Denver datang dengan muka datarnya, sebenarnya dia sudah malas berhubungan dengan mereka, tetapi kini dia hanya ingin menepati janjinya untuk membuat keluarga itu semakin merasa marah karena Shevaya berhasil membalas dendam dengan sangat baik, buktinya keluarga tirinya marah-marah melihat dia berhasil bersama Denver.
“Bukankah aku sudah mengatakan jika kalian tidak boleh datang lagi?” tanya Denver pada Mala.
Tatapan tajam itu membuat Mala terdiam, dia takut dengan sikap Denver. Mala mengumpat dalam hati dan bertanya-tanya pelet apa yang digunakan oleh Shevaya hingga dia berhasil mendapatkan Denver. Mala tidak pernah tahu hubungan Shevaya dan Denver, tetapi mereka tiba-tiba berhubungan begitu saja setelah Sheva di usir dari rumah.
“Lalu kenapa kamu bersama Sheva? Aku tidak pernah tau kalian memiliki hubungan. Kenapa tiba-tiba kamu bersamanya?” tanya Mala.
“Anda siapa? Kenapa aku harus melaporkan segala hal padamu? Wajar jika aku bersamanya dan itu tidak ada urusannya dengan anda.” Denver mengatakan hal itu dengan menusuk.
“Aku yang selalu mengejar kamu, bahkan kita sering bertemu. Kenapa malah kamu suka dengan Sheva?” tanya Mala tidak menyangka.
“Kamu bukan tipeku,” ujar Denver menarik pinggang Shevaya semakin dekat, dia ingin membuat Mala semakin panas.
“Denver kamu harus bertangggung jawab atas luka yang Mala terima,” ujar Prita.
“Bukannya sejak awal aku udah bilang, orang asing yang tidak berkepentingan nggak boleh masuk? Emang kalian kolega bisnis? Datang hanya menghancurkan kantor sok-sok minta ganti rugi. Harusnya aku laporkan ke polisi sejak awal, lagi pula ada cctv yang merekam ulah anakmu. Lihatlah sekuriti bahkan terluka karena ulahnya,” ujar Denver menjelaskan semuanua.
Prita melihat Shevaya dengan ekspresi kesal, wanita itu bahkan diam saja ketika Denver marah kepada mereka. Shevaya menikmati segala hal yang terjadi, dia tidak ingin membantu apa pun yang berhubungan dengan mereka, sudah cukup sakit hati yang dia miliki dan kini dia tidak akan menyerah begitu saja.
“Sheva, maafkan mereka.”
“Aku tidak berhak memaafkan, lagi pula ini wewenang Mas Denver. Siapa pun yang tidak berkepentingan dan masuk ke dalam perusahaan maka akan di usir,” ujar Sheva.
“Sombong amat ya, tunggu saja. Palingan nanti juga bakal di depak kalau peletnya habis.” Prita mengatakan hal itu karena kesal pada Shevaya.
“Aku bukan kalian, lagian juga walau Mala kasih pelet buat Mas Denver nggak bakalan ampuh.” Shevaya meremehkan Mala dan membuat Prita mengepalkan tangannya karena kesal.
Renalad ingin mengajak mereka pulang, dia tidak ingin semakin malu dikarenakan tingkah mereka yang sangat bar-bar. Renald tidak ingin jika citra perusahaan yang baru saja berkembang akan semakin buruk karena ulah anak istrinya.
“Terserah mau pulang atau tidak, Sheva maafkan ayah.” Renald lalu meninggalkan mereka karena tidak ingin terlalu menambah malu.
Shevaya hanya mengangguk, dia hanya ingin ayahnya mengerti bahwa sikap ibu tirinya tidak sebaik yang dia pikirkan. Wanita itu dan anaknya tidak pantas untuk dibiarkan hidup bersama Renald karena dia merasa takut jika suatu saat nanti mereka berniat buruk demi mendapatkan harta yang Renald miliki.
Denver memeluk Shevaya lalu masuk ke dalam perusahaan, Denver yakin Mala dan Prita kini akan berpikir dua kali ketika akan datang ke kantor dan melabrak. Mereka mungkin sudah tidak memiliki muka untuk melakukan segala hal yang sama seperti sebelumnya.
“Mas, aku takut jika mereka akan merencanakan hal jahat dan mengambil harta milik ayah. Walau tidak banyak, setidaknya hal itu adalah perjuangan ayah.” Shevaya menatap Denver dengan sedih.
Shevaya memang kecewa pada ayahnya, tetapi dia tidak tega jika melihat ayahnya diperlakukan dengan tidak baik oleh mereka. Shevaya tidak ingin ayahnya diperdaya dan pada akhirnya dia di usir dari rumahnya sendiri karena Prita yang ingin menguasai harta Renald.
“Aku akan meminta orang untuk mengawasi mereka, kamu jangan khawatir. Kamu yang lebih berhak mendapatkannya dibandingkan mereka,” ujar Denver dan langsung diangguki oleh Shevaya.
Shevaya sebenarnya tidak memikirkan harta ayahnya, tetapi dia hanya tidak ingin ayahnya di celakai karena keinginan mereka. Banyak ketakutan dalam diri Shevaya, tetapi dia hanya bisa berdoa agar segala hal yang terjadi berjalan sesuai dengan rencananya.
“Aku percaya padamu, Mas.”
***
Denver mengusap kepala Shevaya yang kini tidur di pangkuannya, lelaki itu sibuk membaca dokumen kontrak kerja sama sedangkan Shevaya sedang tidur nyenyak di pangkuan lelaki itu. Shevaya sudah tidak peduli dengan pikiran Denver, dia sangat mengantuk tapi lelaki itu tidak mengijinkannya untuk pulang. Denver meminta Shevaya untuk menemaninya di kantor.
“Pak, ada orang yang ingin bertemu.” Segara mengatakan hal itu dengan sangat tenang ketika melihat posisi bos dan calon istrinya yang tidak biasa.
“Atur jadwal, nanti sore saja di kafe biasa. Sheva sedang tidur sekarang,” ujar Denver dan diangguki Segara.
Denver gemas dengan calon istrinya, dia tidak menyangka di umurnya yang sudah matang bertemu dengan gadis yang usianya masih sangat muda baginya. Shevaya sangat mudah di atur karena hal itulah Denver merasa tenang, gadis itu tidak seperti wanita-wanita yang dia temui sebelumnya. Denver tidak peduli dengan penolakan yang Shevaya lakukan yang pasti dia tidak akan membiarkan hal buruk kembali menimpanya, dia hanya ingin Shevaya terus bersama dengan dirinya tanpa ada orang yang menghalangi.
“Aku tak kan membiarkan kamu diambil oleh orang lain,” ujar Denver.
Shevaya dia gadis mungil yang memancing gairahnya, segala hal yang Shevaya lakukan membuat tubuh Denver tidak bisa dikendalikan seperti biasanya. Dia ingin melakukan hal itu dan sampai sekarang dia bahkan tidak bisa melakukan apa yang selalu terbesit dalam pikirannya.
Segara berada di toilet dan dia mendengar bisik-bisik dari sana, dia hanya terdiam dan mendengar kelanjutan gosip yang mereka katakan. Segara tahu para karyawan sangat penasaran dengan Shevaya dan orang yang selalu membuat ulah, mereka ingin tahu dan ada yang menuduh Shevaya sebagai orang jahat, semua orang memang memiliki pendapat masing-masing sesuai dengan sudut pandang yang mereka lihat.
“Mas, udah selesai?” tanya Shevaya yang kini terbangun dari tidurnya.
Shevaya mulai duduk dan kini menutup mulutnya karena menguap, tingkah lucu Shevaya membuat perhatian Denver teralihkan. Denver tidak mengerti sejak kapan dia mulai menyukai tingkah konyol seorang gadis yang tidak pernah dia sangka itu. Segala hal yang berhubungan dengan Shevaya membuatnya takjub.
Denver mencium bibir gadis itu membuat sang empunya melotot, Shevaya lalu menutup mulutnya dia tidak ingin Denver kembali menciumnya sebab dia takut bau nafasnya bau. Shevaya belum menggosok gigi setelah makan siang bersama Denver tadi.
“Kenapa?” tanya Denver setelah Shevaya menolaknya.
“Aku belum gosok gigi tau, bau.” Shevaya malu mengatakannya.
Denver mencekal tangan Shevaya lalu mencium bibirnya dengan brutal, wanita itu yang awalnya duduk kini bahkan sudah bersandar di sofa dengan Denver yang menguasai bibirnya. Shevaya yang awalnya menolak kini menikmati, dia bahkan mengalungkan tangannya di leher Denver, menikmati setiap decakan bibir yang kini lelaki itu nikmati.
Milik Denver menegang seketika, Shevaya selalu terkejut tiap kali merasakan desakan itu. Shevaya takut, tetapi dia selalu menikmati setiap apa yang dilakukan oleh Denver kepadanya, lelaki itu memang panas dan selalu mampu memuaskannya dengan bibirnya.
“Ehem,” deheman itu membuat dua insan yang saling berpadu akhirnya melepaskan diri.
Denver menetralkan degup jantungnya, sedangkan Shevaya kini menutup wajahnya karena malu atas apa yang dia lakukan di kantor. Sudah berkali-kali terpergok oleh orang lain dan kini Shevaya sudah tidak memiliki muka untuk bertemu dengan mereka.
“Nggak Mama nggak Papa semuanya menggangguku,” kesal Denver.
Genta tersenyum, dia merasa senang ketika melihat anaknya sedang dilanda asmara. Shevaya kini bersembunyi di balik punggung Denver. Shevaya malu karena terpergok oleh calon mertuanya lagi, dia benar-benar tidak bisa menahan diri jika sudah berkaitan dengan Denver, lelaki itu sungguh mempesona baginya.
“Ada apa?” tanya Denver.
“Sheva, bisakah kamu keluar sebentar? Ada yang ingin Papa bicarakan dengan Denver.” Genta meminta Sheva untuk keluar dengan sopan.
Denver lalu meminta Segara masuk, dia mengatakan pada sekretarisnya agar membawa Shevaya ke kantin. Dia tidak ingin Shevaya bosan ketika ada hal penting yang ingin papanya bicarakan kepadanya. Shevaya hanya mengangguk dan mengikuti langkah Segara, dia kini mulai akrab dengan lelaki itu sejak sering datang ke kantor. Segara sangat baik dan professional, dia tidak pernah melewati batas.
“Pak apakah setelah ini Mas Denver masih ada pertemuan?” tanya Shevaya.
“Jangan panggil saya Pak, Sheva. Panggil Kak saja, saya belum bapak-bapak.” Segara mengatakan itu dengan senyum kecil di wajahnya.
Shevaya tertawa, rupanya Segara memiliki sisi manis dalam dirinya. Shevaya kini berpikir panjang, Segara sangat tangguh menerima segala kemarahan tiap kali Denver emosi. Lelaki itu benar-benar menjadi sekretaris yang mampu diandalkan oleh Denver.
“Mas Denver memang seperti itu orangnya? Gampang marah dan emosi?” tanya Shevaya.
“Ya, tetapi dia akan selalu lembut pada orang yang dia sayangi.” Segara bukan memuji, tetapi dia mengatakan hal yang sebenarnya.
Segara sudah lama ikut Denver, dia mengetahui segalanya. Segara tahu bahwa hubungan Denver dan keluarganya tidak berjalan dengan baik, Felix menjadi permasalahan dan sampai sekarang Denver selalu malas jika berhubungan dengan adik angkatnya.
“Ambillah yang kamu inginkan, aku akan membayarnya.”
“Tidak, aku punya uang.” Shevaya menolak karena dia memiliki uang jajan yang Denver berikan, lelaki itu begitu royal kepadanya.
Segara hanya mengangguk, dia hanya mengikuti perintah Denver jika Shevaya menolak maka dia tidak bisa memaksa. Segara kini duduk di kursi melihat Shevaya yang antusias ke sana ke mari membeli beberapa jajanan yang enak, kantin kantor memang surga makanan karena itulah tidak banyak orang yang membeli makanan di luar kantor.
“Apakah kamu bisa menghabiskannya?” tanya Segara.
“Kalau nggak habis nanti di bawa pulang,” ujar Shevaya tersenyum senang.
Shevaya memang berlebihan, tetapi dia yakin bahwa dia bisa menghabiskannya. Banyak makanan unik yang ingin dia coba, kini hatinya mendesah karena dulu dia belum sempat mencicipi makanan bersama dengan Rosmala karena Denver yang buru-buru mengajaknya untuk pergi.
“Kak, kenapa Mas Denver melarang aku datang ke rumah tanpanya?”
“Ada kejadian buruk di masa lalu, kamu ikuti apa yang tuan inginkan karena dia hanya ingin melindungi apa yang sudah menjadi miliknya.” Penjelasan Segara begitu ambigu, tetapi Sheva kini hanya bisa mengangguk dia tidak bisa banyak tanya selain Denver yang menjelaskan langsung pada dirinya.
Shevaya tahu di balik sikap egois Denver pasti ada kebaikan di dalamnya, lelaki itu begitu tulus dan dia kini terluka oleh orang terdekatnya. Shevaya ingin Denver bisa mendapatkan bahagia yang pernah hilang karena kejadian di masa lalu.
“Semoga kamu bisa bahagia dengan kehadiranku,” ucap Shevaya dalam hatinya, dia berdoa tulus untuk Denver yang sudah membantunya.