Denver menatap Shevaya dengan pandangan jahil, dia tahu bahwa semalam mereka sudah melakukan percintaan hebat dan liar, tetapi dia tidak bisa menahan diri ketika melihat Shevaya mendekatinya. Tubuh Shevaya selalu membuat Denver mendamba, segala hal yang ada pada dirinya selalu membuat Denver terlena. “Semalam udah,” bisik Shevaya bersembunyi di ceruk leher Denver. Shevaya lelah, jujur saja tubuhnya sakit karena mengimbangi permainan Denver. Lelaki itu bermain kasar dan tubuhnya masih memar akibat perlakuannya, Denver tidak pernah bosan untuk menjamah tubuh Shevaya setiap harinya. “Masih sakit?” tanya Denver mengusap lembut kepala Shevaya. “Nyeri dikit,” ujar Shevaya memejamkan matanya dengan posisi yang sama, dia merasa nyaman bersama dengan Denver. “Makan siang dulu,” ucap Denver lal

