Chapter 021

1163 Words

Dari ambang pintu, mereka berpindah ke dalam kamar dan duduk di sofa. Keduanya saling diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Vian tidak marah meski kata-kata yang Leya ucapkan cukup keterlaluan. Justru rasa bersalahnya kembali muncul dan merasa semakin bingung harus berbuat apa—langkah yang ia ambil selalu saja salah di mata Leya.   “Kamu pernah pacaran?” tanya Vian memulai kembali pembicaraan mereka. Leya sudah selesai menangis, namun ia masih enggan menatap Vian.   Dengan menggelengkan kepalanya Leya menjawab, “Belum.”   Vian menyimpulkan; salah satu alasan yang membuat Leya begitu sulit menerimanya adalah karena gadis itu belum memiliki pengalaman sama sekali. Ia belum merasakan bagaimana dicintai oleh seorang lelaki, yang mana seharusnya didapatkan dari sang ayah. Tidak sul

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD