Denver emosinya sedang tidak stabil, hasratnya tertahan dan kini dia mendapatkan telpon dari Segara bahwa Mala datang ke kantor dan berbuat rusuh. Segara sudah meminta satpam untuk mengusirnya, tetapi wanita itu tetap berada di depan kantor dan berteriak seperti orang gila. Segara sudah mencoba semaksimal mungkin, tetapi Mala tetap saja keras kepala. Dia bahkan mengancam akan bunuh diri di depan kantor jika Denver tidak segera datang. Lelaki itu frustasi menghadapi Mala yang tidak bisa dia kendalikan, segala hal yang berhubungan dengan wanita itu membuat Denver sakit kepala.
Denver sampai kantor dan langsung menemui Mala, wanita gila itu membuat kantornya berantakan. Dia tidak segan-segan menarik dan menjatuhkannya, Denver bisa menggila. Sejak awal dia bukan lelaki yang penurut, apa pun yang tidak dia sukai tak akan dia lakukan.
“Harusnya langsung usir, kenapa membuatnya menggila di kantor seperti ini?” teriak Denver marah.
Mala takut melihat kemarahan Denver yang di luar ekspektasinya, lelaki itu kesetanan dan tubuhnya terasa sakit ketika Denver dengan paksa mendorongnya. Mala tidak menyangka di balik sikap manis Denver pada Shevaya, kini tersimpan perilaku yang membuatnya ketakutan, lelaki itu kasar padanya.
“Maaf Pak, kami—”
“Cukup! Ingat jika dia kembali datang langsung usir. Aku tidak peduli, dia benar-benar membuatku kesal,” ujar Denver.
Emosi yang membara membuat nafsunya berkurang, gara-gara Mala dia kini gagal menikmati percintaan bersama dengan Shevaya. Milik Denver sakit karena terlalu tegang, dia ingin pulang, tetapi kini gairahnya hilang akibat Mala yang membuatnya emosi. Denver tidak peduli orang menganggapnya sebagai lelaki jahat, dia hanya tidak suka ada orang yang membuat bisnisnya kacau.
“Pulang tidak Bos?” tanya Segara.
“Sialan memang, jika bukan karena wanita itu mungkin semuanya tidak akan seperti ini.” Segara hanya diam karena dia tahu Denver marah besar pada Mala yang banyak tingkah.
Segara tahu bahwa Denver sangat marah jika berhubungan dengan Mala, dia tidak suka dengan sikap keluarga mereka yang bahkan dengan tega membuat Shevaya diusir dari rumahya sendiri. Denver akan membalas segala rasa sakit yang Sheva rasakan dan kini adalah awal dari kehancuran mereka. Apa pun mampu Denver lakukan agar Shevaya bahagia.
“Aku akan mengerjakan dokumen lain, kamu bisa pergi.”
Denver hanya menghela nafasnya lelah, entah apa yang kini Shevaya lakukan di apartemen. Denver sudah bersalah karena meninggalkan Shevaya dalam kondisi yang tidak baik. Mala membuatnya kesal, masih untung dia tidak menjebloskan Mala ke polisi. Dia masih memberikan kesempatan wanita gila itu untuk intropeksi diri.
“Sialan, gairahku seolah lenyap karena rasa kesal ini.”
***
Shevaya makan siang dengan lahap, entah apa yang terjadi pada Denver hingga dia bahkan mengabaikan masakan Shevaya yang sudah susah payah dia buat. Shevaya agak kecewa, tetapi dia tidak bisa menahan Denver terlebih lelaki itu terlihat buru-buru dan emosi. Shevaya sadar posisi bahwa dia tidak boleh mengganggu urusan Denver, apalagi hal itu terkait pekerjaan yang dia jalani.
“Makin hari makin posessif, entah apa yang sedang Denver pikirkan.”
Shevaya asik berselancar di dunia maya dengan ponsel miliknya, sejak David ketahuan selingkuh dia sudah menutup semua akses komunikasi yang mereka miliki. Shevaya tidak peduli lelaki itu memohon untuk kembali, dia sudah cukup kecewa. Shevaya tidak akan memberikan kesempatan kedua meskipun David memohon kepadanya. Shevaya tahu bahwa David hanya pura-pura mencintainya, dia sudah cukup untuk di manfaatkan oleh lelaki jahat itu.
Shevaya mendapatkan pesan dari Rosmala, wanita itu meminta Shevaya untuk datang ke rumah. Rosmala hanya ingin lebih dekat dengan wanita yang akan menjadi menantunya. Rosmala sangat senang menghabiskan waktu bersama Shevaya, tetapi dia sadar bahwa Denver tidak akan mengijinkan Shevaya berlama-lama bersamanya.
Shevaya bertanya-tanya dalam hati mengenai permasalahan Denver dan keluarganya. Dia tidak tahu pasti apa yang terjadi, Denver hanya memperingatkannya untuk tidak dekat dengan adik angkatnya. Shevaya hanya tidak ingin membuat Denver semakin marah, dia akan mencoba mengikuti segala hal yang diinginkan lelaki itu, dia bergidik ngeri ketika membayangkan kemarahan Denver padanya.
“Apa yang harus aku balas? Aku takut datang tanpa Denver?”
Shevaya pada akhirnya mengirim pesan pada Denver, dia mengatakan jika Rosmala memintanya untuk datang ke rumah. Dia jujur karena tidak mau Denver kembali padanya, jika Denver melarang maka Shevaya akan menolak ajakan Rosmala, dia yakin jika calon mertuanya paham bagaimana sifat Denver yang sampai sekarang masih tidak ingin terlalu dekat dengan keluarga mereka.
“Padahal keluarganya asik, entah apa yang terjadi hingga kamu membenci mereka seperti itu?” tanya Shevaya dalam hatinya.
***
Denver menghubungi ibunya ketika mendapatkan pesan dari Shevaya, dia tidak ingin ibunya sering mengirim pesan dan meminta Shevaya untuk datang ke rumah. Denver trauma, dia takut jika miliknya kembali di kuasai oleh Felix. Denver sudah cukup kehilangan satu orang dan kini dia tidak ingin kembali lagi. Wanita itu entah pergi ke mana, Denver tidak peduli lagi setelah dia meninggalkannya demi Felix. Terakhir kali dia mendengar kabarnya wanita menghilang, selama Denver sudah dikhianati dia tidak ingin tahu kabar wanita itu, dia sudah menganggapnya mati sejak dia mendua.
“Jangan meminta Sheva datang tanpaku, apakah mama ingin Sheva diambil anak kesayanganmu lagi?” tanya Denver dingin.
Denver tidak peduli dengan semua pembelaan yang ibunya katakan, dia tahu bahwa Rosmala ingin lebih dekat dengan Shevaya, tetapi jika harus Shevaya yang harus datang ke sana dia tidak akan mengijinkannya.
“Aku tidak peduli, aku hanya tidak ingin Sheva ke sana.” Denver mematikan telponnya tanpa mendengar balasan ibunya.
Mood Denver sudah cukup buruk karena ulah Mala dan kini ditambah dengan keinginan Rosmala, dia tidak suka jika hubungannya kembali diganggu. Denver sudah mulai nyaman dengan kehadiran Shevaya, dia tidak ingin para pengganggu kembali mengusik hubungannya yang kini mulai berjalan dengan baik. Shevaya miliknya, sampai kapan pun dia tidak akan membiarkan orang lain kembali mengambilnya.
“Segara bantu aku mempersiapkan pernikahan dengan Sheva,” ujar Denver di telepon.
Denver ingin segera memiliki Shevaya seutuhnya, dia tidak ingin jika Shevaya berubah pikiran setelah menginginkannya. Dia tahu hubungan mereka memang terjadi bukan karena saling jatuh cinta, mereka sama-sama membutuhkan satu sama lain demi rencana. Denver awalnya menolak, tetapi kini sikapnya terasa berbeda dia mulai terobsesi pada Shevaya. Dia tidak ingin Shevaya dimiliki oleh lelaki lain. Rasa obsesi semakin besar dan memiliki Shevaya adalah hal mutlak yang dia inginkan.
“Sebulan lagi, semua harus beres. Masalah wali akan aku bicarakan dengan Sheva,” ujar Denver lalu menutup teleponnya.
Denver tahu jika pernikahannya tidak akan berjalan dengan mudah, ayah Shevaya belum tentu memberikan restu padanya. Shevaya terlalu baik, dia lahir di keluarga yang harmonis sebelum kehadiran ibu tiri yang merusak semua kebahagiaan yang Shevaya miliki.
***
“Satu bulan lagi kita akan menikah.”
Denver mengatakan hal itu ketika sedang makan malam bersama Sheva, dia hanya ingin Sheva bersiap karena dia tidak suka Sheva kembali menarik ucapannya setelah menyetujui segala konsekuensi atas keputusan diantara mereka. Shevaya hanya terdiam, pikirannya kini berkecamuk mengenai restu yang ingin dia dapatkan dari ayahnya. Shevaya ingin meminta restu, tetapi dia yakin bahwa segalanya tidak akan semudah itu bisa dia dapatkan. Ibu dan saudara tirinya tidak akan mungkin membiarkan Shevaya menikahi Denver.
“Kamu tidak menyukainya?” tanya Denver dengan hati gelisah.
“Aku hanya memikirkan restu, bukankah sekarang ayah juga tidak menyukaiku?” tanya Shevaya.
“Aku akan membantu, jika memang keinginan baik kita ditolak mentah-mentah maka kita gunakan wali hakim. Aku hanya ingin segera menikah denganmu dan kita membalas dendam kepada mereka,” ujar Denver.
Shevaya mengangguk, dia tidak sadar jika semakin terjebak dalam kehidupan Denver yang rumit. Shevaya tidak pernah tahu segala hal yang Denver hadapi, dia menerima segala konsekuensi atas rasa sakit hatinya. Dia tidak peduli karena dia puas selama Mala menderita melihatnya bahagia bersama dengan Denver.
“Kamu bersedia menikah denganku’kan?” tanya Denver dan diangguki Shevaya.
Semakin cepat menikah maka akan semakin baik untuknya, Mala akan menangis darah ketika mengetahui pernikahan Shevaya akan dilakukan. Dia tidak peduli dengan kemarahan ayahnya, dia hanya ingin melakukan segala hal demi kepuasaan hatinya.
“Jangan mengatakan kepada siapa pun mengenai rencana ini, katakan saja ketika waktu pernikahan sudah semakin dekat. Aku hanya tidak ingin jika ada orang menggagalkannya,” ujar Shevaya.
Denver mengerti, dia juga mengatakan pada Segara bahwa persiapan pernikahan dilakukan secara rahasia. Denver tahu jika Felix tidak akan tinggal diam jika tahu Denver akan segera menikah, dia tidak ingin hal buruk kembali terjadi karena anak angkat itu.
“Sheva, aku tidak suka orang yang berkhianat. Selama kamu menjaga kepercayaanku maka aku juga akan menjagamu, jika kamu berkhianat maka aku tidak akan segan menghancurkanmu.” Shevaya merasa takut dengan peringatan yang Denver berikan.
Shevaya bisa menjamin bahwa dia akan setia, tetapi Shevaya hanya takut jika ada orang yang memfitnahnya. Dengan temperamen Denver dia tahu bahwa lelaki itu sangat mudah untuk disalahpahami, dia takut jika Denver melakukan hal buruk atas kesalahan yang tidak dia lakukan.
“Kamu juga harus mempercayaiku, sejak aku memutuskan untuk meminta bantuanmu maka aku akan menerima segala konsekuensi yang aku dapatkan.”