Bab 8. Peringatan Denver

1398 Words
Shevaya tersenyum melihat ponselnya berdering, dia tahu bahwa wanita itu pasti sudah mengadu pada ayahnya dan memintanya untuk segera menjauhi Denver. Shevaya bukan wanita yang lemah, mungkin dulu dia masih mau menuruti segala hal yang ayahnya katakan, tetapi untuk kali ini dia tidak akan melakukan hal bodoh hanya karena Mala. “Siapa?” tanya Denver ketika sedang makan malam bersama. Shevaya memperlihatkan layar ponselnya, Denver hanya mengangguk dia juga tidak meminta Shevaya mengangkat telepon dari ayahnya. Denver tahu bahwa ayah Shevaya hanya ingin anaknya mundur dan mengijinkan Mala yang bersama dengan Denver. “Apa mereka nggak bisa mikir, emangnya aku mau sama anaknya? Jika aku tidak bersamamu, aku juga tidak akan mungkin bersama dengannya,” ujar Denver lalu tertawa puas. “Aku semakin puas melihatnya menderita, saat ini mungkin dia sedang marah besar dan membuat ibunya pusing tujuh keliling.” “Biarkan saja, apa kamu sudah lumayan puas?” tanya Denver. Shevaya mengangguk, beberapa hari yang lalu mungkin Shevaya terus merana karena rasa sakit hati yang dia rasakan, tetapi kini semua tidak akan sama lagi. Shevaya beruntung bertemu dengan Denver, walau dia tidak tahu apakah Denver tulus atau tidak, setidaknya mereka sama-sama saling memanfaatkan antara satu dengan yang lain. “Ternyata kamu bisa masak juga ya,” ujar Denver sedikit gengsi ketika memuji masakan Shevaya yang cocok di lidahnya. Gadis itu tersenyum malu, dia memang belajar memasak lebih ekstra kali ini. Sheva hanya tidak ingin membuat Denver kecewa jika dia tidak bisa memuaskan lidah lelaki yang kini sudah bersedia menolongnya. Apa pun yang menjadi keinginan Denver akan dia usahakan dengan baik, dia tidak ingin jika Denver kecewa dan membuangnya. “Mas, kamu tidak akan membuangku begitu saja’kan?” tanya Sheva. Denver terpaku, dia tidak menyangka jika Shevaya akan menanyakan hal itu kepadanya. Denver bukan orang jahat dia memang awalnya menolak kehadiran Shevaya, tetapi kini dia mulai sadar bahwa Shevaya membuatnya nyaman. Baru kali ini dia merasa nyaman dan tidak terganggu ketika berdekatan dengan wanita selain ibunya. Denver memang terlihat seperti lelaki tidak benar, dia bahkan b******u dengan wanita lain. Denver yang marah hanya bisa melampiaskan semuanya, tetapi setelah keluar dari club dia tidak memiliki hubungan apa pun dengan mereka. Denver tidak mungkin membiarkan orang lain semakin memperumit hidupnya. "Lha menurutmu gimana?" tanya Denver. Shevaya hanya menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin Denver meninggalkan dirinya. Shevaya sudah tidak memiliki siapa pun di dunia ini, percuma dia memiliki ayah, tetapi hanya memikirkan anak sambungnya. Sejak ayahnya menikah lagi semua kebahagiaan yang Shevaya miliki seolah lenyap tidak bersisa. “Jika aku tidak meninggalkanmu apa yang akan kamu berikan untukku?” tanya Denver. “Apa pun, aku sudah berjanji akan melakukan apa pun untukmu.” Shevaya lalu berdiri dan membawa piring kotor. Shevaya berdebar, dia bisa saja jatuh dalam pesona Denver jika terus diperlakukan seperti itu. Denver memiliki pesona yang tidak mudah untuk di tolak, lelaki itu benar-benar membuatnya harus lebih ekstra agar dia tidak lupa bahwa segala hal yang dia rasakan bisa saja sebuah kepura-puraan, mereka sama-sama saling memanfaatkan karena itulah suatu saat nanti bisa saja semuanya berubah tidak seperti apa yang dia inginkan. “Sheva, aku ingin membicarakan suatu hal penting padamu.” “Aku akan menyelesaikan ini sebentar,” ujar Shevaya. Shevaya berusaha menenangkan dirinya, dia tidak tahu apa yang ingin Denver bicarakan padanya. Segala hal yang terjadi terasa sangat mendebarkan, walau mereka baru bertemu tapi segalanya terasa sangat mudah untuk bersatu, dia tidak menyangka segalanya akan terjadi, entah apa yang Tuhan rencanakan saat ini, dia hanya bisa terus menjalani semua rencana yang Tuhan miliki. “Ya Tuhan, apa lagi ini?” *** Prita lelah mencoba menenangkan anaknya yang kini tidak terkendali, segalanya benar-benar membuatnya lelah. Dia sedih ketika Mala menderita, dia menikah dengan Renald agar bisa membahagiakan anaknya, tetapi kini Shevaya menghancurkan segala hal yang sudah dia rencanakan. “Lantas bagaimana ini? Kenapa tidak bisa mengendalikan anakmu?” tanya Prita dingin. “Kamu yang memintaku untuk mengusir Sheva, aku bahkan tidak tau dia ada di mana sekarang.” Renald merasa jengah dengan sikap istrinya yang semakin semena-mena. “Dia memang w************n, bisa-bisanya merebut kekasih Mala.” Renald tidak suka dengan ucapan Prita walau Shevaya bersalah bukan berarti anaknya seperti apa yang Prita katakan. “Seharusnya katakan pada Mala, jika dia mampu ya rebut bukan malah nangis karena kalah sama Sheva. Kalian yang bilang kalau Sheva menjual diri, lantas kenapa Denver maudengan wanita seperti itu? Apa semua yang kalian katakan bohong?” tanya Denver kesal dan pergi meninggalkan istrinya. Renald pusing, dia benar-benar sudah tidak sanggup lagi berada di rumah. Kepalanya memikirkan banyak hal dan kini rasa bersalah kembali menelusup dalam hatinya, dia mengusir anaknya dan lebih percaya pada istri barunya, dia tidak tahu bagaimana kenyataan yang ada hingga kini membuat luka hati anaknya semakin menganga. Renald benar-benar menyesal telah melukai hati Shevaya. “Maafkan aku Asih, aku telah menyakiti hati anak kita.” Renald mengemudikan mobilnya semakin menjauh dari rumah. Mala menghampiri Prita, dia memeluk ibunya sembari menangis tersedu-sedu. Tiap kali melihat video itu dia terus merasa sesak di dalam hatinya. Dia iri pada Shevaya, Mala tidak pernah menyangka jika Shevaya akan diperlakukan dengan sangat baik oleh Denver. Mala sejak lama sudah menyukai lelaki itu, bahkan setelah dekat dengan keluarganya dia benar-benar tidak bisa untuk mendekatinya. “Apa yang harus Mala lakukan Mah, kenapa Sheva makin dekat dengan Denver?” tanya Mala. “Kita tidak boleh membiarkan hal itu terjadi, Mama tidak mau jika Sheva bersama dengan lelaki yang kamu cintai. Apa pun yang terjadi kita harus menggagalkan rencananya,” ujar Prita. Mala mengangguk, dia benar-benar menyayangi Prita. Ibunya adalah orang yang berani mengambil segala resiko demi segala hal yang dia inginkan, dia memang kehilangan papanya tapi kini dia berhasil hidup dengan nyaman setelah Prita menikah lagi dengan ayah Shevaya. “Mama jangan marah pada ayah, jika ayah pergi bagaimana bisa kita mendapatkan uang?” Mala kembali mengingatkan ibunya agar tidak kehilangan sumber uang. Prita hanya mengangguk, dia memang terbawa suasana dia tidak menyangka jika kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya. Dia hanya ingin hidup tenang, dia tidak ingin segala hal yang mereka alami di masa lalu akan kembali terulang dan membuat segalanya semakin terasa menyedihkan, Prita tidak ingin Mala merasakan hidup susah seperti dahulu kala. “Tenanglah, Mama yang akan mengatur semuanya untukmu.” *** Denver menatap Shevaya dengan lembut, dia hanya ingin memberikan peringatan terkait keluarganya. Wanita itu sama sekali tidak mengetahui perang dingin antara dia dan Felix, Denver hanya tidak suka jika Shevaya akan termakan rayuan Felix, lelaki itu benar-benar sangat berbahaya. “Dengarkan, apa pun yang terjadi di rumahku jangan pernah kamu ikut campur. Jangan dekati Felix apa pun yang terjadi, apa kamu paham?” tanya Denver. “Kenapa? Aku tidak mungkin tiba-tiba melakukan hal itu tanpa alasan terlebih adikmu sangat baik,” ujar Sheva. “Dia bukan adikku, kamu hanya perlu tahu bahwa hubungan kita tidak akan membaik. Aku tidak akan memberikan maaf pada musuh dalam selimut,” ujar Denver dengan tatapan tajam. Shevaya bergidik ngeri, dia hanya mengangguk dan tidak berani untuk membantah. Denver terlihat amarahnya, pantas saja lelaki itu selalu marah tiap kali berhubungan dengan Felix, keluarga Denver terlihat memiliki masalah pelik, Shevaya hanya tidak ingin menambah masalah yang terpenting Denver membantunya. “Aku mengerti.” Denver mengangguk, kepalanya terasa pusing memikirkan Felix yang tiba-tiba ingin masuk ke dalam perusahaan. Lelaki itu benar-benar tidak bisa dipercaya, semua hal yang dia tunjukkan hanyalah topeng dan sewaktu-waktu bisa dia buka begitu saja. “Jangan pernah percaya padanya, kamu harus berhati-hati. Dia bermuka dua,” ujar Denver Sheva mengangguk, dia hanya akan mengikuti Denver lelaki itu yang lebih paham bagaimana kondisi di keluarganya. Shevaya hanya pendatang baru, walau segalanya terlihat baik, tetapi belum tentu di dalamnya juga seperti itu. Shevaya harap dia tidak akan mengecewakan Denver, dia tidak ingin Denver kecewa karena Shevaya sangat bergantung pada Denver untuk membalaskan semua dendam yang dia miliki. “Mas gimana aku bisa membalas dendam?” tanya Shevaya. “Setelah melihat semua ini, aku yakin ibu tirimu akan mencoba melakukan berbagai cara agar kamu menderita dan pergi dari hidupku. Tenang saja aku tidak tertarik pada anaknya, kamu harus lebih berhati-hati menghadapinya,” peringat Denver. Shevaya mengangguk, dia tidak akan takut melawan mereka. Prita dan Mala adalah sama sepertinya, jika dia bisa berlaku buruk maka dia juga bisa membalas segala hal yang sama. Shevaya tidak akan lemah, dia akan membalas semua perbuatan buruk yang dilakukan oleh mereka kepadanya. “Jangan lemah, balas segala hal yang mereka lakukan padamu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD