Bab 6 Seperti Penggoda Ahli

1048 Words
Usai memilih lukisan yang diinginkan olehnya, Sienna dituntun oleh salah satu pegawai hotel memasuki sebuah ruangan. Sienna tidak ingat dibawa ke mana, tapi tentunya ia akan dibawa ke tempat Harsa. Dugaan Sienna tidak meleset sama sekali. “Sudah memilih lukisan?” Mata Sienna menemukan Harsa tengah duduk di atas sofa dengan postur tubuh yang santai, dia menunjukkan kepemilikan kekuasaan dengan baik. “Sudah,” sahut Sienna singkat. “Kemari!” Perintah dibarengi mata menunjuk posisi kosong di sisi Harsa, terpaksa Sienna menurut. Memilih duduk di samping Harsa yang tengah dijamu oleh penyelenggara pameran. “Aku dengar kamu hanya memilih satu lukisan.” Sienna sedikit tidak nyaman, setelah jemari Harsa memperbaiki rambut yang menyentuh wajahnya. Namun, menghindar di hadapan orang lain bukanlah pilihan bijak. Sienna hanya berpura menjadi istri yang baik untuk Harsa, hingga menyulap bibirnya supaya tersenyum manis. “Aku tahu, kamu bahkan mampu membeli semua karya yang dipamerkan. Tapi, orang akan bergosip istrimu ini telah memeras suaminya.” Harsa membisu sejenak, melihat Sienna yang pandai berlakon. “Aku tidak peduli orang berkata apa, selama kamu senang.” Wajah yang mendekat membuat Sienna gugup. Sudut matanya mendelik, berharap Harsa tidak melewati Batasan. “Sepertinya keberadaan saya di sini telah mengganggu, silakan Pak Harsa memanggil jika butuh.” Pria tersebut memilih meninggalkan mereka berdua, ketimbang melihat aksi romansa yang menyihir mata dengan sandiwara ini. Jemari Sienna mendorong pundak Harsa untuk menjaga jarak darinya. Bibir Harsa mengulas senyum tipis, dia telah terbawa suasana. “Kerja bagus, Sienna.” Pujian itu membuat ia melirik. Pria yang beberapa waktu lalu berniat mengusut masalah kelakuan buruk ayahnya, mendadak bersikap tenang seperti ini. Sungguh, Sienna tidak mengerti jalan pikiran seorang Harsa. “Setelah ini, bisakah kita makan siang?” Pintu ruangan yang terbuka mengundang Harsa untuk melirik. Lukisan yang dibawakan menyita perhatian dia sejenak, selera istri membuktikan lulusan seni yang sesungguhnya. “Pegawai akan membawakan makanan ke sini.” Meski begitu, Harsa tidak mengabaikan omongan dari Sienna. “Bukan di sini.” Mata Harsa melirik. “Tempat lain,” lanjut Sienna. Harsa tersenyum sinis. Selagi mengamati lukisan yang diinginkan Sienna mulai dibungkus di hadapan mata, Harsa mengeluarkan sepuntung rokok tanpa berniat menyulutnya. “Makanlah di tempat nyaman, bukan kandang singa.” Sienna membisu. Mungkinkah Harsa tahu niatan di balik ajakan makan siang ini? Matanya dan Harsa saling bertemu, perlahan ia turunkan pandangan. Sorot mata Harsa terlalu mendominasi. “Di dunia ini, selagi aku masih suamimu. Hanya satu orang yang berhak kamu turuti, dan tentunya bukan kakekku orangnya.” Ya, Sienna berniat mempertemukan Harsa dengan Abraham. Beberapa kali ia mendapat pesan juga telepon desakan, jika bertemu pun pasti akan terjadi keributan. Mengingat Harsa pergi begitu saja setelah menikahinya. *** “Kalau investasi terhenti, Pembangunan anak Perusahaan akan terbengkalai.” Sienna benar-benar orang tersibuk di hari minggu. Dari pagi hingga sore menemani Harsa, sekarang harus menghadapi Indra yang mengeluhkan masalah orang-orang ingin mencabut uang yang sudah diinvestasikan. Semua ini karena sekretaris Harsa yang bergerak cepat. “Kamu itu gunanya apa sih, Sienna? Mengendalikan suami saja tidak becus.” “Harsa bukanlah benda, dia tidak mudah dikendalikan,” sahutnya malas. Indra melotot karena Sienna menjawab. Jika saja Harsa belum kembali, pria tersebut bisa melampiaskan emosi dengan main tangan. Harsa pasti akan menuntut karena melihat Sienna pulang dengan wajah lebam. “Bujuk Harsa untuk membantu anak Perusahaan ayah berdiri.” Permintaan yang tidak bisa Sienna sanggupi ini hanya direspon dengan kebiusan. Mata Indra semakin terbelalak. “Saat ayah mati, Perusahaan itu juga akan jadi milikmu!” Benarkah itu? Ingin mulut Sienna meragukan, namun yang ada wajahnya akan kena tamparan. “Ambil ini!” Sienna menangkap tas belanjaan yang dilempar oleh Indra. “Itu pemberian ibumu untukmu.” Begitu Sienna mengintip isinya, tangan langsung melepaskan tas belanjaan. Ia tahu ibu mana yang Indra maksud, ibu kandungnya mana mungkin membelikan pakaian mini ini. “Bujuk Harsa malam ini juga, jangan lupa kenakan pakaian itu beserta parfumnya sekaligus.” Sepulang dari rumah ayahnya. Sienna bergegas ke kediaman Harsa, kamar yang kosong menjadi saksi dirinya mengenakan pakaian tidur tipis dan berenda. Jantung Sienna sangat tenang, Harsa yang sedang sibuk di ruang kerja itu tidak akan tertarik dengan dirinya. Bukan karena tidak ada cinta, Sienna masih percaya dengan Harsa yang sedikit menyimpang. Tentu mustahil terjadinya persatuan tubuh sekali pun Sienna berlenggok seperti penggoda handal. “Benar, dia tidak akan bereaksi apa pun. Paling hanya menertawakan tindakan hina ini,” pikir Sienna selagi menunggu. Sienna menatap jam yang menunjuk pukul 10 malam. Rasa kantuk merajai tanpa sadar membawa Sienna kea lam mimpi di atas sofa panjang ini. Apalagi Sienna beranggapan Harsa paling bermalam di ruang kerja. Lama terlelap, Sienna terbangun setelah menghirup asap rokok yang berlebihan. Begitu mata terbuka, ia menyaksikan Harsa dengan sengaja menyembur asap di hadapan wajahnya. “Apa yang Bapak lakukan?” tegur Sienna sedikit kesal. Harsa tersenyum sinis. Tatapan mata menunjuk kondisinya sekarang. “Justru aku yang harusnya tanya. Sedang apa kamu dengan pakaian seperti itu.” Perlahan Sienna bangkit dan duduk dengan benar sembari menurunkan dress yang tersingkap hingga paha atas. “Hanya mencoba produk, aku tertarik dengan profesi influencer,” jawab Sienna asal. Rokok dicampakkan asal oleh Harsa hanya untuk duduk di sisi Sienna. Rasanya sedikit tidak nyaman dengan Harsa yang memperhatikan tubuhnya dari atas hingga bawah. “Dari mana kamu belajar sikap kurang ajar begini?” Sienna menoleh tidak terima. “Aku tidak pernah bersikap—” “Memakai pakaian seperti ini, menurutmu sopan, begitu?” Sienna menyingkirkan jemari Harsa yang ingin menyibak dress-nya. “Jaga sikap Bapak, ya.” “Lucu sekali.” Harsa sampai menertawai. “Kamu yang menggoda begini, malah menyuruhku.” Sienna tertegun dengan Harsa yang mendadak menarik tangannya, hingga tubuh saling berhadapan dan hampir tiada jarak memisahkan. “Pak—” Sebelum memanggil lengkap, bibir Sienna lebih dahulu dibungkam oleh Harsa. Kecupan yang semula sederhana, kini mulai menuntut. Belum juga Sienna mencerna perlakuan ini, jemari Harsa merambat di bawah dan berhasil mengangkat dress. “Pak!” Pemberontakan jelas Sienna lakukan, namun semakin ia kerahkan tenaga Harsa justru menekan dan sepenuhnya mengurung Sienna dalam kuasa dia. “Tahukah kamu, Sienna. Selama tidur, kamu telah menguji kesabaranku.” Sienna masih memberontak dan menghindar ketika lidah Harsa menyapa permukaan telinganya. “Pak, sadarlah! Apa yang hendak kamu lakukan!” Harsa tertawa. “Hal itu harus dinikmati bersama, Sienna. Berhubung kamu telah bangun, mari lakukan.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD