Istri Pertama

1413 Words
"Istri mana yang tidak sakit hati saat ternyata kamu adalah Istri Kedua dan suamimu masih memiliki istri pertama." "HILYA TSABITA" ****   Mereka saat ini sudah sampai di rumah milik Hamish yang besar, Hilya tidak menyangka jika suaminya selama ini sekaya itu. Selama ia menikah dengan suaminya, memang belum tahu rumah suaminya yang berada di Jakarta dan belum pernah sama sekali kesini. Ia hanya tahu suaminya bekerja di Kota dan tinggal bersama adiknya di sini.    "Ini rumah kamu mas?" ucap Hilya mengamati rumah sang suami masih dengan posisinya di samping mobil.    "Gimana kamu suka?" tanya Hamish merengkuh pinggang istrinya. Tadi sampai di Bandara mereka di jemput oleh sang supir.    "Alhamdulillah suka mas, nggak nyangka kamu teh sesukses itu," ucap Hilya melihat suaminya.    "Syukur deh kalau kamu suka, yaudah yuk Masuk. Adik aku udah nunggu di dalem," kata Hamish menggandeng istrinya Masuk ke dalam. Barang bawaan mereka sudah dibawa oleh pembantu Hamish tadi. Mereka Masuk ke dalam rumah Hamish masih dengan raut wajah Hilya yang terpesona dengan rumahnya. Saat mereka sudah sampai ke dalam, dia melihat sang adik yang sedang menonton TV dengan santainya di sofa dengan kaki yang di luruskan diatas sofa.    "Hasya, ini Kakak ipar kamu," ucap Hamish yang masih belum sadar dengan kehadiran mereka. Hasya yang merasa dipanggil namanya segera menengok ke arah sumber suara. Ia hanya mengangguk enggan menghampiri mereka karena acara tvnya sedang seru.   "Hasya kamu salam dulu ke kakak ipar kamu sini!" suruh Hamish yang melihat adiknya tetap berada di tempatnya.   "Ck ribet banget sih, Kak!" ucap Hasya kesal karena acara menontonnya diganggu. Hilya yang merasa tidak enak langsung menyahut, "nggak papa mas mungkin, Hasya lagi seru nontonnya," kata Hilya mengelus lengan suaminya.   "Udah tau gue lagi seru, lo ganggu aja!" ucap Hasya mendekat dengan raut kesal di wajahnya.    "Hasya!" ucap Hamish dengan penuh penekanan, namun langsung di usap halus lengannya oleh Hilya mengatakan bahwa dirinya tidak apa-apa.    "Maafin, Kakak Hasya, udah ganggu nonton kamu," ucap Hilya sambil menyentuh lengan Hasya. Namun, menjauh begitu saja membuat Hilya berusaha sabar, mungkin adik iparnya ini belum terbiasa dengan kehadirannya.   "Yaudah, Kakak ke Kamar aja dulu," ucap Hamish membawa Hilya masuk ke kamarnya. "Dari tadi kek!" ucapnya melanjautkan acara menonton TVnya yang terganggu. Suara Hasya yang mencibirnya masih terdengar di telinga Hilya, tetapi ia mencoba untuk biasa saja. Saat mereka sudah masuk kamar Hamish meminta maaf kepada Hilya Karena kelakuan adiknya tadi yang tidak sopan kepada istrinya.   "Sayang, maafin ucapan adik aku tadi ya. Dia kalau sama orang yang belum terlalu deket emang gitu, jadi kamu nggak papa kan?" tanya Hamish membawa istrinya duduk di kasur.   "Nggak papa kok mas, nanti lama-lama kalau Kita udah deket inshaallah Hasya nggak kayak gitu lagi," ucap Hilya tulus.   "Yaudah ... kamu capek kan? Kamu Mandi aja dulu habis itu istirahat," ucap Hamish mengelus kepala istrinya. Hilya mengangguk menuruti ucapan suaminya. Toh dia benar-benar lelah setelah perjalanannya dari kampung. Mungkin istirahat sejenak bisa merilekskan badannya. ...    Malam harinya, mereka makan malam bersama dengan Hasya tentunya. Sikap Hasya yang belum berubah masih tidak menyukai keberadaannya disini. Tapi, Hilya mencoba tak ambil pusing dengan itu semua. Selama dia baik dengan Hasya pasti gadis itu akan luluh dengannya.    Hilya mengambilkan piring untuk suaminya, dan menyendokkan nasi dan lauk pauk untuk suaminya.    "Makasih, Sayang," ucap Hamish menerima makanan yang sudah diambilkan istrinya. Setelah itu ia ingin mengambilkan makanan untuk adik iparnya namun piringnya diambil paksa oleh adiknya membuatnya tersenyum paksa. Lalu, ia mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Dikampung Hilya memang terbiasa makan menggunakan tangan, jadi sekarang dia makan dengan tangan membuat Hasya meliriknya jijik dan enggan makan bersama mereka.   "Ck ... Kak istri lo jorok banget sih makan pake tangan! Bikin nafsu makan gue ilang aja," ucap Hasya kesal membanting sendoknya ke piring membuat dentingan keras di meja makan itu.   "Maaf, Hasya. Kakak kalau di rumah lebih sering makan seperti ini, lagian ini lebih bersih tadi Kakak udah cuci tangan kok," jawab Hilya tersenyum lagi.   "Ck ... Kampungan banget sih jadi cewe! Norak tau nggak pantes cuma jadi boneka!" ucap Hasya kesal Lalu pergi dari tempat makan itu. Moodnya benar-benar hancur karna ke norakaan istri Kakaknya itu. Lebih baik ia makan di luar saja.   "Hilya, kita tuh sekarang nggak di kampung. Jadi, kamu harus terbiasa makan pake sendok sama garpu kalau Kita makan di luar emang kamu nggak malu makan pake tangan," ucap Hamish santai tanpa memperhatikan istrinya yang sudah tersinggung dengan ucapan adik iparnya. Namun, Hilya berusaha tenang dan menganggukan kepalanya patuh. Setelah itu mereka makan hanya berdua. . . .   Keesokan harinya mereka sudah berangkat untuk ke suatu tempat. Hamish masih cuti dari pekerjaannya sehingga ia masih ada waktu bersama Hilya. Dan kini Hamish ingin mengenalkan seseorang kepada Hilya supaya mereka saling akrab nantinya.    "Mas kita emang mau kemana sih?" tanya Hilya bingung yang sedari tadi tidak diberitahukan suaminya akan kemana.    Hamish melihat istrinya Dan tersenyum, "nanti juga kamu tahu kok," ucap Hamish mengenggam satu tangan istrinya dan menciumnya sedangkan satu tangannya lagi menyetir mobil.    "Ck ... Kenapa mesti rahasia-rahasiaan si mas," ucap Hilya memberengut kesal membuat Hamish tertawa.    Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah yang juga tak kalah besar dengan rumah  mereka.  "Ini rumah siapa mas?" tanya Hilya bingung saat mereka sudah sampai.      Hamish masih diam enggan, menjawab pertanyaan istrinya. Ia membawa masuk Hilya ke dalam rumah itu. Seakan, Hamish sudah sering dan kenal dengan pemilik rumah tersebut. Hilya diam saja mengikuti Hamish yang menggandengnya masuk ke dalam rumah tersebut. Tiba-tiba saja wanita yang tak kalah cantik menggunakan pakaian dress selutut dan rambut terurai berwarna coklat membuatnya terlihat seperti keturunan bule. Hilya masih berfikir bahwa dia adalah saudara Hamish. Tetapi pemikirannya salah.    "Dia siapa mas?" tanya Hilya bingung melihat kedekatan suaminya dengan wanita itu. Sedangkan wanita itu sudah memeluk suaminya mesra membuat hati Hilya sedikit panas.    "Kenalin Lena, dia istri pertama aku," ucap Hamish santai merangkul istri pertamanya itu. Hilya yang mendengarnya membulatkan matanya terkejut.   "Ap ... A. Istri pertama mas?" ucap Hilya syok, hatinya seperti tercabik-cabik mendengar penuturan suaminya yang mengatakan bahwa di depannya ini istri pertamanya.     "Tapi ya nih ya, Hil, biasanya kalau suami jarang pulang harus di curigain Hil. Kayak suaminya Siska tuh orang Kota juga sama kayak kamu ternyata dia cuma jadi selingkuhan disini, beruntung Siska tau sebelum mereka nikah," "Tapi nih ya, Hilya kamu Kan baru nikah, Masa udah ditinggal terus biasanya kan kalau masih pengantin baru senengnya deket-deketan aja,"   "Ck ... Kampungan banget sih jadi cewe! Norak tau nggak pantes cuma jadi boneka!"    Ucapan-ucapan tetangganua dulu dan adik iparnya menggema di telinganya saat ini. Ia tidak percaya, ucapan tetangga waktu itu Ada benarnya       "Te ... Terus maksud kamu nikahin aku itu apa mas! Kenapa kamu jadiin aku yang kedua," ucapnya dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya. Istri mana yang tidak sakit hati mendengar suaminya memiliki istri pertama sedangkan mereka baru saja menikah.    "Aku sama Lena nikah udah hampir tiga setengah tahun, tapi sampai saat ini kami belum diberikan anak. Dan aku menikah sama kamu supaya Kita bisa punya anak," ucapan suaminya itu tanpa memikirkan perasaan Hilya sedikitpun   "Kamu cuma jadiin aku mesin pencetak anak doang mas?" ucap Hilya dengan suara seraknya Karena menangis.    "Udahlah Hilya nggak usah nangis, Aku bisa bersikap adik kok sama kalian berdua. Aku kan Kaya mampu mencukupi kebutuhan kalian berdua jadi nggak perlu khawatir lah," jawab Hamish lagi.   "Kamu bener-bener keterlaluan mas. Kamu fikir aku nggak sakit hati. Kamu nyakitin aku mas," jawab Hilya yang terus menangis.   "Udahlah Hilya, Lena aja mau kok di madu. Masa kamu yang istri kedua nangis gitu. Aturan Lena yang marah tapi dia malah nerima aja kok," ucap Hamish yang diangguki oleh Lena.   "Iya, nggak papa kok Hil. Kita saling berbagi aja. Aturan aku loh yang marah Mas Hamish nikah lagi. Tapi aku nerima aja," ucap Lena yang membuat Hilya menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Semua istri tentu tidak mau suaminya memiliki banyak istri tapi kenapa wanita di depannya ini dengan santai mengucapkan tidak apa-apa. Hilya memilih untuk pergi dari hadapan mereka. Hamish menengok ke arah Lena terlebih dahulu meminta izin untuk mengejar Hilya, dan Lena yang paham dengan suaminya lantas mengangguk. **** "Apa laki-laki itu tidak pernah puas dengan satu Wanita hingga dia akan selalu mencari wanita lain untuk membuatnya puas? Mereka fikir memiliki banyak wanita membuat dirinya merasa keren? Pemikiran Bodoh!" ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD