Bab 9 Jangan Ganggu Sienna

1006 Words
“Kalau kamu tidak bicara, mana aku tahu apa keinginanmu.” Ucapan Harsa memang ada benarnya. Sienna memandang pria yang sudah jadi suaminya ini amat serius. “Bisakah Bapak membantu kelancaran dana untuk pembangunan anak Perusahaan ayahku?” Harsa menajamkan mata begitu mendengar permintaan darinya. “Itu keinginan kamu?” Kepala Sienna mengangguk. “Sejujurnya Perusahaan itu kelak akan jadi milikku, jadi aku ingin memastikan pembangunannya berjalan lancar.” “Kamu ingin punya Perusahaan?” Sienna diam sejenak, merasa kalau Harsa akan menuruti jika memang dirinya meminta secara baik-baik. “Benar.” Tidak ada salahnya merendah pada suami sendiri. Harsa terlihat mempertimbangkan sejenak, kemudian mengangguk menyanggupi. “Baiklah. Aku akan bicarakan ini dengan Angga.” Bibir Sienna mengulas senyum senang, karena Harsa ternyata tidak seburuk perkiraannya. “Setelah dapatkan lokasi untuk pembangunan Perusahaan Angga akan menghubungi kamu.” Sienna menunjukkan raut bingung setelah mendengar kelanjutan ucapan dari Harsa. “Tunggu dulu, kenapa harus mendapatkan lokasi lagi? Sementara Perusahaan sudah dibangun oleh ayahku.” “Katanya kamu ingin Perusahaan, makanya akan aku buatkan. Lupakan Perusahaan yang dibangun oleh ayahmu atau siapapun.” Harsa mulai melangkah pergi. “Mustahil kamu bisa memilikinya, jadi jangan sampai kamu dibodohi.” Sienna mengikuti langkah kaki Harsa yang keluar dari tangga darurat. Namun, ia telah berhenti karena banyak mata karyawan yang sudah melirik dan memperhatikan. Mungkin untuk status pernikahan di antaranya dengan Harsa cukup dimaklumi mau berada di ruangan mana pun berdua. Namun, tetap saja Sienna merasa sungkan untuk menunjukkan kemesraan di khalayak umum. Jadi, sekarang Sienna memutuskan untuk menaiki lift bersama pegawai yang lain. Hingga dirinya tidak sengaja bertemu mata dengan Diandra yang sejak lama berada di dalam sana. “Dasar murahan.” Telinga Sienna sudah dapat makian dari Diandra sejak masuk ke lift. Mata para karyawan melirik tipis ke arah Diandra. Beberapa di antara mereka tidak ingin ikut campur, namun bagaimana pun Sienna adalah istri dari atasan. “Murahan dari mananya? Orang Ibu Sienna berduaan dengan suami sendiri.” Akhirnya, salah satu dari mereka memilih membela Sienna di hadapan Diandra yang semakin kesal dengannya. Namun, memutuskan untuk tidak mempersulit dirinya lagi. Diandra yang tidak senang melihat wajahnya langsung membelah keramaian lift dan keluar sebelum pintu tertutup. Namun, Diandra membeku saat berhadapan dengan Harsa yang ternyata belum naik lift. “Pak Harsa,” sapa Diandra sembari tersenyum manis. *** “Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh pak Harsa?” Sienna yang semula mengantre di café untuk membeli teh kesukaannya. Justru berakhir di kursi dengan dihampiri oleh Angga yang meletakkan minumannya di atas meja. “Beliau terang-terangan memergoki si Diandra memperlakukan kamu dengan buruk, bukannya menegur malah langsung pergi,” komen Angga sembari menduduki kursi di hadapannya. Sienna mengulas senyum sembari menyedot teh. “Bukankah kamu tahu sejak awal, kalau aku menggantikan kakakku menikah dengannya?” “Jadi, peduli apa dia denganku.” Melihat Sienna yang biasa saja membuat Angga menarik napas. Pria tersebut terkadang ingin melawan Diandra, namun wanita penggosip macam Diandra justru akan memperburuk nama baik Sienna. “Sesekali kamu harus melawan orang seperti itu,” ujar Angga. Sienna diam sejenak sembari melanjutkan kegiatannya menyedot teh tarik. Sejak lama ia menyadari kelakuan Angga yang berbeda tiap kali di hadapannya, contohnya sekarang pria ini mengutamakan dirinya ketimbang diri sendiri. Sienna membicarakan soal minuman. Lalu, Angga akan jadi pribadi yang bawel jika di hadapannya tapi cukup pendiam di dekat Harsa. “Aku tidak punya dukungan, mana mungkin aku melawan adik dari direktur keuangan.” Angga memandang Sienna lekat. “Kamu bisa.” “Dari status awal, kamu orang kaya mampu menindas siapa pun. Lalu, sekarang status istri dari pak Harsa, kamu semakin bisa melakukannya.” Sienna geleng kepala sambil tersenyum, tidak menyangka pemikiran Angga yang seperti ini. “Jadi, kamu senang kalau aku suka menindas orang?” Angga tersenyum. “Ada kalanya kamu harus berani seperti dulu.” Sienna termenung. Dulu, ia belum berpikiran dewasa. Tidak tahu akibat dari keberanian yang ia perbuat. Sekarang, Sienna takut sebelum memulai pembicaraan dengan siapa pun. Karena ia tidak tahu seperti apa pengaruh mereka terhadap masa depannya kelak. *** Harsa yang semula menikmati sepuntung rokok dengan tenang, begitu mata melirik jam di dinding. Pukul 8 malam Sienna belum pulang ke rumah Harsa mulai berpikiran buruk. “Apa dia berkencan di belakang aku?” Harsa berniat menghubungi Angga, barangkali Sienna sedang bersama dengan sekretaris. Namun, telinga Harsa mendengar suara mobil yang terparkir di depan rumah. Dahi dia mengerut, sejenak memikirkan perasaan tadi pagi Sienna tidak mengendarai mobil. Pemikiran Harsa makin buruk, pasti ada pria lain yang mengantarkan Sienna pulang. Begitu keluar rumah, Harsa makin menunjukkan raut tidak senang. Tepatnya karena melihat Abraham keluar bersama Sienna dari mobil. “Akhirnya kakek bisa melihat wajah kamu lagi, Harsa.” Padahal jarak di antara mereka masih jauh. Tapi, sang kakek sudah menunjukkan aura kemarahan yang kuat. “Sedang apa Kakek bersama dengan Sienna?” Harsa terdengar sangat serius, ketidak senangan itu membuat dia langsung berjalan cepat dan menarik tangan istri untuk menjauh dari sang kakek. Pandangan Harsa menelisik wajah hingga tangan dan kaki Sienna, barangkali Abraham menorehkan luka pada Sienna. “Kamu hanya peduli pada istrimu saja? Tidak ingin membiarkan kakekmu ini masuk,” singgung Abraham. Harsa melirik dengan tajam. “Aku senang Kakek sudah mengantar istriku, hari sudah malam lebih baik Kakek kembali saja.” Bukan Abraham jika menuruti ucapan Harsa. Pria tua itu mendekati Harsa dan Sienna yang hanya bisa membisu dan bersembunyi di belakang suami. Mata Abraham saling bertemu dengan Harsa yang makin tajam saja. “Kamu sungguh telah kehilangan tata krama, Harsa.” Abraham mulai memasuki rumah tanpa mendapat izin dari Harsa sama sekali. Harsa ikut masuk ke dalam rumah dengan tak melepaskan genggaman tangan Sienna sama sekali. “Masuklah dan istirahatlah di kamar!” Permintaan dari Harsa itu membuat Sienna menuruti. Sepertinya ia harus mencoba untuk mempercayai suaminya sendiri. Sekali pun langkah kaki Sienna yang menaiki tangga diperhatikan oleh Abraham. “Kamu sudah tersihir olehnya ya, Harsa?” sindir Abraham. Harsa langsung menduduki sofa tanpa menawari Abraham sama sekali. “Jangan ganggu Sienna.” Abraham tersenyum sinis mendengar permintaan dari Harsa. "Memangnya kapan kakek mengganggu Sienna?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD