Bab 7 Bikin Cucu

1018 Words
"Dinikmati apanya! Aku hanya mencoba produk--" Sienna masih ingin menggunakan alasan yang sama untuk menghindar. Namun, ia dikejutkan dengan tangan yang dituntun oleh Harsa. Mata Sienna melotot sempurna, melalui sentuhan kecil ini, ia rasakan sesuatu yang keras di balik celana Harsa. "Bagaimana caramu bertanggung jawab atas bagian ini, Sienna?" Terburu ia tarik tangan dari pusat tubuh Harsa. Entah berapa ukurannya, tapi yang jelas lumayan panjang hingga tangan Sienna tak mampu menangkup semuanya jika dibuka. "Rasa penasaranku semakin menjadi." Harsa mengangkat tubuh Sienna yang sempat tersentak. Hingga memutuskan melingkarkan tangan pada pundak suami. Berharap dengan tergodanya Harsa, ia bisa menjadi sosok yang mengendalikan kelak. "Seberapa enaknya ketika aku bergerak di dalam," ujar Harsa dengan mata haus padanya. "Tidak bisakah Bapak diam?" Bibir Harsa tersenyum tipis. Dia telah menyaksikan sisi Sienna yang baru, pipi sedikit memerah menahan rasa malu. Amat pelan Harsa meletakkan Sienna di atas ranjang yang belum pernah ia rasakan selama dua tahun terakhir. Bahkan ini kali pertama Sienna memasuki kamar milik Harsa. "Apakah ini yang disebut penyerahan diri?" Hasrat yang menggebu tak menghentikan mulut Harsa untuk menyindir istri. "Kalau begitu aku akan kembali saja." Sienna yang tersinggung berniat turun dari ranjang. Namun, Harsa bergegas menahan bahkan menaiki tubuh Sienna. Harsa terasa semakin berat dari sebelumnya menurut Sienna. Mungkin karena jarak di antara mereka berdua sudah tidak ada lagi. Bibir yang semula hanya menyentuh, kini menjadi serakah. Lumatan demi lumatan yang Harsa berikan mulai dibalas amatir oleh Sienna. "Pak." "Diam, Sienna." Jemari yang merambat dan berakhir di antara pangkal paha, tentu membuat Sienna ingin menghindar. Sayangnya, Harsa yang dikuasai oleh keinginan tak mungkin hanya setengah-setengah. *** "Enak, tapi sempat bikin kapok." Harsa menyugar rambut sembari tersenyum sinis. Penyatuan tubuh semalam benar-benar diluar dugaan. Dia menatap cermin di kamar mandi dengan kesal. Rupanya para lelaki pandai membual. Dia telah dilukai oleh Sienna sejak percobaan pertama hingga beberapa jam kemudian. "Ternyata susah sekali ditembus," komen Harsa disertai helaan napas. Perih yang masih sedikit Harsa rasakan, memang terbayar oleh milik Sienna yang menyenangkan. Harsa mulai keluar dari kamar mandi dan menemukan Sienna menuruni ranjang. "Rasanya seperti hanya aku yang terluka di sini." Sindiran itu membuat Sienna mendelik. Sepertinya Harsa lupa dengan isakan tangis ia saat penerobosan terus saja dicoba tanpa memberi jeda. "Makanya kamu bisa jalan seperti ini," lanjut Harsa. "Saya bukan wanita manja." Memang rasa perih dan sakit masih belum membaik, namun pekerjaan yang menanti lebih penting ketimbang urusannya sendiri. Harsa melipat tangan tanpa berniat mencegah Sienna yang mulai berjalan menjauh. "Dokter akan datang dan memeriksa kamu." Otomatis langkah Sienna terhenti. Mata ia melotot kaget, tak menyangka Harsa akan bertindak berlebihan. "Hal itu wajar terjadi saat pertama kali. Apakah Bapak ingin orang lain tahu, kalau semalam kita tidur bersama setelah dua tahun pernikahan?" omel Sienna. Mulut Harsa membisu sejenak. Dia menatap tak tega ke arah Sienna yang berdiri dengan kurang nyaman. "Kembali ke kamarmu, Angga akan membawakan surat dokter ke divisi kamu bekerja." "Aku harus bekerja." Sienna yang kekeh mengundang Harsa untuk melihat bagian bawahnya. Pakaian tipis yang masih melekat memperlihatkan bentuk tubuhnya lebih jelas karena pantulan cahaya matahari. "Kamu yakin? Jalan dengan langkah pelan dan kesakitan begitu tidak akan mengundang perhatian?" Meski mulut Harsa berkomentar, namun bagian tubuh dia yang lain bereaksi. Terburu Harsa berbalik untuk menutupi celana yang mungkin sedikit membesar. "Pemilik perusahaan sendiri yang mengizinkan, kamu tidak perlu bersikeras." Kepala Sienna mengangguk. "Baiklah, toh semalam aku juga kesulitan tidur." Harsa dan Sienna baru selesai pukul 3 dini hari, karena sangat sulit untuk berhasil masuk. Sienna yang telah meninggalkan kamar membuat Harsa berbalik. Dia kesal dengan bagian bawah yang belum juga tidur, padahal hanya melihat tanpa merasakan tubuh Sienna. "Setelah bilang kapok, sempatnya kamu ingin masuk lagi Harsa." "Sienna." Pintu rumah Harsa baru saja dibuka oleh pembantu, Tiara langsung masuk dan duduk begitu saja di sofa. Mata melirik rumah sang anak sembari tersenyum, menantikan kehadiran menantu di sore hari. "Apa Sienna belum kembali dari kantor?" Pembantu yang membawakan minum menjawab, "ibu Sienna tidak ke kantor, bahkan seharian berada di kamar." Tiara mengerutkan dahi. "Apa dia sakit?" "Tidak, Bu." Tiara justru semakin bingung, menantu tidak sakit tapi tetap berada di dalam kamar seharian pula. "Sedang apa Mama di sini tanpa memberi kabar terlebih dahulu." Harsa menuruni anak tangga dengan mata menatap serius. Siapa pun yang berkunjung harus atas izin dari dia, termasuk orang tua sendiri. Justru Tiara bangun dari duduk dengan tak percaya, melihat keberadaan Harsa di rumah tersebut. "Kamu ... kapan pulang?" Harsa menghela napas. "Sesibuk itukah, Ma? Hingga kabar yang merajalela tentang anakmu ini tidak sampai ke telinga." "Mama baru kembali dari berlibur." Mata Tiara nampak mencari. "Sienna tidak ikut turun denganmu?" Tangan Harsa melipat tanpa melanjutkan langkah mendekati sang ibu. "Mama ingin mengajak istrimu itu berbelanja seperti biasa." Tiara terlihat begitu antusias, pemikiran Harsa soal menderitanya Sienna di keluarga dia rupanya tidak sepenuhnya benar. Masih ada Tiara yang sangat menginginkan seorang anak perempuan ini menjaga Sienna. "Dia tidak bisa pergi." "Sienna sungguh sakit?" Tiara menunjukkan reaksi cemas. "Aku melarangnya pergi." Tiara menghela napas. "Kamu jadi suami jangan pengekang begini, justru dengan kamu sudah di rumah, harusnya Sienna lebih sering menghabiskan uang." Harsa diam sejenak. Hubungan di antara dia dengan Tiara memang tidaklah baik, tentunya Harsa merasa tidak begitu senang didatangi oleh Tiara. Mungkin alasan yang paling kuat untuk mengusir Tiara hanya ada satu. "Memangnya Mama tidak pernah muda?" Harsa menuruni anak tangga dan mulai berhadapan dengan Tiara sepenuhnya. "Tidak bertemu selama dua tahun lamanya, tentu sangatlah rindu." Tiara masih menatap sang anak dengan heran. "Aku tidak bisa membiarkan Sienna pergi, aku membutuhkannya setiap waktu." Harsa mulai menduduki sofa di hadapan Tiara. "Bahkan, ini bisa disebut seperti minum obat. Kami melakukannya tiga kali sehari, dari pagi hingga petang." Mata Tiara mulai tak fokus, wanita tersebut mengerti ke mana arah pembicaraan Harsa. Bukannya mampu mengusir, Harsa justru mengundang rasa tertarik dari Tiara untuk melanjutkan pembicaraan. "Jadi, maksudnya kalian ...." Tiara terkekeh sembari mengedipkan mata dengan penuh arti. "Melakukan itu?" "Bukankah Mama ingin punya cucu?" "Tentu saja!" "Dengan adanya Mama di sini, waktu bersama kami akan terganggu," ujar Harsa. Tiara langsung berdiri dari duduk. "Benar juga. Kalau begitu mama akan belanja sendirian saja, kalian lanjutkan bikin cucu untuk mama."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD