8

801 Words
Part 8 PART 8   “Jose, kita tidak mungkin bisa kembali lagi,” kataku dengan d**a sesak. Aku dan Jose sedang duduk berdua di sebuah kafe, yang terletak di lantai atas mal ini. Jujur ada rasa takut bila Hans memergokiku. Sejak tadi ponselku terus berkedip-kedip memperlihatkan Hans sebagai nama pemanggilnya. “Tapi kenapa?” tanya Jose sambil menatapku bingung. Ah, tentu saja Jose bingung. Selama ini setiap kali kami putus, aku selalu mau saja diajak berbaikan kembali, lagi pula dia tidak tahu aku sudah menikah. Aku menghela napas berat. “Aku mencintaimu, Vin, maafkan aku tentang hari itu. Aku cemburu buta dan emosional,” kata Jose lembut. Ia meraih tanganku dan meremas pelan. Aku berusaha menarik tanganku, tapi Jose menahannya. “Aku tidak bisa, Jose.” Aku tidak bisa bukan hanya karena sekarang telah menikah dengan pria lain, tapi juga karena aku baru sadar, rasaku pada Jose tidaklah sedalam mana. Dalam waktu singkat, hatiku telah dikuasai Hans. Aku sadar, aku mencintai Hans dan karena itulah aku cemburu saat melihatnya sangat mesra dengan Larissa. “Vinsa ....” “Vinsa!” Aku tersentak dan secara otomatis menarik tanganku dari genggaman Jose. Aku sadar itu bukan suara Jose. Itu suara .... Aku berpaling dan mendapati Hans sedang menatap kami dengan wajah merah padam. Di belakangnya terlihat Larissa dan seorang wanita muda lainnya menatapku penuh tanya. Jose menatap Hans bingung. Sedangkan aku hanya bisa diam terpaku dengan bibir gemetar. “Jadi begini tingkahmu, hah? Kamu bahkan berani bermesraan dengan pria lain saat jalan bersamaku??” tuduh Hans marah dengan napas memburu. Aku terpaku. Seluruh wajah dan tubuhku terasa dingin melihat kemarahan Hans. Dengan sigap, Hans menarik tanganku hingga aku berdiri. “Hei, Bung, jangan kasar pada pacarku,” kata Jose kesal, terlihat tidak senang dengan perlakuan Hans padaku. Hans menatap Jose dengan mata berkilat-kilat marah. “Vinsa istriku! Dan ini terakhir kali aku melihatmu menemuinya, atau aku tak akan tinggal diam!” kata Hans dingin. Jose menatapku bingung. Sebelum Jose sempat bersuara, Hans telah menarikku berlalu. Jose mengejar kami dan meraih tanganku. Sedetik kemudian yang kulihat adalah pemandangan mengerikan yang membuatku menjerit. Sebuah pukulan hinggap di hidung Jose. Seketika suasana mal menjadi heboh. Sekuriti berdatangan untuk meredakan keributan. Aku menatap semua yang terjadi tanpa berkutik. Jose dan Hans terlihat berbicara dengan sekuriti. Larissa dan temannya terlihat panik. Aku hanya bisa menggigit bibir dan berharap masalah ini tidak berbuntut panjang.   ***   Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, suasana hening menyelimuti kami. Aku hanya bisa diam dan membisu, sedangkan Hans di sampingku terlihat sangat dingin. Untunglah Larissa memilih menginap di tempat temannya malam ini, jadi aku tak perlu merasa malu padanya. Begitu tiba di rumah, aku langsung menaiki anak tangga dan masuk ke kamar kami. “Jadi diam-diam kamu masih berhubungan dengan mantan pacarmu?” Baru saja aku mengenyakkan b****g di kursi meja rias, suara Hans sudah terdengar membahana. Amarah tersirat jelas dalam suaranya. Aku mengerut kening. Dari mana Hans tahu bahwa Jose adalah mantan pacarku? “Berapa kali aku harus mengingatkanmu untuk berhenti berhubungan dengan pria lain?” Entah sejak kapan, Hans sudah berdiri di dekatku. “Aku tidak berhubungan dengannya, Hans, tadi kebetulan bertemu,” jelasku berusaha meredakan amarahku yang juga mulai tersulut. Salah siapa? Dia sibuk dengan Larissa hingga tidak sadar aku pergi. “Kalau begitu kenapa tidak pamit padaku?” Aku menghela napas kesal. “Kamu terlalu asyik dengan Larissa hingga tidak lihat lagi aku di mana.” Setelah mengucapkan kalimat itu, aku berdiri dan meninggalkan meja rias, berjalan menuju ranjang dan membiarkan Hans mengikutiku. “Aku bukan terlalu asyik dengannya, kami sedang memilih baju,” jelas Hans dengan nada yang lebih lembut. “Sudahlah.” Aku mengibas tangan, lalu naik ke atas ranjang, berbaring tanpa menghapus makeup lebih dulu. “Kita belum selesai, Vin.” Hans duduk di sisi ranjang dan menatapku dalam-dalam. Aku menghela napas bosan. Dengan berat hati aku duduk dan bersandar di kepala ranjang dan balas menatapnya. “Jadi apa lagi yang ingin kamu bicarakan?” Hans menghela napas berat dan membalas tatapanku dengan sangat intens. “Aku tidak suka bila kamu diam-diam masih berhubungan dengan mantanmu atau pria mana pun.” Berapa kali  lagi aku harus jelaskan pada Hans bahwa aku tidak berhubungan dengan Jose? Dan pertemuan kami tadi murni kebetulan. “Aku tidak berhubungan dengan siapa pun, Hans. Harus berapa kali aku mengatakan itu padamu?” Hans di depanku terdiam. Ia meremas rambutnya dengan frustrasi. Setelah satu menit yang hening dan terasa panjang, akhirnya Hans berdiri. “Itu terakhir kali aku melihatmu bersama pria lain, sekali lagi kamu berani macam-macam, maka aku akan mengurungmu di rumah dengan segudang pengawal agar kamu tidak bisa berulah.” Setelah mengucapkan itu, Hans berlalu menuju kamar mandi. Aku terpaku menatap sosoknya yang menghilang di balik pintu kamar mandi. Darahku berdesir. Mengapa Hans terkesan sangat posesif?   *** bersambung ... Follow i********:: Evathink
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD