6. COWOK ASING

1424 Words
"Di harap untuk wakil ketua OSIS agar datang ke ruang Kepsek sekarang. Sekali lagi, untuk wakil ketua OSIS agar datang ke ruang Kepsek sekarang. Terimakasih." Revan yang memakan batagornya pun berhenti saat suara Ibu Kepsek yang menggelegar terdengar melalui mikrofon kebanggaannya. Ia menghela napas kasar dan mendorong piring batagornya yang tersisa separo itu. "Makan aja dulu, Van. Lagian lo baru makan dikit," ucap Rian. Mereka baru saja makan karena, ada pelajaran tambahan yang mengharuskan mereka tidak istirahat pada jam pertama. Berhubung ujian sudah semakin dekat, proses ajar mengajar pun semakin ketat. "Biar aja kenapa 'sih, Yan! Batagornya nggak di buang juga kok. Kan ada perut gue yang nampung," celutuk Rangga menampilkan seringai menyebalkannya. "Nggak. Gue udah kenyang." Revan menjawab ucapan Rian. Rian mengangguk saja dan kembali memakan makanannya. Sedangkan Rangga, ia sudah cekatan mengambil piring berisikan batagor itu dan menyantapnya. Tak lupa Bima yang di sampingnya tengah berusaha merebut batagor itu. "Eh, Van. Gue denger, angkatan kita mau liburan sebelum kelulusan?" tanya Daffa saat Revan hendak berdiri. Revan mengangguk, "Iya. Katanya gitu." "Semoga aja beneran. Eh, Van. Kalo para guru banyak yang nggak setujuin, lo harus bersikeras biar para guru berubah pikiran, ya. Mereka 'kan iya-iya aja apa kata lo," sambar Alfa. Rangga yang tengah menahan tangan Bima yang ingin mengambil batagornya pun mengangguk setuju,"Iya, Van. Pokoknya tuh acara harus jadi! Fighting!" Daffa, Alfa, dan Bima mengangguk dan mengangkat tangan mereka dengan gestur semangat mengikuti Rangga. "Fighting!" ucap mereka bersamaan. Revan mengibaskan tangannya, "Udah lah. Nggak nyadar, waktu ngomong sama kalian sama aja kayak waktu ngabisin batagor gue." Setelah itu, Revan berdiri dari duduknya dan melangkah ke luar kantin untuk menuju ruang Kepsek. Saat Revan ingin keluar dari area kantin, ia melihat Cia beserta sahabatnya menuju ke arahnya. Revan menghentikan langkahnya untuk menunggu Cia. "Belum makan?" tanya Revan saat Cia dan Mila sudah ada di hadapannya. Cia menggeleng, "Udah kok. Cia mau beli minum. Lupa bawa air mineral dari rumah." Revan menganggukan kepalanya tanda mengerti. "Teman-teman kakak yang lain mana?" tanya Mila. Karena biasanya, five's handsome selalu lengkap. "Lagi makan. Gue duluan karena mau ke ruang Kepsek," jawab Revan. "Oiya, tadi Kak Revan di panggil 'kan, ya?" tanya Cia yang langsung di angguki Revan. "Yaudah, gue ke sana dulu." Cia dan Mila mengangguk. Lalu, Revan melangkah. Namun, belum dua langkah, Revan berhenti. Ia menoleh ke belakang mengarah Cia yang memang belum beranjak dari sana. Cia mengangkat sebelah alisnya bingung. "Pulang sekolah, temenin gue." Cia tersenyum dan mengangguk. Ia mengangkat kedua jempolnya sebagai jawaban untuk ucapan Revan. Revan tersenyum dan ia kembali melanjutkan langkahnya menuju ke ruang Kepsek. *** "Bi, beli air mineralnya dua, ya." Cia mengambil dua botol air mineral dan menyodorkan selembar uang dua puluh ribu kepada si penjual. Bi Tri mengangguk dan mengambil uang yang Cia berikan. "Aduh, non. Uang bibi nggak ada yang pecahan. Nggak ada uang pas? Itu temannya ada?" tanya Bi Tri. Cia menoleh ke arah Mila dan menggeleng tanda tidak punya. "Nggak ada, bi. Kami cuman bawa uang itu. Kalo di kelas ada. Tapi kelas kami jauh," ucap Cia. "Yasudah, non. Bawa aja dulu airnya. Nanti jam pulang, baru ke sini lagi." Bi Tri menyodorkan uang dua puluh ribu itu kepada Cia. Cia tidak kunjung mengambil uang itu. Ia jadi merasa tidak nyaman. Ia melihat ke sekeliling kantin untuk melihat siapa saja yang ia kenal, dan arah pandangnya pun tertuju kepada segerombolan cowok yang ada di meja paling ujung. Cia tersenyum senang dan kembali menatap Bi Tri. "Uangnya, biar bibi pegang dulu. Cia mau nemuin teman Cia." Cia menyodorkan dua botol air mineral itu kepada Mila. Mila terkejut karena Cia langsung meletakkannya di tangannya. "Pegang bentar. Cia mau ke sana." Cia langsung berlari untuk menghampiri segerombolan cowok itu. "Hai," sapa Cia lebih dulu saat ia sudah berada tepat di hadapan mereka. Rangga yang tengah melahap batagornya menatap sedikit heran ke arah Cia, "Kenapa lo, dek manis? Lari-lari gitu." "Tumben sendiri, mana Mila?" tanya Daffa. Alfa mengangguk, "Jessie juga mana?" Bima menoleh dan tanpa aba-aba langsung memukul keras kepala Alfa. "Yakali Jessie. Dia di Amerika, t***l!" Alfa yang tak terima di perlakukan seperti itu, mendorong tubuh Bima yang langsung tersender di bahu Rangga. "Gue cuman nanya, dog!" "Sok inggris lo, k*****t!" balas Bima. Daffa menganggukan kepalanya, "Anjing mah anjing aja. Nggak usah sok kalem bilang dog." Cia meringis melihat tingkah laku kakak kelasnya. Baru beberapa detik Cia bersama mereka, Cia sudah merasakan hawa-hawa berbeda di sini. "Udah-udah. Cia ke sini cuman mau pinjem uang enam ribu. Ada?" tanya Cia. Daffa, Alfa, Rangga dan Bima menatap Cia. "Lo sekarang miskin, Ci?" "Pacaran sama Revan, lo yang bayarin dia?" "Lo di manfaatin Revan, Ci sampe-sampe uang enam ribu aja lo nggak punya?" "Kurang ajar mah Revan kalo gitu!" Cia menghela napas tidak mengerti bagaimana cara berbicara dengan kakak kelasnya tanpa ada lawakan seperti ini. Mungkin, sebagian otak mereka sudah melekat dengan kata humor. Jadi, apa yang dibicarakan selalu menjurus ke lawakan. "Bukan gitu. Cia nggak miskin kok. Cia nggak pernah bayarin Kak Revan, karena kami belum pernah jalan. Kak Revan nggak manfaatin Cia. Kak Revan nggak kurang ajar." Cia menjawab semua pertanyaan yang di lontarkan kakak kelasnya. "Kenapa jawaban yang kedua gue denger miris, ya?" ucap Bima. Rangga mengangguk, "Kebangetan Revan. Pacarin anak orang nggak di ajak jalan." "Kalo gitu, jalan sama gue aja, Ci!" seru Bima mengundang Alfa untuk menonjok bahu cowok itu. "Apaan sama lo. Lebih baik sama gue." Alfa tersenyum menggoda ke arah Cia. Daffa menggelengkan kepalanya, "Nggak-nggak! Sama gue aja. Tapi, bawa Mila, ya?" Rangga melambaikan tangannya cepat tanda tidak setuju dengan apa yang diucapkan Daffa. "Lo jadi Nyamuk, Ci. Jangan mau. Dia penipu." Cia mendengus. Ia mendekat ke arah meja dan menggebrak meja membuat ke-empatnya terdiam dari debat unfaedah-nya. Cia tersenyum senang. Caranya ternyata ampuh untuk membuat para kakak kelasnya itu diam. "Kakak-kakak kelas Cia. Cia ke sini mau pinjam uang enam ribu buat bayar air mineral Cia sama Mila. Cia sebenarnya ada uang kok dua puluh ribu. Tapi, Bi Tri nggak ada uang pecahan dan Mila juga nggak ada uang pecahan. Jadi, Cia cari uang pas. Kalo balik lagi ke kelas, capek. Nah, karena Cia ada liat kalian, jadi Cia mau pinjam uang salah satu dari kalian. Bisa, kakak-kakak?" jelas Cia panjang kali lebar. Semuanya terdiam dan hanya menatap Cia. "Kasian, ayang Mila nggak ada uang." Daffa berkata dengan nada sedih. "Bilang dong, Ci. Nih, gue kasih seratus ribu!" Bima mengeluarkan uang seratus ribu dari sakunya dan menyodorkan kepada Cia. Cia menepuk jidatnya pelan tidak mengerti dengan jalan pikir kakak kelasnya ini. "Lo tuh b**o, tapi jangan b**o-b**o amat. Lo ngeluarin uang seratus ribu juga buat apa kalo Bi Tri nggak ada kembaliannya, bangsul!" gemas Rangga sambil menoyor pelan kepala Bima. "Berapa tadi?" Cia menoleh dan mendapati seorang cowok tinggi berada di belakang Cia. Ia mengernyit, ia tidak mengenali siapa cowok ini. Cia sedikit tidak yakin cowok itu bicara kepadanya, tapi nyata, cowok itu benar-benar bicara kepadanya. "Hah?" ucap Cia bingung. Cowok itu menjulurkan tangannya membuat Cia semakin mengernyit sambil menatap uluran tangan itu. Apa maksudnya? "Kenalin, gue Bintang." Cia menatap uluran tangan itu dan beralih menatap cowok itu. Ia sedikit ragu untuk menerima uluran tangan itu. Karena ini begitu tiba-tiba untuk Cia. "Cia." Akhirnya Cia menerima uluran tangan itu. Cowok yang bernama Bintang itu tersenyum. "Lo tadi cari uang kecil 'kan? Gue ada. Berapa?" tanya Bintang sesudah melepas jabatan tangan mereka. Cia menggelengkan kepalanya cepat, "Nggak perlu. Cia bisa pinjam sama teman-teman Cia." Bintang menoleh ke arah belakang Cia yang terdapat ke-empat personil five's handsome sedang menatapnya. Lalu, Bintang kembali menatap Cia. "Tanyain dulu. Kayaknya mereka nggak ada yang punya," ucap Bintang membuat Rangga berdiri dari duduknya. "Eh, lo ngeremehin kita-kita?" ucap Rangga tak terima dengan apa yang Bintang katakan. Cia menghadap Rangga dan menenangkan cowok itu, "Udah, kak." Rangga menatap nyalang Bintang yang tengah menatap remeh Rangga. Ia kembali ke kursinya saat Cia menuntunnya untuk duduk. Cia kembali menghadap Bintang. "Gimana, jadi pinjam uang gue?" tawar Bintang. Cia menggelengkan kepalanya, "Nggak perlu, Bintang. Mereka punya kok. Bintang boleh pergi." Cia berbalik dan kembali menghadap teman-temannya. Alfa memberika uang enam ribu kepada Cia. Setelah itu, Cia berbalik dan melangkah untuk membayar air mineralnya tanpa memperdulikan Bintang yang menatapnya sampai dirinya sudah bersama Mila. "Jangan gangguin dia." Bintang menoleh saat ucapan itu serasa tertuju kepadanya. Bintang mengerutkan sedikit keningnya saat salah satu cowok yang duduk tadi berdiri dan menghampirinya. "Dia udah punya pacar. Cewek kayak dia itu tulus. Dia nggak bakal tertarik sama lo." Bintang hanya terdiam mendengar ucapan itu dan menatap tenang. Cowok itu yang tak lain ialah Alfa melangkah mendahului Bintang yang diikuti Daffa, Rangga dan Bima di belakangnya. Tak lupa tatapan sinis yang mereka tujukan untuk Bintang sebelum pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD