Bab 9. Kepergok Rosmala kesekian kalinya

2134 Words
Felix mengendap-endap masuk ke dalam ruang kerja Genta, dia mencari berkas penting yang dibutuhkan oleh Danuarta-pamannya. Felix ingin segera mengambil alih perusahaan yang Denver pimpin, karena itulah dia melakukan segala hal untuk mewujudkannya. “Felix? Kamu membutuhkan sesuatu.” Lelaki itu terlihat gugup ketika Genta datang, dia mencoba menenangkan sikapnya karena tidak ingin orang tua angkatnya curiga. Sejak awal dia memang memiliki dendam pada keluarga itu, dia kesal karena mereka menyebabkan orang tua Felix meninggal. Mereka berusaha mendapatkan perusahaan dengan cara yang buruk, Felix tidak akan rela apa yang dimiliki oleh orang tuanya bisa didapatkan oleh mereka dengan mudah. “Tidak Pa,” Ujar Felix lalu keluar dari ruang kerja Genta. Genta kini semakin merasa curiga dengan sikap Felix yang berubah, anak itu terlihat tidak meyakinkan. Dia tahu sejak awal Denver sudah curiga padanya, dia sudah menyembunyikan semua surat penting dan berharga di tempat yang aman. Sejak awal dia tahu bahwa keluarga Felix selalu menginginkan perusahaan itu, dia ingin ponakan mereka yang mengelolanya. Entah apa yang Denver katakan benar atau tidak, dia juga sudah mencoba yang terbaik agar tidak kecolongan oleh keluarga Felix yang terkadang tidak masuk akal. “Tuhan, jangan semakin membuat keluargaku berantakan. Aku hanya mencoba menjalankan wasiat dari mertua ku,” ucap Genta lelah. Pertengkaran keluarga memang tidak terjadi, perang diam mereka lakukan sepanjang tahun bahkan sampai sekarang Denver tidak sudi pulang ketika ada Felix di rumah itu. Genta dan Rosmala memang tidak bersalah, mereka tidak tahu apa pun mengenai kecelakaan keluarga Felix. Mereka menjaga Felix sesuai dengan keinginan ayah dari istrinya agar Felix berada pada asuhan mereka, ayah Rosmala tahu bahwa keluarga Felix dari ibunya hanya akan memanfaatkannya. Felix berjalan dengan kesal, dia memang sedang mencari sesuatu sesuai dengan arahan pamannya. Sejak beberapa hari mencari dia bahkan tidak menemukan apa pun, dia tidak tahu apa yang papanya sembunyikan hingga semuanya sangat rapi tanpa pernah dia ketahui. “Sialan, apa lagi yang harus aku lakukan? Paman pasti akan semakin marah padaku.” Felix kesal lalu membanting pintu kamarnya dengan keras. Hidup Felix di keluarga itu benar-benar menyenangkan, Felix merasakan kasih sayang dari kedua orang tua angkatnya. Mereka menjaga Felix dengan baik, tetapi dalam hati Felix sangat jengkel karena dia selalu di hasut oleh Danuarta agar terus membenci Genta dan merebut kembali perusahaan yang seharusnya di kelola oleh ayahnya. *** Rosmala bersemangat untuk memasak, semalam dia mengatakan pada Shevaya jika dia akan datang sore hari, sejak kehadiran wanita itu dia merasa sangat bahagia. Rosmala senang karena Denver kini bisa bahagia, lelaki itu tidak merasakan kesedihan yang mendalam seperti tahun-tahun sebelumnya. kehadiran Shevaya sangat disyukuri oleh Rosmala karena dia berharap dengan hadirnya Shevaya keluarga mereka bisa kembali bersatu. “Mama sibuk ngapain?” tanya Genta. “Mama udah janjian sama Sheva mau bawain makanan kesukaan Denver, anak itu benar-benar membuat Sheva repot.” Rosmala sedikit kesal. “Ada apa lagi?” tanya Genta. Rosmala lalu menceritakan semua yang dia ketahui, mengenai permintaan Denver dan sikap Denver yang mulai berubah. Genta tersenyum, setidaknya dia merasa lebih senang ketika melihat kehidupan anaknya mulai berubah, kehidupan sunyi kini perlahan berganti dan rasa sesak di dalam hati Genta kini mulai berkurang karena melihat kebahagiaan anaknya. “Harusnya Sheva dan Denver cepet nikah, Pah. Anak kita bahkan terlihat bahagia ketika melamar Sheva,” ujar Rosmala. “Dari mana Mama tahu?” tanya Genta. Rosmala segera memperlihatkan video di ponselnya, dia memperlihatkan ketika Denver melamar Shevaya dan membuat semua orang yang ada di sana bersorak. Hari ini Rosmala ingin bertanya pada Shevaya mengenai kejadian yang sebenarnya, anak-anak itu memang nakal karena merencanakan acara lamaran sendiri tanpa campur tangan orang tua mereka. Walau begitu kekesalan yang ada, tidak mengurangi sedikit pun kebahagiaan yang Rosmala rasakan. “Aku sangat bahagia melihat Denver bahagia, rasanya sudah lama tidak melihatnya sebahagia itu.” Rosmala mengusap air mata di sudut matanya. Rosmala tidak peduli dari mana Shevaya berasal yang pasti dia hanya ingin Shevaya terus bersama dengan Denver. Rosmala tidak ingin Denver kembali seperti sedia kala di saat dia mati rasa, sudah cukup dia merasa kehilangan di masa lalu dan kini Rosmala tidak ingin Denver kembali patah hati karena kehilangan wanita yang dia sayangi. “Pah, apa pun yang terjadi jangan biarkan kejadian di masa lalu terulang lagi.” Genta mengangguk, rasa bersalah masih ada di dalam hatinya dan sampai saat ini dia masih menyesali keputusan yang telah dia buat. *** Shevaya melakukan tugas seperti biasanya, siang ini Denver memintanya untuk tetap diam di apartemen karena lelaki itu memutuskan untuk pulang. Denver merasa bosan karena sudah tidak ada agenda yang harus dia lakukan. Denver banyak menghabiskan waktu di apartementnya, sejak kehadiran Shevaya, dia bahkan sudah tidak pernah lagi datang ke club malam. Sedikit demi sedikit kini setitik rasa di hati Denver yang telah mati mulai terpenuhi dengan kehadiran Shevaya, gadis itu mampu menggoyahkan hati Denver yang telah mati. “Sheva,” ucap Denver yang masuk tanpa permisi. Gadis yang sedang memasak di dapur kini terkejut karena Denver tiba-tiba memeluknya dari belakang. Shevata langsung mematikan kompornya, untung saja masakannya sudah matang tepat Denver pulang. Dia tidak tahu kenapa akhir-akhir ini Denver sangat suka memeluknya, lelaki itu terus melakukan segala hal tanpa pernah Shevaya duga. “Ada apa, Mas? Kenapa suka sekali membuatku terkejut?” tanya Sheva keheranan. “Aku hanya menginginkannya, lagian tidak salah jika aku melakukannya. Kontrak itu tertulis aku bebas melakukan apa pun dengan tubuhmu.” Denver mengatakan hal itu dengan lugas seolah-olah tanpa ada kecanggungan di dalamnya. Shevaya benar-benar menahan dirinya, dia tidak tahu kapan pertahanannya akan runtuh. Tembok tinggi yang dia bangun bisa saja runtuh begitu saja karena sikap Denver yang selalu membuat hatinya menghangat. Shevaya kini sadar bahwa mantan pacarnya tidak pernah melakukan hal seperti itu padanya, kini Sheva mulai mengerti bahwa sejak awal lelaki jahat itu hanya berniat memanfaatkan dirinya untuk hidup nyaman. “Sheva, apa yang kamu lakukan padaku? Kenapa tiap kali bertemu aku ingin menciumu?” tanya Denver yang kini menatap Shevaya intens. Shevaya mematung, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Denver yang dia pikir sangat konyol. Bagaimana bisa dia tahu apa yang membuat Denver ingin menciumnya? Shevaya tidak melakukan apa pun dan segala hal yang dia lakukan benar-benar normal seperti biasanya. “Aku tidak melakukan apa—” belum sempat Shevaya melanjutkan ucapannya kini bibir Denver sudah membungkam bibirnya. Shevaya terkejut ketika lelaki itu benar-benar mencium bibirnya dengan ganas. Shevaya tanpa sadar menikmati ciuman Denver, dia bahkan mengalungkan tangannya di leher Denver dan mengikuti irama yang lelaki itu ciptakan. Shevaya benar-benar lupa diri, dia bahkan tidak sadar jika kini Denver mengangkat tubuhnya dan direbahkannya di sofa. Denver hilang kendali tiap kali berhadapan dengan Shevaya, gadis itu mampu membuat jiwa liar Denver muncul seketika. “Bagaimana bisa aku menahan diri jika tubuhmu terus terbayang di otakku?” tanya Denver ketika dua mata saling bertatap. Denver kembali mencium Shevaya dengan intens, lelaki itu bahkan tidak sadar menggoda leher Shevaya yang seksi. Dia hilang kendali dan ingin kembali mengulang percintaan yang sangat panas seperti sebelumnya. “Ingat Sheva, kamu milikku.” Shevaya hanya mengangguk, dia menikmati semua hal yang Denver lakukan. Bahkan kini tangan lelaki itu terus bergerilya dua gunung Shevaya tak luput dari remasannya. Denver yang terkenal membuang wanita di saat b*******h kini sirna, dia benar-benar terpaku dengan pesona Shevaya. Denver ingin menjadikan Shevaya sebagai wanita dalam hidupnya, rasa tidak peduli menghilang dan kini menjadi obsesi yang entah kapan bisa dia putuskan. “Ahhh, Mas—” pekik Shevaya kesakitan. “Tenang sayang,” bisik Denver ketika tangan besarnya menyelinap masuk ke dalam dress yang dikenakan gadis itu. “Sakitt,” erang Sheva ketika jari besar Denver mencoba menerobos masuk kedalam milik Shevaya yang sempit. Denver mengerang, benar benar membuat miliknya sangat tegang. Milik Shevaya benar-benar sempit, dia tidak bisa membayangkan bagaimana miliknya yang besar kembali menerobos masuk ke dalam titik sensitive miliki gadis itu. Denver melepas pakaiannya, dia sudah tidak tahan untuk tidak menuntaskan gairahnya. Shevaya sungguh berbahaya, dia mampu membuat gairah Denver terpacu ketika bersamanya. Kedua baju mereka kini sudah terlepas, Denver kembali mencium Shevaya dengan liar untuk mengalihkan rasa sakit ketika dia kembali memasukkan miliknya yang besar. Milik Shevaya sungguh sempit, dia bahkan merasakan kenikmatan yang luar biasa ketika melakukannya, dia tidak peduli dengan cakaran kuku Shevaya. Beberapa hari tidak melakukannya membuat Denver candu, dia merindukan milik sempit Shevaya. “Aku merindukannya sayang,” ucap Denver menggerakkan pinggulnya perlahan. Perih dan sakit di punggung Shevaya kini terasa, dia tahu Denver sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Shevaya hanya bisa menahannya hingga Denver puas setelah bercinta dengannya, Shevaya hanya mengikuti kontrak yang sudah mereka berdua sepakati. Denver mengangkat tubuh Shevaya, dia kini bisa memandang Shevaya dari bawah, dia duduk dan Shevaya berada di atasnya. Dia meminta Shevaya untuk bergerak, dia tahu bahwa Shevaya kesakitan, ekspresinya sangat seksi dan membuat Denver lupa diri. Dia mempercepat gerakannya hingga membuat Shevaya tidak berdaya di pelukannya. Napas mereka terengah-engah, tetapi Denver tidak berhenti melakukannya, dia mengejar puncak kenikmatan yang dia harapkan. “Mas stop—” Shevaya sudah tidak bisa menahan ketika dia akan mendapatkan orgasmenya. “Tunggu Mas sayang,” bisik Denver kembali fokus mendapatkan kenikmatannya. Tubuh Shevaya menegang dan Denver menekan miliknya lebih dalam ke titik sensitive Shevaya, dia mengeluarkan cairannya dan masuk ke dalam rahim Shevaya. Wanita itu lemas dipelukannya, tetapi Denver benar-benar ingin melakukannya lagi, pikiran m***m terlintas dia ingin merasakan sensasi lain ketika bercinta dengan Shevaya. “Mas mau ngapain?” tanya Shevaya ketika Denver menggendongnya. Lelaki itu membawa Shevaya ke dapur, dia tidak menyangka jika Denver akan melakukan hal m***m seperti itu, Shevaya hanya bisa pasrah ketika Denver mengarahkannya. Lelaki itu ingin mencoba semua gaya bercinta, dia benar-benar m***m ketika bersama Shevaya. Shevaya mendesah keras ketika Denver menusuknya dari belakang, berpegangan dengan erat di pinggir meja dia benar-benar lemas dengan posisinya. Cairan Denver keluar seiring gerakannya yang semakin cepat, dia panas dan tegang. Denver sangat memuaskan, Shevaya kini takut jika milik Denver membuatnya ketagihan untuk melakukannya. “Fokuslah sayang,” ucap Denver ketika Shevaya ingin terjatuh. Shevaya benar-benar lemas, dia kembali keluar ketika Denver menusuknya berkali-kali. Irama percintaan yang dia ciptakan sendiri terasa sangat menakjubkan baginya. Shevaya kehilangan keperawanan karena balas dendamnya. “Nikmat bukan? Kamu pasti akan menginginkannya lagi dan lagi,” ucap Denver yang kini memainkan dua gunung kembar milik Shevaya dari belakang. Tubuhnya terasa lelah dan sakit, tetapi dia kembali membara ketika Denver terlalu bersemangat untuk melakukannya. Denver bahkan tidak iba ketika melihat bekas luka Shevaya di punggungnya, nafsu telah menguasainya dan dia hanya bisa melakukan percintaan panas bersama dengan Shevaya. “Aku akan keluar sa—” belum sempat menyelesaikannya kini terdengar suara bel berbunyi. Denver tidak peduli dia kembali melanjutkan percintaannya, setelah bel diam kini ponsel Denver yang berbunyi. Lelaki itu melanjutkannya sebentar lagi dia akan keluar, ponsel Shevaya yang berada di meja dapur kini berbunyi, Shevaya menggigit bibirnya dia tidak berani menolak panggilan Rosmala. “Maaf Mah, Shevaya lagi bangun tidur—” Shevaya menahan desahnya ketika Denver semakin semangat menggerakan miliknya. “Ben-tar ah Mah, Shevaya akan membukanya.” “Sheva tidak kenapa-kenapa Ma,” ujar Shevaya lalu menutup telponnya. Shevaya memukul tangan Denver ketika membalik tubuhnya, lelaki itu dengan cepat menangkap dan langsung membawa Shevaya masuk ke dalam kamar. Denver tidak akan mengijinkan Shevaya bertemu Rosmala sebelum dia mendapatkan kepuasannya. “Mas ada Mama di depan,” ucap Shevaya menolak ketika Denver terus berusaha membuka kedua paha Shevaya yang sudah telentang di bawahnya. “Diam Sheva!” Denver langsung memasukkannya dan kembali menggerakkan miliknya dengan cepat. Denver menahan erangannya sebentar lagi dia akan datang, Denver bahkan tersenyum ketika milik Shevaya terasa menjepit, wanitanya mendapatkan o*****e di saat terdesak oleh kehadiran Rosmala yang menginginkannya cepat keluar. “Sangat memuaskan,” bisik Denver ketika miliknya keluar dengan banyak, cairannya memenuhi rahim dan milik Shevaya. Shevaya cemberut, tetapi Denver tidak peduli. Dia langsung keluar dari kamar dan memakai celana kerjanya, dia mengambil baju kotor miliknya dan Shevaya setelah itu mengecek kondisi dapur dia takut ada cairan jatuh dan membuat mamanya curiga. Setelah semua beres kini dia langsung membuka pintu, terlihat Rosmala yang cemberut karena menunggu terlalu lama. “Kenapa lama banget?” tanya Rosmala pada Denver yang telanjang d**a. “Tau sendirilah urusan orang dewasa, Mama aja yang ganggu.” Denver kesal pada Rosmala yang selalu mengganggu kenikmatannya. “Ih jorok Denver, apa yang kamu lakukan sama Sheva di sini?” tanya Rosmala ketika membuka pintu kulkas. “Udah tau masih nanya, udah deh Mama pulang aja. Katanya pengen cucu,” ujar Denver. “Bentar, mentang-mentang udah ada Sheva di kuasai sekarang. Kemarin aja marah-marah terus,” ucap Rosmala yang kini memasukkan makanan ke dalam kulkas dia berpesan pada Denver untuk menghangatkan makanannya. Rosmala bergidik ngeri ketika membayangkan anaknya yang begitu liar, dia tidak menyangka Shevaya mampu membuatnya terus tergoda untuk bercinta padanya. Rosmala harap dia akan segera mendapatkan cucu. “Jangan kawin terus Denver, nikahi Sheva. Biar Mama yang atur,” ucap Rosmala tersenyum sebelum keluar dari apartemen Denver.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD