~~~~ Mimpikah?Atau ini yang dinamakan sebuah ilusi? Terlalu nyata. Terlalu rill untuk dianggap sebagai halusinasi belaka. Degup di d**a. Napas yang berhembus. Dan, Rasa hangat yang mendebarkan. Bolehkah waktu berhenti untuk sejenak saja? ~~~~ Kepala gua nggak rusak, ‘kan? Gua nggak kena tumor otak sampai halusinasi, ‘kan? Shella terus menanyakan hal yang sama berulang kali kepada dirinya. Bagaimana tidak? Apa yang telah terjadi padanya di pasar souvenir itu bagaikan sebuah mimpi, yang ia sendiri pun sangat-sangat tidak yakin hal itu bisa jadi kenyataan. Apalagi perkataan lelaki itu di sana. “Karena saya nggak mau repot kehilangan Anda lagi di tempat ini.” Shella sontak mengatupkan wajah dengan kedua telapak tangan. Menahan teriakan yang hampir saja keluar dari mulutnya. Teman-

