Mulai pukul 8, Shella dan Deva mengerahkan seluruh tenaga yang mereka punya di otaknya untuk menyelesaikan program-program sesuai perintah kak Riki. Tiga jam berlalu sejak saat itu. Shella dan Deva sudah berhasil menyelesaikan beberapa rangkaian program untuk perlombaan besok. Tentu saja, keberhasilan itu didapat setelah berulang kali gagal.
"Coba lagi sampai sepuluh kali. Hitung berapa banyak yang gagal sama yang berhasilnya. Kalau yang berhasilnya lebih banyak, kita lanjut ke next step."
Ugh. Lapar....
Shella meringis diam-diam menahan perutnya yang menjerit keroncongan. Benar juga, kalau diingat-ingat ia belum makan sejak sampai di penginapan ini. Guru Pembimbingnya sudah tidur. Apa ia harus meminta makan pada kak Riki? Yang benar saja! Tapi, cacing di perut sudah benar-benar ricuh demo meminta makan. Dan, sepertinya Deva merasakan hal yang sama saat mereka tanpa sengaja bertukar pandang.
"Lapar, Dev."
"Hu'uh. Gimana atuh? Mau bangunin Ibu aja?"
"Nggak tega aku .... Apa minta ke kak Riki aja?"
Shella menjerit tanpa suara saat Deva mencubit pahanya pelan. Matanya melotot di balik bingkai kacamata yang masih setia bertengger hingga sekarang. "Ya, maaf," ucap Shella pelan. "Atuh da ... lapar ini menyiksa jiwa dan ragaku, Dev."
Mereka merintih bersamaan saat robot lego kembali memulai aksinya. Perut kedua gadis itu perlahan mulai melilit karena tak ada satu sendok nasi pun yang tercerna oleh enzim-enzim di lambung.
Sang Pelatih diam-diam memperhatikan dua gadis yang mulai kehilangan fokusnya. Mereka yang terkadang saling berbisik tidak sadar bahwa lelaki itu turut pula menyimak. Riki kemudian bertanya, "Kalian sudah makan?"
Sedikit terkejut, dua gadis yang merasa terpanggil menoleh. Sambil tergagap mereka menjawab, "Be--belum, Kak ...."
"Makan aja dulu, gih. Terus lanjutin nanti." Kak Riki mengambil gawai di samping tubuhnya, sambil memainkan benda gepeng tersebut ia terus berbicara, "Kakak juga kayaknya mau cari makan ke luar. Sok, bilang dulu ke bu Siti."
****
"Singkat cerita, kami langsung nyari makan ke luar. Ada tempat makan gitu nggak jauh dari penginapan," kata Deva.
Shella melanjutkan, "Kita beli nasi goreng, kak Riki nggak tahu beli apa waktu itu. Aku lupa. Udah itu terus kita balik lagi ke penginapan dan makan di kamar masing-masing."
Sekilas, Shella ingat sesuatu yang kemudian menjadi perbincangan hangat saat perjalanan kembali ke penginapan. Kala itu, ia dan Deva tak sengaja melihat pria yang dikenalnya mengambil sesuatu dari dalam kantong. Mereka berdua diam-diam memperhatikan, berusaha keras agar tidak terciduk oleh orang itu. Sesekali saling menatap seakan bertanya, “Lu tahu itu apa?”
Tiba-tiba sebuah terkaan melintas di kepala mereka berdua. Jangan-jangan….
Dugaan mereka tepat sasaran. Sedetik kemudian, asap mengepul tak jauh dari mereka. Kak Riki yang sedari tadi berdiri tak jauh dari Deva dan Shella, mengapit sebuah batang putih dengan jari telunjuk dan tengahnya. Dengan santai menikmati tembakau bakar itu sembari memainkan ponsel pintarnya.
“Dev. Kau inget waktu itu kita pertama kali lihat dia ngerokok?” tanya Shella berbisik.
“Ah, ya. Inget aku. Kaget, ya? Sampai sekarang aku masih nggak percaya.”
“Padahal kalau dipikir-pikir, kenapa harus kaget juga, ya?” kata Shella.
Ya, ia tahu. Seharusnya mereka berdua tidak perlu kaget seheboh ini hanya karena melihat seorang pria berumur 28 tahunan mengisap nikotin. Tapi, rasanya, untuk dua gadis yang kagum pada pelatih keren-nya, apa yang dilihat mereka saat itu adalah sesuatu yang di luar ekspetasi mereka.
“Entahlah….” Deva menyahut. “Buatku, sih, cowok perokok itu bukan tipeku.”
“Heeh…”
Adik-adik kelas yang tidak tahu apa yang dibicarakan sang kakak kelas hanya bisa memandang bingung. Penasaran, namun tak berani angkat tangan untuk bertanya. Akhirnya, seseorang bertanya, "Terus, beneran latihan lagi, Teh?"
"Untungnya nggak," jawab Shella. "Nggak tahu kita yang makannya kelamaan, atau pas nyari makannya, atau emang latihannya udah harus selesai pas mau jam 12. Jadi, kak Riki nyuruh kita tidur dan istirahat aja buat besok."
Ya, besok. Hari di mana pertempuran akan dimulai. MElawan peserta-peserta lain dari berbagai daerah dan sekolah. Bertemu banyak orang dengan segala persiapan perang yang mereka bawa. Dan, jangan lupa, para cogan yang serta merta pasti berkeliaran di sana.
****
Grusak-grusuk penghuni kamar menghiasi pagi Shella dan Deva. Keduanya, ditambah sang guru pembimbing sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk di bawa ke tempat kompetisi hari ini. Kaos yang didapat saat pendaftaran ulang sudah terpakai rapih di tubuh Shella dan Deva. Tas abu mereka juga sudah terisi dengan barang-barang pribadi dan beberapa baterai cadangan untuk sang robot perlombaan.
"Eh, laptop mana, Shel?" tanya Deva. Semalam ia tidak ingat sudah membawa kembali laptop dari kamar kak Riki atau belum.
"Ada kok, ini." Shella mengangkat tas hitam berisikan alat elektronik yang ditanyakan Deva di dalamnya. Gadis pirang ber-oh, lalu mengecek ulang segala barang yang mereka bawa.
“Shella, Deva, udah siap?” tanya bu Siti di dekat pintu.
“Se—sebentar, Bu.” Shella celingak-celinguk di dekat meja tv. “Dev! Kamu ada sisir, nggak? Sisirku kemana, ya…?”
Deva menyodorkan benda yang dicari Shella. Sang gadis berterima kasih lantas merapihkan rambut mocca sebahu miliknya. Kerusuhan ini membuatnya hampir saja keluar dengan rambut kusut nan berantakan. Walau Shella terbilang cukup cuek dengan penampilan, tapi setidaknya ia harus tetap terlihat rapi. Ia pun memilih untuk mengikat satu rambutnya di belakang.
Setelah selesai, Shella segera menyusul guru dan rekannya yang sudah berjalan lebih dulu di depan. Tampak Riki juga baru saja menutup pintu kamar di belakangnya bersama dengan sopir yang mengantar mereka ke kota ini.
Shella tersentak saat sesuatu menyentuh telapak tangannya. Ia menoleh dan melihat orang yang mencengkeram erat tangannya. Raut wajahnya sungguh menggambarkan semangat dan kecemasan. Jari-jemari kedua gadis itu saling bertaut cemas, merasakan dinginnya kulit akibat gugup yang melanda diri mereka.
Deva dan Shella bertukar pandang. “Dev…,” kata Shella pelan.
“Bisa, kok, bisa!” Deva menyemangati. Kedua remaja putri itu pun tersenyum bersama sebelum melangkahkan kaki keluar dari tempat berlindung menuju medan pertempuran.
****
“Kalau kalian mau tahu, ya. Perjalanan kita ke BSD tidak semulus yang dibayangkan,” kata Shella dengan suara yang membuat suasana di sekitar mereka seketika menjadi menegangkan dan penuh rasa penasaran.
“Eh? Emang ada apa, Teh? Apa ada yang terjadi?” tanya seorang adik kelas.
Shella mengangguk. “Di perjalanan...” Gadis itu mulai berbicara dengan suara mengada-ada. Ia meneruskan, “…kita ketemu sama orang ane—“
“Ya! Dah cukup sampai di situ.” Gadis dengan jari lentik yang berhiaskan kuku berkutek merah muda membungkam paksa mulut Shella dengan mengatupkan kedua bibirnya. Membuat gadis itu jadi terlihat seperti bebek dengan bibir monyongnya.
“Mmph!! Mmpphhh!!! Bwah—!” Shella ngos-ngosan mengambil napas setelah berhasil melepaskan tangan Deva. “Si—s****n kau, Dev!”
Tawa-tawa kecil terdengar memenuhi kelompok itu. “Jadi, ada apa emang, Teh, waktu berangkatnya?”
Deva pun menceritakan kronologis dari tragedi yang menimpa mereka di perjalanan.
****
Jalanan di pagi hari belum terlalu ramai, sebenarnya. Jam baru menunjukkan pukul setengah tujuh kurang, namun seluruh penumpang mobil silver itu cemas nan panik dengan apa yang baru saja terjadi pada mereka.
“Bu…gimana dong ini?”
“Nggak apa-apa, nggak apa-apa. Pak Amin lagi beresin semuanya, kok,” kata wanita berumur 30 tahunan itu.
“Keburu, Bu, ke BSD-nya?”
Sang pembimbing mengangguk. Deva dan Shella menghela napas. Kedua gadis itu bisa berbuat apa-apa selain percaya pada gurunya.
Sial…. Kenapa juga ban mobil harus bocor di waktu yang tidak penting seperti ni!? Memang, acara pembukaan akan dimulai pada pukul 8, tapi Shella tidak suka dengan segala sesuatu yang terlalu di pas. Hal itu membuatnya gundah dan tidak bisa tenang. Namun, apalah daya, ia hanya bisa menunggu sampai Pak Amin—sopir, sekaligus salah satu petugas Tata Usaha di sekolah—selesai memperbaiki semuanya.
“Hah…. Ah--!” Shella yang sedang menikmati pemandangan jalan raya yang dihiasi oleh beberapa pohon besar yang rindang dari sisi jalan ini, terkejut dengan getaran dari saku jaketnya. Sebuah telpon masuk dari nomor tak dikenal.
“Siapa, Shel?” tanya Deva, dijawab dengan naikan bahu dari Shella.
Takut-takut, gadis itu mengangkatnya. “A—Assalamu’alaikum…?”
“Wa’alaikumussalam. Shella, ini dengan Bu Riska.”
“Oh! B—Bu Riska. Iya, Bu. Ada apa?” Shella terkejut dengan perkataan wanita di ujung telepon sana. Kenapa Bu Riska tahu nomor teleponnya?
“Kalian lagi di mana? Hari ini kompetisi di BSD, kan? Ibu udah di sini.”
Eh?
“Kenapa, Shel?” Deva bertanya saat menyadari raut keterkejutan Shella.
“Bu Riska ada di BSD, ceunah….”
Deva turut terkejut. Bagaimana tidak? Bu Riska—seorang guru kesiswaan di sekolahnya tiba-tiba sudah ada di tempat kompetisi tanpa sepengetahuan Deva dan Shella. Mereka berdua hanya tahu kalau hanya Bu Siti dan Pak Amin yang mendampingi sedari keberangkatan hingga hari ini. Mereka tidak mendengar kabar apapun bahwa akan ada guru lain yang menyusul.
“Halo?”
“Eh? Ah—“ Shella tersadar dari lamunannya. “I—iya, Ibu. Ini kita lagi di jalan, Bu. Cuman mobilnya Pak Amin tiba-tiba bocor. Ini lagi dibenerin, Bu.”
“Astaghfirullah. Ya udah. Ibu tunggu di BSD, ya. Di sini belum mulai,kok, tapi kalau bisa percepat. Soalnya banyak yang harus disiapin dulu, kan?”
“Iya, Bu.”
“Bilangin juga ke Bu Siti. Soalnya nomor Bu Siti nggak aktif di telpon. Mungkin lagi off , makanya ibu telpon ke Shella.”
Shella sekali lagi menanggapi pertanyaan guru kesiswaan itu sekali lagi.
“Ya sudah. Hati-hati di jalan, Shella. Asslamu’alaikum.”
“Waalaikumussalam.” Shella memutus kontak dengan gurunya dan menyandarkan tubuh pada jok mobil. Berbicara dengan guru di telpon…Shella menganggap hal itu sebagai sesuatu yang sangat-sangat menguras tenaga. Ketegangan mistis yang entah datang darimana membuatnya sulit untuk bicara—karena takut akan salah bicara atau apa.
“Kaget aku kirain ada apa,” ucap Shella sambil mengusap d**a. Deva terkekeh di sebelahnya.
Setelah menunggu hampir tiga puluh menit lamanya, akhirnya Pak Amin, Bu Siti, dan Kak Riki kembali ke dalam mobil. Semua sudah selesai, dan sesuai amanah yang didapat, Shella memberitahu guru perempuan di jok paling depan, bahwa Bu Riska sudah ada di tempat kompetisi. Kaget mendengar hal itu, Bu Siti berterimakasih, dan cepat-cepat membuka handphone-nya yang dinonaktifkan. Ternyata benar, beberapa panggilan tak terjawab memenuhi notifikasi gadget milik gurunya itu. Sepertinya, Bu Siti langsung menghubungi Bu Riska. Entahlah, Shella tak lagi peduli karena sekarang ia tengah menikmati pemandangan dari kota yang belum pernah ia jejaki ini. Hingga tanpa disadari, ia tertidur
****
“Shel. Shel!”
Shella mengerjap-ngerjapkan mata saat mendengar suara yang memanggil namanya.
“Shel! Bangun! Kita udah sampai!”
Sedikit linglung, gadis setengah sadar itu menyahut, “oh? Ah. Iya bentar.” Dia menggosok-gosok matanya yang sedikit buram dan terasa berat. Ah tidur pagi memang begitu nikmat.
Eeng…atau memang dirinya saja yang mudah tertidur di mana pun berada?
Setelah merasa sudah kembali sepenuhnya, Shella menyusul Deva yang sudah turun lebih dulu. Mereka berdua tidak langsung berjalan menuju pintu masuk mengejar sang guru, tapi malah diam sambil memandang tempat megah yang ada di depan mereka.
"Oke. Kamu udah siap?" tanya Deva tersenyum pahit.
Shella baru saja memakai jaketnya dan membalas dengan senyuman yang sama, "Hah…. Siap, nggak siap, Dev. Berdoa aja lah, biar lancar."
Deva menyahut "Aamiin.”
*****
Semangat dan cekikikan masih terdengar waktu matahari belum mencapai puncak.Masih bisa menikmati suasana, mengedarkan pandangan mencari mangsa, dan berbincang tentang banyak hal.
Aku tak tahu, kala itu akan menjadi lebih buruk dari yang aku pikirkan. Apa itu? Sesuatu yang sebenarnya sudah kami duga, tapi kami berusaha untuk yakin dan tetap optimis agar tak terpuruk di detik permulaan.
Namun, nyatanya, semesta sedang ingin menjungkirbalikkan kita.
*****