Indra mendekati sofa tempat Yana tertidur, hatinya terbebani oleh rasa bersalah yang begitu mendalam. Dia duduk di sebelahnya dengan langkah yang hati-hati, takut akan membangunkan istrinya. Cahaya pagi menyelinap masuk, menerangi ruangan dengan kelembutan, dan mengungkapkan raut wajah Yana yang damai dalam tidurnya. Wajah Yana yang tenang sedikit meredakan kecemasan Indra, namun perasaan penyesalan yang membara masih belum padam. Dengan suara pelan, dia memulai percakapan yang begitu diinginkannya saat ini. "Sayangku, bangun. Hari sudah pagi." bisik Indra dengan suara lembut, mencoba untuk tidak mengganggu ketenangan pagi ini. "Maafkan aku, Sayang. Aku benar-benar bersalah kepada mu," ujarnya menyesal. Yana menggeliatkan tubuhnya. Dia membuka mata dengan perlahan, dan menatap Indra d

