PART 7
Aku, Stefanie dan Gisele sibuk memilih pakaian di sebuah butik yang terletak di sebuah pusat perbelanjaan. Kami baru saja selesai makan malam bersama. Kulirik Hans yang berdiri tidak jauh dari kami. Raut wajahnya terlihat bosan.
“Sudah pukul delapan malam, Vin, ayo sudahi belanjanya, kita pulang,” kata Hans dengan nada bosan.
“Kamu pulang saja dulu, Hans, nanti aku pulang sama Gisele,” kataku acuh tak acuh.
Seketika napas Hans memburu. Terlihat jelas tidak senang dengan jawabanku. “Aku tak suka dibantah. Ayo, pulang.”
Aku cemberut. Aku tahu di balik topeng dingin itu, amarahnya sedang membara. Lihat saja dadanya yang mulai memburu tanda amarah mulai membakar.
“Ada apa?” tanya Gisele heran.
Hans memberi tatapan peringatan padaku. Mau tidak mau, akhirnya aku mengalah, atau Hans akan membuatku malu dengan memaksaku pulang di hadapan Gisele dan Stefanie.
“Aku harus pulang dulu, Gis, Hans ada janji dengan temannya,” bohongku sambil tersenyum paksa pada Gisele. Terlihat Hans mengulum senyum menandakan ia puas dengan jawabanku.
“Oh iya, maaf ya, Vin, sudah ganggu acara kalian.” Gisele membalas senyumku dengan senyum manis. Sedangkan Stefanie masih sibuk memilih baju.
“Enggak apa-apa. Aku pulang dulu ya, Gis.” Aku cipika-cipiki dengan Gisele.
“Fanie, aku pulang dulu.” Aku mendekati Stefanie yang sibuk memilih baju.
“Hati-hati di jalan ya, Vin.” Stefanie cipika-cipiki denganku. Setelah itu, aku berbalik dan mendekati Hans.
Sekilas, sempat kulihat Hans menarik napas lega. Ia segera menarik tanganku keluar dari butik.
“Sudah kenal teman-temanku, kan? Lain kali jangan ikut lagi,” ketusku sambil berjalan keluar dari gedung mal menuju mobil.
“Sebenarnya ada apa? Kenapa marah-marah terus?” tanya Hans kurang senang begitu sudah berada di dalam mobil yang bergerak di jalan raya.
“Tidak ada apa-apa.”
Hans di sampingku menghela napas panjang. Aku tahu dia tidak senang dengan jawabanku, tapi aku juga kesal padanya. Kesal dengan sikapnya yang berlebihan pada Larissa.
***
Selesai berdandan, aku langsung turun ke ruang makan. Terlihat Hans dan Larissa sedang duduk di dekat meja makan untuk sarapan. Di depan Hans ada segelas kopi hitam, sedangkan Larissa memilih s**u.
“Pagi ....”
Aku tidak menoleh walau tahu Hans sedang menyapaku dengan ucapan selamat pagi.
Aku menarik kursi dan duduk di salah satu kursi kosong di depan Hans.
“Kak Hans, aku ikut Kakak ke kantor, ya,” kata Larissa tiba-tiba dengan suara manja.
Aku mengangkat wajah menatap Hans.
Hans hanya tersenyum dan mengangguk menyanggupi permintaan Larissa.
Aku mendesis jengkel. Untuk apa cewek manja ini ikut ke kantor? Bukannya menyenangkan, adanya merepotkan saja.
Dan apa yang kukatakan terbukti. Sepanjang hari, Larissa menempel pada Hans dan membuat Hans tidak konsentrasi kerja. Aku hanya bisa menekan amarah yang mulai naik ke ubun-ubun.
Oke, harus kuakui, aku cemburu. Istri mana pun pasti cemburu bila melihat suaminya berdekatan terus dengan wanita lain, bukan? Apalagi Hans terlihat begitu memanjakan Larissa yang jelas-jelas memang sangat manja.
Lihat saja sekarang, setelah pulang kerja, aku harus menemani mereka ke mal. Larissa ingin membeli beberapa pakaian. Menyebalkan sekali!
Giliran menemaniku berbelanja saja, Hans bosan. Namun saat bersama sepupunya, dia begitu bersemangat hingga melupakanku yang menjadi maneken menyaksikan betapa akrabnya mereka. Hans begitu antusias menyambut kemeja yang Larissa pilihkan untuknya.
Saat aku sudah kebosanan melihat tingkah mereka, sebuah suara memanggil namaku. Aku menoleh.
“Jose?” gumamku kaget. Tidak percaya bertemu dengannya di sini. Ah, bodohnya aku. Jose kan punya kios ponsel di mal ini, pastinya dia ada di sini sepanjang waktu.
“Kok bengong sendirian?” tanya Jose lagi.
Aku terdiam. Bingung harus menjawab apa.
“Aku ingin bicara.” Jose meraih tanganku.
Aku melirik Hans yang masih terlihat sibuk dengan Larissa. Ah, aku menghilang pun pastinya Hans tidak akan sadar. Akhirnya aku mengangguk setuju.
Pegangan tangan Jose membuatku merasa tidak nyaman. Dengan pelan, kutarik tanganku, tapi Jose tidak mau melepaskannya dan membuatku gelisah. Tentu saja aku tidak mau ada hubungan apa pun lagi di antara kami.
***
bersambung ...
Follow i********:: Evathink