Berkat tuntunan dari Angga, kini Sienna berada di sebuah ruangan yang sangat megah. Di dalamnya menyimpan puluhan mobil dari bernilai 400 juta hingga berkali lipat melebihi angka itu.
Sienna tercengang, melihat betapa Harsa serakahnya dalam mengoleksi mobil.
"Ibu Sienna bisa langsung memilih, bahkan bisa mencobanya satu persatu."
Angga menunjukkan puluhan kunci di tangan.
"Bisakah jangan panggil aku ibu?"
Sienna bukannya peduli dengan tumpukan kunci mobil, malah terganggu dengan embel-embel yang Angga tambahkan.
"Ah, saya rasa tidak pantas--"
"Menurutmu usiaku sudah tua?"
"Itu tidak benar," sangkal Angga cepat.
Mata Angga mengikuti Sienna yang mengelilingi mobil tanpa membawa kunci sama sekali. Mungkin Angga harus mengikuti dan memberikan kunci pada istri sang atasan.
"Panggil aku Sienna saja."
Permintaan itu membuat Angga membisu. Bukankah pria tersebut bakal direbus oleh Harsa kalau tahu? Melihat Sienna yang berdiri di hadapan mobil, Angga terburu mendekat sembari mencari kunci yang tepat.
"Percuma menunjukkan puluhan bahkan ratusan mobil padaku."
Pandangan Angga terangkat.
Sienna tersenyum. "Aku tidak bisa mengemudi."
Angga memilih diam dengan menggenggam puluhan kunci erat. Merasa putri konglomerat tidak pandai mengemudi bukan hal baru, mengingat mereka biasanya didampingi sopir pribadi.
"Bisakah kamu bujuk dia pulang?" Sienna membicarakan Harsa.
"Itu di luar kuasa saya."
"Ada hal yang ingin aku tanyakan padanya."
Angga memandang. "Hal apa? Saya bisa bantu tanyakan."
Sienna melirik, perlahan Angga menurunkan pandangan. Merasa tidak pantas saling bertukar mata dengan istri Harsa.
"Lupakan."
Menurut Sienna, menjadikan Angga sebagai merpati tentu tidaklah baik. Pria ini bakal mengetahui segala sesuatu di antaranya dengan Harsa.
Termasuk alasan pria itu menikahinya, satu hal yang selalu Sienna ingin tahu.
***
Dua tahun telah berlalu.
Waktu yang seharusnya dijanjikan oleh Harsa untuk kembali tiba. Namun, semenjak semalam hingga paginya lagi, Sienna tak temukan tanda kehidupan baru di rumah.
Bahkan, batang hidung Harsa saja tidak muncul.
Sienna memutuskan untuk kembali bekerja. Setahun belakangan, Sienna didesak oleh Indra untuk memasuki perusahaan keluarga Harsa. Permohonan itu dikabulkan, namun Sienna justru dilempar ke perusahaan milik Harsa.
"Selamat pagi."
Sienna mendapatkan sapaan dari beberapa karyawan yang ditemui olehnya. Sungguh mereka terlalu segan pada dirinya yang hanya istri pengganti ini.
"Sienna, bawakan ini ke departemen perencanaan."
Namun, hanya ada satu orang yang selalu terlihat kesal dan memerintah sesuka hati padanya. Yakni, Diandra alias ketua di divisinya.
"Baik."
Tangan Sienna kini memegang kardus berisi tumpukan dokumen yang memenuhi ruang.
Sekali pun kesal, belum juga masuk pintu divisi sudah diperintah. Tapi, mengingat gaji yang dirinya dapatkan membuat Sienna terpaksa bertahan.
Diandra memandang sengit ke arah Sienna, terlebih pakaian mahal yang mengurung tubuh berisinya itu.
"Ditinggal suami, aku yakin dia gatel sama om-om."
Sienna memasuki lift yang telah dihuni beberapa pria di dalam. Dengan kardus yang hampir menutupi pandangannya, Sienna masuk cukup hati-hati dan mengangkat kardus supaya tidak mengenai orang di depannya.
Namun, satu pria yang paling tinggi dari siapapun itu menjadi korban. Kardus yang Sienna pegang mengenai dahi.
"Sial!"
Gerutuan itu Sienna dapatkan, hingga menurunkan kardus dengan wajah kaget.
"Maaf--"
Wajah yang dikenal semenjak tangan mengangkat kardus, semakin dilihat membuat Sienna membeku.
Bukan hanya dirinya, bahkan mata di depan ini sedang menelisik.
"Pak Harsa," mulut Sienna menyebut.
***
"Manusia paling tidak berakal."
Mata Sienna langsung mendelik, menatap Harsa yang menyinggung dengan tangan mengompres dahi.
"Bawa beban itu naik tangga saja, ngapain pakai lift. Sudah gitu angkat-angkat kardus lagi."
"Bapak jadi manusia lebai. Hanya kesenggol dikit saja minta kompres."
Harsa memelototi Sienna. "Dahiku merah begini!"
Sienna menarik napas. Dirinya yang harusnya menyerahkan dokumen ke bagian perencaan, justru tersangkut di ruangan milik Harsa.
Akhirnya suasana di antara mereka berdua lebih baik, ketika mulut memilih diam.
Pandangan Harsa mulai menelisik Sienna. Perubahan yang sangat signifikan, tubuh sang istri jauh lebih berisi dari sebelum ditinggalkan. Bahkan dari segi penampilan pun lebih baik.
"Kopi dan teh tarik."
Angga mendekat sembari meletakkan minuman pada Harsa dan Sienna.
"Terima kasih," ujar Sienna.
"Sama-sama, Sienna."
Angga tersenyum dan mulai berdiri di belakang kursi. Namun, pria tersebut mulai menunjukkan wajah datar ketika sadar Harsa sedang menatap tajam.
"Kamu panggil Sienna barusan apa?" tanya Harsa menyelidik.
"Memangnya kalau bukan Sienna apa lagi? Orang namaku itu," sahut Sienna sembari meraih teh tarik.
"Lalu, kenapa kamu dapat teh itu tanpa mengatakan seleramu dahulu?"
Angga menelan ludah. Pria tersebut telah terbiasa membelikan teh tarik jika sempat bertemu dengan Sienna di cafe dekat kantor.
"Apa itu penting sekarang?"
Mata Harsa memincing. "Apa maksudmu?"
Keinginan Sienna mencicipi teh kesukaannya pun urung. Ia letakkan kembali hanya untuk beradu pandang dengan Harsa.
"Kenapa pulang tidak memberi kabar?"
Harsa menertawai pertanyaan konyol dari Sienna.
"Kamu siapa, Sienna? Hanya pengganti, jangan sok ingin jadi istri sah."
Sienna merasa kesal dengan kalimat yang didengarnya ribuan kali dari orang-orang.
"Aku masih ada pekerjaan."
Sienna memilih berdiri dan kembali bekerja ketimbang bicara dengan Harsa, ujungnya menemui titik pertengkaran lagi.
Mata Harsa mengamati Angga yang cepat tanggap mengangkat kardus dan memberikan pada Sienna.
"Kamu suka dengannya?" tanya Harsa begitu Sienna telah pergi.
Angga yang mendengar hal itu terburu menggeleng cepat.
"Itu tidak benar, Pak. Saya hanya menghormati sebagai istri Bapak."
Harsa tersenyum sinis, dia juga seorang pria. Dari sudut pandanganya, Angga memiliki perasaan entah itu cuma secuil atau berlebih pada Sienna. Tapi, Harsa tidak peduli sama sekali.
"Sedang apa dia di kantor ini?"
"Bekerja, Pak," sahut Angga polos.
Helaan napas kasar Harsa terdengar. "Aku tahu, bodoh!"
Mendengar jawaban dari Angga, dia justru makin kesal. Harsa mengambil kopi dan menyesap dengan pelan.
"Siapa yang menyetujuinya bekerja di perusahaan milikku?"
"Kakek Anda, Pak."
Harsa melirik. Merasa mustahil sang kakek menempatkan Sienna begitu saja di perusahaan.
"Semula ibu Sienna ingin bekerja di perusahaan keluarga, namun berakhir dengan dilempar ke sini."
Penjelasan dari Angga membuat Harsa menyeringai. Wanita yang semula berminat pada seni itu tiba-tiba merambat ke dunia bisnis. Bukankah ayah mertua dia terlalu serakah? Mata Harsa memandang Angga.
"Departemen mana dia bekerja?"
Dahi Angga sempat mengerut heran. "Bukankah saya setiap harinya lapor pada Bapak? Memangnya Bapak tidak melihat aktivitas ibu Sienna yang saya kirimkan."
Harsa memandang Angga dengan malas. "Menurutmu aku peduli soal laporan itu?"
"Bahkan keseharian Sienna atau apa pun itu, aku tidak peduli."
Harsa memandang Angga dengan lekat.
"Kalau kamu ingin Sienna, aku bisa jodohkan kalian," ujar Harsa kemudian menyeruput kopi amat santai.