Sejak hari itu kini Denver mulai berubah, dia berubah semakin posessif pada Shevaya. Wanita itu dilarang pergi tanpa persetujuan, entah apa yang merasukinya, tetapi kini Sheva mulai terbiasa dengan sikap Denver yang berubah-ubah seperti setan.
“Aku hanya pergi ke café dengan teman-teman,” ujar Shevaya cemberut ketika berbicara di telepon.
Shevaya menutup teleponnya dengan kesal, Denver semakin menjadi-jadi kepadanya. Lelaki itu bahkan melarang Shevaya untuk pergi mengerjakan tugas bersama dengan teman satu kelompoknya. Dia lalu bergegas menyelesaikan bagiannya, sebelum pamit untuk pulang lebih awal. Shevaya tidak ingin membuat mood Denver semakin berantakan hanya karena dirinya.
“Kenapa?” tanya Gilang.
“Di suruh cepat pulang, setelah bagianku selesai aku pamit duluan ya. Maaf tidak bisa lama,” ujar Shevaya dengan tidak enak.
Mereka hanya bisa mengangguk, walau mereka satu kelas hubungan mereka tidak begitu akrab. Jika bukan karena tugas, mungkin Shevaya tidak akan berkumpul bersama dengan mereka. Sheva tidak ingin mengakrabkan diri dengan banyak orang setelah gosip diantara dia dan mantannya semakin tersebar kemana-mana. Liona menuduhnya menjadi simpanan, jujur saja Shevaya merasa malu dengan gosip itu.
“Sheva, jangan terlalu memikirkan gosip. Kami juga tau kalau Liona nggak beres,” ujar Gilang.
“Aku tau, aku terlalu bodoh mempercayainya. Sekarang aku bersyukur bisa lepas dari benalu.” Shevaya fokus pada laptopnya tanpa melihat Gilang bicara.
Kelima orang itu hanya bisa diam, Shevaya mungkin trauma dengan pengkhianatan teman karena itulah dia semakin menjauhi beberapa teman karena takut hal yang sama kembali terulang. Sejak awal Shevaya hanya diam, dia bahkan tidak mengatakan apa pun tentang Liona yang selingkuh dengan kekasihnya. Liona yang menyebarkan semuanya dan memfitnah Shevaya melakukan hal yang bahkan tidak pernah dia lakukan sebelumnya.
“Beberapa hari lalu aku melihat kamu, apakah sekarang kamu sudah bertunangan?” tanya satu teman wanitanya.
Shevaya menghentikan aktivitasnya dan menatap wanita itu, dia tidak mau berbohong karena pada dasarnya sekarang waktu yang tepat untuk semua orang tahu bahwa dia sudah memiliki pasangan. Shevaya sudah memiliki tunangan dan sebentar lagi akan menikah.
“Iya,” ujar Sheva tersenyum malu dan memperlihatkan cincin yang ada di jari manisnya.
Semua yang ada di sana terpana, mereka baru sadar jika Shevaya menggunakan cincin berlian yang berkilau. Mereka tidak menyangka jika dalam diamnya Shevaya menyimpan semua hal, dia terus diam tanpa membalas segala hal yang Liona katakan untuk menjatuhkannya. Liona mungkin marah kepadanya karena hubungannya dengan David harus putus setelah dirinya benar-benar jatuh cinta.
“Waduh habis putus dari benalu langsung dapat yang effort ya, lihat itu mata berliannya berkilau. Gila sih,” puji salah satu temannya.
“David putus dengan Liona, tau sendiri kalau David gaya hidupnya sangat hedon. Walau orang tuanya mengirimkan uang belum tentu akan cukup dalam satu bulan, jika bukan karena ku mana mungkin dia bisa bergaya? Sekarang aku sudah sadar dan mungkin dia juga pusing menghadapi segala keinginan Liona yang tidak bisa dia penuhi.” Shevaya mengatakan hal itu, dia hanya ingin mereka semua tahu segala hal yang dia pendam selama ini.
“Sialan, ternyata masih ada lelaki b******k seperti itu. Memanfaatkan lalu menyelingkuhimu,” umpat Gilang terkejut.
Gilang pikir David bukan orang seperti itu, ternyata semuanya salah dia benar-benar tidak memiliki hati. Shevaya yang awalnya dikira pembohong kini mulai di pandang baik oleh mereka, walau tidak semua orang tahu, setidaknya Shevaya mengatakan semua kebenaran tanpa perlu menyembunyikan semuanya lagi.
Hati Shevaya semakin berdebar, sebentar lagi bagiannya selesai dan dia bisa bernafas lega karena bisa segera pulang. Shevaya takut karena Denver terlihat marah kepadanya, entah kenapa lelaki itu berubah menjadi posesif bahkan Shevaya tidak berani melakukan apa pun untuk membantahnya.
“Sheva…” suara itu membuat Shevaya mematung bahkan kelima temannya juga ikut penasaran dengan orang yang kini memanggil wanita itu.
“Bentar Mas, ini udah mau selesai.” Shevaya terlihat sangat gugup.
“Selesaikan, kita pulang sekarang.”
Kelima temannya tidak berani mengatakan apa pun, aura Denver memang terlihat menakutkan. Dia adalah sosok bos yang di segani, bahkan mereka yang tidak tahu pun ikut waspada kepadanya ketika datang.
“Aku udah selesai dan ini ada di dalam flashdisk tugasku, kalau kurang nanti kabari saja. Maaf aku pulang duluan,” ujar Sheva melambaikan tangannya sebelum itu dia tidak lupa menitipkan uang untuk membayar minumannya.
Denvar memeluk Shevaya dengan erat, hal itu membuat mereka paham bahwa lelaki menakutkan itu adalah tunangan Shevaya. Teman-temannya bahkan tidak menyangka jika Shevaya akan menikah dengan lelaki kaya raya.
“Gila sih, auranya dominan kayaknya dia posesif banget sama Sheva. Bisa dapat dari mana Sheva, aku juga mau deh kalau ada.” Dia benar-benar terpesona dan merasa iri dengan Shevaya yang beruntung mendapatkan orang kaya raya.
“Kau itu kalau ada orang kaya langsung ngiler,” sindir Gilang.
“Pesona pria matang memang beda.” Mereka semua tertawa dan kembali melanjutkan tugas yang memang sebentar lagi harus mereka kumpulkan.
Shevaya terdiam sejak keluar dari café, dia tidak menyangka jika Denver akan mengabaikannya. Lelaki itu bahkan menyusulnya, dia tidak suka Sheva bertemu dengan lelaki lain. Denver tidak suka jika apa yang menjadi miliknya akan direbut oleh orang lain.
“Mas jangan diam, kamu marah?” tanya Sheva.
“Menurut kamu?” tanya Denver tanpa melihat padanya.
“Aku nggak enak kalau tugasnya belum selesai makanya bagianku aku kerjakan baru niatnya pulang, Mas nggak ada rapat?” tanya Shevaya.
“Diam Sheva, aku sedang kesal.” Shevaya terdiam dia hanya bisa meremas tangannya yang kini semakin dingin sungguh dia tidak tahu apa yang akan Denver lakukan untuk menghukumnya.
Denver kesal karena Shevaya tidak menuruti apa yang dia katakan, Denver hanya tidak suka jika Shevaya pergi tanpa ijin bersama dengan teman-temanya. Dia tidak ingin kembali mengulangi masa lalu yang tidak ingin dia ingat.
“Kamu sudah mulai membangkang, Sheva.” Geram Denver.
***
Felix tahu bahwa kakaknya kini mulai dekat dengan gadis itu, dia tidak akan rela kakaknya bahagia. Setelah keluarga itu merenggut nyawa orang tuanya dia tidak akan membiarkan mereka merasakan kebahagiaan seperti yang selama ini dia rasakan.
“Harusnya kamu tidak menyerah, itu perusahaan ayahmu jika bukan karena ulah mereka maka keluargamu akan baik-baik saja.” Sandi kembali menghasut Felix.
“Aku tahu,” ucap Felix.
“Kamu harus menghancurkan hubungan mereka, jika sampai Denver berhasil maka perusahaan itu akan jatuh kepadanya. Kau tidak bisa lagi menuntut apa yang menjadi milikmu,” ujar Danuarta.
Felix hanya mengangguk, dia tidak akan membiarkan Denver menikah. Dia tidak rela jika Denver memiliki anak yang menjadi penerusnya. Sampa kapan pun perusahaan itu adalah miliknya, dia tidak ingin jika Denver dengan leluasa hidup tenang tanpa memikirkan kesalahan yang dilakukan oleh orang tuanya.
“Kamu coba cari semua surat berharga itu, mereka mungkin menyembunyikannya di suatu tempat.”
Felix mengangguk, sudah beberapa hari mencari bahkan sampai saat ini dia tidak menemukan apa yang dia butuhkan. Felix hanya ingin tahu isi wasiat itu, dia tidak ingin jika mereka menguasai semuanya bahkan tanpa melibatkan dirinya masih ada di dunia ini.
“Hanya kamu harapan keluarga ibumu, jangan pernah menyerah karena semuanya adalah milikmu.” Sandi tersenyum lalu dia pamit pergi.
Dua orang itu selalu menghasut Felix, mereka akan senang jika Felix yang memiliki perusahaan karena Sandi dan Danuarta bisa dengan bebas melakukan apa pun yang dia suka. Selama ini Felix mempercayai mereka karena hanya mereka yang ibunya miliki. Felix tidak tahu apa pun jika bukan karena paman dan saudaranya, di hanya ingin berterima kasih karena hanya pamannya yang mengerti rasa sakit yang selama ini dia rasakan.
“Aku pulang dulu,” ujar Felix dan langsung diangguki Sandi.
Sejak awal Sandi dan Danuarta tidak pernah tulus, dia menggunakan Felix untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Anak itu terlalu polos dan terus mengikuti segala hal yang Sandi katakan. Sandi terus membuat Felix membenci keluarga Denver dia benar-benar meracuni pikiran Felix agar menganggap keluarga Denver benar-benar membunuh keluarganya.
“Harusnya kamu lebih pintar Felix.”
***
Shevaya terhimpit oleh tubuh Denver yang besar, dia berdebar karena terlalu dekat dengan tubuh Denver yang kini terasa panas. Parfumnya dan segala hal yang ada dalam dirinya benar-benar membuat Shevaya terpesona.
“Aku tidak suka penolakan Sheva dan kau sudah melakukannya,” bisik Denver ditelinganya.
Denver mengendus leher Shevaya, lelaki itu benar-benar membuat Shevaya bergidik ngeri dengan tingkahnya. Shevaya tidak menyangka jika semakin ke sini Denver terlihat semakin terobsesi dengannya. Lelaki itu ingin memiliki Shevaya dan segala hal yang ada pada dirinya.
“Apakah kamu senang membangkang dan mendapat hukuman?” tanya Denver yang kini semakin mendekati Shevaya, bahkan suara nafasnya terdengar jelas di telinga wanita itu.
“Mas aku tidak bermaksud—”
“Sheva aku tidak suka mendengar penolakan,” ujar Dever lalu membopong tubuh wanita itu.
Denver membawa Shevaya ke dalam kamarnya, dia sudah tidak tahan untuk mencium bibir manis milik Shevaya yang selalu menggoda. Denver sudah tidak tahan lagi, dia berniat untuk kembali merasakan tubuh Shevaya, dia merindukannya.
“Aku menginginkannya,” bisik Denver yang membuat Shevaya kembali pasrah.
Denver mencium Shevaya dengan liar, dia tidak akan melepaskan kesempatan itu. Denver memang sudah kehilangan akal tiap kali dia marah gairahnya semakin besar dan ingin melakukan percintaan dengan Sheva secepatnya.
“Mas, ponselmu—” Sheva mendorong tubuh Denver ketika ponselnya berbunyi.
Denver mengumpat kasar dan langsung mengangkat ponselnya, lelaki itu mencium kening Shevaya dan langsung pamit karena ada hal penting yang harus dia kerjakan. Shevaya tidak mengerti lagi, semua gairah dalam tubuh lelaki itu hilang entah apa yang terjadi hingga dia terburu-buru untuk pergi.
“Kenapa malah aku yang merasa kehilangan?” Shevaya memukul kepalanya pelan karena memikirkan hal kotor bersama dengan Denver.