Renald sakit kepala mendengar tangisan Mala, sejak kepergian Shevaya kini hidupnya makin tidak terkendalikan. Istrinya terus saja marah karena Mala yang gagal mendapatkan Denver, kini semua kesalahan dilimpahkan pada Renald karena Shevaya bersama dengan Denver.
“Apakah kamu tidak bisa diam? Kepalaku makin pusing.” Renald agak ketus mengatakannya.
Prita menatap tajam suaminya, dia tidak menyangka jika suami yang biasanya menurut kini melakukan hal yang tidak menyenangkan. Dia tidak suka jika Renald terus saja membela anaknya sendiri, sejak awal Mala yang memiliki keinginan untuk bersama Denver, tetapi semua harapannya gagal bahkan Mala sudah di usir dari kantor dengan sangat memalukan.
“Itu kesalahannya sendiri, ngapain buat onar di kantor orang lain? Apa kamu nggak tau efek dari semua itu? Tingkah lakunya viral dan bisa saja membuat orang di perusahaan mengatakan yang buruk tentangku,” ujar Renald marah dia malu karena ulah Mala.
Renald memiliki perusahaan walau tidak sebesar milik Denver, tetapi kelakuan Mala membuat dirinya malu. Renald tahu jika hubungan keluarga mereka tidak terlalu sehat seperti keluarga lain pada umumnya, tetapi dia tidak ingin semua orang tahu mengenai hal itu. Sudah cukup Shevaya pergi kini dia tidak ingin lagi menambah masalah yang kian hari semakin rumit.
“Pah! jika bukan karena anakmu tidak mungkin Mala akan seperti ini.” Prita berteriak marah pada Renald.
“Apakah kamu bisa menjamin jika Denver menerima Mala? Apakah kamu tidak mengingat jika Denver sudah menolak Mala dengan mentah-mentah. Ingat lelaki itu kaya raya, dia bisa melakukan apa pun yang dia suka,” ujar Renald lalu pergi dari rumah.
Sejak Shevaya pergi Renald tidak tahan berada di rumah itu, dia menyesal mengusir anaknya. Sekarang dia malu untuk meminta anaknya kembali pulang, Shevaya sangat terluka dengan ucapannya bahkan sampai sekarang dia tidak menghubunginya. Renald tahu seharusnya dia tidak mengusir anaknya dalam kondisi marah. Dia hanya mempercayai apa yang istrinya katakan, dia tidak pernah berpikir bahwa bisa saja Shevaya tidak melakukan apa yang dia tuduhkan.
“Aku rasanya malu untuk bertemu Sheva,” ucap Renald mengusap wajahnya kasar.
***
“Mah, apakah Kak Denver akan menikah?” tanya Felix.
Rosmala menatap Felix dengan pandangan bertanya-tanya, anak keduanya mulai penasaran dengan kehidupan kakaknya. Rosmala menyayangi anak itu, tetapi kali ini dia tidak akan membiarkan Felix melakukan hal seperti dulu, Rosmala ingin jika Denver menikah tanpa harus dihalangi oleh Felix lagi.
“Mama nggak tau, soalnya kakakmu belum bicara sama mama papa.” Rosmala mengatakan hal itu dengan santai ketika makan malam.
Rosmala tidak ingin bertanya lanjut kepada Denver, anak itu masih waspada karena takut hal yang sama terulang. Denver tidak ingin calon istrinya kembali diambil oleh Felix seperti dahulu, sudah cukup Denver sendiri hingga umurnya yang kini menginjak 35 tahun. Perbedaan umur Denver dan Shevaya memang sangat jauh, tetapi Rosmala yakin bahwa Shevaya mampu menjadi istri yang baik untuk Denver.
“Sheva masih sangat muda, kenapa mau dengan kak Denver?” tanya Felix menyebalkan.
“Jodoh tidak ada yang tahu, biarkan Denver melakukan apa yang dia inginkan. Jangan halangi atau mengganggu,” ujar Genta.
Genta sudah mulai mengetahui bahwa ada yang tidak beres pada Felix, dia takut jika Felix berusaha untuk melakukan hal buruk pada Denver. Kedekatan Felix dan pamannya semakin hari semakin akrab, Genta tidak ingin jika Felix dan Sandi merencanakan hal yang akan membuat pernikahan anaknya batal.
Felix hanya diam mendengar ucapan Genta, dia tahu sejak hubungan Denver kandas karenanya kini Genta lebih waspada untuk menghadapinya. Genta sudah kehilangan Denver dari rumah. Felix hanya ingin Genta memberikan kepercayaan kepadanya lagi setelah sekian lama hubungan mereka sedikit berjarak.
“Sudah biarkan Denver menyelesaikan urusannya.” Rosmala mengatakan hal itu karena tidak ingin semuanya terus membahas Denver.
***
Renald mencoba mencari tahu tempat tinggal Shevaya, anak itu sangat keras kepala dan memblokir nomornya. Renald tahu jika Shevaya sangat kecewa kepadanya, tetapi sebagai seorang ayah dia juga merasa tidak tega melihat anaknya hidup di luar sana tanpa ada keluarga.
“Maafkan Ayah Sheva,” ujar Renald yang kini menunggu anaknya pulang kuliah.
Renald mencari tahu jadwal Shevaya dan terus menunggunya, mungkin jika Prita tahu hal itu akan menjadi masalah besar. Renald tidak peduli, dia merasa tidak tenang setelah membuat hati anaknya terluka, sudah cukup dia menyakiti Shevaya dan kini dia ingin meminta maaf agar dia tidak merasa bersalah pada mendiang istrinya. Renald memang keterlaluan, dia harusnya mengatakan semuanya dengan baik walau Shevaya bersalah. Renald terlalu emosi karena itulah dia mengusir Shevaya tanpa rasa ampun.
Renald melihat Shevaya keluar dari gerbang dan langsung masuk ke dalam mobil, dia kini sadar bahwa Denver memperlakukan Shevaya lebih baik dibandingkan dirinya sendiri. Banyak hal yang dia sesali, tetapi kini setidaknya ada sedikit rasa syukur karena Shevaya berada di tangan yang tepat.
Renald berhenti di kantor Denver, dia mencekal tangan Shevaya yang akan masuk ke dalam lobi. Shevaya sedikit terkejut karena melihat ayahnya datang tanpa ibu tirinya, Denver hanya melihat dan ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Renald pada anaknya. Denver diam, tetapi dia tidak akan tinggal diam jika Renald menyakiti Shevaya.
“Apa lagi yang ayah inginkan?” tanya Sheva malas.
“Sheva, apakah kamu tidak ingin pulang? Di sana juga rumahmu,” ujar Renald.
“Apakah ayah lupa udah ngusir Sheva?” tanya Sheva kesal.
“Maaf Sheva, ayah terlalu emosi saat itu. Tolong jangan marah,” ujar Renald.
“Sheva tidak akan kembali, ayah pulang saja dan urus istri dan anak baru ayah.”
Shevaya melepaskan tangan Renald dan menggandeng Denver untuk masuk ke dalam kantor, Shevaya menahan air matanya, dia tidak ingin Renald tahu bahwa dia menangis. Dia tidak tahan jika berhadapan dengan Renald, kesedihan tidak bisa dia bendung karena ayahnya terlalu mudah untuk dibohongi mereka, Shevaya sudah bahagia lepas dari rumah dan kini dia akan menentukan jalannya tanpa dipengaruhi oleh mereka.
“Sheva, ayah mohon.”
Shevaya tidak menengok sama sekali, dia kecewa dengan ayahnya segala hal yang terjadi membuat dirinya merasa sedih tiap kali mengingat Renald mengusirnya dari rumah. Segala hal terasa menyesakkan hatinya, dia tidak ingin bertemu lagi agar tidak mengingat kesedihan mendalam yang dia lakukan.
“Apa Papa lakukan di sini?” tanya Mala yang kini menatap Renald heran.
Prita menarik tangan suaminya, dia penasaran dengan apa yang suaminya lakukan di tempat itu. Prita memang berniat menemui Denver untuk meminta pertanggung jawaban atas apa yang dilakukan olehnya tempo hari. Prita tidak rela melihat anaknya tersakiti karena itulah dia ingin Denver membayar ganti rugi atas apa yang dilakukan olehnya.
“Lalu apa yang Mama lakukan di sini?” tanya Renald mengabaikan pertanyaan anaknya.
“Papa nggak usah banyak nanya deh, udah pergi. Mama ada urusan di sini,” ujar Prita.
Renald menarik tangan istrinya dan mengajaknya pergi dia tidak ingin jika istrinya semakin membuat onar. Renald tidak ingin membuat Shevaya semakin membencinya, sekarang dia ingin Shevaya bahagia dengan pilihannya. Apa pun yang terjadi dia tidak akan membuat Shevaya malu memiliki keluarga yang seperti mereka. Sudah cukup rasa sakit yang Renald torehkan, kini dia ingin anaknya sedikit bahagia walau bukan karenanya.
“Lepas! Papa nggak boleh kayak gitu. Aku hanya ingin mencari keadilan untuk Mala,” ucap Prita keras.
Kehadiran mereka kembali menjadi pusat perhatian orang banyak. Renald semakin malu ketika petugas keamanan datang dan meminta mereka untuk segera pergi. Petugas kemanaan sudah tahu jika kehadiran Mala harus dihindari, wanita itu membuat pimpinan mereka marah dan memberikan peringatan kepada mereka karena tidak bagus dalam melakukan pengamanan.
“Jangan membuat hidup kami semakin sulit, kalian pergilah dan jangan membuat ulah di kantor ini.”
Mala merasa malu ketika mereka mengatakan hal itu, Mala langsung mengambil Sepatu dan dilemparkannya hingga mengenai dahi petugas keamanan tersebut. High heels Mala melukai salah satu diantara mereka.
“Apa yang kamu lakukan Mala?” teriak Renald ketika melihat tingkah Mala.
***
Denver menghela nafasnya lelah ketika mendapatkan laporan dari Segara, dia akhirnya memutuskan untuk keluar melihat kondisi yang terjadi. Shevaya yang sejak tadi dilarang semakin berat untuk tinggal, dia menggandeng tangan Denver dengan erat agar lelaki itu tidak meninggalkannya.
“Seharusnya kamu tetap di sana,” ujar Denver dingin.
Shevaya menggelengkan kepalanya, dia ingin tahu apa yang terjadi. Dia tidak suka melewatkan pertunjukkan menakjubkan, jika Mala marah dia harus semakin membuat amarah wanita itu semakin meledak. Apa pun yang terjadi membuat Mala gila adalah tujuannya. Shevaya tidak peduli jika Prita membunuhnya, yang pasti dia sudah puas membuat wanita itu sengsara setelah menghancurkan hidup keluarganya.
Sampai kapan pun Shevaya tidak akan melupakan rasa sakit yang ibunya terima, Prita membuat penyakit ibunya semakin parah dengan kemesraannya bersama Renald. Sampai kapan pun dia tidak akan membiarkan wanita itu bahagia setelah ibunya pergi untuk selama-lamanya.
“Kehadiran mereka berhubungan dengan kematian ibumu?” tanya Denver ketika masih di lift.
“Hem, jika bukan karena kehadiran mereka aku pasti bisa bersama ibu sedikit lebih lama. Mereka memang benalu yang harusnya disingkirkan sejak awal,” ujar Sheva.
Denver megangguk, dia tahu walau tidak mengerti dengan pasti apa yang terjadi saat itu. Shevaya terlalu emosi dan sampai kapan pun rasa sakit karena kehilangan orang yang dia sayangi tidak akan menghilang begitu saja, terlebih dia melihat orang yang menjadi penyebab kematian ibunya hidup dengan bahagia dan menghabiskan harta yang ayahnya miliki.
“Sampai kapan pun aku ingin membuat mereka hidup menderita, sama seperti apa yang ibuku rasakan sebelum kematiannya.” Denver menatap Sheva dengan lekat lalu berkata.
“Aku akan membantumu.”