Para Sahabat Marah Besar

1027 Words
"Nona, Anda jangan sembarangan menghajar Tuan Muda, Indra!" teriak Kaleb marah dan tidak terima dengan sikap arogansi yang ditunjukkan oleh Cici. "Lho, memangnya kenapa? Lo pikir gue takut apa? Dia wajib digebukkin karena telah berani merusak masa depan sahabat gue!" teriaknya semakin lantang. Yana hendak angkat bicara, namun Cici tidak memberinya kesempatan untuk bicara. Lalu Nyonya Endang yang kesal dengan putranya, juga mulai angkat bicara, "Hajar saja, Nak! Jangan kasi ampun!" sergah sang ibu. "Mami! Kok Mami malah mendukung jika aku dibikin babak belur, sih?" Indra menjadi kesal kepada ibunya. "Karena kamu memang berada dipihak yang salah. Jadi untuk apa Mami membelamu?" ketus Nyonya Endang. Cici semakin berada di atas angin karena ibunda dari Indra malah mendukungnya. "Lo pikir Lo siapa berani melakukan itu kepada Yana?" Anggi juga ikut-ikutan menyudutkan Indra. Namun dengan lantang Indra berkata, "Aku adalah pacarnya Yana!" "Apa?" kaget Anggi dan Cici berbarengan. Keduanya langsung menatap tak percaya kepada Yana. Seperti meminta penjelasan darinya. Yana balik menatap kedua sahabatnya. Kemudian dia juga menatap wajah Indra yang sedikit pucat pasi. Bagaimana tidak Cici adalah salah satu pemegang sabuk hitam pada cabang olah raga taekwondo. Yang tentu saja semua orang tahu tentang olah raga tersebut. "I ... iya, aku dan Indra memang berpacaran," sahutnya sambil menundukkan kepalanya. Bukan karena malu, akan tetapi Yana takut ketahuan kepada kedua sahabatnya, jika dirinya sedang berbohong saat ini. "Apa?" Lagi-lagi Cici dan Anggi menjadi sangat kaget. Karena yang mereka tahu, Yana masih patah hati karena ditinggal menikah oleh Fred. Pria yang dari dulu dirinya cintai sejak lama. "Kalian sudah dengan sendiri para Nona?" ketus Indra. "Nah ... soal yang tadi malam. Saya akan bertanggung jawab sepenuhnya dengan apa yang terjadi kepada sahabat kalian. Aku dan Yana akan menikah secepatnya. Jadi yang dapat kalian lakukan sekarang adalah mendukung rencana indah ini." Indra mulai memprovokasi Cici dan Anggi dan berharap jika kedua sahabat Yana itu, dapat membantunya untuk meraih cinta Yana. "Kami setuju, kok!" Cici yang tadi ingin menghajar Indra, sekarang malah balik mendukungnya. "Yap, kami sangat setuju dan mendukung sepenuhnya niat baik Anda, kepada sahabat kami Yana." tutur Anggi menjelaskan. Sementara Yana tak habis pikir dengan kedua temannya yang sangat cepat berubah. Yang tadinya mereka tidak suka kepada Indra, sekarang malah mendukungnya secara penuh. "Nah ... Karena semua pada setuju. Bagaimana kalau kalian berdua ikut dengan Tante ke salon dan spa? Kita memanjakan diri pagi ini di sana. Tante tentunya tidak menginginkan penolakan dari kalian. Alias harus!" tutur Nyonya Endang kepada kedua sahabat Yana. "Ta ... tapi, Tante. Ini kan masih pagi. Kami juga belum balik ke rumah karena dari tadi malam sibuk mencari keberadaan Yana," seru Anggi menjelaskan kepada Nyonya Endang. Cici ikut menganggukkan kepalanya, pertanda setuju dengan perkataan Anggi. "Kalian tidak usah khawatir, Tante akan mengatur semuanya! Ayo kita segera ke luar dari bar ini, tapi melalui pintu belakang, ya?" ucap sang Tante lagi. "Lho, memangnya kenapa jika kita lewat pintu depan Tante?" tanya Cici. "Ada begitu banyak wartawan menunggu Indra dan Yana ke luar. Kalian tahu sendiri kan? Bagaimana hebohnya pemberitaan tentang mereka?" ucap Nyonya Endang lagi. "Iya sih, Tante." sahut Cici. "Makanya Lo jangan banyak bacot! Ikuti saja semuanya!" Kaleb yang dari tadi kesal dengan Cici, mulai melampiaskan amarahnya kepada gadis itu. "Hei, Bro! Wajar aku bertanya! Karena mobil kami terparkir di depan bar ini!" Cici tak mau kalah balik menatap tajam ke arah Kaleb. "Kalian berdua kenapa, sih?" tanya Indra kepada Kaleb dan Cici. "Itu tuh, orang cari gara-gara mulu ke gue!" ketus Cici. Kaleb hendak menjawab, namun Nyonya Endang segera berkata, "Sudah-sudah. Jangan berdebat lagi. Kaleb, kamu urus mobil Cici. Kami tunggu di belakang bar." "Siap, Nyonya." jawab Kaleb. "Mana kunci mobilnya?" ketusnya kepada Cici seraya menyodorkan tangannya di hadapan gadis itu. Gadis itu segera meraih kunci mobilnya yang berada di dalam tas, lalu menyodorkannya kepada Kaleb. "Nih ... hati-hati membawa mobilnya! Awas aja lecet!" ujarnya lagi. "Cih! Lo pikir gue baru belajar bawa mobil?" sergah Kaleb. "Stop! Kalian berdua kok berisik banget, sih? Lama-lama gue kawinin juga Lo berdua!" seru Indra kepada Kaleb dan Cici. "Dih, nggak sudi gue!" Keduanya malah menyahuti perkataan Indra secara bersamaan. Untuk menghindari perdebatan yang panjang dan tiada habisnya, Kaleb pun mengalah. Dia mulai melangkah menuju ke depan bar. Sementara yang lainnya menunggu di bagian belakang bar itu. Bar tersebut terpaksa ditutup hari ini atas perintah Tuan Irwan yang memiliki kekuasaan yang besar. Benar saja, saat Kaleb ke luar dari bar tersebut, para wartawan yang tadinya sedang duduk berpencar. Kini malah mengerumuninya, layaknya semut yang hendak masuk ke dalam sarang karena hari sebentar lagi akan hujan. Lalu dengan cepat Kaleb berkata dengan mimik wajah marah, "Hei! Kenapa kalian mendekatiku?" serunya marah. "Tuan, apakah Anda melihat Tuan Indra di dalam sana?" Salah satu wartawan menanyakan keberadaan Indra kepadanya. "Tuan Indra?" Kaleb ternyata harus bersandiwara sendiri untuk mengelabui para wartawan. "Iya, Tuan. Tuan Indra Aharon. Yang video panasnya sedang heboh," tutur wartawan lainnya. "Tuan Indra Aharon? Maaf saya tidak mengenalnya sama sekali. Tadi malam saya menginap di sini karena sedang mabuk berat. Saya tidak sanggup berkendara lebih lama. Jadi dari pada saya kecelakaan di jalan, makanya saya reservasi satu kamar. Lagian kalian ngapain berkumpul di sini? Di dalam bar, tidak ada aktivitas apa pun. Bar tutup untuk hari ini," ucap Kaleb panjang lebar. "Apa? Terus Tuan Indra Aharon sedang berada di mana ya, sekarang?" tanya para wartawan itu kepada sesama temannya. Semua terlihat menggeleng-gelengkan kepala. Pertanda mereka kecewa. Sia-sia sudah mereka menunggu di depan bar itu. Sementara Kaleb segera melangkah menuju parkiran. Pria itu segera masuk ke dalam mobil Cici dan mulai melajukannya meniggalkan area bar. Mengikuti mobil lainnya. Ternyata semua sandiwaranya berhasil dengan sempurna. Sekilas Kaleb dapat melihat jika para wartawan tersebut mulai ikut meninggalkan kawasan bar itu. "Sia-sia kita menunggu dari tadi!" seru sang wartawan. "Bro, video panas Tuan Indra kok tidak bisa diakses lagi?" ujar salah satu wartawan lainnya. "Apa? Masa, sih?" Lalu mereka pun mulai mengeceknya satu per satu. Ternyata benar, video tesebut tidak dapat buka lagi karena telah dihapus oleh tim IT suruhan Tuan Irwan. "Apakah jangan-jangan video itu hanya berita miring saja alias hoaks? Untuk menjatuhkan reputasi Tuan Indra yang baru mendapatkan jabatan barunya?" para wartawan itu pun mulai menduga-duga dan bertanya-tanya satu sama lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD