Zahra. "Orangtua saya sudah meninggal tante" "Maaf ya, tante ga tau" "Ga apa apa tante, saya sekarang tinggal dengan kakak perempuan saya disebelah, hanya beberapa bulan lagi, setelah suami kakak saya pulang, mereka akan pindah ke solo" "Kamu tinggal dengan Zahra saja kalau begitu, Zahra juga sendiri" "Saat ini aja masih sendiri tan, bentar lagi ada yg nemenin" Mereka tertawa bersama hingga Zahra datang. "Ngomongin aku ya" "Ngga kok Zah, kita ngomongin calon pengantin baru" "Vella apaaan sih" Mereka tertawa bersama, seakan suasana menjadi terasa bahagia. Tin...tin... Suara klacksound mobil menghentikan aktifitas mereka sejenak, ibu Zahra langsung pergi kedepan. "Keluarga Rian ya Zah?" tanya Vella. "Sepertinya iya Vel, Vel aku kok jadi deg deg an gini ya" "Tenangin hati kamu Zah, wajar kok kalo mau jadi pengantin baru" "Vel, stop menggoda ku seperti itu" Vella tertawa terbahak melihat sahabatnya seperti itu, mereka berhenti saling bercanda sampai ibu Zahra datang menghampiri mereka. "Zah, ayo bawa minumannya ke depan, Vella tolong bawa makanannya ya" "Iya tante" Rian pov Kulihat Zahra keluar dari dapur membawa minuman bersama temannya yg satu itu, kulihat Zahra begitu cantik hari ini dengan gamis hijaunya dan hijab panjangnya berwarna putih. Setelah meletakkan minuman, Zahra duduk didepanku, dan Vella duduk disampingnya. "Jaga mata kamu Rian" suara papa ku mengagetkanku. Kudengar mereka semua tertawa melihat tingkahku dan Zahra hanya menunduk. "Bismillahhirrohmannirrohim" ucap Papa ku mengawali pembicaraan. "Sebelumnya kita sudah sama sama mengenal melalui anak anak kita, dan kita juga sama sama tau bahwa anak anak kita sama sama dekat, dan untuk mempererat hubungan silahturahmi, kedatangan kami kesini untuk melamar anak bapak yaitu Sinta Az Zahra Al-Anshary untuk anak saya Rian Al-Hafits" Aku tertegun mendengar ucapan papa ku, sungguh jantungku berdetak sangat kencang, aku benar benar gugup saat ini. "Bismillah, inshaa Allah semuanya saya serahkan pada Zahra anak saya untuk menerima lamaran ini atau tidak, bagaimana Zah?" Kudengar ayah Zahra bertanya padanya, Namun Zahra tetap diam menunduk. "Bismillahhirrohmannirrohim, Zahra menerima lamaran ini" "Alhamdulillah" kami semua mengucapkan syukur. Lalu acara kami lanjutkan dengan menentukan tanggal pernikahan, aku yg menentukan tanggalnya, aku ingin pernikahan dilaksanakan 2 hari lagi, karna aku dan Zahra ingin menikah yg sederhana saja dan mengundang keluarga dan teman dekat saja. "Bagaimana Zahra, kamu menyetujuinya?" tanya papa ku pada Zahra. "Inshaa Allah Zahra menerimanya" "alhamdulillah" Zahra pov Tak terasa air mataku menetes, semoga ini kebahagiaan yg aku pilih, Vella memegang tanganku, kulihat dia tersenyum bahagia, sungguh aku benar benar bahagia sekarang. Tak terasa waktu sudah semakin larut dan mereka memutuskan untuk pulang. "Zahra, kami pulang ya, jaga diri kamu baik baik ya, dan inshaa Allah kami yg akan menyiapkan semuanya, kamu ga perlu mikirin apa apa lagi" ucap mama Rian padaku. "Iya tante" aku menyalaminya lalu mereka pamit. "Assalamualaikum" ucap mereka. "Walaikumsalam" Aku masih berdiri didepan rumahku, tiba tiba Vella membuyarkan lamunanku. "Bentar lagi kali nikahnya, baru pergi bentar aja udah dikangenin" Vella menyenggol lenganku. "Vel apaan sih" dia hanya tertawa terbahak. "Yaudah deh, udah malem, aku mau pulang, besok aku yg buatin surat cuti untukmu" "Vella baik banget sihhh" aku memeluk Vella dengan senang. "Zah jangan peluk peluk ih kita kan bukan muhrim" "Vella apaan ih" dia hanya tertawa melihat tingkahku lalu pergi meninggalkanku yg masih memandangi kepergiannya. "Besok aku juga akan mengundang semua orang dikantor untuk datang dipernikahanmu" dia bicara saat sudah berada dihalaman rumahnya dan masih bisa aku mendengarkannya. "Makasih Vel" entah aku harus bahagia atau tidak, tapi haruskah aku mengundang mereka semua termasuk Daniel. Tiba tiba aku tak ingin lagi mengingat nama itu, aku pun langsung menghapus fikiranku jika sudah teringat tentang lelaki itu, untuk apa lagi aku memikirkan lelaki itu sedangkan sebentar lagi aku akan menikah, aku langsung berjalan untuk masuk kedalam rumah, mudah mudah ini jalan kebahagiaanku, semoga saja. ♥♥♥♥♥♥♥
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD