Epilog

1436 Words
EPILOG   “Hari ini aku ada janji sama Gisele, Hans, dan aku tidak mau kamu temani,” kataku sambil memoles lipstik pada bibir mungilku. Berminggu-minggu sudah berlalu sejak kejadian itu. Larissa sudah pulang ke kota asalnya dan membuatku sedikit tenang. Namun kebebasanku telah terenggut. Sejak hari aku dipergoki bersama Jose, aku benar-benar tidak bebas bergerak sedikit pun. Hans tidak pernah mengizinkanku ke mana pun tanpanya, dia bahkan menyiapkan pengawal untuk mengekoriku bila dia sedang sibuk bekerja dan tidak bisa menemaniku yang ngotot ingin jalan-jalan bersama Gisele atau Stefanie. Hans juga sukses membuat Jose menjauh dan tak berkutik. Ia mengatakan pada Jose bahwa aku sudah hamil. Ia sengaja pamer pada Jose bahwa aku adalah miliknya. Miliknya benar, tapi aku belum hamil dan Hans sengaja mengatakan itu agar Jose semakin menjauh dariku. “Jadi kamu lebih suka ditemani Lukman?” Lukman itu pengawal kepercayaan Hans yang selama berminggu-minggu ini telah menjadi bayang-bayangku, yang selalu mengikutiku ke mana pun aku pergi bila Hans tidak bersamaku. Aku menghela napas kesal. Lihatlah diriku sekarang, sungguh terkekang. Di siang Minggu yang indah ini, aku ingin menikmati hariku bersama sahabatku, tapi Hans tidak mengizinkanku pergi tanpanya atau Lukman. “Aku tidak perlu ditemani, Hans.” Aku berdiri dan meraih tas, bersiap untuk pergi. Hans berjalan mendekatiku membuat dadaku berdebar tidak menentu. “Aku tidak mau mengambil risiko, bahkan sekecil ujung jarum,” katanya posesif sambil semakin merapat padaku. Aku mengentakkan kaki dengan kesal, lalu menjauhinya. “Aku tidak nyaman bila terus diekori olehmu atau Lukman.” Aku duduk di sisi ranjang dengan wajah bertekuk. Hans menghela napas panjang. “Aku hanya ingin menjaga milikku.” Aku mengangkat wajah dan menatapnya penuh tanya. Ia terlihat muram. “Aku sudah dewasa, tidak perlu dijaga, Hans.” “Bukan karena itu, aku ....” Aku menatap Hans penuh tanya, menunggu kalimatnya yang belum sempurna terucap itu. “Kenapa sangat sulit untukmu mengerti, Vin ...?” desah Hans frustrasi. Aku mengerut kening dan menatapnya dengan tatapan semakin bingung. “Apa begitu sulit untukmu mengerti, bahwa semua yang kulakukan ini karena aku takut kehilanganmu?” Hans berjalan mendekati ranjang dan duduk di sisiku. Dadaku seketika berdebar. Apa ini artinya .... “Aku mencintaimu, dan aku cemburu melihatmu bersama mantanmu, aku takut kehilanganmu, Vinsa.” Rentetan kalimat itu membuat jantungku berdegup kencang. Aku menatap Hans dengan tatapan tak percaya. Wajah Hans terlihat sedikit memerah. Apa ini pernyataan cinta? Hans membalas tatapanku. Rona merah di pipinya semakin terlihat jelas. “Aku …, sejak lama mencintaimu,” katanya lagi sambil meraih kedua tanganku. Mulutku sedikit terbuka. Tidak percaya dengan pendengaranku. Apakah aku sedang bermimpi? Pria yang baru kusadari kucintai, kini menyatakan cintanya padaku. Hans melepas tanganku dan kembali meremas rambutnya dengan frustrasi. Ia berdiri dan berjalan mondar-mandir di depanku. “Aku tidak tahu kapan tepatnya aku jatuh cinta padamu, tapi sejak melihatmu pertama kali, rasa suka itu telah tumbuh di hatiku,” kata hans. Dia berdiri mematung di depanku dan menatapku dengan wajahnya yang sedikit memerah. Apa Hans sedang menahan malu karena mengutarakan perasaannya padaku? “Aku tahu bahwa kamu berpacaran dengan pria itu, dan hari itu, saat kalian bertengkar dan putus, aku sedang ada di sana menyaksikan semuanya.” Aku terkejut dan menatap Hans dengan mata membesar. Seketika wajahku terasa memanas menahan malu. “Tapi bagaimana mungkin?” Hans mengangkat bahu. Rona merah telah menghilang dari wajah tampannya. “Waktu itu aku sedang main ke kios ponsel temanku, tepat bersebelahan dengan kios mantanmu itu.” Hans berjalan menghampiriku. Dalam sedetik, ia sudah duduk di sampingku. Aku tersenyum kecut. Jadi acara putus cintaku disaksikan oleh Hans waktu itu? Sungguh memalukan! “Dan aku sengaja mengirim pesan lowongan cinta itu padamu, karena sebenarnya diam-diam aku mencintaimu dan aku tahu bahwa ibumu terus mendesakmu untuk menikah,” jelas Hans pelan. Aku termangu. Jadi semuanya bukan kebetulan semata. Hans mengirim pesan itu padaku karena dia memang menginginkanku. Aku mengerut kening mengingat perkataan Hans. Bila memang Hans mencintaiku, mengapa selama ini ia tidak pernah mendekatiku? “Kamu bilang mencintaiku, tapi mengapa tidak pernah mendekatiku?” Kutatap wajah Hans yang terlihat kaku. “Aku tidak mau kamu justru semakin menjauh bila kudekati, karena aku tahu, kamu sudah memiliki pacar. Menjadi penggemar rahasia itu menyenangkan, sekaligus menyebalkan.” Aku menatapnya dengan mata berbinar. Bahagia mendengar pernyataan. “Terkadang aku merasa sangat cemburu saat melihatmu bersamanya. Dan begitu tahu kamu putus dengannya, aku nekat menyiapkan segala keperluan pernikahan kita, aku ingin segera memilikimu dan ternyata keinginanku terkabul.” Aku tersenyum lebar. Jadi itulah mengapa pesta pernikahan kami bisa dilangsungkan dengan mewah padahal waktunya sangat mepet? Rupanya Hans bekerja keras menyiapkannya bahkan sebelum aku setuju untuk menjadi istrinya. Hans sangat nekat. Tidak terbayang bagaimana jadinya bila ternyata aku menolak lowongan cintanya itu. “Kenapa kamu sangat yakin aku akan menerima tawaranmu?” Aku menatapnya dan tersenyum lembut. “Sebenarnya aku berspekulasi.” Hans tersenyum tipis. Aku mengangguk mengerti. Spekulasi yang cukup berisiko. “Aku tahu sekarang hatimu sudah menjadi milikku. Kamu juga mencintaiku, kan?” tukas Hans tiba-tiba. Aku menatap Hans dengan mata melebar. “Kamu tahu dari mana?” “Kamu sering mengatakannya saat tidur, orang bilang itu namanya mengigau.” Wajahku spontan memanas. Tidak percaya aku berbuat seperti itu dalam tidurku. Aku baru putus dengan Jose, tapi bukannya bersedih, aku justru sibuk mencintai Hans. “Kenapa harus malu? Aku juga mencintaimu, kita saling mencintai, bukan?” tukas Hans. Aku membuang muka dan mengulum senyum. Saling mencintai ..., ya ..., saling mencintai. “Aku mencintaimu,” kata Hans tiba-tiba sambil meraih wajahku. Mata kami beradu. “Aku ingin mendengar kamu membalas cintaku,” bujuk Hans lembut. Kali ini jemarinya mengelus pipiku. “Aku ....” Hans menatapku lembut. “Aku juga mencintaimu, Hans,” bisikku pelan dengan bibir bergetar. Rasa hangat menyeruak masuk ke dalam hatiku saat mengucapkan kalimat itu. Hans tersenyum, dan sekilas ia mengecup bibirku. Aku terpana. “Terima kasih sudah membalas cintaku dan mengakui perasaanmu padaku, Vin, aku sangat mencintaimu.” Aku tersenyum tipis dan mengangguk kecil. “Aku minta maaf, untuk bagian kamu mengigau itu adalah rekaanku semata agar kamu mengakui perasaanmu dan menyatakan cinta padaku.” Aku melotot padanya dengan wajah panas. Dengan gemas aku mencubit perutnya, merasa telah dijebak untuk mengaku cinta. Dasar Hans, punya seribu cara untuk mendapatkanku, bahkan pernyataan cinta dariku. Aku berpura-pura marah sehingga Hans menangkup wajahku dengan kedua tangannya. “Aku sangat mencintaimu, Vinsa,” ujarnya lembut. Hans menunduk mengecup bibirku. Aku memejamkan mata, membuka sedikit bibirku untuk menggodanya. Tiba-tiba suara dering ponsel membuyarkan adegan romantis itu. Aku membuka mata. Hans tampak kesal. Ia melepas wajahku dan meraih ponsel dari sakunya. “Ada apa, Larissa?” Aku mendengar Hans menyebut nama yang cukup membuatku alergi itu. Seketika suasana hatiku berubah. Aku membuang muka. Semenit, dua menit ..., akhirnya pembicaraan Hans dan Larissa selesai. “Larissa lagi?” tanyaku jengkel tanpa bisa menyembunyikan nada tidak senang dalam suaraku. Aku menatap Hans dengan pandangan tak suka. Hans balas menatapku. Berbeda dengan tatapanku yang berlumur kekesalan, Hans menatapku dalam-dalam. Seolah mencari sesuatu di dasar hatiku. Tidak lama kemudian, ia tergelak kecil. “Cemburu?” tanya Hans telak. Aku terpaku dengan wajah yang terasa memanas. Merasa ditembak dengan pertanyaan yang sangat mematikan. Hans meraih tanganku dan mengecupnya. Matanya menatapku dalam-dalam. “Larissa itu sepupuku, Sayang,” jelas Hans dengan senyum lebar. “Untuk apa kamu cemburu padanya.” “Aku tidak cemburu!” Aku mencoba menyangkal untuk menjaga gengsi. “Kalau bukan cemburu, apa namanya perasaanmu saat ini, Sayangku?” Aku terdiam dengan wajah yang semakin memanas. Hans benar. Aku cemburu. Wanita mana pun pasti cemburu bila suaminya dekat dengan wanita lain, bahkan sepupunya sendiri. “Aku tidak punya perasaan apa-apa padanya, Vinsa.” Aku bergeming. Masih tidak yakin dengan penjelasan Hans. “Calon suami Larissa pasti tertawa kalau tahu ada wanita lain yang cemburu pada calon istrinya.” Aku menatap Hans tak mengerti. “Larissa mengundang kita untuk hadir di resepsi pernikahannnya minggu depan.” Aku masih bergeming, berusaha mencerna kalimat Hans barusan. Lambat laun kesadaran itu datang. Larissa akan menikah. Aku tersenyum malu pada Hans yang sedang menyeringai menggoda. Ah, bertapa malunya. Rasa cemburuku tak berdasar sama sekali. Cemburu pada wanita yang sebentar lagi akan menikah adalah hal yang sangat memalukan. Hans menunduk dan mengecup bibirku. “Aku mencintaimu,Vin.” Kecupan Hans berubah menjadi pagutan liar. “Aku juga mencintaimu, Hans,” balasku pelan di sela ciuman kami.   The end Terima kasih sudah membaca cerita ini. terima kasih atas love dan komen-komennya, kawan-kawan. Thank you ^^   Love, Evathink Play Buku/k*********a: evathink   (note : seluruh karya versi tamat evathink tersedia dalam bentuk ebook di GOOGLE PLAY BUKU/k*********a, dan buku cetak, ready stock, yang bisa diorder di WA Evathink, 08125517788)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD