"Tunggu sebentar .... Papi, Tuan Candra. Apakah kalian telah menanyakan tentang rencana pernikahan ini kepada Yana dan Indra?" tanya Nyonya Lila penuh kebimbangan.
Namun belum sempat sang suami menjawab keraguan isrtinya. Dari pintu utama, seorang Maid tertatih-tatih berjalan memasuki ruang tamu.
"Maid, ada apa? Kenapa Anda terlihat sangat terburu-buru?" tutur Nyonya Lila kepada asisten rumah tangganya.
"Maaf Nyonya, di depan ada rombongan Nona Yana." Setelah berkata begitu, Yana yang diapit oleh Nyonya Endang Aharon mulai memasuki rumah Kediaman Handoko.
Yana terlihat menunduk saat sang ibu menatapnya penuh curiga. Sementara Nyonya Endang terlihat menyapa semua orang yang ada di sana.
"Selamat pagi, Tuan Candra. Jeng Lila, apa kabar?"
"Kabar kami baik, Jeng. Mari silakan duduk," seru Nyonya Lila.
Sang ibu juga terlihat kaget dengan penampilan putrinya yang begitu sangat cantik dan fresh. Namun entah kenapa Yana terlihat menunduk dari seperti sedang menyembunyikan sesuatu
kepada sang ibu.
Indra, juga turut masuk ke dalam rumah. Pemuda itu pun berjalan menghampiri kedua orang tua Yana. Dia segera duduk tersungkur dan mengambil posisi bersimpuh di hadapan Tuan Candra dan Nyonya Lila. Seperti orang yang ingin meminta pengampunan.
Kedua orang tua Yana sangat kaget dengan tindakan Indra tersebut.
"Hei ... apa yang sedang Anda lakukan, anak muda?" tegur Tuan Candra kepada Indra karena melihatnya sujud di hadapan mereka.
Nyonya Lila juga tak luput sangat kaget dengan tindakan Indra tersebut. Sepertinya hati sang ibu mulai sedikit percaya jika putrinya memiliki hubungan yang istimewa dengan Indra.
Yana tak kalah kagetnya dengan tindakan indra tersebut. Namun dia sama sekali tidak simpatik dengan apa yang sedang dilakukan oleh pria itu di hadapan kedua orang tuanya.
"Maunya apa sih nih, bocah? Lebai banget!" kesal Yana dalam hatinya.
"Om, Tante. Saat ini ... saya ingin meminta restu kepada Om dan Tante juga kepada Papi dan Mami. Saya ingin segera mempersunting Yana Ilone Handoko, putri dari Om dan Tante, untuk menjadi
istri saya." serunya lantang.
"Merdu banget nih, suara bocah ingusan!" Yana sungguh kesal kepada Indra saat ini, karena sang pria yang sedang membicarakan tentang pernikahan. Yang sama sekali tidak pernah terlintas di benaknya saat ini.
Mendengar ucapan Indra yang sungguh-sungguh dari hatinya, Nyonya Lila malah menjadi terharu. Sang nyonya tak kuasa menahan air matanya yang mulai jatuh dari sudut matanya.
"Dih ... ngapain sih, Mami? Kok malah menangis begitu?" Yana ingin sekali angkat bicara, namun dirinya tidak tahu hendak memulai dari mana untuk berkata-kata.
Lalu kemudian Tuan Candra angkat bicara,
"Nak Indra, semua bisa kita bicarakan dengan baik-baik. Kamu tidak perlu sampai bersimpuh begitu. Ayo berdirilah." Dengan bijak sang tuan menyuruhnya untuk tidak sujud lagi.
Namun dasar Indra yang sangat keras kepala. Dia pun menyahuti omongan Tuan Candra malah semakin sengit.
"Maaf, Om. Saya tidak akan beranjak dari posisi saya saat ini. Sebelum saya mendapat restu."
Mendengar perkataan Indra yang tegas dari tadi, membuat Nyonya Lila
membulatkan tekadnya untuk merestui niat sang pemuda untuk
mempersunting Yana, sang putri.
"Nak Indra, ayo berdirilah kembali. Kita bisa membicakan semuanya secara kekeluargaan. Apalagi kita telah berkumpul semua sekarang," ucap Nyonya Lila lagi.
Namun Indra tetap berpegang teguh dengan pendiriannya. Dia baru akan beranjak dari posisinya saat ini, jika mendapatkan restu dari kedua orang tua Yana.
Nyonya Lila tak kehabisan akal. Sang nyonya kembali berkata,
"Papi, sudah deh! Jangan bikin Nak Indra semakin bingung dan jadi pegal kakinya. Katakan saja apa yang kita mau," ucap Nyonya Lila sambil memberi isyarat kepada suaminya untuk mengatakan sesuatu.
Sementara Nyonya Endang, mulai harap-harap cemas dari dalam hatinya. Dia takut jika Keluarga Handoko tidak menerima niat baik Indra.
Namun semua prasangka Nyonya Endang menjadi sirna saat Tuan Handoko berkata dengan sangat tegas.
"Baiklah, untuk kebaikan kita bersama. Saya sebagai perwakilan Keluarga Besar Handoko, memberikan restu sepenuhnya kepada Ananda Indra Aharon untuk menikah dengan putri kami, Yana Ilone Handoko."
Mata Yana yang dari tadi menunduk. Tiba-tiba tegak kepalanya mendengar jika kedua orang tuanya malah merestui niat baik Indra.
"Kok Papi dan Mami malah merestui, Indra? Apakah mereka tidak tahu jarak umur yang terbentang luas diantara kami?" kesalnya dalam hati.
"Sepertinya, aku harus berbicara berdua dengan Indra!" serunya lagi dari dalam hatinya.
Mendengar jika dirinya direstui, Indra segera sungkem di hadapan kedua orang tua Yana, pertanda keseriusannya kepada wanita itu.
"Sudah Nak Indra, kamu bisa berdiri sekarang," tukas Tuan Candra.
"Mulai dari sekarang kamu panggil kami, seperti kamu memanggil kedua orang tua mu." Nyonya Lila langsung menunjukkan
ketertarikannya dengan Indra.
"Iya ... Mami Lila. Papi Candra." sapanya sopan.
"Tuan Handoko, terima kasih telah menerima niat baik putra kami, Indra. Semoga dengan pernikahan putra putri kita, membuat persahabatan diantara kita semakin erat. Apalagi sebentar lagi kita akan berbesanan." Tuan Aharon juga ikut senang.
"Jeng Lila, semoga kita juga bisa semakin akrab, ya!" tukas Nyonya Endang bahagia.
"Iya, Jeng! Tentu saja kita harus selalu kompak, dong!" balas Nyonya Lila.
Hati Indra akhirnya sangat lega. Semua berjalan sesuai dengan rencananya.
"Yes! Tinggal selangkah lagi menuju ke pelaminan!" gumamnya senang dalam hatinya.
Akan tetapi kebahagiaan itu tidak dirasakan oleh Yana sama sekali. Dari tadi sang gadis malah menatap tajam dan sengit ke arah pemuda itu.
Ingin rasanya dia mengungkapkan semua yang dirinya rasakan. Namun Yana benar-benar tak berdaya dengan situasi sulit ini.
"Jadi kapan kalian akan menikah? Di mana lokasi pestanya?" tanya kedua ibu tersebut secara bergantian.
Yana semakin menatap tajam ke arah Indra. Mengisyaratkan agar pria itu menghentikan bualannya. Menyadari akan hal itu, Indra dengan cepat
kembali angkat bicara,
"Kami akan menikah dalam waktu dekat ini, Mi. Rencananya kami akan menikah di Kota Yogyakarta, yang menjadi tempat bersejarah awal mula cinta diantara kami berdua mulai bersemi." seru Indra menjelaskan semuanya dengan wajah berbinar.
Memang benar, Kota Yogyakarta menjadi saksi bagaimana perasaannya kepada wanita dewasa itu menjadi berkembang. Indra yang awalnya sangat membenci Yana. Namun seiring berjalannya waktu
mereka menghabiskan waktu bersama di kota itu, malah membuat Indra telah jatuh cinta kepada Yana dengan sepenuh hatinya.
Kemudian, Tuan Candra berkata kepada putrinya,
"Yana, kamu telah mendengarnya sendiri kan? Jika Papi dan Mami telah merestui hubunganmu dan Indra?"
"Su ... sudah, Pi." jawab Yana terbata.
"Apakah ada yang ingin kamu sampaikan, sekarang?"
"Ada, Pi. Aku ingin ngobrol berdua dengan Indra!" ucapnya.
Yana pun segera berdiri lalu melangkah menuju kepada Indra dan meraih tangan pria itu. Seraya berkata lagi,
"Maaf, semuanya. Saya pinjam Indra sebentar!" ujarnya lalu membawa Indra ke taman samping rumahnya.