Part 5
“Ini ponsel barumu.”
Aku mendongak saat mendengar suara yang sudah seminggu ini begitu akrab di telingaku. Hans berdiri di depan meja kerjaku dengan sebuah ponsel baru.
“Aku butuh ponsel lamaku, semua kontak ada di sana,” kataku sambil menahan nada kesal dalam suaraku. Baru beberapa jam berlalu, Hans sudah kembali dengan ponsel baru yang pastinya jauh lebih mahal dari ponselku yang sebelumnya.
“Semua kontak sudah ada di dalam situ. Sudah kupindahkan,” kata Hans ringan.
Aku menatapnya tak percaya. Dengan setengah hati aku mengambil ponsel yang diberi Hans dan segera memeriksa kontaknya. Ah, ya, benar, semua kontak sudah Hans pindahkan ke ponsel baru ini, tapi semua kontak bernama wanita, yang pria sudah raib, bahkan sepupuku Bradly pun tidak ada. Aku menggerutu dalam hati.
“Kenapa kontaknya cuma segini?” Aku mulai tidak bisa menekan nada kesal dalam suaraku.
“Kan aku sudah bilang tidak suka istriku macam-macam,” kata Hans ringan sambil mengangkat bahu.
Aku mendengkus kesal. Macam-macam seperti apa? Aku tidak pernah macam-macam, Hans saja yang berlebihan.
“Ayo kita pulang,” ajak Hans sambil membalikkan badan.
“Belum jam lima.” Aku melirik jam di laptopku yang baru menunjukkan pukul empat sore.
“Aku bos, dan kamu istriku. Ayo cepatan,” katanya tidak sabar dan meninggalkanku begitu saja.
Terpaksa secepat kilat aku mematikan laptop dan berjalan tergesa menyusulnya.
“Kenapa sih buru-buru,” keluhku kesal saat kami tiba di area parkir. Mungkin ini kali pertama aku berani berbicara dengan nada sedikit tinggi pada Hans.
Hans membuka pintu mobil tanpa mengacuhkanku. Aku masuk ke dalam mobil, dan tidak lama kemudian dia menyusul.
“Aku sudah tidak sabar.” Hans mengendarai mobil keluar dari perkarangan parkir.
“Tidak sabar apa?”
“b******a denganmu.”
Seketika wajahku memanas. Ternyata atasanku yang dulu terlihat sangat berkarisma ini punya otak m***m. Aku membuang muka menatap ke luar jendela. Ingin marah tapi tak bisa.
“Ngomong-ngomong, aku ada hadiah spesial untukmu.”
Aku menoleh. Hans memberiku satu tas kertas berwarna gelap.
Aku mengerut kening. “Apa ini?” Kekesalanku padanya sedikit berkurang. Ternyata Hans cukup perhatian dengan memberiku hadiah.
“Buka saja sendiri.”
Aku mengangkat alis heran. Perlahan aku membuka tas kertas itu dan mengeluarkan isinya. Seketika wajahku kembali memanas dan pastinya warna kulit wajahku sudah memerah seperti kepiting rebus.
Di tanganku ada beberapa lingerie seksi lengkap dengan pakaian dalam seksi. Aku ingin berteriak malu. Hans keterlaluan sekali.
Segera kumasukkan kembali semua benda seksi itu ke dalam tas kertas. Aku membuang muka menahan malu. Benar-benar tidak sanggup untuk menatap Hans.
“Untuk percintaan kita nanti malam,” kata Hans menggoda.
Oh, tidak! Kenapa pria tampan yang selama ini diam-diam kukagumi ternyata berotak m***m?
Aku berusaha menahan debar-debar di d**a saat bayangan kebersamaan kami berputar di benakku. Aku menggerutu dalam hati. Apakah penyakit m***m ini menular? Mengapa aku juga menginginkannya?
***
bersambung ...
Follow i********:: Evathink