Senja menghuni kota Jakarta. Sebuah taksi baru saja berhenti di hadapan rumah dua lantai, terlihat Sienna turun sembari mengulas senyum pada sopir.
"Terima kasih, Mas."
Sopir pun turut memberikan senyuman, lantas mulai meninggalkan kediaman milik Harsa ini.
"Kenapa tidak pakai mobil di bagasi?"
Suara itu memasuki telinga Sienna, namun tidak ada sosok manusia satu pun di hadapannya.
Hingga kepala Sienna terangkat, matanya bisa menemukan Harsa yang duduk di balkon sembari menyesap puntung rokok. Mungkin itu kebiasaan yang tidak bisa hilang.
"Aku tidak bisa mengemudi."
Ketimbang mengomentari gaya hidup Harsa, lebih baik Sienna memasuki rumah.
Harsa nampak berdiri dari duduk dan memasuki rumah. Dia memilih berjalan lalu menuruni anak tangga.
"Lama sekali kamu pulang, bahkan atasan kamu saja sudah sedari tadi di rumah," singgung Harsa.
Sienna menatap tangan Harsa yang sekarang kosong. Mungkin sepuntung rokok itu telah dicampakan.
"Anda atasan, jelas bisa pulang sesuka hati."
Harsa menatapi Sienna yang naik tangga. "Jam pulang kantor pukul 5 sore kurang, perjalanan ke sini pun tak memakan waktu banyak."
Akhirnya Sienna berhenti tepat di hadapan Harsa. Suaminya yang tinggi ini terlihat semakin besar ketika dua anak tangga menjadi jarak di antara mereka.
"Aku punya atasan di divisi, jadi mau pulang atau lembur tentu harus melihat atasan."
Rasa lelah yang singgah membuat Sienna melintasi Harsa begitu saja. Namun, tatapan suaminya mengikuti. Selain Sienna berisi, aroma harum juga menyeruak memasuki hidung dia.
"Aku ingin mengganti beberapa interior di rumah," ujar Harsa.
Kaki Sienna otomatis terhenti. Matanya memandang Harsa yang sedang menelisik sekitar.
"Mungkin semua barang harus diatur ulang dan diganti dengan yang baru."
Harsa memandang Sienna. "Malam nanti luangkan waktumu untuk memilih."
"Aku tahu Bapak kaya raya, tapi jangan menghamburkan uang untuk hal tidak perlu."
Dahi dia mengerut. Bukan karena tersinggung dengan mengganti barang yang menurut Sienna tidak penting. Tapi, embel-embel 'bapak' yang terbawa sampai rumah.
"Sienna, apa aku setua itu? Sampai kamu panggil bapak."
"Anda sangat disegani, hingga aku tidak sanggup memanggil hanya dengan nama saja."
Sienna merasa tidak salah dengan embel-embel itu. Namun, Harsa jelas tidak nyaman.
"Jangan bilang kalau Bapak ingin dipanggil Mas atau Suamiku?"
Harsa menarik napas. "Bapak lebih baik."
Sepertinya keinginan Harsa itu sebuah keharusan. Setelah makan malam, Sienna duduk berdampingan dengan Harsa ditemani pihak interior yang berdiri sembari tersenyum.
"Banyak model baru yang pastinya akan Pak Harsa sukai."
Mendengar hal itu, Harsa memundurkan tubuh dan memilih menyilangkan tangan.
"Istriku yang akan memilihnya, jadi aku sesuaikan dengan seleranya," ujar Harsa sembari melirik Sienna.
Kata istri yang asing di telinga membuat Sienna mendelik. Harsa langsung mengulas senyum tipis.
"Aku percaya dengan pilihanmu, istriku."
Sienna bergidik melihat Harsa yang tidak seperti biasanya ini. Dirinya lebih memilih lanjut memilih, namun menurutnya interior di rumah ini tidak ada yang perlu diganti.
"Apa tidak ada contoh yang lain?" tanya Sienna berharap bisa menolak mengganti interior.
"Masih ada banyak, saya akan tunjukkan."
Melihat pria tersebut sigap mengeluarkan beberapa buku dari tas, Sienna hanya bisa menarik napas diam-diam.
"Aku akan ambil semuanya," putus Harsa tiba-tiba.
Sienna melirik dengan ekspresi kaget. Memang Harsa orang kaya yang tidak takut besok jatuh miskin.
"Baik, Pak Harsa."
Pria tersebut buru-buru mengurus permintaan Harsa sebelum berubah pikiran.
Sementara Harsa sedang saling tatap dengan Sienna. Dia telah selesai menilai istri, Sienna tetap seperti dulu. Tidak punya ambisi terhadap Harsa mau pun harta milik dia.
***
Pada hari minggu. Harsa yang duduk dengan mata terpejam di ruang tengah, nampak dihampiri oleh Sienna.
Aroma harum itu membuat Harsa perlahan membuka mata. Dia temukan Sienna sudah dibalut dress mewah dengan tangan menjinjing tas.
"Mau kencan?" sindir Harsa.
"Kakek minta kita berkunjung ke rumah."
Harsa bukannya bergegas, justru bergeming dengan mata menatap Sienna lama.
"Kenapa cuma diam, Pak?"
"Sienna, memangnya kamu pesuruh?"
Mendapat pertanyaan seperti itu, Sienna sedikit tidak senang. Tapi, jika sampai membuat Harsa marah tentunya menemui Abraham akan tertunda dan berujung dengan pemukulan lagi.
"Apa pun yang pria tua itu perintahkan, kamu akan langsung melaksanakannya."
Jemari Sienna meremas dress.
"Memang benar, aku adalah setengah pesuruh."
Mata Harsa menyipit, tidak biasanya Sienna melemah seperti ini. Sienna yang dulu dia kenal sangat pembangkang.
"Aku tidak akan ke mana pun, begitu juga dengan kamu, Sienna," putus Harsa.
"Tapi, kalau kakek marah--"
"Aku yang urus."
Harsa begitu yakin dengan ucapan itu, justru membuat Sienna tersenyum menertawai.
"Bukankah dua tahun lalu, Bapak meninggalkan saya sendirian? Menghadapi keluarga Bapak seorang diri."
Mulut Harsa mengunci dengan mata menelisik, Sienna terlihat kesal begitu keluarga dia disebutkan, terlebih Harsa yang pergi setelah memberi status istri pada Sienna.
"Maka dari itu, karena aku sudah di sini. Aku yang akan mengurus semuanya, kamu hanya perlu berdiri diam dan manis di sisiku."
Sienna sungguh tidak yakin dengan omongan Harsa. Bahkan, dirinya sudah tidak percaya dengan siapa pun selain pada diri sendiri.
Pandangan Harsa kembali jatuh pada Sienna. Mendadak dia berdiri dari duduk dan tentu diperhatikan olehnya, terlebih kaki yang melangkah mendekat itu membuat Sienna otomatis mundur.
"Berhubung kamu sudah dandan ...."
Sienna yang kerap menonton drama di ponselnya, mendadak pikiran langsung traveling. Semua pemain pria yang mendekat seperti ini bakal memberikan cium.
"Tunggu dulu, Pak!"
Harsa melirik tangan Sienna yang berada di bawah pundak. Dia baru menyadari posisi mereka berdua terlalu dekat.
"Aku belum siap," lanjut Sienna.
Harsa berdehem, kemudian terburu menjauh dari Sienna yang nampak gugup itu. Dia tak memungkiri merasakan hal yang sama, terlebih kali pertama mereka dihadapkan pada situasi seperti sekarang.
"Aku berniat mengajak kamu ke suatu tempat."
Mendengar fakta itu, Sienna mendadak malu sendiri hingga ikut menjauh.
"Ke mana?"
Harsa membisu dengan mata memandang Sienna lekat. Dia kira setelah ketidak sadaran yang membuat kikuk, Sienna bakal menurut. Ternyata tidak semudah itu.
"Menemui klien."
Harsa mulai melangkah pergi, Sienna mengikuti dari belakang.
"Kenapa aku harus ikut?"
"Kamu bagian dari perusahaan, kan? Jadi, tidak ada salahnya membawa kamu."
Alasan itu sedikit bisa diterima, sampai Sienna kebingungan mencari cara untuk tidak ikut.
"Hari libur begini, masih harus bekerja?" celoteh Sienna.
Kali tersebut Harsa tidak menjawab, dia tiba di parkiran rumah. Suami yang tiba-tiba saja membeku, Sienna menjadi penasaran.
"Ada apa, Pak?"
Harsa sama sekali tidak meliriknya, justru sibuk menatap satu arah.
"Aku sedang berpikir, hari ini memakai mobil yang mana."