Luka Lama - 8

3750 Words
Dari balik pantulan cermin, Binar memastikan sekali lagi penampilannya pagi ini. Rambut hitam panjangnya dibentuk menjadi gelungan rapi, make-up tipis yang akhir-akhir ini ia pelajari demi menunjang penampilan. Mengingat, dia membutuhkan hal itu dan tak lagi bisa bersikap tak acuh. Dengan atasan kemeja putih dan bawahan berupa celana panjang berwarna hitam, Binar mengangguk, tampak puas. Mencangklong tas dibahu kiri dan mendekap lima map coklat berisi surat lamaran kerja. Gadis itu berderap menuju pintu kamar, melangkah keluar dan nyaris pamit untuk pergi tapi ditahan sang Nenek yang baru selesai menata meja makan. "Sarapan dulu, Bi." Menggaruk ujung hidung, Binar tampak gamang. "Nanti aja deh, Nek. Gampang, Binar bisa cari makan di luar." Mengela napas panjang, sang Nenek mendekati Binar dan menuntun cucu semata wayangnya itu untuk duduk di kursi meja makan. "Nenek sudah siapkan sarapan, kamu tega abaikan begitu saja?" Meringis tak enak hati, Binar mengucap permohonan maaf. "Lagipula ini masih pagi, memangnya wawancara kerjanya udah mau mulai pagi-pagi begini?" Berdeham canggung, Binar menggelengkan kepala, "sebenarnya ... Binar baru mau cari kerja Nek." Usai meletakkan piring berisi nasi goreng di depan Binar, sang Nenek mengisi piringnya sendiri. Sebelum kemudian duduk dan memerhatikan cucunya yang mulai menyantap sarapan yang dibuatnya. "Nenek kira mau wawancara." "Belum Nek, soalnya, baru cari-cari lowongan dan hari ini rencananya mau pergi ke beberapa tempat buat naro surat lamaran, sekalian tanya-tanya. Syukur-syukur bisa langsung dapat wawancara kerja hari ini juga." "Bi?" "Ya, Nek?" Meraih gelas yang baru saja terisi air putih, Binar meneguk pelan, sebelum kemudian meletakkan kembali gelasnya dan menunggu kelanjutan ucapan sang Nenek. "Kenapa?" Tanyanya karena tak juga mendapat jawaban. "Kamu ... Yakin, sama keputusan kamu buat cari kerja? Nenek, ada simpanan yang sepertinya cukup buat biaya pendaftaran kuliah kamu. Untuk biaya selanjutnya, nanti Nenek pikirkan lagi." Mengela napas, Binar menggeleng tegas. Meraih salah satu tangan sang Nenek yang berada di atas meja untuk digenggamnya. "Kita sudah bicarakan masalah ini kan?" Sebelumnya, Binar sudah membicarakan tentang keputusannya yang memilih tak melanjutkan ke jenjang perkuliahan dan mencari kerja untuk membantu biaya hidup mereka. Dia tak mungkin terus menerus menyusahkan sang Nenek. Terlebih, uang pensiunan dari kakeknya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Sementara sang Mama, masih membutuhkan pengobatan. Awalnya, sang Nenek menentang keras dan menginginkan Binar untuk kuliah. Merasa sayang karena walau bagaimanapun, Binar berhak mendapat pendidikan untuk masa depannya nanti. Neneknya bahkan sempat menyinggung soal sang Papa dan menanyakan pria itu untuk biaya kuliahnya. Karena walau bagaimanapun, Binar masih menjadi tanggung jawabnya. Hal yang memang sempat terlintas di pikiran Binar. Sebelum kemudian ... Peristiwa di rumah Omanya, dengan ia yang mencuri dengar obrolan menyakitkan siang itu, membuat Binar memutuskan untuk tak lagi bersinggungan dengan pria yang berstatus sebagai Papanya itu. Binar sempat mengatakan pada sang Nenek soal rencana Papanya yang akan menikah lagi. Wanita tua itu hanya tertegun dengan elaan napas berat. Meminta Binar tak menceritakannya pada sang Mama. Karena, sekali pun Dyra tak pernah merespon apa pun yang mereka ucapkan. Tetap saja khawatir karena persoalan ini sangat sensitif untuk wanita yang kini tengah mengalami depresi itu. Binar tentu saja mengiyakan. Dia tak akan mengatakan apa yang diketahuinya tentang sang Papa, pada Mamanya yang sekarang tengah tenggelam dengan kesedihannya seorang diri. Selain itu, Binar pun menyampaikan tekadnya yang tak lagi mau menimpakan harapan pada sang Papa. Termasuk, masalah kuliahnya. Gadis itu memilih batal melanjutkan sekolah di bangku perkuliahan dengan bekerja, ketimbang memohon pada Papanya yang tak ingin lagi diharapkannya. Menurut sang Nenek, Binar menuruni sifat keras kepala Dyra. Jika sudah menginginkan sesuatu, maka akan sulit untuk digoyahkan. Jadi ... Akhirnya ia memilih pasrah dan mendukung apa pun yang Binar putuskan. Meski sesekali, kadang masih berusaha menggoyahkan keputusannya, seperti bujukan yang tadi Neneknya lakukan. "Binar tetap mau kerja saja, Nek." "Apa tidak sayang? Kamu masih punya kesempatan untuk mengenyam pendidikan di bangku perkuliahan, Bi." "Nggak Nek, mau kerja aja. Sambil jaga Mama bareng Nenek." Mengela napas, sang Nenek akhirnya mengangguk. Tak lagi mendebat keputusan Binar yang sudah bulat. "Baiklah, tapi ingat, kapan pun kamu berubah pikiran dan ingin lanjut sekolah. Jangan ragu bilang sama Nenek, ya?" Mengangguk dengan senyuman yang terukir di wajah cantiknya, Binar kemudian mengajak sang Nenek untuk melanjutkan sarapan mereka. Setelah menandaskan sarapannya. Binar bersiap menyiapkan sarapan untuk sang Mama, tapi Neneknya mengambil alih. "Sudah, biar Nenek saja. Katanya tadi kamu buru-buru?" Meringis, Binar yang sempat terdiam akhirnya mengangguk. "Do'a kan supaya bisa cepat dapat pekerjaan ya, Nek?" "Iya Sayang, pasti. Kamu hati-hati ya? Jangan pulang terlalu sore apalagi malam." Mengangguk patuh, Binar mencium punggung tangan sang Nenek, usai memberi salam, gadis itu tak segera menuju pintu keluar, tapi berderap kearah kamar sang Mama. "Ma, Binar berangkat ya? Mama makan yang teratur, minum obat juga. Biar cepat sembuh. Nanti, kalau Binar sudah dapat pekerjaan dan gaji yang lumayan, kita jalan-jalan bertiga. Aku, Mama, sama Nenek, kita pergi liburan." Terkekeh kecil, Binar memeluk tubuh Mamanya yang kian kurus. Merapikan rambut panjang yang serupa miliknya, ia cium pipi terus itu, sebelum kemudian beralih mencium punggung tangan sang Mama dan berpamitan pergi. "Nek, aku berangkat!" Serunya yang tergesa-gesa menuju pintu depan, sementara sang Nenek masih berkutat di dapur, tengah menyiapkan sarapan untuk Mamanya. "Iya, hati-hati!" Balas sang Nenek yang ikut mengencangkan suara agar tertangkap pendengaran Binar. Mengingat, gadis itu sudah berlalu pergi. Dengan semangat yang menggebuk d*da, Binar mengayunkan langkah, menutup pintu pagar rumah Neneknya dan bersiap memulai hari pertamanya mencari kerja. Tapi ... Baru saja berbalik dan hendak melangkah, sebuah mobil familiar tertangkap penglihatan Binar. Membuat tubuh gadis itu membeku di tempatnya. Dengan pandangan yang menatap awas, Binar mempererat pelukannya pada map coklat yang tengah ia dekap. Terlebih, saat sosok itu akhirnya melangkah keluar dari dalam mobil. Berderap kearahnya dengan kening mengernyit. "Binar?" Meneguk ludah kelu, Binar berusaha mengendapkan rasa gugupnya. Oh, ayolah, Bi?! Di depan itu bokap lo, bukan penculik atau orang asing yang mencurigakan. Jadi, kenapa harus takut? Rutuknya pada diri sendiri. Berdeham, Binar berusaha menciptakan senyuman di wajah kakunya. "P—Pa?" "Kamu ... Mau kemana? Papa ingin bicara." Tatapan pria itu kemudian beralih pada rumah sederhana milik mantan mertuanya. "Ayo masuk, Papa mau bicara sama kamu. Hm ... Nenek dan Mama kamu ada di dalam kan?" "Pa," tak ingin terjadi hal yang kian rumit, Binar memilih untuk tak membiarkan sang Papa masuk ke dalam. Entah apa yang akan terjadi pada Mamanya jika melihat lagi pria yang kini telah resmi menjadi mantan suaminya? "S—sebaiknya, bicara di tempat lain." "Maksud kamu? Kenapa tidak di da—" "Mama sedang kurang sehat." "Tidak masalah, kita kan bisa bicara di ruang tamu. Jadi tak akan menggangu istirahat Mama kamu." Memejamkan mata sejenak untuk mengais kesabaran, Binar kembali membuka matanya dan menatap tepat pada netra hitam sang Papa, "jangan, Binar tetap mau bicara di luar. Itu pun ... Kalau Papa masih tetap ingin berbicara dengan Binar." Menyugar rambut sembari mengela napas, Dendra akhirnya mengangguk sebagai persetujuan. Cukup terkejut dengan kegigihan putrinya yang biasa menuruti semua ucapannya. "Yasudah, ayo naik. Kita cari tempat untuk bicara." Mengangguk pelan, Binar mengekori sang Papa yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil. Menengok ke belakang, memastikan sang Nenek tak keluar rumah tiba-tiba dan memergokinya. Binar tergesa-gesa masuk ke mobil Papanya. Duduk dengan tubuh menegang dan degup jantung yang berdetak kencang. Astaga ... Kenapa harus setakut ini? Meremasi tangan yang berada di atas pangkuan, Binar memilih diam. Begitu pun dengan sang Papa yang fokus pada jalanan. Beberapa lama berkendara, mereka akhirnya sampai di sebuah restoran cepat saji. Masuk ke dalam sana yang tampak cukup sepi, mungkin karena masih cukup pagi, jadi tak begitu banyak pengunjung yang datang. Usai memesan makanan, keduanya menempati meja yang berada di pojok. "Kenapa cuma pesan minum?" "Tadi, Binar udah sarapan Pa. Masih kenyang." Mengangguk, Dendra meneguk kopi pesanannya. Sebelum kemudian menarik napas dan memulai pembicaraan dengan gadis yang merupakan putrinya. "Papa akan menikah lagi." Menelan kekecewaan yang menghantamnya. Binar hanya menarik sedikit ujung bibirnya menjadi senyuman tipis yang mungkin tak terlihat jelas jika tak diamati dengan seksama. Bahkan ... Papanya tak menanyakan soal kabarnya atau pun sang Mama setelah cukup lama tak bertemu. Dan langsung melempar kabar yang mencabik perasaannya begitu cepat, tanpa perlu diawali basa-basi. "O—oh, benarkah? Selamat," mengangguk samar, dengan pandangan yang menatap hampa pada minuman di depannya, Binar tak memiliki kata-kata lain yang berhasil tercuri keluar dari celah bibirnya. Dendra menatap putrinya yang tak memberi reaksi apa pun. Cukup mengejutkan. Karena setidaknya, dia kira akan mendapati raut terkejut atau mungkin ... Kemarahan? Tapi yang didapatnya justru sikap tak acuh dari Binar. "Acaranya minggu depan. Setelah menikah, Papa—" "Mama masih belum berbicara." Mengangkat wajah hingga tatapannya bersirobok dengan netra sang Papa yang seketika bungkam, Binar mengais sisa keberanian yang dimilikinya untuk mengangkat persoalan Mamanya di depan pria itu. "Setiap hari, hanya menatap kosong dengan raut putus asa." Lapornya yang berharap, bisa mendapat secuil perhatian dari Papanya yang kini mengela napas panjang sembari menyugar rambut. "Papa sudah berbicara dengan Nenek kamu. Tentang kondisi Dyra yang mungkin ... Ada baiknya di rawat di rumah sakit jiwa." BRAK! "MAMA NGGAK GIL*!" Dengan napas tersengal, Binar menatap nyalang Dendra yang tak bisa menutupi raut terkejutnya melihat perubahan Binar hanya dalam beberapa detik. "Binar, jaga sikap kamu." Dendra mendesis penuh peringatan. Meski tempat makan yang mereka pilih tak banyak di isi pengunjung, tapi tetap saja, perdebatan mereka sempat menarik perhatian beberapa pekerja dan pengunjung lain yang berada di sana. "Bagaimana bisa?" Tanya Binar dengan suara nyaris seperti bisikan. Tapi masih tertangkap pendengaran Dendra. "Apa maksud kamu?" "Bagaimana bisa Papa melakukan ini? Di saat kondisi Mama yang depresi karena perpisahan kalian," mengepalkan tangan erat hingga kuku jarinya melukai telapak tangan, Binar menatap pria yang memiliki andil menghadirkannya ke dunia. "Dengan mudah, Papa sudah menyusun masa depan dengan orang lain?" Terkekeh kering, gadis itu menggelengkan kepala tak habis pikir. "Kamu tidak akan mengerti. Semua terlalu rumit. Tapi yang jelas, meksipun saya sudah bercerai dengan Dyra, kamu akan tetap menjadi tanggung ja—" "Tidak perlu." Tak memberi kesempatan sang Papa menyelesaikan ucapannya, Binar mengusap pipinya yang basah karena bulir air mata yang berhasil lolos meski coba ditahannya sekuat tenaga. Lelah terlihat menyedihkan di hadapan pria itu. "Apa maksud kamu?" Rahang Dendra mengetat. Cukup tersinggung dengan sikap Binar padanya. Tak ada lagi raut segan dan takut-takut. Gadis itu terlihat lebih tak acuh dan bersikap frontal. "Papa tidak perlu repot-repot pikirin aku." Mendengkus, Dendra menyesap minumannya sejenak, sebelum kemudian kembali angkat bicara pada putrinya yang tiba-tiba berubah keras kepala. Mengingatkannya pada sosok Dyra. "Jangan bersikap defensif pada Papamu sendiri. Lagipula, kedatangan Papa ingin bertemu kamu, untuk membicarakan soal kuliah kamu nanti. Apa sudah ada universitas yang kamu pilih? Atau ... Bagaimana jika melanjutkannya di Jepang? Papa, di pindah tugaskan di cabang yang ada di sana, kamu bisa mendaftar di salah satu universitas yang ada di sa—" "Aku tidak akan kuliah." "Apa maksudnya?" Jika biasanya Binar akan mengekeret takut saat mendapat tatapan tajam sang Papa, kali ini, gadis itu mengangkat sedikit dagunya, memberi gestur tak gentar pada kemarahan yang kian merongrong sang Papa. "Aku tidak akan kuliah," ulangnya dengan tegas. "Aku mau kerja." Tergelak keras, tak memedulikan jika mungkin ada yang memerhatikan tingkahnya, Dendra menatap nyalang Binar yang membalas tanpa gentar. Membuatnya tak henti terkejut dengan perubahan putrinya yang begitu besar. "Jadi sekarang, kamu memiliki ego setinggi Mamamu?" "Mungkin seperti Papa lebih tepatnya. Bukankah itu membuktikan, jika aku benar-benar anak Papa?" Tersenyum pedih, ingatan Binar sempat melayang pada ucapan Omanya yang meragukan sang Mama. Yang berarti, wanita itu tak percaya jika dirinya adalah anak kandung Papanya. Jadi, sejak dalam kandungan pun, ia tak pernah diinginkan? "Jangan main-main Binar, Papa benar-benar akan bersikap tak peduli jika kamu terus membangkang seperti ini!" "Papa peduli?" Dengan mata terbelalak dan wajah terkejut yang terlalu berlebihan, Binar menutup mulut dengan satu tangan. Reaksinya yang terkesan mengejek itu, tentu saja kian memperbesar api kemarahan dalam diri Papanya. Sayangnya, kali ini Binar tak lagi peduli. Dia sudah terlalu lelah dengan semua hal yang membuat hidupnya carut-marut. Dan sosok yang tengah menahan emosi di depannya, memiliki andil cukup besar. "Baik, jika itu mau kamu. Saya sudah memberi kesempatan dan berupaya memberi tanggung jawab sebagai seorang Ayah. Tapi kamu sendiri yang menolaknya. Jadi jangan menyesal dan kemudian memohon untuk—" "Tidak Pa," lagi, Binar memotong ucapan Dendra, "sejak Papa memilih meninggalkan rumah dengan dua koper besar malam itu, membiarkan Mama menangis memilukan seorang diri. Aku, sudah berhenti mengharapkan Papa." Mencangklong tasnya dibahu kiri, Binar bangkit dengan tumpukan map coklat yang berada dalam pelukan. "Tidak perlu repot-repot, lebih baik sekarang, fokus dengan kehidupan baru Papa. Selamat untuk pernikahan Papa nanti, Binar rasa, kali ini bisa mendapat keluarga impian penuh kebahagiaan. Bukan lagi beban seperti pernikahan Papa dengan Mama, benar bukan?" Merekahkan senyuman manis, meski kedua netra miliknya menyiratkan luka, Binar menghambur ke dalam pelukan Dendra secara tiba-tiba. Mengejutkan pria itu yang sebelumnya masih terdiam dengan amarah yang menggebuk d*da. "Berjanjilah untuk selalu bahagia. Karena, hal itu juga yang tengah Binar usahakan dengan Mama dan Nenek sekarang." Bisiknya di telinga Dendra yang masih mematung. Pria itu bahkan tak membalas pelukannya. Memberi kecupan di kening sang Papa, Binar menegakkan tubuh, "Binar pamit, jaga diri baik-baik, dan ... Bahagia selalu dengan keluarga barunya." Tak menunggu balasan dari Dendra yang masih bungkam, Binar mengayunkan langkah, berderap keluar meninggalkan sang Papa yang mematung di tempat duduknya. *** Kobaran semangat Binar sedari pagi kian menyusut, selain perasaannya yang tiba-tiba carut-marut usai pertemuannya dengan sang Papa, gadis itu juga kesulitan mencari pekerjaan yang kian menambah beban berat hari ini. Terlebih, selain hanya bermodal ijazah SMA, Binar pun belum memiliki pengalaman apa-apa. Ya iyalah! Kan dia baru lulus! Sayangnya, kadang pengalaman menjadi pertimbangan. Ck! Masalahnya, bagiamana mendapat pengalaman kalau diterima kerja saja belum ada yang bersedia? Dengan langkah gontai, Binar menyusuri jalanan sepi. Melirik penunjuk waktu yang melingkari pergelangan tangan kirinya, sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Sang Nenek pasti khawatir, karena sebelumnya sudah berpesan agar tak pulang terlalu malam. Tapi ... Mau bagaimana lagi? Binar masih berusaha mencari pekerjaan yang sekiranya bisa didapatkan. Di tengah keheningan, Binar tiba-tiba memutar ulang peristiwa pertemuannya dengan sang Papa tadi pagi. Pria itu menawarkan diri untuk membiayai kuliahnya. Hal yang sejujurnya sempat Binar harapkan. Sayangnya ... Semua tak lagi ia inginkan, saat tau, jika sang Papa akan pindah bersama keluarga barunya. Sudut bibir Binar tertarik menjadi senyuman sinis saat Papanya menawari untuk tinggal bersama dan berkuliah di Jepang. Sekadar membayangkannya saja sudah membuat d*da Binar dijejali sesak, jika harus disuguhi pemandangan keluarga bahagia Papanya bersama wanita lain dan ... Gadis yang akan menjadi saudari tirinya. Itu lebih buruk dari mimpi buruk. Mengela napas panjang, Binar bersiap mencari bus atau angkutan umum untuk pulang. Dia tak bisa memesan ojek online karena ponselnya mati kehabisan baterai. Saat mengedarkan pandangan, tatapan Binar jatuh pada peristiwa yang tak pernah diduganya. Tak jauh dari tempatnya berdiri, ia mendapati seorang pria yang tengah berkel*hi dengan dua pria bertubuh tambun dan berwajah sangar. Mencengkram erat map coklat yang tersisa karena yang lainnya sudah ia titipkan saat tadi mencari informasi lowongan pekerjaan, Binar berusaha untuk tak ikut campur. Dia berbalik dan berjalan cepat. Sialny*, langkah gadis itu terhenti saat mendengar suara kesakitan serta rintihan meminta tolong yang diiringi gelak tawa dari dua pria yang sepertinya berhasil melumpuhkan korbannya. Memejamkan mata sejenak, Binar tengah meyakinkan diri agar segera pergi. Bukannya tak berempati, hanya saja ... Dia tak mau terlibat masalah orang lain. Sayang, pikiran dan hatinya tak bisa diajak bekerjasama. Lebih menyebalkannya lagi, suara hatinya yang kemudian menang. Karena setelah itu, Binar membalik tubuh dan berderap cepat ke tempat pria asing yang sudah tergeletak dengan sebelah tangan yang memegang bagian tajam belati, hingga d*rah mengucur deras mengaliri lengan. Posisi kedua pria itu yang membelakangi membuat keberadaan Binar tak disadari. Sebelum kemudian .... BUG! "Akh! Brengs*k! Siapa yang berani sama gue?" Pria berkepala plontos itu tersungkur dengan geraman kemarahan. Sementara temannya yang sempat terkejut, kini menyeringai memuakkan saat mendapati Binar yang tengah menatap awas. Gadis itu menunduk, melihat seorang pria dengan napas tersengal dan wajah dipenuhi lebam serta luka yang mengeluarkan d*rah di telapak tangan kanannya, mengotori kemeja putih yang sudah berubah warna menjadi merah dengan aroma anyir yang terendus kuat. Pria itu sepertinya korban p********n. Dan mendapat luka tusukan. Mungkin, saat para penjahat itu berusaha melukainya lagi, dia melawan dengan mencengkram belati yang justru merobek telapak tangannya. Bersiul dengan tatapan yang menelusuri tubuh Binar, salah satu penjahat itu terkekeh sembari mengusap jenggot yang cukup lebat. "Malam ini kita dapat mobil sama cewek cantik kayaknya." "Brengs*k! Bakal abis lo sama gue!" Penjahat yang tadi tersungkur sudah kembali bangkit sembari menatap Binar dengan bengis. "Bro! Bro! Ini jatah gue. Udah, biar gue yang urus." Menggeplak belakang kepala temannya, pria berkepala plontos itu menggeram kesal, "lo nggak bisa lihat yang bening dikit!" "Ck! Namanya rezeki, nggak boleh di sia-siakan." Mengabaikan temannya, pria itu mendekati Binar yang tampak waspada. "Jadi cantik, bagaimana kalau malam ini kita bersenang-senang?" Mengangkat sudut bibirnya menjadi seringai, Binar mengangguk, "boleh," ucapnya yang membuat pria itu kegirangan. "Kapan bisa kita mulai?" "Sekarang," dan usai mengatakan hal itu, Binar bergerak cepat hingga penjahat yang masih terpesona padanya tak menduga mendapat serangan. BUG! Tendangan yang Binar lakukan diperut membuat pria itu terjungkal sembari meringis. "M*mpus!" Gelak temannya yang justru merasa puas. "Dia bukan cewek sembarangan, Bro!" Manahan ringisan, pria yang Binar tendang kembali bangkit, "gue justru makin tertarik." Seringainya yang kemudian maju dan dibantu temannya untuk mengepung Binar. Binar berusaha menghindar dari serangan dua pria yang kini tengah mengepungnya. Alih-alih takut, gadis itu justru merasa senang karena bisa melampiaskan semua rasa marah dan frustrasinya atas masalah dengan sang Papa, serta nasibnya yang hari ini belum mendapat pekerjaan dengan perkelahi*n yang kini dilakukannya. "Brengs*k, badan ramping tapi tenaga kaya kuda li*r itu cewek." Terengah dengan sesekali menahan ringisan karena mendapat pukulan dari Binar, salah seorang penjahat itu mengeluh. Binar sendiri terkena pukulan beberapa kali, meski berusaha menghindar. Selain pukulan diperut, sudut bibirnya pun mengeluarkan darah setelah tak bisa mengelak dari tinju*n yang diarahkan padanya. BRUG! Tubuh besar itu jatuh menelungkup, "akh! A—ampun! Ampun!" Salah satu tangannya yang diinjak Binar hingga menimbulkan bunyi memilukan membuatnya tak lagi gengsi untuk merengek meminta pengampunan. "Enyah dari sini, sekarang!" "B—baik! Baik! Tapi tolong lepasin tangan gue! Sakit!" Mendengkus, Binar memberi tendangan pada pria itu sebelum kemudian melepasnya. Membiarkan dua penjahat itu kabur dengan tertatih-tatih. Menyeka peluh yang mengaliri pelipis dan leher dengan punggung tangan. Binar beralih mendekati pria yang tadi nyaris menjadi korban pembegal*n. "Ah, elah, pingsan lagi." Menggaruk kepala Binar kebingungan. "Bagus, Bi! Lo hobi banget nambah masalah dan bikin ribet hidup lo yang udah semrawut." Melihat pintu mobil yang terbuka. Binar kemudian membuka bagian penumpang yang berada di belakang, sebelum kemudian memapah tubuh tinggi tegap yang tentu saja cukup berat. Selesai merebahkan pria itu di jok penumpang, Binar menutup pintu. Mengambil map coklat berisi surat lamaran kerja yang tergeletak akibat perkelahian tadi. Memasuki mobil, Binar meletakan map coklat miliknya di kursi bagian penumpang, sementara dirinya yang kini duduk kaku di bagian kemudi. Sejujurnya, Binar pernah belajar mengendarai mobil. Sang Papa yang tak pernah bersedia mengantar ke sekolah memilih untuk mempekerjakan seorang supir. Diam-diam, Binar kadang meminta untuk diajari. Setelah sang supir mengundurkan diri karena harus pulang kampung, Binar memilih untuk menggunakan kendaraan umum daripada diantar jemput supir lagi. Setidaknya, suasana ramai dan berbagai aktivitas orang-orang dikendaraan umum bisa mengalihkan sedikit rasa sepinya. "Ayo Bi, lo pasti bisa." Meski sudah cukup lama tak mengendarai mobil, Binar yakin kemampuannya belum hilang. Setelah berhasil melajukan mobil meski awal-awal sempat tersendat dan mendapat omelan dari pengendara lain karena membuat kagok. Binar akhirnya bisa melajukannya dengan lancar. Saat terjebak lampu merah, suara dering ponsel menyentaknya. Meraih benda pipih itu yang tergeletak di atas dashboard, Binar tampak ragu, apa harus mengangkatnya atau tidak? Tapi kemudian ... Dari kaca spion dalam, ia mendapati pria pemilik ponsel yang terkapar tak sadarkan diri di jok belakang, membuat Binar akhirnya menekan tombol hijau untuk mengangkat panggilan atas nama Nathan. "Res, lo di mana Bro? Lama amat, elah. Ini pesta perpisahan lo udah mulai lima belas menit yang lalu, tapi sang bintang utama belum juga no—" "H—halo?" Hening sejenak, setelah Binar akhirnya angkat bicara karena pria di seberang sambungan terus mengoceh hingga membuatnya tak memiliki kesempatan untuk menjelaskan. "Ya, halo? Ini ... Nomornya Ares kan?" Mana Binar tau?! Dia sama sekali tak mengetahui apa pun pria yang kini tak sadarkan diri di belakangnya. Berdeham untuk meluruhkan rasa gugupnya, Binar kemudian berusaha menjelaskan. "Begini, saya minta maaf karena sudah lancang angkat telepon dari anda. Tapi ... Ini darurat. Pria pemilik ponsel ini tadi hampir menjadi korban pembegal*n—" "APA? ASTAGA! KOK BISA? TERUS, GIMANA KEADAAN ARES? DIA BAIK-BAIK AJA, KAN? ATAU TERLUKA? LUKANYA PARAH NGGAK? BAGIAN TUBUH MANA AJA YANG TERLUKA?" Astaga ... Binar membenturkan keningnya di setir mobil, merasa frustasi setelah mendapat begitu banyak pertanyaan. Mana dia tau luka-luka dan sebaginya, kan bukan dokter! Suara klakson tak sabaran di belakangnya membuat Binar berjengit. "Begini, saya sedang menuju rumah sakit. Lebih baik anda susul ke sana karena sekarang saya masih diperjalanan. Nanti lokasi rumah sakitnya saya kirimkan melalui pesan." Tak menunggu waktu lama, terlebih kendaraan di belakangnya kian tak sabaran, Binar mematikan sambungan tanpa menunggu jawaban. Sesampainya di rumah sakit, Binar keluar lebih dulu, memanggil salah seorang perawat untuk meminta bantuan dibawakan brankar dorong. Ia tak mungkin kembali memapah pria itu hingga ke dalam. Dengan sigap, para petugas rumah sakit membantu Binar. Dua orang perawat pria membantu membaringkan sosok yang Binar tolong di atas brankar dorong dan dengan segera membawanya. Selama menunggui pria itu yang kini tengah di tangani. Binar terus melirik kearah jam tangannya. Astaga ... Sudah pukul setengah sembilan malam, dia harus pulang. Neneknya pasti khawatir, apalagi ponselnya mati. Tapi bagaimana? Pihak keluarga pria itu belum datang. Binar sudah mengirimkan pesan ke nomor bernama Nathan yang di tengah jalan menuju rumah sakit menghubungi ponsel orang yang Binar tolong. Mengangkat kepala yang sebelumnya tertunduk. Binar segera bangkit dari duduknya sewaktu melihat seorang pria yang berlari kearahnya. "Lo yang tadi angkat telepon dari gue? Kondisi sobat gue gimana?" Mengangguk Binar bisa bernapas lega karena akhirnya ada juga yang menggantikannya menunggui pria yang masih mendapat perawatan. "Iya, itu saya. Teman Kakak masih diperiksa, dan ini—" memberikan ponsel serta kunci mobil milik pria yang ditolongnya pada sosok di depannya, Binar berusaha menjelaskan. "Saya nggak sengaja lihat teman Kakak dikeroyok beg*l. Abis itu saya tolong dan bawa ke sini. Maaf, saya harus segera pulang, semoga teman Kakak bisa cepat sembuh." "Loh, hei, tunggu, gue—" "Maaf Kak, ini sudah malam, saya harus pulang, nanti Nenek saya khawatir. Permisi." Tak mengindahkan panggilan pria itu, Binar tetap tergopoh-gopoh pergi. Meninggalkan sosok di belakangnya yang menggaruk rambut frustasi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD