Luka Lama - 6 (Flashback)

2929 Words
Sekeras apa pun Dendra berusaha mengubur peristiwa malam itu, semua yang terjadi masih terputar jelas di kepala. Bergentayangan dan mengusik hidupnya. Mematikan iba, Dendra mengusir Dyra dari apartemennya, setelah mendapat kembali kewarasannya. Meskipun ... Sudah sangat terlambat, karena dia berakhir merus*k sahabatnya sendiri. Tapi, bukankah itu karena Dyra yang memulai? Seperti yang wanita itu katakan, dia yang telah membuatnya menjadi monster. Jadi, biar wanita itu yang menerima konsekuensinya. Dendra tak mau peduli, bahkan menganggap jika mereka tak pernah saling bersinggungan dan bersikap layaknya orang asing setiap kali bertemu. Mengabaikan tatapan keheranan beberapa orang yang cukup mengenal dekat keduanya. Dendra berusaha meneguhkan hati untuk menghapus Dyra dari hidupnya. Sahabatnya itu sudah 'mati', karena Dyra yang dikenalnya bukan wanita gil* yang menjebaknya untuk obsesi semata. "Sayang? Hei, kamu melamun lagi?" Suara lembut yang tertangkap pendengaran berhasil mengoyak lamunan Dendra. Berdeham canggung, pria itu menoleh pada sosok wanita yang tengah menggelengkan kepala, "ayo jalan, itu sudah hijau lampunya, nggak dengar mobil di belakang udah kasih klakson nggak sabaran?" "O—oh, astaga, maaf Sayang." Dengan tergesa, Dendra menjalankan kembali mobilnya yang sempat tertahan lampu merah. "Kamu kenapa sih? Sering melamun dan nggak fokus sama sekitar." Terkekeh kering, Dendra meraih satu tangan kekasihnya, menggenggam erat seolah memberi keyakinan jika semua yang wanita itu pikirkan tentangnya salah. Meski ... Sejujurnya ia memang bak orang linglung sejak peristiwa itu. "Nggak ada, cuma kadang kepikiran soal kerjaan." Apalagi yang bisa Dendra jadikan tameng jika bukan urusan pekerjaan? Karena setiap kali kekasihnya bertanya akan sikap anehnya, cuma itu yang bisa ia berikan. Berdecak tak senang, Sarah memberengut kesal, membuat Dendra mengelus pelan punggung tangan untuk menenangkannya. "Kerjaan terus, kita kan mau tunangan, kamu harus pikirkan soal itu juga." Kabar bahagia itu seharusnya meletupkan rasa suka cita dihatinya. Tapi, setiap kali menyinggung mengenai rencana pertunangan yang tak lama lagi akan digelar, Dendra justru meneguk ludah kelu. Nyatanya, peristiwa itu memang membuat Dendra kalut. Usai menenangkan diri beberapa hari, ia akhirnya memutuskan untuk menganggap peristiwa itu tak pernah ada. Sekaligus, memutus persahabatannya dengan Dyra. Anehnya, mantan sahabatnya itu pun melakukan hal yang sama, menjaga jarak dengannya. Padahal, Dendra kira, usai perbuatan nekadnya malam itu, Dyra akan lebih gencar menyudutkannya. Tapi tidak. Apa kewarasan wanita itu pun telah kembali? Sayangnya, untuk memulai lagi jalinan sebelum peristiwa itu, terasa terlalu sulit. Jadi, keduanya kemudian menjauh dengan sendirinya. Dendra tetap melanjutkan rencananya dengan melamar Sarah, rekan kerja yang merupakan wanita pilihannya, dan beberapa bulan telah berstatus sebagai kekasihnya. Beruntung, di perusahaan tempat mereka bekerja tak ada larangan untuk para karyawannya terikat hubungan. Jadi Dendra, atau pun Sarah yang masih tergolong sebagai pegawai baru, tak harus mengajukan resign. Karena Sarah menginginkan diadakannya pesta untuk pertunangan mereka, maka Dendra mulai menyiapkan semuanya, dibantu EO untuk memudahkan. Meski begitu, konsep serta hal lainnya ia serahkan sepenuhnya pada Sarah. Membiarkan wanita itu menciptakan acara sesuai keinginannya. Malam ini, keduanya baru saja makan malam, sekaligus membicarakan soal rencana pertunangan yang semuanya sudah hampir rampung. Tapi ... Beberapa kali mereka terlibat perdebatan, terutama Sarah yang merajuk karena Dendra tampak tak fokus hingga membuat wanita itu kesal. "Kita kan udah ambil cuti, ngapain masih pikirkan pekerjaan? Pokoknya, fokus sama acara pertunangan kita nanti." Mengangguk patuh, Dendra tersenyum kecil, "iya Sayang, maaf ya." Tak lagi berwajah masam, Sarah kembali bersemangat menceritakan mengenai persiapan acara mereka nanti. Dengan Dendra yang berusaha menampilkan raut antusias. Setelah beberapa lama berkendara, mobil yang Dendra kendarai, sudah sampai di depan gerbang rumah Sarah. "Istirahat yang cukup, jangan terlalu lelah. Dan ... Berhenti memikirkan pekerjaan dulu." Mengulurkan tangan untuk menyelipkan anak rambut ke belakang telinga kekasihnya, Dendra memberi senyum menenangkan, "iya, Sayang ...." Memberi kecupan di pipi kanan Dendra, Sarah mencangklong tas ke bahu kiri, sebelum kemudian berpamitan dan membuka pintu mobil. Melangkah keluar, wanita itu melambaikan tangan. "Hati-hati, jangan ngebut, jangan ngantuk, apalagi melamun. Ingat ya, kita mau tunangan, kamu nggak boleh lecet." Terkekeh, Dendra menganggukkan kepala, merasa terhibur dengan kecerewetan kekasihnya. "Iya Sayang, dan sebaiknya kamu masuk ke dalam." "Aku mau tunggu kamu pergi, baru nanti masuk." Sayangnya, Dendra menggeleng, bersikeras meminta Sarah yang masuk ke dalam rumah, baru pria itu akan menjalankan mobilnya untuk pulang. Tak ingin berdebat terlebih tubuhnya sudah dirong-rong rasa lelah, Sarah yang biasanya lebih keras kepala, kali ini mengalah. Mengangguk pasrah, wanita itu melambaikan tangan sekali lagi, sebelum kemudian berbalik menuju gerbang rumahnya. Dengan Dendra yang terus memerhatikan gerak-geriknya. Setelah memastikan kekasihnya telah memasuki rumah dan tak lagi bisa tertangkap penglihatannya, Dendra kemudian melajukan mobilnya, meninggalkan kediaman sang pujaan hati. Sengaja tak mampir mengingat waktu sudah terlalu malam. Karena saat mencuri pandang pada penunjuk waktu yang melingkari pergelangan tangan kirinya, sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Berusaha fokus dalam menyetir dan tak terseret lamunan seperti yang akhir-akhir ini sering dilakukannya. Dendra mengela napas lega saat akhirnya sampai di gedung apartemennya. Dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana, pria itu terdiam di dalam lift yang hanya ada dirinya. Si*lnya, saat terkungkung senyap seperti sekarang, maka pikirannya akan kembali melayang pada peristiwa yang ia anggap sekadar mimpi terburuk yang pernah didapatkannya. Suara dentingan lift yang tertangkap pendengaran mengoyak lamunan Dendra, membuat pria itu segera melangkah keluar, menyusuri lorong apartemen yang telah sepi. Tubuhnya sangat lelah dan sangat ingin bergelung nyaman di atas tempat tidur. Tapi sebelumnya, dia harus menyeret langkah ke kamar mandi terlebih dahulu untuk membersihkan diri. Sayang, semua keinginan Dendra yang sudah tersusun di kepala, terpaksa meluruh begitu saja, saat kedua netranya mendapati sosok yang cukup lama tak lagi ditemuinya. Dengan rahang mengetat, Dendra melanjutkan langkah yang sempat terjeda karena rasa terkejutnya. Berjarak tiga langkah dengan seseorang yang terduduk di depan pintu apartemen miliknya, memeluk lutut dengan wajah yang tersembunyi. "Mau apa lo datang ke sini?" Tak berminat melakukan basa-basi, Dendra melempar tanya dengan nada dingin. Membuat sosok itu mengangkat wajah dan mendongakkan kepala, tersenyum kecil ketika orang yang ditunggunya telah berada di depan mata. Meringis kecil, sosok itu—Dyra, berusaha bangkit berdiri, sedikit kepayahan karena kakinya terasa kesemutan. Mengingat, cukup lama waktu yang wanita itu habiskan untuk menunggui Dendra. "Mau apa? Gue capek dan nggak ada tenaga lagi buat bertengkar. Jadi sebaiknya lo langsung bilang tujuan lo apa? Mau usik gue lagi?" "Jadi sekarang, gue sebatas pengganggu buat lo?" "Lo lebih dari itu," desis Dendra dengan tatapan tajam, "lo!" Tunjuknya di depan hidung Dyra, "nggak lebih dari mimpi buruk dihidup gue. Jadi sebaiknya, cepat katakan apa tujuan lo datang—" "Gue hamil." Mengerjap, tubuh Dendra membatu seketika. Pria itu bahkan ingin mengorek telinga dengan jari kelingkingnya, sekadar memastikan, jika apa yang baru saja tertangkap pendengarannya adalah salah. "A—apa?" "Gue, hamil." Ulang Dyra dengan raut tenang tapi menghancurkan ketenangan Dendra seketika. Merogoh sesuatu dari kantung cardigan yang dikenakannya, wanita itu mengulurkan sebuah Test pack digital. "Beberapa hari terakhir, gue merasa ada yang aneh dengan kondisi tubuh gue yang terasa lemas, pusing dan muntah setiap pagi. Awalnya, gue kira itu efek dari pola tidur dan makan gue yang kacau setelah pertengkaran kita waktu itu. Tapi ...," Menundukkan pandangan, Dyra tersenyum sendu saat menatap uluran tangannya yang tengah memegang test pack, tak juga diterima Dendra. Pria itu berdiri tegang dengan raut yang seolah bersiap mencabiknya. "Setelah gue coba tes dengan benda ini, hasilnya dua garis. Dan dari keterangan yang gue baca, itu artinya ... Gue hamil. Ada makhluk kecil perpaduan kita berdua yang bersemayam di perut gue saat ini." Setelah terdiam cukup lama, Dendra tiba-tiba tergelak keras, pria itu bahkan membungkuk sembari memegang perut. Seolah, apa yang baru saja Dyra sampaikan adalah lelucon yang paling menggelikan dan berhasil membuatnya terpingkal. Menegakkan tubuh, sembari menyusut sudut matanya yang berair, Dendra merubah raut gelinya menjadi sengit hanya dalam hitungan detik. "Apa yang lo harapkan?" Menurunkan tangan yang tergantung cukup lama di udara karena Dendra tak juga menerima uluran test pack darinya, Dyra mencengkram benda itu dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Bertanggung jawab, tentu saja." Menarik sudut bibir hingga menjadi seringai, Dendra bersedekap tangan, "jadi begitu, skenario murahan yang lo susun?" "Terserah lo mau sebut itu apa, yang jelas," mengelus lembut perutnya dengan satu tangannya yang bebas, Dyra merekahkan senyum yang tampak memuakkan di mata Dendra, "ada bagian dari diri lo di sini sekarang." "Gue nggak peduli," tak memedulikan raut terkesiap di wajah Dyra atas penolakannya yang begitu gamblang, Dendra berbalik dan hendak membuka pintu apartemen, tapi pergerakannya terhenti saat mendengar ucapan Dyra. "Bahkan dengan kehadirannya pun, tetap tak membelokan hati lo ke gue?" Menoleh pada Dyra, Dendra mendengkus, "sebaiknya lo periksakan diri, ada yang nggak beres sama pikiran lo. Mau serendah apalagi yang bakal lo lakukan demi obsesi gil* lo ke gue, hah? Sayangnya, apa pun itu, gue bakal tetap nggak peduli." Setelah mengatakan hal itu, Dendra melanjutkan pergerakannya untuk membuka pintu apartemen. Mengabaikan Dyra yang mematung di tempatnya, pria itu melangkah masuk. Meninggalkan sosok menyedihkan yang menatapnya hampa. *** Hari itu akhirnya tiba, dengan kemeja batik yang memeluk tubuh tegapnya, Dendra sudah bersiap. Seluruh keluarganya dan keluarga Sarah pun telah mengisi deretan kursi kosong yang tersedia. Sebuah garden party dipilih Sarah untuk merayakan pesta pertunangan mereka. Dendra hanya mengiyakan. Karena sekali lagi, yang terpenting baginya adalah kebahagiaan wanitanya. Saat ini, salah seorang perwakilan keluarga Dendra tengah menjadi juru bicara di hadapan keluarga Sarah yang menempati kursi di seberang. Mengela napas panjang, Dendra berusaha mengendapkan rasa kalut yang terus membayang. Alih-alih wajah cantik calon istrinya yang tersenyum malu-malu setiap kali tatapan mereka tak sengaja bersirobok. Wajah kuyu penuh keputusasaan yang justru terputar di kepalanya. Membuat Dendra ingin sekali menggeplak kepalanya sendiri. Tidak! Jangan lagi terpengaruh. Itu jelas bukan kesalahannya. Dyra yang bermain api, jadi Dendra akan membiarkan wanita itu terbakar seorang diri. Itu sudah menjadi konsekuensi dari tindakan gil*nya waktu itu. Getaran di saku celana membuat Dendra tersentak. Sudah beberapa kali tapi tetap ia abaikan. Terlebih, memang sengaja mengaktifkan mode getar pada ponselnya agar tak mengusik acara pentingnya hari ini. Dengan kedua tangan yang terkepal kuat di atas paha, Dendra berusaha mengabaikan getaran ponsel di saku celananya yang lagi-lagi mengusik ketenangannya. Entah kenapa ... Ia memiliki firasat, jika mengintip benda pipih itu, maka kekacauan yang akan mendatanginya. Tapi ... Akh! Si*l! Sekuat apa pun berusaha tak acuh, Dendra akhirnya menyerah dan merogoh saku celananya untuk meraih ponsel yang membuatnya penasaran. Meski kemudian, pria itu mengump*t dan merutuki diri karena firasatnya memang benar. Ada sepuluh panggilan tak terjawab memenuhi layar ponselnya dari nomor baru. Meski begitu, Dendra menyakini satu hal. Jika pemilik nomor asing itu adalah ... Dyra. Tentu saja tak ada niatan untuknya menghubungi balik. Saat akan kembali memasukan ponsel ke dalam saku celana, pergerakan Dendra terhenti, setelah mendapat sebuah pesan dari nomor yang sama dan ia yakini sebagai Dyra yang mengirimkannya. Dalam hati, Dendra bertekad, apa pun yang wanita itu sampaikan, tak akan merubah keputusannya saat ini. Menekan layar ponselnya untuk membuka pesan dari mantan sahabatnya, Dendra tercenung sejenak. Dengan degup jantung yang nyaris membuatnya sesak napas. Senggolan pelan yang mengenai lengannya membuat pria itu tersentak. Menolehkan kepala, ia dapati wajah sang Ibu yang tampak mengerutkan kening, "kamu kenapa? Sakit? Kok pucat begitu?" Meneguk ludah kelu, Dendra menggelengkan kepala dengan sebuah senyuman paksa yang coba ia perlihatkan. "Nggak Bu, tidak apa-apa." "Palingan juga gugup Tante, kan bentar lagi maju buat pasang cincin ditangan calon istri." Goda salah seorang sepupu wanitanya. Terkekeh kering, Dendra hanya mengiyakan gurauan yang dilontarkan untuknya. Dengan tangan yang mencengkram erat ponsel yang berada dalam genggaman, ia berusaha untuk mengabaikan pesan yang baru saja Dyra kirimkan. Tidak! Dendra tak akan peduli dengan apa pun yang akan wanita itu lakukan. Memasukan kembali ponselnya dengan gerakan tergesa, Dendra berusaha mengembalikan fokus pada acara pertunangannya. Hingga ... Suara tangis tiba-tiba membuat pria itu menoleh seketika. Mendapati salah seorang keponakannya yang masih berusia dua tahun menangis hingga pipi chubby-nya basah karena air mata. "Dra, hei? Kok melamun? Itu, ayo maju ke depan, pasang cincinnya buat Sarah." Teguran sang Ibu mengoyak lamunan Dendra. Mengangguk kaku, pria itu berdiri dari tempat duduk, melangkah berat seolah pergelangan kakinya dirantai dan diberi bola pemberat dari besi berukuran besar. Setelah berhadapan dengan Sarah yang melengkungkan senyuman manis untuknya, Dendra mengambil cincin yang akan ia pasang dijari kekasihnya sebagai tanda keseriusan hubungan mereka ke jenjang selanjutnya, yaitu ... Pernikahan. Sarah sudah mengulurkan tangan, menunggu Dendra memasangkan cincin untuknya. Tapi ... Pria itu justru terpaku dengan tatapan kosong. "Dra? Hei? Astaga ... Sayang, bisa-bisanya bengong di acara penting kita." Ucap Sarah dengan suara berbisik, gemas pada pria di depannya yang membuatnya harus menunggu diantara semua pasang mata yang saat ini tengah memerhatikan mereka. "Say—" "Maaf," dengan mata memerah dan rahang mengetat, Dendra menggenggam erat cincin ditangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Belum usai rasa bingung yang menggelayuti Sarah, wanita itu dikejutkan dengan tindakan Dendra berikutnya yang tiba-tiba berlutut di depan kakinya. Membuat semua orang terkesiap, sebelum kemudian terkekeh dan memberi tepuk tangan serta siulan dan kata-kata menggoda. Mengira jika Dendra akan memasangkan cincin sembari berlutut agar lebih romantis. Hal itu pun sempat terpikirkan oleh Sarah, sebelum harapannya tiba-tiba hancur, usai mendengar perkataan yang Dendra lontarkan padanya. "Aku minta maaf, tidak bisa melanjutkan rencana pertunangan kita." Mengerjap, Sarah membeku seketika, sebelum kemudian terkekeh kering, berusaha menghibur diri dengan meyakini jika Dendra tengah bercanda. "Dra, please, kalau mau ngelawak nanti dong, jangan sekarang." Menggeleng putus asa, Dendra yang masih berlutut menatap Sarah dengan pandangan terluka. "Aku serius, maaf Sar, aku nggak bisa melanjutkan ini semua." "K—kamu gil*? Dra, jangan main-main." Bangkit berdiri, Dendra menggeleng dengan raut frustrasi. "Aku nggak gil*, tapi brengs*k dan nggak pantas untuk kamu. A—aku ... Seseorang, tengah mengandung anakku." Semua orang ternganga, sebelum kemudian suasana menjadi riuh oleh dugaan-dugaan yang terlontar dari mereka. Sarah sendiri nyaris pingsan, tapi sebelum itu, ada hal yang harus dilakukannya. PLAK! "Lo lebih dari brengs*k Dra! Tapi B*JINGAN!" Raungnya sebelum kemudian jatuh tak sadarkan diri. Membuat suasana kian tak terkendali. Dendra sendiri mendapat serangan dari saudara dan kerabat Sarah yang tak terima dipermalukan. Beruntung, pria itu diselamatkan oleh kerabatnya meski sudah dalam keadaan babak belur. Usai semua kekacauan itu, Dendra tak segera pulang. Menghadapi sidang keluarga yang tertunda karena sang Mama masih tak sadarkan diri. Dia masih harus pergi ke suatu tempat di mana orang yang membuatnya berakhir menyedihkan seperti ini. Usai memarkirkan mobilnya dengan sembarang, Dendra meraih ponsel dan membuka pesan dari Dyra yang membuatnya bertindak gil* dengan membatalkan pertunangan di detik-detik terakhir. Mencengkram ponsel yang berada ditangannya, Dendra kembali membaca isi pesan yang nyaris membuatnya hilang akal. [ Jika kamu pun tak menginginkannya. Bagiamana kalau aku hilangkan saja dia? Toh, hadir pun hanya akan menjadi sosok yang tak diinginkan. Sekarang, aku sedang berada di tempat yang bisa menghilangkannya. Dan, selamat atas pertunanganmu. Tak perlu khawatir karena tak akan ada lagi beban untukmu. Dyra. ] Di bawah pesan itu, Dyra mengirimkan sebuah alamat yang dengan susah payah akhirnya berhasil Dendra temukan. Meski cukup sulit karena lokasinya yang tersembunyi. Ya, tentu saja, pasti sengaja tersembunyi agar tak mudah terendus. Memasukan kembali ponselnya, Dendra melangkah keluar dari mobil. Jika dilihat dari luar, bangunan di depannya seperti sebuah klinik yang terbengkalai. Dan mungkin orang mengira tak lagi beroperasi. Berderap cepat ke dalam, Dendra menemukan dua pasangan muda yang duduk di bangku panjang dengan wajah kalut. Saat tak menemukan keberadaan Dyra, membuat Dendra kalap dan segera menerjang masuk, membuat orang-orang yang berada di dalam sana terkejut. "Apa-apaan ini?! Anda siapa?!" Tak memedulikan wanita paruh baya yang menggeram marah padanya, Dendra merangsek maju, meraih lengan Dyra dan memaksa wanita itu yang sebelumnya terbaring di sebuah brankar perawatan untuk segera turun. "Dra?" Menulikan pendengaran, Dendra menyeret Dyra keluar dari tempat itu. Langkahnya terhenti, saat melawati dua pasangan muda yang juga menatap penasaran. "Apa dengan menghilangkan sosok tak berdosa membuat hidup kalian kembali bersih? Yang brengs*k itu perilaku kalian, lalu kenapa sosok tak berdosa dan tak tau apa-apa yang harus menanggungnya? Sebelum penyesalan menggerogoti kehidupan kalian, pikirkan baik-baik. Dia pun berhak hidup, dan kalian tak memiliki hak untuk merenggutnya." Usai berkata demikian, Dendra kembali melanjutkan langkah dengan Dyra yang masih diseretnya. Memaksa wanita itu untuk masuk ke dalam mobil, Dendra segera memasuki bagian kemudi. Melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, hingga membuat sekujur tubuh Dyra gemetar karena ketakutan. "Dra, pelan, kita berdua bisa mati!" "Sekarang, kenapa lo takut mati? Kalau apa yang lo lakukan tadi, bukan cuma bisa bikin dia pergi, tapi lo juga!" "GUE PUTUS ASA!" Menginjak rem mendadak, beruntung di jalanan sepi hingga tak mencelakai siapa pun. Dendra menatap Dyra nyalang. "Sebelum berbuat, HARUSNYA LO PAKE OTAK LO, DY!" "Gue kalut Dra! Gue kalut! Gue nggak mau lo sama wanita lain, gue cinta sama lo, sejak dulu. Tapi apa? LO NGGAK PERNAH ANGGAP PERASAAN GUE!" "CINTA ITU NGGAK BISA DIPAKSA!" Dengan dad* naik turun, napas Dendra tersengal-sengal bak baru saja berlari maraton. Mengusap kasar wajahnya, pria itu meraih sesuatu dari atas dasbor mobil, melemparkannya ke arah Dyra dan jatuh dipangkuan wanita itu. "Kita akan menikah," ucapnya yang membuat Dyra membeku. "Dra—" "Tapi jangan mengharapkan apa pun. Ini, sebatas bentuk pertanggung jawaban gue atas kehadiran dia," mengedikkan dagu kearah perut Dyra yang masih rata, Dendra melanjutkan ucapnya. "Karena sekali lagi gue katakan sama lo. Cinta itu tidak bisa dipaksa." "Tapi gue akan berusaha menghadirkan cinta itu." "Terserah!" Tak lagi bicara, Dendra kembali melajukan mobilnya. Mengabaikan Dyra yang menyeka pipi basahnya dengan punggung tangan. Meraih kotak yang Dendra lemparkan dan membukanya, berisi sebuah cincin cantik yang ia tau, seharusnya telah terpasang di jari Sarah. Mengelus lembut perutnya, Dyra berusaha mengeraskan hati, jika semua yang ia lakukan, adalah demi mendapatkan Dendra, pria yang ia cinta. "Terima kasih telah hadir dan membuatnya terikat bersamaku." Bisik Dyra, seolah tengah berbicara dengan calon bayinya. Sosok yang kemudian menanggung semua keegoisan kedua orangtuanya. Karena hingga bertahun-tahun lamanya, cinta yang dipaksakan itu tak pernah ada. Menyisakan sosok tak berdosa yang menjadi korbannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD