Shevaya masuk ke dalam kamarnya membereskan barang miliknya, tidak banyak karena dia tidak ingin membawa barang yang dibelikan oleh Denver. Shevaya lebih memilih pergi dari apartemen dibandingkan dia harus menggugurkan kandungannya. “Mau kemana?” tanya Denver dengan tatapan dingin. Lelaki itu mengambil tas dan langsung menumpahkan isinya, semuanya berhamburan keluar. Shevaya terkejut, tangannya gemetaran dia tidak tahu lagi harus melakukan apa. Dia tidak salah, jika bukan karena Denver yang egois dia tidak akan hamil saat ini. “Jika kamu berani keluar dari apartemen tanpa sepengetahuanku tunggu saja hukumanmu,” ujar Denver lalu membanting pintu dengan keras. Shevaya menangis, mendengar ancaman Denver semuanya terasa percuma jika dia pergi. Shevaya sudah tidak memiliki pilihan lain kare

