Mata Harsa melirik Abraham yang mulai ikut duduk. Posisi yang saling berhadapan membuat pandangan mereka berdua bertemu.
"Berhenti bertemu dengan Sienna, aku tidak suka itu."
Harsa mengutarakan pendapat itu tanpa rasa takut sama sekali. Abraham menunjukkan deretan gigi yang sudah tak lengkap, tepatnya pria ini menertawai.
"Harsa, kakek tidak ada niatan untuk menyakiti Sienna. Jadi, apa yang harus kami cemaskan?"
Kelihatannya Abraham tidak ingin berhenti menemui Sienna.
"Setelah kembali, kenapa kamu tidak menghubungi kakek? Bertemu saja terus menolak," singgung Abraham.
"Kamu takut dipukuli oleh kakek?"
Harsa tersenyum sinis. "Di usiaku yang dewasa ini, memangnya Kakek berani melakukannya?"
Tangan Abraham langsung mengepal, namun ekspresi wajah tidak menunjukkan adanya kekesalan sama sekali. Bibir justru mengulas senyum.
"Tentu kakek tidak akan melakukannya padamu, Harsa. Kamu cucu kesayangan kakek."
Kesayangan menurut Harsa sangatlah lucu. Dia bisa berdiri di posisi seperti ini tanpa bantuan dari Abraham sama sekali.
"Kakek lihat jadwalmu kosong minggu ini."
Abraham mengeluarkan beberapa foto dan diletakkan di atas meja. Dari kejauhan Harsa bisa melihat jelas, puluhan wanita berjejer di sana.
"Memilih Sienna sebagai istri, bukanlah hal yang baik, Harsa."
"Jadi?" Harsa bertanya, padahal telah tahu tujuan sebenarnya.
"Pilihlah dua wanita yang paling kamu senangi. Selama kamu ada waktu luang, mereka akan menemui."
Harsa memandang lekat foto tersebut.
"Kalau aku tidak mau, bagaimana?"
Abraham yang sudah tersenyum karena melihat Harsa sedikit tertarik dengan barang yang dibawakan. Namun, ekspresi langsung berubah saat mendengar Harsa yang menantang.
"Kamu harus ceraikan Sienna! Baik Sienna atau keluarganya, mereka adalah benalu. Penghalang jalan sukses kamu, Harsa!"
"Sayangnya, aku tidak ada minat untuk mengganti istri. Jadi, tidak ada gunanya mengenalkan wanita lain padaku," tolak Harsa terang-terangan.
Abraham mulai terlihat marah. "Apa hebatnya Sienna? Dia hanya w*************a yang berhasil meracuni hati kamu."
Harsa menatap Abraham serius. "Aku tidak akan mengganti istri."
***
Harsa menuruni anak tangga karena mendengar suara di dapur. Merasa tidak mungkin pembantu, mereka akan berhenti bekerja setelah makan malam selesai.
Mata Harsa menemukan Sienna yang sedang berkutat di hadapan kompor.
"Apa yang sedang kamu lakukan?"
Mendengar adanya suara, tubuh Sienna sempat berbalik dan mata saling pandang dengan Harsa sejenak.
"Memasak," sahut Sienna singkat.
Harsa tahu, saat makan malam tadi Sienna tidak berselera.
Sienna hanya diam dan melanjutkan memasak, meski menyadari keberadaan Harsa yang berdiri di belakangnya. Menyandar pada meja dapur dengan mata mengamati kelakuan Sienna.
“Kalau lapar, kenapa tidak pesan dari luar?”
Sienna melirik. "Bukankah sedang memasak? Untuk apa pesan dari luar."
"Untuk lain kali, lebih baik pesan saja."
Mendengarnya, Sienna sepenuhnya berbalik dan membiarkan masakannya matang. Harsa sempat memperhatikan kompor.
"Sebegitu takutnya Bapak kalau aku membakar dapur ini?"
Harsa tersenyum. Persetan dengan kerugian yang ditimbulkan oleh Sienna jika memang dapur sampai terbakar.
"Aku tidak senang melihat wanita memasak di dapur."
Kepala Sienna malah mengangguk. "Syukurlah, dengan begitu Bapak tidak akan menaruh hati padaku."
"Omong kosong."
"Wanita yang menjadi bagian dari keluargaku, tidak pantas di dapur. Terlihat seperti seorang pembantu."
Maksud sesungguhnya dari Harsa direspon helaan napas oleh Sienna. Lantas, ia melanjutkan kegiatan memasak. Harsa sedikit menyingkir saat Sienna melintas untuk mengambil piring.
"Terserah Bapak, mau anggap aku pembantu atau apa. Tapi, perutku lebih penting dari semua itu."
Melihat Harsa yang masih berada di dapur membuat Sienna berkomentar.
"Bapak kalau tidak ingin ikut makan lebih baik kembali ke kamar saja."
Pengusiran itu membuat Harsa terpaksa meninggalkan Sienna. Meski, dia sempat tergoda dengan aroma masakan yang dibuat oleh istri.
Hanya saja, Harsa tidak mungkin menjilat ludah sendiri karena sudah mengatakan ketidak sukaan dia terhadap dapur pada Sienna.
"Orang kaya yang banyak gaya," sindir Sienna melihat kepergian suami.
Setelah beberapa saat menghuni ruang kerja. Harsa sama sekali tidak bisa berfokus dengan dokumen yang tergenggam di tangan. Harsa justru tiba-tiba memikirkan Sienna, terlebih saat istri memasak dan memperlihatkan bagian belakang tubuh.
"Aku penasaran, seperti apa rasanya menikmati Sienna dari belakang."
Pikiran kotor itu tiba-tiba saja hinggap, tepatnya setelah Harsa mendengar suara langkah kaki Sienna yang memasuki kamar beberapa menit lalu.
Harsa mulai meninggalkan kursi dan sepenuhnya keluar dari ruangan kerja. Langkah dia begitu pasti dan membuka pintu kamar milik Sienna.
Sienna yang belum tertidur menolehkan kepala dengan raut heran.
"Malam begini, ada urusan apa?" Sienna langsung bertanya.
Mata Sienna melirik pintu kamarnya yang ditutup oleh Harsa. Ia merasa sepertinya Harsa ingin membicarakan hal serius dengannya.
"Begini ...."
Sienna menantikan apa yang ingin Harsa bicarakan hingga meragu.
"Aku tidak bisa tidur, jadi aku ingin tidur di sini."
Mendadak Sienna merasa gugup. Dirinya yakin kalau itu hanya sebuah alibi, Harsa bukannya tidak bisa tidur.
"Ada banyak kamar di rumah ini, kenapa Bapak harus memilih kamar ini?"
Sienna mengawasi Harsa yang sudah menaiki ranjang. Sementara dirinya masih sibuk dengan rangkaian perawatan wajah yang belum selesai.
"Besok aku harus bekerja, kalau tidak bisa tidur itu akan menghambat kinerja."
Alasan itu membuat Sienna menarik napas.
"Bicara jujur saja, Bapak ke sini bukan hanya sekadar tidur, kan? Bapak ada niatan yang aneh."
Melihat Sienna yang begitu peka membuat Harsa merasa senang. Hingga tangan membuka satu kancing baju.
"Benar. Karena kamu sudah mengerti, bukankah seharusnya datang padaku?"
Bahkan perihal urusan ranjang pun, Harsa menunjukkan sikap angkuh. Tentu Sienna tidak akan menurut semudah itu pada keinginan Harsa.
"Apa yang aku dapatkan jika mendekat?"
Mata Harsa menatap Sienna yang bangun dari duduk, namun melangkah sangat pelan membuat dia jadi tidak sabar.
"Bukankah kamu menikmatinya sekali pun mengeluh sakit?"
Mulut Sienna membisu karena Harsa mengingatkannya pada malam itu.
"Bisakah Bapak jangan mempersulit hidupku yang sudah pelik?"
Harsa mengerutkan dahi. Merasa kalau masalah ini adalah hak dia sebagai suami. Tak ada tindakan mempersulit sama sekali.
"Aku terus didesak oleh ayahku, bisakah aku dapatkan bantuan dari Bapak jika menurut?"
Harsa terdiam dan tidak kunjung bicara, tangan Sienna sampai meremas celana tidurnya. Sepertinya membujuk Harsa masih tetap saja sulit.
"Kalau lain kali aku ingin, apakah kamu akan menurut?"
Kepala Sienna mengangguk. "Jika Bapak bersedia mengurangi kesulitan hidupku, aku bersedia melayani kapan pun."
Bibir Harsa mengulas senyum. Rupanya seperti ini rasanya, menikahi wanita yang tak ada ikatan cinta sebelumnya.
Harus ada yang dikorbankan setelah keinginan tercapai.
"Baiklah."
Jemari Harsa mengundang Sienna. "Kemarilah!"
Dengan langkah yang ragu, Sienna mendekati Harsa.
Namun, rasa tidak sabar membuat Harsa meninggalkan ranjang dan memperpendek jarak dengan Sienna.
Rengkuhan pada pinggang Sienna dia lakukan. Napas saling menyapa dalam sekejap karena Harsa bergerak lebih cepat mencium bibir Sienna.