Shevaya menggenggam tangan Rosmala, pukul tujuh pagi tadi dia sudah mendapatkan pembukaan lengkap dan langsung di bawa ke ruang persalinan. Wanita itu menatap Rosmala dengan berkaca-kaca, rasa sakit yang kini dia rasakan seakan sirna dengan ketulusan yang mertuanya berikan padanya. “Tenang sayang, Mama akan temani kamu.” Shevaya mengangguk dia mengatur nafasnya, terasa sangat menakutkan di ruang persalinan, dia takut jika tidak mampu untuk berjuang demi anak yang ada di dalam perutnya. Bayinya adalah semangatnya, dia akan berusaha semaksimal mungkin demi anak itu. “Ikuti aba-aba ya Bu, jangan melakukan semuanya tanpa mendengar aba-aba dari saya.” Dokter tersebut mengatakan dengan lembut agar Shevaya lebih rileks. Sedangkan di sisi lain kini Denver langsung menghubungi mertuanya, dia me

