****
Perjalanan Bandung-Tanggerang memakan waktu cukup lama. Sekalipun mereka meleRahma jalan tol yang seakan tak ada ujungnya. Waktu yang dihabiskan Shella hanya digunakan untuk mengobrol sejenak, lalu tidur, bangun, dan tidur lagi. Terus begitu sampai mereka tiba di ICE BSD, Tanggerang.
Shella, Deva, dan guru pendampingnya turun dari mobil yang terparkir di tempatnya, lantas segera menuju tempat registrasi peserta kompetisi.
Hawa di sini terasa sangat panas. Dibandingkan di kotanya, bagi Shella tempat ini cukup gersang hingga membuatnya harus melepas jaket hitam yang sedari tadi dipakai. Gedung berdinding kaca itu belum terlihat terlalu ramai di area depan. Namun, begitu mereka masuk ruangan yang lebih luas--macam aula, puluhan--bahkan ratusan orang berseliweran sana-sini melihat berbagai stan yang ada.
"Ramenya ...," gumam Shella. Ia celingak-celinguk melihat stan-stan apa saja yang ada di dalam sini. Sang gadis berdecak sebal karena tingginya yang hanya 150 cm terkalahkan oleh orang-orang yang lebih tinggi darinya, hingga menghalangi pandangan. Membuatnya tak bisa melihat tiap stan yang ada.
Guru pendamping dan pelatih mereka akhirnya menemukan stan registrasi peserta kompetisi di antara stan-stan yang lain. Kedua gadis itu pun segera menandatangani absen dan menerima tiga benda sebagai tanda keikutsertaan.
Manik coklat Shella tak bisa berhenti berbinar, kala sebuah tas selempang kecil berwarna abu, kaos peserta robotik putih berlengan ungu, dan sebuah nametag tercengkram erat di tangannya.
"Kereeeen!!" serunya kagum. "Deva! keren! Ini sumpah keren banget!!"
Deva yang risih dengan kegembiraan Shella segera menyahut, "Iya, iya, keren. Ayo ah! Jangan di sini! Kita ngehalangin orang lain tahu!"
Gadis berambut ikal sepunggung itu menarik pergelangan Shella. Sebelum mereka benar-benar meninggalkan tempat, sang pelatih memanggil dua gadis itu untuk berfoto terlebih dahulu.
Mereka mengangguk. Lalu mengambil posisi di belakang sebuah bingkai kotak bertemakan laman i********:. Sang fotografer menyuruh mereka untuk memperlihatkan nametag dan souvenir yang diterima. Seketik kemudian, suara cekrek dari kamera menyudahi senyum yang terkembang.
"Pingin cepet ke hotel, Ya Allah ...." Shella berbisik kepada Deva.
"Sama," jawab Deva berbisik juga. "Kayaknya kasur enak deh."
"Apaan. Palingan juga kita sampe hotel istirahat solat sama bebersih. Udah itu latihan."
"Iya bener."
Mereka berdua berjalan mengekori sang guru menuju mobil dengan lunglai dan wajah yang tertungkuk lelah.
****
"Waktu itu kita nggak nginep di hotel gedung kayak Kang Rama kemarin," ujar Deva.
"Terus di mana, Teh?"
"Kita waktu itu nginep di penginapan kayak hotel melati gitu. Kayak rumah. Nggak tahu lah itu namanya apaan." Shella menyahut dari tempatnya. Membuat orang-orang yang mendengarnya terkejut karena suara yang tiba-tiba terdengar tanpa siluetnya yang terlihat.
Deva lantas melanjutkan, dan Shella kembali mengingat malam latihannya dengan Sang kakak pelatih.
****
Selepas bersih-bersih badan dan melepas penat sesaat, Deva dan Shella mempersiapkan diri untuk latihan di kamar Kak Riki setelah melaksanakan solat Isya.
Kamar sang pelatih tak jauh dari kamar mereka. Hanya berselang tiga atau empat kamar saja. Namun, entah mengapa mereka sangat berat untuk melangkah dan mengetuk pintu begitu sampai di depan kamar pria tersebut.
"Sok, Shel. Kamu yang ngetok." Deva menjurung-jurung Shella.
"Lha, kok aku?" tanya si gadis tak terima.
"Kamu kan nggak tahu malu orangnya," jawab si gadis berkacamata membuat mulut Shella menganga. "Udahlah cepetan! Keburu malam ntar kak Riki ngamuk!"
Mau tak mau, Shella akhirnya maju. Takut-takut, ia mengangkat tangan, dan mengetuk pintu pelan--sangat pelan. Sang pengetuk sendiri bahkan ragu ketukannya bisa terdengar.
"Assalamualaikum .... Kak? Ini Shella sama Deva."
Shella dan Deva sontak menahan napas saat gagang pintu mulai bergerak. Jantung mereka berdegup kencang kala derit pintu terdengar dan menampakkan tubuh lelaki yang kini sudah berbalut kaos abu panjang dan celana jeansnya.
"Ayo masuk," ajaknya tanpa basa-basi. Kedua gadis yang mengenanakan baju tidur panjang itu mengangguk dan menuruti ajakan Riki--yang lebih terdengar seperti perintah di telinga mereka.
"Assalamualaikum ...." Mereka mengucapkan salam sekali lagi, dengan lebih pelan.
Shella melepas alas kakinya. Di saat bersamaan, ia menangkap sebuah kantung keresek kecil berwarna putih yang digenggam pelatihnya. Warnanya yang transparan membuat Shella semakin bisa melihat bungkus kertas yang menjadi wadah dari apa yang ada di dalamnya.
Jajanan? Kak Riki udah jajan lagi aja!
"Sok ini ada cemilan. Makan aja kalau mau."
Shella berkedip sekali. Lalu mengiyakan dengan tergagap.
Kak Riki bisa baca pikiran apa gimana sih!?
Suasana di kamar ini antara canggung dan menyeramkan. Kalau diingat lagi, mereka saat ini sedang di kamar lelaki yang berperan sebagai pelatih yang mereka kagumi diam-diam.
Shella antara ingin berteriak, tapi hawa yang diberikan Kak Riki memaksanya untuk bungkam.
Dua gadis itu mulai mempersiapkan alat latihan. Shella mengeluarkan laptop dari tasnya, Deva mempersiapkan robot yang akan mereka gunakan untuk lomba, sedangkan Riki sendiri menggelar karpet putih berkisi-kisi hitam sebagai arena pelatihan.
****
Mira memotong dongeng Deva, "Teh, waktu sebelum lomba Teteh latihan di sekolah berapa hari?"
Deva menjawab, "Kalau nggak salah kita latihan cuman empat hari." Para adik kelas terkejut. Deva melanjutkan, "Latihannya dari habis istirahat kedua sampai jam enam."
"Wah ... Lama!" seru seseorang.
"Yah ... untungnya kita dikasih konsumsi yang enak." Shella menyahut sambil merayap dari tempat ke atas kursi. Lantas, duduk santai seakan tak terjadi apa-apa. Atau mungkin gadis itu berusaha untuk menganggap tak ada sesuatu terjadi yang membuatnya meringkuk di bawah meja. “Lumayan dikasih cemilan Mayasari sekotak. Isinya enak lagi, dan nggak murahan.”
Mulai dari selepas zuhur, hingga maghrib berkumandang, Shella ingat betul bagaimana tegangnya suasana yang diberikan kak Riki selama pelatihan. Gadis itu bahkan bersikeras mencegah Deva yang hendak ijin ke kamar mandi saat itu agar tidak meninggalkannya.
“Nggak mau! Pingin ikut …. Aku nggak mau sendirian di sini …,” rengek Shella setengah berbisik kala itu.
“Shel! Kalau kamu ikut, siapa yang ngerjain programnya!? Udah, ah! Bentar doang, kok! Kamu coba dulu aja program yang udah ada. Fokusin di beloknya, tadi masih lebih dari 90 derajat, kan?” kata Deva, lalu ijin meninggalkan ruangan. Dengan cemberut dan perasaan takut yang bergerumuh, Shella kembali menghadap laptop hitamnya dan robot Lego-nya.
Untunglah, Deva tidak berbohong soal ijinnya yang cuman sebentar. Akhirnya Shella tidak berkecimpuh di program sendirian lagi, dan dapat menikmati konsumsi yang tak berselang lama kemudian datang.
Satu box snack dari toko roti terkenal dekat sekolah, berisi kue sus, sepotong bolu coklat berselai blueberry, segelas air mineral, dan satu buah pudding matcha.
Puding matcha …. Ah, ya. Itu adalah salah satu isi snack yang paling membuat Shella dan Deva bahagia di tengah stress dengan program yang enggan kelar juga.
“Ngghn … pingin lomba lagi biar dapet makan enak …,” keluh Shella pelan seselesainya ia dari bernostalgia sendirian, dan berakhir dengan getokkan handphone Deva di kepalanya.
“Aw! Sakit!”
“Makanan mulu yang dipikirin! Kamu ikut lomba itu buat nyari pengalaman, nyari menang, atau cuman nyari makan, hah!?”
Shella menimang sejenak. “Jalan-jalan, refreshing, cuci mata lihat cogan, cari pengalaman, sama … ya, makan gratis—Aduh!” Deva sekali lagi menjadikan gadget-nya sebagai alat pukul untuk teman yang isi kepalanya sudah benar-benar butuh perbaikan.
“Udah! Diam kamu! Aku mau lajutin ceritanya,” perontah Deva, lalu kembali bercerita.
*****
Mencuri kesenangan di tengah stress-nya tekanan, baikkah? Salahkah?
Menurutku itu sesuatu yang patut untuk dilakukan demi kebaikan dan kesejahteraan bersama.
Benar-benar…aku tidak bisa berhenti tersenyum saat menulis di buku usang ini. Ternyata diriku dua tahun lalu tak beda jauh dengan yang sekarang.
Masih sama-sama hobi cari cuci mata
Dan, oh, hey! Aku menemukan foto kita berdua yang memgang pudding matcha itu! Gyahaha!
****