Flashback On
Seorang gadis berkepang dua dengan senyum merekah yang menghiasi wajahnya sedang berjalan melewati koridor sekolah barunya. Ia masih memakai seragam merah putihnya, yap hari ini adalah hari terakhir untuknya mengikuti Masa Orientasi Siswa. Cukup melelahkan memang, tapi mengingat hari esok ia tidak lagi memakai seragam merah putihnya dan diganti dengan seragam putih biru membuat hatinya berbinar tak sabar untuk segera menikmati masa putih biru di sekolah yang termasuk dalam jajaran SMP favorit se wilayah Jakarta.
"Fan, gue seneng pake banget deh bisa keterima di sekolah ini." Ujarnya kepada perempuan berambut sebahu yang sedang membenarkan poninya.
"Fan, Lo tau ga Ketua OSIS di SMP ini tuh ganteng banget gue jadi betah sekolah disini."
Fanya menghentikan langkahnya, lalu menoleh kearah Nita. "Yang itu maksud lo?" Ucap Fanya seraya menunjuk seseorang yang sedang fokus pada laptopnya. Nita mengangguk antusias, "Iya Fan yang itu, yaampun ketos sama wakil ketos sama-sama ganteng." Balas Nita dengan mata berbinar.
"Hmm, udah yu ke kelas aja." Ajak Fanya.
"Assalamualaikum, di kelas ini ada yang namanya Indira Fanya Azzahra?" Tanya seseorang di ambang pintu kelas.
Mendengar namanya dipanggil Fanya pun berdiri lalu bergegas untuk menemui orang yang memanggilnya.
"Devan Arazka". Batinnya saat melihat nametag yang tertera di seragam lelaki dihadapannya itu. Tak asing baginya untuk mengetahui sipemilik nama tersebut.
"Eh ka Devan. Ada perlu apa?" Sapa Fanya ramah
"Kaka cuma mau ngasih ini aja. Dimakan ya, Kaka tau pasti kamu lupa bawa bekal." Ucap Devan, terdengar ramah dan tidak kaku seraya memberikan tempat makanannya.
Fanya tersenyum malu, kemudian menerima pemberian Devan. "Makasih ka, maaf nih ngerepotin."
"Kaka ga ngerasa direpotkan ko. Kaka tau persis sama sifat pelupa kamu yang ga suka bawa bekal kesekolah."
"Hehe, iyadeh ka Devan emang the best." Fanya mengacungkan jempolnya sambil tersenyum lebar yang menampilkan deretan gigi putihnya.
"Yaudah kaka mau ke kelas lagi ya. Oiya pulang sekolah bareng Kaka oke."
"Siap bos." Balas Fanya seraya hormat.
Devan tersenyum manis melihat tingkah Fanya, iapun mengusap puncak kepala Fanya dengan gemas."Belajar yang serius". Devan meninggalkan Fanya.
Devan Arazka, si ketua OSIS yang sangat famous dan memiliki wajah tampan dengan iris matanya yang hitam pekat, alis tebal, hidung yang dipahat sempurna dan bibirnya yang errrrr tipis berwarna merah ranum yang menunjukkan dia tidak pernah merokok. Adalah seorang good boy yang dikenal pintar dan selalu mengharumkan nama sekolahnya, selain menjabat menjadi ketua OSIS dia juga menjabat sebagai leader basket di sekolahnya. Perlu kalian ketahui, meskipun Devan masih kelas 8 SMP tapi pesonanya sudah bisa membuat kaum hawa yang melihatnya kagum akan kharismanya. Banyak sekali yang menyukai Devan, bahkan setiap harinya kolong meja Devan dipenuhi dengan surat dan coklat pemberian dari secret admirer nya. Devan menghargai semua pemberian dari penggemarnya, tapi Devan tidak dapat membalas perasaan penggemar yang sudah terang-terangan mengakui cintanya pada Devan. Karena apa? Karena Devan sudah memiliki gadis yang harus ia perjuangkan dan ia prioritaskan di hidupnya. Siapa lagi kalau bukan Fanya.
Gadis remaja yang sangat cantik, yang dapat membuat jantung Devan berdegup kencang hanya dengan melihat senyum di wajahnya. Gadis remaja yang bisa membuat Devan khawatir saat ia tidak mendapatkan kabar darinya, dan gadis itu juga yang membuat Devan tak ada habisnya memikirkan semua hal tentang Fanya. Devan tak mengerti kenapa perasaan sayang yang dulu hanya sebatas kakak kepada adik perempuannya bisa berubah secepat ini menjadi perasaan sayang lelaki kepada gadisnya? Terbesit perasaan ingin memiliki di pikiran Devan, tapi egonya sangat tinggi. Ia terlalu takut Fanya tidak membalas perasaannya dan berakhir dengan mencampakkannya. Jadi ia lebih memilih untuk memendam perasaannya saja yang ia sendiri tak tahu akan mengungkapkannya kapan.
Devan mengenal Fanya sudah sangat lama, saat kecil mereka sudah sangat akrab. Karena memang, orangtua Fanya dengan orangtua Devan itu adalah sahabat sewaktu SMA. Jadi tidak heran jika Fanya yang notabene nya adalah anak yang baru masuk di SMP itu sudah sangat dekat dengan Devan yang membuat iri siswi di sekolahnya melihat kedekatan mereka.
"Ka Devan." Pekik Fanya seraya melambaikan tangannya.
"Tunggu, Kaka yang kesitu." Devan menyahutinya lalu berlari kearah Fanya. "Ayo pulang." Ajak Devan yang langsung menggenggam tangan Fanya. Sontak saja Fanya kaget, karena Devan menggenggam tangannya secara tiba-tiba terlebih lagi ini masih diarea sekolah. Ia malu. Tapi akhirnya Fanyapun hanya menurut saja dan tersenyum kikuk.
"Fan, Kaka traktir es krim mau ga?" Tawar Devan di tengah-tengah perjalanan nya menuju kerumah dengan tangan yang masih menggenggam Fanya.
Fanya mengangguk sangat antusias, dia memang sangat senang jika ditraktir es krim apalagi yang mentraktir nya itu Devan. Menurutnya Devan itu sudah seperti tukang es krim berjalan pribadinya, karena setiap hari jika Devan ada waktu pasti selalu mentraktir nya. Lumayan kan perut kenyang uang pun tenang.
Setelah Devan sudah membeli es krim untuk Fanya, ia mengajak Fanya agar duduk sejenak di taman dekat komplek perumahan Fanya. Dari mereka duduk di bangku sekolah dasar, memang sudah menjadi suatu kebiasaan setiap pulang sekolah mereka selalu duduk, bermain dan bercanda tawa ditaman ini.
"Ka, Kaka kenapa ko mau jadi ketua OSIS?" Tanya Fanya, disela-sela kesibukannya menjilati es krim.
Devan menghembuskan nafas beratnya "Sebenarnya menjadi ketua OSIS itu bukan kemauan Kaka.Kaka dipilih sama guru dan vote murid memihak ke kaka jadi Kaka harus bisa nerima dan ngejalanin semua yang udah jadi tanggung jawab Kaka." Balasnya.
"Apa Kaka masih berat hati buat jadi ketua OSIS?"
Devan menggeleng dan tersenyum manis yang selalu membuat hati Fanya teduh melihatnya. "Lambat laun Kaka bisa nerima itu ko. Dan kamu bisa lihat sendiri sekarang selain ganteng, Kaka juga berbakat jadi pemimpin yang famous." Ujar Devan membanggakan dirinya sendiri.
Fanya membelalakkan matanya, ternya sifat sombong yang ada dalam diri Devan itu tidak dapat hilang. Disaat pembicaraan serius ataupun bercanda, masih sempat sempatnya Devan membanggakan dirinya.
"Hmm, iya deh iya. Fanya akui kalo Kaka itu famous. TAPI MASIH DI.BA.WAH FA.NYA."jawabnya yang menekankan di akhir kalimatnya.
Devan tergelak, tangannya lalu bergerak untuk membersihkan es krim yang belopotan di sudut bibir Fanya.
"Ka, jadi ketos itu seru ga?"
Devan mengangguk.
"Yah, jangan ngangguk doang dong. Cerita sama Fanya kek tentang suka duka nya jadi ketos." Ujarnya dengan bibir yang ia monyongkan.
Devan membenarkan posisi duduknya, yang tadi lurus kedepan menjadi menyamping berhadapan dengan Fanya. Yang justru membawanya ke posisi tidak nyaman, karena jantung nya sudah mulai berdisko ria melihat wajah Fanya sedekat ini. Dengan menghela nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan Devan mulai menceritakan pengalamannya menjadi ketua OSIS. Dari dia yang awalnya menolak untuk dijadikan ketua OSIS lalu dipaksa menjadi ketua OSIS dan akhirnya dia menurut. Devan yang selalu mengharumkan nama baik sekolah dengan membawa piala yang ia raih pada saat mengikuti berbagai perlombaan dibidang akademik maupun non akademik. Dan menceritakan dirinya yang menjadi Most Wanted sekolah dan disukai oleh banyak orang.
Kejadian demi kejadian sudah diceritakan Devan pada Fanya. Fanya sempat speechless mendengar apapun yang diceritakan oleh Devan. Tapi Fanya kembali cemberut ketika Devan menceritakan banyak perempuan yang tergila-gila padanya dan ada juga yang sampai menyatakan cinta pada Devan. Fanya merasakan sesak di dadanya mendengar itu. Tidak tahu kenapa? Ia tidak suka setiap kali Devan menceritakan perempuan lain dihadapannya.
"Nah gitu ceritanya."
Fanya ber oh ria saja.
"Ko cuma oh doang? Kurang banyak kaka ceritanya?" Ucap Devan dengan nada kecewa.
Mendengar nada kecewa dari mulut Devan, Fanya merasa tidak enak. Ia pun lalu membuka pembicaraan lagi agar rasa kecewa Devan menghilang.
"Aku mau jadi ketua OSIS kaya Kaka boleh ga?" Tanyanya dengan hati-hati. Namun tak ada balasan dari lawan bicaranya.
"Ka, ko diem si?"
"Eh."
"Kaka aku nanya malah diam. Lagi mikirin apa si?" Ketusnya.
"Fan, kamu mau jadi ketua OSIS?" Tanya Devan balik.
"Iya ka, Fanya mau banget. Apalagi kalo bisa bareng terus sama Kaka, pasti seru deh." Ujarnya excited.
"Kalo kaka ga izinin kamu gimana? Apa kamu mau nurut sama Kaka?"
"Engga, Kaka harus izinin Fanya. Titik ga pake koma."
"Fan, mending kamu pikir-pikir dulu deh."
"Dari tadi Kaka cerita, Fanya udah mikirin matang-matang buat aktif di organisasi itu. Dan kalo Fanya kepilih jadi ketua OSIS pasti bakalan dikenal sama banyak orang dan.. "
"Jadi ketua OSIS itu bukan untuk mengejar ketenaran aja Fan, tanggung jawabnya juga besar. Kaka takut kamu kecapean." Potong Devan.
Fanya mencebikan bibirnya, saat Devan dengan santai memotong pembicaraannya.
"Kaka sendiri kan yang selalu bilang sama Fanya kalo hidup itu dibawa enjoy aja dan jangan terlalu dijadikan beban? Bukan begitu ka?" Elak Fanya.
"Mmm, iya Fan Kaka tau. Tapi"
"Tapi apa ka? Kaka egois tau gak? Kenapa Fanya gaboleh jadi ketua OSIS ataupun sekedar aktif di organisasi itu sedangkan kaka sendiri boleh ngelakuin apa yang kaka mau."
"Fanya juga mau berbaur sama orang lain ka. Fanya mau punya teman dan pengalaman yang lebih banyak lagi. Emang apa salah nya si kalo Fanya ikut organisasi? Kecapean? Alasan itu yang buat Fanya muak ngedengernya ka. Kalo kita ikut suatu organisasi kecapean itu hal yang sangat wajar. Asal dijalankan bersama-sama pasti hilang rasa capek itu. Dan Fanya kuat ko ka, Fanya gapunya penyakit apa-apa jadi Kaka ga usah khawatirkan apapun tentang Fanya. Karena selama ada Kaka disamping Fanya itu udah jadi sumber kekuatan buat Fanya jalanin hidup." Jelas Fanya panjang lebar.
"Jadi gimana? Kaka ngizinin Fanya kan?" Tanyanya lagi sambil menampilkan puppy eyes yang menjadi jurus andalannya saat Devan tak mau menuruti permintaannya.
"Iya iya, Kaka izinin. Tapi ingat, jangan gara-gara ikut organisasi ini kamu bisa lupa sama kesehatan kamu ya."
"Yeayyyy, Fanya senang banget. Makasih ka, Fanya sayang Ka Devan." Teriaknya kegirangan lalu berhambur memeluk Devan.
Devan tersenyum, lalu membalas pelukan Fanya. Apa mengizinkan Fanya adalah langkah terbaik? Dia harap Fanya akan baik-baik saja.