6

657 Words
Part 6   Aku menatap kurang suka pada Larissa, sepupu Hans, yang bersikap manja sepanjang makan malam. Larissa baru saja tiba tadi siang saat aku dan Hans sedang sibuk berkutat dengan pekerjaan di kantor. Sepupu Hans yang satu ini datang dari pulau Dewata, sengaja untuk berlibur di kota ini. Begitu selesai makan malam, aku segera masuk ke kamar kami yang terletak di lantai dua. Sikapku pada Larissa terlihat jelas sangat tidak ramah. Aku sangat tidak suka melihatnya terlalu menempel dan manja pada Hans. Akan tetapi Hans yang ditempeli terlihat biasa-biasa saja. Tentu saja ini bukan rasa cemburu, hanya sebuah rasa tidak nyaman. Istri mana pun tidak akan suka bila suaminya ditempeli wanita lain bukan? Aku berdiri di balkon dan menatap langit malam tanpa bintang. Awan mendung begitu tebal menyelimuti langit. Sepertinya malam ini akan turun hujan lebat. Hampir tiga puluh menit aku berdiri di balkon kamar dan Hans sama sekali belum menyusulku. Kilat terlihat sambar-menyambar. Titik-titik gerimis mulai membasahi bumi. Aku mendesah pelan dan kembali masuk ke kamar. Tidak lama kemudian terdengar suara petir yang sangat kuat yang membuatku terkejut. Aku mengelus d**a dan berusaha menenangkan diri. Karena tidak nyaman sendirian di kamar saat suara petir begitu keras bergema, aku segera keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah. Begitu tiba di ruang keluarga, mataku membesar saat melihat Hans dipeluk oleh Larissa di ruang tamu. Hans juga terlihat merangkul Larissa. Terdengar kata-kata Larissa kalau ia sangat takut dengan petir. Aku urung melangkahkan kaki ke ruang tamu. Seketika dadaku bergemuruh menahan amarah. Berani-beraninya Hans memeluk wanita lain saat aku ada di sini! Aku tahu, Larissa adalah sepupunya, tapi tetap saja, ada batasan antara pria dan wanita. Sebelum Hans sempat melihatku, aku berbalik dan berjalan lesu menaiki anak tangga ke lantai dua menuju kamar kami. Air mataku mengancam keluar. Sebenarnya aku yang cemburu buta dan berburuk sangka pada Hans, atau Hans yang sudah keterlaluan? Aku istrinya, alih-alih datang menenangkanku saat petir dengan kuat terus sambar-menyambar di luar sana, ia justru merangkul dan menenangkan sepupunya. Seketika rasa sedih memenuhi hatiku. Setetes air mata jatuh dari sudut mata. Ini semua salahku. Aku yang terlalu terburu-buru membuat keputusan. Hanya karena putus dari Jose dan desakan orangtuaku, aku memilih menikah dengan Hans begitu saja. Kami sama sekali tidak saling mengenal pribadi satu sama lain. Hingga saat ini, hubungan kami yang paling terlihat menonjol adalah hubungan di atas ranjang. Ternyata aku hanya menjadi objek pemuas nafsu Hans.   ***   Aku sedang mematikan laptop saat Hans memasuki ruanganku. Aku tahu, Hans pasti ingin mengajakku pulang karena sudah pukul empat sore. Sejak menikah, jam kerja Hans sudah berubah. Dulu, dia betah berlama-lama di kantor. Sekarang dia lebih suka cepat pulang dan menghabiskan waktu di rumah bersamaku. “Hans kamu pulang duluan saja, aku ada janji sama teman,” kataku sambil meraih ponsel baru yang dibeli Hans dan memasukkanya ke dalam tas. Hans mengerut kening. “Teman yang mana?” Aku mendesah kesal. “Temanku, pastinya kamu tidak kenal.” Sebenarnya hari ini aku janjian bertemu dengan Gisele dan Stefanie hanya untuk menghindari Hans. Aku masih kesal padanya. Sepanjang hari ini, aku sukses menekan raut jengkel dari wajahku agar ia tidak tahu bahwa aku sedang marah. “Karena aku tidak kenal, jadi aku harus ikut denganmu untuk berkenalan dengan temanmu itu,” kata Hans tegas. “Hans ....” Aku menarik napas kesal. “Tidak lucu aku jalan sama teman dikawal suami.” “Apa salahnya?” Hans ngotot. “Aku tidak keberatan.” “Aku yang keberatan!” Hans menarik napas panjang. “Kamu istriku, Vin, kamu tanggung-jawabku. Aku tidak tahu siapa temanmu, kalau terjadi apa-apa padamu, bagaimana aku mempertanggung-jawabkannya pada orangtuamu?” Aku bangkit dan meraih tas, malas terus beradu mulut dengan Hans. Sungguh aku tidak menyangka Hans bisa secerewet ini. Tidak mungkin akan terjadi apa-apa padaku. Gisele dan Stefanie adalah teman baikku, tidak mungkin mereka menganiayaiku. Tanpa menoleh pada Hans, aku melangkah ke pintu keluar, kesal karena Hans selalu mendominasiku.   *** bersambung ... Follow i********:: Evathink
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD