Sudah 4 bulan lamanya Fanya sekolah di SMP favoritnya itu. Banyak pengalaman yang ia dapatkan, dan yang membuat Fanya sangat bahagia adalah ketika namanya lolos kedalam seleksi pemilihan anggota OSIS untuk kelas 7. Perasaannya bahagia bukan main, pasalnya banyak sekali murid yang ingin lolos seleksi pemilihan OSIS. Dirinya termasuk orang yang beruntung bisa lolos seleksi. Oiya perlu dicatat, Fanya lolos seleksi itu karena usahanya sendiri. Bukan karena dia dekat dengan Devan yang notabene nya adalah ketua OSIS jadi Fanya bisa mengambil kesempatan menggunakan jabatan Devan untuk meloloskannya dalam pemilihan seleksi tersebut. Bukan! Fanya bukan tipe orang yang memanfaatkan jabatan seseorang untuk kepentingan dirinya sendiri.
Hari ini Fanya sedang sibuk menyiapkan segala keperluannya dari mulai pakaian, alat tulis, dan segala perlengkapan untuk mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa atau LDKS besok. Sudah 2 kali ia memeriksa tas nya, ia takut jika perlengkapannya ada yang kurang. Fanya pun melihat kembali catatan perlengkapan yang ia tulis sewaktu mengikuti kumpulan OSIS sepulang sekolah tadi.
"Terowongan panjang berlumpur?" Fanya mengernyitkan dahinya yang tak gatal, melihat ada satu tulisan yang belum ia contreng dicatatannya. Berarti dia harus mencari terowongan panjang berlumpur itu? Yaampun aneh-aneh saja. Mana ia tahu terowongan yang berlumpur itu apa? Daripada Fanya bingung sendiri lebih baik Fanya menelpon Devan.
Dan akhirnya ia tahu, terowongan panjang berlumpur itu apa. Ya itu bisa seperti full* ataupun chocolato*. Fanya tak habis pikir pada senior yang menyulitkan kata-kata pada setiap makanan. Tapi tidak masalah, yang penting sekarang perlengkapan nya sudah lengkap dan beres, itu sudah cukup membuat Fanya merasa tenang.
Tiba saatnya hari LDKS tiba, Fanya sudah sangat siap untuk mengikuti setiap kegiatan LDKS tersebut. Lihat sekarang Fanya sudah menggendong tas yang cukup besar dan tangan kanannya menenteng paper bag yang entah isinya apa? Padahal LDKS ini hanya dilaksanakan 2 hari, tapi barang bawaan Fanya seolah-olah akan pergi selama-lamanya:v
Oiya, Fanya baru sadar kalo sedari tadi disekolah ia tak melihat adanya Devan. Kemana anak itu? Biasanya dia tak pernah absen untuk menemui Fanya. Tapi hari ini, batang hidungnya pun tidak kelihatan sama sekali. Apa dia sesibuk itu mempersiapkan kegiatan LDKS ini.
Saat terdengar suara instruksi untuk anak kelas 7 agar segera berkumpul di lapangan, Fanya pun dengan segera berlari kelapangan. Karena jika ada siswa yang telat dalam hitungan 10 detik siswa itu akan diberi hukuman yang sadissss. Mau tau apa hukumnya?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
RAHASIA! HAHAHA!
Namanya juga hukuman, rahasia dong yaa.
.
.
.
.
Saat semua siswa sudah berkumpul di lapangan. Fanya melihat didepan lapangan tersebut sudah berdiri seorang lelaki tampan yang ia ketahui bernama Andrean Ragara yang menjabat sebagai wakil ketua OSIS sedang memegang mic.
Andrean Ragara, yang Fanya tahu dia adalah wakil ketua OSIS yang dikenal baik dan sangat ramah. Dia juga tampan, tapi menurutnya jika dibandingkan dengan Devan, sudah jelas Devan lah yang lebih tampan.
Oiya, Andrean juga sangat dekat dengan Devan. Mungkin mereka sahabat karib. Tapi kenapa ya sewaktu Fanya melihat sorotan mata Andrean ketika melihat Devan meraih piala atas kemenangannya pada olimpiade matematika satu bulan lalu, Andrean seperti melihat Devan tak suka. Lebih bisa disebut seperti tatapan kebencian. Ahhh, mungkin hanya perasaan Fanya saja.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu. Selamat pagi." Salam si wakil ketua OSIS itu.
"Waalaikumsalam, Pagi kaaa." Sahut murid.
"Saya tidak mendengar kalian semua menjawab salam saya. Jawab sekali lagi." Perintahnya dengan suara meninggi
"PAGI KAAAA."
"Bagus. Pertama saya ucapkan terimakasih pada adik-adik yang sudah mau mengikuti kegiatan LDKS ini. Saya harap kalian semua yang berdiri disini adalah calon anggota OSIS yang dapat meningkatkan mutu kualitas sekolah kita. Dan saya harap semoga kalian tidak mengecewakan saya dan sekolah karena memilih kalian untuk lolos seleksi menjadi bagian dari organisasi ini. Kalian mengerti?."
"Siap Mengerti!"
"Oke, selamat menjalankan hari pertama dikegiatan LDKS ini. Saya akhiri wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatu."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu."
Murid pun membubarkan barisannya. Mereka lalu bergegas untuk masuk ke kelas. Karena setelah ini ada materi yang akan disampaikan oleh guru dan seniornya.
Fanya duduk di kursi kedua bersama perempuan yang bernama Rani. Ia kenal Rani karena kelas Rani bersebelahan dengan kelasnya. Dan menurut Fanya, Rani orang yang baik.
Sudah jam 12 siang Fanya duduk dikelasnya mendengar sambil mencatat materi yang seniornya sampaikan. Jika dihitung-hitung sudah 4 jam Fanya duduk dikelas itu tanpa istirahat. Bayangkan saja bagaimana keadaan Fanya sekarang, wajahnya pucat karena cacing cacing di perutnya sudah meronta ingin diberi asupan makanan. Fanya tak bisa menahan lagi, hingga akhirnya dia lebih memilih untuk melipat kedua tangannya dimeja dan menenggelamkan wajahnya di lipatan tangannya.
"Kamu, coba berdiri." Perintah wakil ketua OSIS yang bernama Andrean itu kepada siswa yang menenggelamkan wajahnya diantara lipatan tangannya.
Yang disuruh tidak menggubris perintah Andrean, ia malah semakin menikmati aktivitasnya itu. Padahal teman sebangkunya sudah mencoba untuk membangunkan perempuan itu. Hingga akhirnya Andrean sendiri yang datang langsung kebangku perempuan tersebut.
Brak
Suara gebrakan meja sontak membuat semua murid yang ada didalam kelas terkejut dan membuat Fanya bangun dari tidurnya. Tersadar karena ia sudah tidur dikelas pada saat pemberian materi, rasa lapar yang sedari tadi menggerayangi perutnya kini berubah menjadi rasa takut bak bertemu dengan harimau buas yang sudah siap menyantap Fanya untuk makan siang harimau tersebut.
Melihat wajah seorang wakil ketua OSIS dihadapannya ini membuat rasa takut Fanya semakin menjadi-jadi. Ia takut akan diberikan hukuman.
Hukuman?
Mendengar kata hukuman saja sudah membuat darah Fanya seperti berhenti sejenak. Apalagi jika ia benar-benar akan mengerjakan hukuman itu? Habislah Fanya.