Bab 8 Sebuah Keinginan

1029 Words
Harsa yang berhasil membuat Tiara pergi dari rumah, nampak menaiki anak tangga untuk melanjutkan pekerjaan di ruangan. Namun, mata dia menemukan Sienna mendekat dengan dibalut pakaian rapi, seolah siap untuk pergi. "Mau ke mana?" Harsa langsung mempertanyakan. Sienna justru mencari keberadaan seseorang dari lantai dua. "Perasaan aku mendengar suara mama. Tapi, mama di mana?" Mulut dia membisu dengan tangan terlipat di atas perut. "Sienna." Panggilan itu membuat atensi Sienna sepenuhnya tertuju pada Harsa yang sedang tidak percaya. "Rupanya kamu menikmati hidup sebagai istri Harsa selama aku pergi." Itu sebuah sindiran bagi Sienna. Sienna mengangguk. "Benar sekali, aku memasuki keluarga Anda sungguh tidak mudah dan penuh tantangan." "Jadi, bukankah sangat wajar bagiku menikmati hidup?" Harsa tidak pernah melihat pengeluaran yang dilakukan oleh Sienna. Dia hanya peduli dengan pekerjaan selama di Singapura, sungguh mengabaikan istri yang masih hidup hingga sekarang. "Lain kali kalau mau berbelanja, tidak perlu dengan ibuku." Mendengar larangan itu, Sienna langsung menyahut. "Lalu aku harus pergi dengan siapa, Bapak begitu?" "Tentu saja tidak." Sienna tidak mengerti dengan pemikiran Harsa. Melarangnya pergi dengan mertua sendiri, lalu siapa yang harus menemani dirinya. "Setahu aku, mama Tiara adalah ibu kandung Anda." "Memang," sahut Harsa sembari berjalan melewatinya. "Lalu, kenapa sepertinya hubungan kalian tidak pernah baik-baik saja?" Sudut mata Harsa melirik Sienna yang mengikuti. "Apa yang semalam masih belum cukup, Sienna?" Otomatis langkah kakinya terhenti. Dahi Sienna mengerut dan menunjukkan ketidak senangan. "Kenapa Anda malah membahas hal lain?" Harsa membuka pintu ruang kerja dengan mata memandang ke arahnya. "Masuklah jika kamu masih menginginkannya." Pintu langsung ditutup, dia sangat yakin kalau Sienna tidak akan ikut masuk. "Trik apa yang coba kamu lakukan, Sienna?" gumam Harsa. Harsa juga meyakini, kelakuan Sienna yang berani semalam bukan atas keinginan diri sendiri. Ada campur tangan orang lain yang membuat Sienna sampai rela memakai pakaian itu dan menggoda Harsa. Meski harus dia akui, tanpa bertindak apa pun Sienna berhasil menggoda. *** "Aku hampir terlambat." Selagi melirik jam di tangan, Sienna mengutarakan keresahannya. Pagi-pagi Indra sudah memarkirkan mobil di depan perusahaan milik Harsa, upaya itu dilakukan untuk mengobrol dengan dirinya. "Kemarin saat ayah memintamu ke rumah selepas pulang kerja, bukankah kamu tidak datang?" Mata Indra memandang lekat pada Sienna. "Bahkan katanya kamu tidak masuk kerja kemarin." Sienna langsung membalas pandangan dari ayahnya. Sejak lama Indra meletakkan mata-mata di perusahaan Harsa, namun orang itu tidak pernah menunjukkan batang hidung. "Apa Harsa menahanmu?" Mulutnya membisu, bingung harus menjawab seperti apa. "Kalau kamu berhasil menggodanya, berarti misi kamu meminta Harsa membantu pembangunan anak perusahaan berhasil?" Memang sedari dulu, Sienna hanya sebuah alat bagi Indra. Bahkan hingga saat ini pun, di mata keluarga Harsa juga sama. Melihat sang anak yang hanya diam saja, Indra menduga kalau Sienna telah gagal. “Kamu ini seorang wanita, kalau tidak bisa mengendalikan suami. Kelak saat hamil, anakmu tidak akan berguna.” Sienna tersenyum sejenak, jadi itu yang dipikirkan oleh ayahnya. Makanya, hingga saat ini dirinya hanya anak yang dianggap tidak berguna selalu. Belum sempat Sienna menyahut dan menyindir ayahnya. Pintu mobil mendadak terbuka membuat Sienna dan Indra melirik. Rupanya Harsa pelakunya dan sekarang menjembulkan kepala. “Apa yang Ayah mertua lakukan di depan perusahaanku?” Harsa bertanya dengan mata terus tertuju padanya. Indra nampak kaget namun berusaha menciptakan senyuman, sekali pun itu keterpaksaan. “Ayah ingin bertemu dengan Sienna, rindu mengobrol dengannya,” sahut Indra. Mata Harsa masih melirik ke arahnya, jelas dia tahu kalau Sienna sangat sering datang ke rumah sendiri, tapi Indra justru berbohong dan tidak pernah bertemu. “Ayah mertua bisa berkunjung ke rumah, tidak perlu bertemu Sienna di luar.” Indra masih mengulas senyum, ayahnya jelas tidak berani mendatangi rumah karena ada Harsa yang menjadi lawan terkuat jika berbicara. “Apakah Ayah mertua sudah selesai bicara dengan Sienna?” Kepala Indra mengangguk. “Sudah.” “Kalau begitu aku akan membawa Sienna.” Indra hanya bisa diam melihat Sienna yang dibawa pergi oleh Harsa dari mobil. “Sialan!” Ayah Sienna itu hanya bisa menggerutu di belakang dengan mata memandang tajam Harsa yang membawa Sienna memasuki gedung Perusahaan. "Sebenarnya berapa usia kamu, Sienna?" Harsa mempertanyakan selagi memasuki perusahaan, sementara Sienna berusaha melepaskan tangan dari genggaman Harsa. "Kenapa Bapak mempertanyakan usiaku?" Menyadari ada banyak karyawan yang baru berangkat dan hendak menuju lift. Harsa memutuskan menarik Sienna lebih jauh dan berakhir di tangga darurat. Sienna memandang tangannya yang mulai dilepaskan oleh suaminya. "Kamu sudah dewasa untuk menentukan baik dan buruk. Apakah hal ini pun harus ada yang mengajari?" Pandangan Sienna dan Harsa saling bertemu. Harsa begitu mudah mengomentari kehidupannya yang bahkan tidak diketahui seluruhnya oleh pria ini. "Nasib kita berbeda, Pak Harsa." Harsa mengerutkan dahi, merasa kalau sang istri sedang tersinggung dengan ucapan dia barusan. "Anda terlahir di keluarga sempurna, sementara aku hanya anak yang dianggap tidak berguna." Harsa menyeringai mendengar penilaian Sienna soal keluarga dia. "Sempurna? Apakah di matamu kekuasaan yang memonopoli serta menjatuhkan keluarga satu sama lain, itu disebut sempurna." Mulut Sienna membisu. "Hidup kamu ini tidak ada apa-apanya, Sienna." Secara tidak langsung, Harsa menyebut Sienna seorang amatiran. "Mulai sekarang, lepaskan belenggu yang mengganggu bagimu. Jangan dengarkan perintah siapa pun." "Kecuali aku," ujar Harsa mengecualikan diri sendiri. Sienna merasa heran. "Kenapa aku hanya boleh mendengarkan perintah dari Bapak?" Harsa memandang Sienna serius. "Karena aku suami kamu, Sienna." Status yang ditekankan oleh Harsa ini dianggap lelucon bagi Sienna. "Oh benarkah?" Melihat ekspresi Sienna, wajah Harsa menjadi lebih serius. Hingga kaki perlahan mendekati membuat Sienna otomatis mundur. Hubungan badan yang pernah terjadi, tidak membuat Sienna menerima Harsa begitu saja. Terbukti dari cara Sienna berusaha menghindar. "Perlu kamu tahu, Sienna." Tapi, sebelum Sienna menghindar. Harsa lebih dulu menangkap tangannya dan mencekal. Tak mengizinkan Sienna untuk pergi ke mana pun. "Seorang suami tidak akan mencelakai istri sendiri." Jarak di antara mereka sangatlah dekat, hingga napas Harsa menyapa permukaan pipinya. Alhasil Sienna menjadi lebih berusaha untuk melepaskan diri. "Bicara saja Pak, tidak perlu dekat-dekat!" Bibir Harsa mengulas senyum. Padahal mereka berdua sudah melakukan hal lebih panas dari ini. Perlahan Harsa menjauhkan diri dari Sienna yang menarik napas lega. "Baik ayahmu atau kakekku, abaikan mereka semua mulai saat ini. Kamu telah dewasa dan menikah, jadi jalani hidup berdasarkan keinginan berdua. Tanpa campur tangan mereka." Ketika Harsa mulai berjalan pergi, Sienna mempertanyakan. "Soal keinginan, apakah Bapak tahu keinginan aku apa?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD