“Kamu harus lebih waspada, Felix mulai bertanya-tanya mengenai rencanamu dengan Sheva.”
Denver menghela nafasnya lelah, dia sudah menebak jika Felix akan melakukan rencana untuk menghancurkan segala hal yang ingin dia wujudkan. Denver tidak akan tinggal diam lagi, dia muak dengan sikap Felix yang selalu menyebalkan. Lelaki itu terlihat sangat tenang, tetapi dia selalu saja menunjukkan tipu daya yang luar biasa.
“Aku akan menjaga Sheva, katakan pada mama jangan meminta Sheva untuk terus datang, jika ingin bertemu maka di luar saja. Aku tidak ingin mengambil resiko,” ujar Denver.
“Hem, benar saran kamu. Papa tidak sengaja memergoki Felix masuk ke ruang kerja dan mencari sesuatu,” ujar Genta.
“Papa harus lebih waspada, ingat Pa. Felix sangat mudah dipengaruhi oleh pamannya,” ujar Denver.
Dia tahu bahwa selama ini Felix selalu mendengarkan semua fitnah yang dikatakan oleh Sandi, anak baik itu berubah setelah bertemu dengan pamannya. Denver yang muak lebih memilih pergi setelah kekasihnya di ambil olehnya, sejak saat itu Denver memutuskan hidup sendiri hingga kini bertemu dengan Shevaya, gadis aneh yang membuatnya tergila-gila.
“Apa pun yang terjadi aku tidak akan membiarkan Sheva diambil oleh Felix.”
Genta mengangguk, dia akan membantu anaknya. Rasa penyesalan itu tidak akan dia biarkan kembali terulang, dia merasa sedih karena Denver harus terluka setelah mulai membuka diri untuk wanita yang akan dia nikahi. Denver adalah anaknya, apa pun yang terjadi dia akan mengusahakan yang terbaik demi anak yang dia sayangi.
“Ya udah Papa balik lagi, kasihan Sheva jangan di kekepin mulu.” Denver hanya tersenyum menanggapi ucapan Genta.
Denver lalu keluar menuju ke kantin, dia menyusul Shevaya. Karyawan sudah mengerti jika gadis itu adalah kekasih Denver, tidak ada yang berani mengganggunya karena taruhannya adalah pekerjaan mereka. Denver bukan orang yang mudah memaafkan karena itulah mereka takut jika pekerjaannya akan hilang jika mengganggu orang yang Denver lindungi. Sudah banyak yang menjadi korban pecatan karena mereka berusaha menggoda Denver, lelaki yang dikatakan sebagai pemain tidak mudah mereka taklukkan begitu saja. Denver bukan orang yang mudah menjatuhkan hati hanya karena nafsunya.
Denver tertarik kepada Shevaya bukan karena tubuhnya, lelaki itu tertarik karena Shevaya yang aneh dan sangat percaya diri. Gadis itu membuatnya tertarik untuk membantu membalaskan dendamnya, Denver kini semakin terobsesi setelah bersama dengan Shevaya dalam waktu yang lumayan singkat. Mungkin keputusannya tergolong sangat nekat karena ingin menikah dalam waktu dekat. Denver hanya ingin segera menikah dia tidak ingin Felix kembali menghancurkan rencana yang dia miliki.
Shevaya melambaikan tangannya ketika melihat Denver, lelaki itu tersenyum lalu menghampiri mereka. Duduk bertiga dan kembali mengobrol, Denver terlihat lebih tenang dari biasanya, dia lebih santai dengan kondisi sekarang.
“Setelah ini kita kemana?” tanya Shevaya.
“Ada pertemuan sebentar, ikut saja.” Denver memakan makanan bekas gigitan Shevaya.
Lagi-lagi Shevaya terkejut karena Denver melakukan hal itu, Segara bahkan merasa jika Denver seperti orang yang berbeda setelah bertemu dengan Shevaya. Lelaki yang tidak ingin makanannya di sentuh orang lain kini malah makan langsung dari bekas gigitan gadis itu.
“Ini’kan masih? Kenapa makan bekas Sheva?” tanya gadis itu heran.
Denver kemudian membisikkan sesuatu di telinga Shevaya, gadis itu memerah karena malu. Denver memang sangat m***m, bahkan segala hal yang terjadi diantara mereka kini dikaitkan dengan segala hal tabu yang jarang Shevaya alami. Pacarannya dengan David memang tergolong sehat, hanya kecupan ringan tanpa ciuman liar seperti yang biasa Denver lakukan kepadanya.
“Nggak boleh gitu,” ujar Shevaya mendorong pelan tubuh Denver yang semakin dekat dengannya.
Shevaya bersama dengan Denver, bagaikan gadis dengan sugar daddy yang siap memberikan segala hal yang dia inginkan. Bersama dengan lelaki itu membuat Shevaya puas, segala hal yang dia inginkan akan dipenuhi dan Shevaya tidak perlu khawatir dengan biaya hidupnya. Shevaya tidak peduli ketika orang lain mengatakan hal buruk padanya. Dia hanya ingin fokus pada tujuannya karena mereka tidak pernah tahu apa yang Shevaya rasakan selama ini.
“Mas itu udah tua, tingkahnya kayak anak muda.” Denver tidak sakit hati mendengarnya, dia malah tertawa dengan perkataan polos yang muncul dari bibir Shevaya.
“Karena Mas bersama gadis muda makanya harus begini,” ujar Denver mengusap lembut kepala Shevaya.
Segara pamit untuk kembali ke ruangannya karena dia harus menyiapkan beberapa berkas yang akan mereka bawa ke pertemuan. Alasan utama Segara bukanlah itu, melainkan dia tidak sanggup untuk melihat kemesraan itu, hatinya berdegup kencang dan menginginkan hal yang sama. Kesibukannya sebagai sekretaris membuatnya sulit untuk bisa menghabiskan banyak waktu untuk mencari pasangan yang dia inginkan.
“Sialan, jadi jomblo gini amat nasibnya.”
***
Shevaya duduk di kafe dengan tenang, Denver tidak jauh dari tempat Shevaya saat ini. Gadis itu sibuk dengan tab di tangannya menonton drama korea yang dia sukai. Saking fokusnya dia tidak tahu jika sejak tadi ada lelaki yang berdiri di depannya berusaha untuk menyapanya.
“Sheva,” ujar lelaki yang penah ada di dalam hati Shevaya.
Shevaya menatap orang yang memanggilnya, dia meletakkan tab nya dengan jengah. Shevaya sudah lelah menghadapi David, lelaki itu sungguh membuatnya kesal dibandingkan dia melihat perselingkuhan secara nyata beberapa minggu lalu.
“Ada apa lagi? Kenapa kau ada di mana-mana?” tanya Shevaya kesal.
“Sheva, aku nggak bisa kalau nggak sama kamu. Apakah masih ada kesempatan?” tanya David bodoh.
Shevaya menggelengkan kepalanya, dia sudah lelah menghadapi David yang otakknya sedikit bergeser karenanya. Shevaya sudah menolaknya berkali-kali dan kini lelaki itu terus mencoba hal yang sama dia sangat berharap Shevaya bisa luluh dengan segala hal yang dia lakukan.
“Keputusanku tidak akan berubah,” ujar Shevaya.
“Sheva,” ucap David mencoba menggenggam tangan Shevaya dan langsung dihempaskannya.
Shevaya bukan wanita bodoh yang bisa dibohongi, sudah cukup pengkhianatan yang dia terima selama ini. Shevaya tidak akan masuk dalam lubang yang sama, dia tidak merasa rugi dengan uang yang dia keluarkan, dia hanya malu pernah mencintai lelaki yang tidak pantas untuk mendapatkan hatinya.
“Pergilah, tidak ada gunanya kamu melakukan hal itu!” kesal Shevaya marah dia bahkan berdiri dari tempatnya.
“Aku khilaf Sheva,” ujar David.
“Tidak ada perselingkuhan yang dilakukan secara khilaf. Sudahlah aku tidak ingin mendengar apa pun tentangmu,” ujar Shevaya yang sudah terlalu lelah.
“Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja,” ujar David mulai keras dan langsung menarik tangan Shevaya.
Denver yang sejak tadi mendengar keributan kini langsung berdiri dan mencekal tangan David. Denver tidak akan membiarkan lelaki itu membawa Shevaya, apa pun akan dia hadapi asalkan Shevaya tetap bersamanya.
“Apa maksudmu membawa calon istriku?” tanya Denver dingin.
“Kamu pasti bercanda Sheva, sejak kapan kamu memiliki tunangan?” tanya David.
“Sejak kamu memilih Liona dibandingkan aku, sudah impas bukan? Pergilah! Aku tidak membutuhkan lelaki pembohong yang hanya menginginkan uangku,” ujar Shevaya lalu membawa barangnya dan menghampiri Denver.
David melihat Shevaya dengan terluka, penyesalan memang datang di akhir. David yang selalu menganggap Shevaya akan menerimanya kapan pun kini akhirnya sadar bahwa pengkhianatan yang dia lakukan cukup membuat hati Shevaya goyah.
“Kamu tidak apa sayang?” tanya Denver yang memeluk Shevaya.
Shevaya menggelengkan kepalanya dan kini meminta Denver membawanya jauh dari David, Shevaya tidak suka terus menjadi orang bodoh dan gampang memaafkan. Segala perlakuan David cukup melukai hatinya dan kini dia tidak akan memaafkan mereka dalam waktu yang tidak bisa ditentukan.
Denver lalu pamit pada kolega bisnis dan meminta Segara mengurus semuanya, untung saja pertemuan berjalan lancar dan hanya tinggal penyiapan kontrak. Segara hanya mengangguk karena tidak ingin membuat Denver semakin marah. Lelaki itu benar-benar menakutkan jika marah di tempat umum seperti ini.
“Kita pulang, sayang.”
Dari kejauhan kini David menyesal telah menyia-nyiakan orang sebaik Shevaya, dulu matanya terlalu buta karena menganggap Shevaya wanita yang membosankan. Setelah Shevaya menjadi miliki lelaki lain kini dia merasa menyesal, seharusnya dia yang memeluk Shevaya bukan orang lain. Penyesalan itu tidak akan hilang begitu saja, semuanya menyiksa David dan dia mungkin tidak bisa menghapus Shevaya dalam hidupnya dalam waktu yang lama.
"Maafkan aku Sheva," ujar David penuh dengan penyesalan.