7. NOVEL

1153 Words
Cia menyenderkan kepalanya di tengah-tengah pintu mobil dan kursi. Sambil menatapi jalanan dengan pandangan kosong. Membuat Revan sedikit heran, biasanya gadis di sebelahnya ini pasti nyerocos. Entah apa yang gadis itu bicarakan. Yang pastinya, mulutnya tidak bisa diam jika sudah bersamanya. "Cia?" panggil Revan. Revan menoleh sekilas ke arah Cia. Ia melihat gadis itu hanya menghela napas tanpa menjawab ucapannya. "Lo kenapa? Kok diam?" tanya Revan. Berusaha menguak apa yang sebenarnya terjadi terhadap pacarnya. Cia menoleh ke arah Revan dengan tampang cemberut dan berkata, "Kak Revan kok nggak pernah ajak Cia jalan?" Revan tentu terkejut dan bingung dengan perkataan yang Cia lontarkan. Apa ini penyebab bungkamnya Cia sedari tadi? "Kok lo bilang gitu? Kenapa?" tanya Revan sesekali menoleh ke arah Cia. Cia menghela napasnya, "Tadi, kata teman-teman kakak, mereka miris denger kalo Cia nggak pernah di ajak jalan sama kak Revan." Revan mendengus. Ternyata ini ulah teman-teman laknatnya. "Jangan di dengerin. Kita 'kan belum lama pacaran. Yakali jalan setiap waktu. Ya, 'kan?" ucap Revan dengan nada selembut mungkin. Takut menyinggung perasaan gadis itu. Karena ia tau, gadis seperti Cia mudah menyerap kata-kata yang bisa saja membuat gadis itu baper sendiri. Cia mengulum bibirnya dan mengangguk, "Iya. Kak Revan bener." Revan tersenyum. Sangat mudah agar Cia percaya dengan perkataannya. Walau semua yang Revan katakan itu benar, tanpa adanya bumbu kebohongan. *** Revan membeli beberapa peralatan untuk keperluan organisasinya. Ya, berhubung Cia mengundurkan diri dari ketua OSIS, semua apa yang seharusnya menjadi tugas bersama, sekarang dirinya sendiri yang mengerjakannya. Karena, pihak OSIS belum menemukan siswa/i yang dapat menduduki jabatan itu. Mungkin mereka akan mengadakan kembali pemilihan ketua dan wakil OSIS saat kelas dua belas sudah lulus. "Nggak ada yang mau lo beli?" tanya Revan kepada Cia. Karena mereka sekarang berada di toko buku. Revan tau, Cia sangat menyukai novel. Cia mengedarkan pandangannya dan tersenyum saat matanya tertuju ke rak yang penuh dengan novel best seller terbaru. "Ada novel. Cia ke sana, ya!" Revan tersenyum simpul melihat Cia dengan riang menuju rak buku. Ia merasa sedikit aneh dengan Cia yang selalu mengikutinya ke mana-mana selama berbelanja. Jadi, Revan telah mengalihkan perhatian gadis itu kepada novel-novel. Cia benar-benar takjub melihat rak buku yang isinya semua novel terbaru. Ia sampai tidak menyadari adanya novel di sekitarnya karena sibuk menemani Revan. Rasanya, Cia ingin menangis melihat semua novel berjejer dengan rapi. Ingin ia ambil semua tanpa memperdulikan harga novel itu. "Aduh, Cia harus cari novel yang rame! Karena Cia cuman beli satu!" gumamnya kepada diri sendiri sambil memperhatikan satu per-satu novel itu. Cia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Mengernyit melihat semua novel. Menurutnya, semua genre novel itu mengasyikan. Cia sekarang berada dalam zona labil. "Aduh, apa, ya? Cia benar-benar bingung." Cia mengambil satu-satu novel itu dan membaca sinopsis bagian belakang buku. Walau ia tau semua novel ini, karena semua novel ini berasal dari w*****d. Penulisnya pun ia hafal, dan semua isi novel ini sudah ia baca dari versi w*****d. Semua isi ceritanya, Cia menyukainya. "Pengen Cia ambil semua!" greget Cia tidak dapat memilih salah satu dari semua novel itu. Tangan Cia nyaris saja bersentuhan saat tangan kekar juga ingin mengambil novel yang ingin ia ambil. Ia menoleh ke samping yang ternyata juga sudah menatapnya dan tersenyum. Cia mengernyit. "Bintang, 'kan?" tanya Cia memastikan. Bintang terkekeh dan mengangguk, "Gue kira, lo lupa sama gue." Cia tertawa, "Yakali Cia lupa. Di sekolah kan baru aja ketemu." Bintang menganggukan kepalanya dengan sisa sedikit tawanya. "Lo suka baca novel?" tanya Bintang. Cia menganggukan kepalanya, "Banget. Impian Cia, punya perpustakaan kecil di rumah." Bintang kembali tertawa dengan ucapan yang di lontarkan Cia. Menggemaskan menurutnya. "Mau gue bantu nggak buat wujudin impian lo?" tawar Bintang membuat sorot mata berbinar mulai terpancar dari mata Cia. "Gue beliin novel apa aja yang lo mau. Itung-itung, sebagai awal pertemanan kita. Gimana?" Cia tentu senang mendengar itu. Tanpa pikir panjang, Cia mengangguk menerima tawaran dari cowok yang baru saja ia kenal. "Boleh, Bintang!" seru Cia dengan senyum lebarnya. Tangan Bintang terulur untuk mengacak gemas puncak kepala Cia. Membuat Cia melunturkan senyumnya dan risih dengan perlakuan Bintang kepadanya yang menurutnya kelewatan hanya sebatas teman. Terlebih, mereka baru saja bertemu. "Sekarang pilih. Gue tunggu di kasir." Cia menganggukan kepalanya riang dan melupakan perasaan risihnya sesaat. Bintang tersenyum dan melangkah meninggalkannya untuk menuju kasir. Revan yang sudah merasa lengkap dengan peralatan yang ia cari. Ia mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok gadisnya. Lalu ia tersenyum melihat Cia yang tengah terlihat gembira memilih beberapa novel. Revan melangkah menghampirinya. "Udah dapat novelnya?" Cia menoleh dan tersenyum senang. Ia mengangkat beberapa novel yang ada di genggamannya menunjukan kepada Revan. "Cia beli banyak!" seru Cia. Revan terkekeh dan mengacak gemas puncak kepala Cia. Gadis itu semakin tersenyum. Ia merasa nyaman dengan perlakuan Revan kepadanya. Sangat jauh berbeda dengan Bintang yang memperlakukannya seperti itu. "Gue tunggu di kasir, ya. Bawaan gue berat," ucap Revan. Cia mengangguk dan mengangkat jempolnya, "Jangan tinggalin Cia, ya." Revan tertawa kecil, "Nggak akan." Cia tersenyum lebar dan kembali mengangguk. Setelah itu, Revan melangkah menuju kasir. "Ini aja, mas?" ucap mbak kasir saat Revan meletakkan belanjaannya. "Taroh aja dulu, mbak. Masih ada lagi," jawab Revan yang di angguki mbak kasir tanda mengerti. Revan melihat Cia dari kejauhan yang begitu antusias dengan novelnya. Revan menoleh sekilas ke samping dan mendapati seorang cowok yang tengah memainkan ponselnya. Revan tak peduli dan kembali melihat pacarnya. Revan melihat Cia melangkah ke arahnya dengan beberapa novel dalam pelukannya. Revan tersenyum melihat tingkah laku pacarnya itu. "Udah?" Revan terkejut saat ucapan yang ia lontarkan tak hanya dirinya yang mengucapkan itu. Revan mengalihkan pandangannya dari Cia dan beralih menatap cowok yang ada di sampingnya. Tentu dengan ekspresi bingung yang Revan tampilkan. "Udah. Ini novelnya, Bintang." Revan semakin terkejut saat pacarnya berbicara dengan seseorang yang tidak ia kenal. Terlebih, orang itu cowok. Ada apa sebenarnya? Terlihat, Bintang mengangguk dan mengambil alih novel yang ada di pelukan Cia. "Ini aja, mas?" tanya mbak kasir itu kepada Bintang. Bintang menoleh ke arah Cia, "Itu aja?" Cia mengangguk, "Itu aja." "Cia," panggil Revan. Cia mendongak menatap Revan. "Dia siapa?" tanya Revan dengan penuh tanda tanya besar dalam hatinya. Tentang siapa cowok ini. "Oh. Dia Bintang. Satu sekolah juga sama kita," jawab Cia sambil memperkenalkan Bintang kepada Revan. Revan menatap Bintang dengan tatapan tajamnya. "Bintang, kenalin, ini kak Revan. Pacar Cia," ucap Cia memperkenalkan Revan kepada Bintang. Bintang menganggukan kepalanya. Terlihat Bintang terkejut. Namun berusaha di sembunyikan oleh cowok itu. "Totalnya, sembilan ratus tiga puluh ribu." Ucapan mbak kasir mengalihakan perhatian mereka ber-tiga. Bintang mengeluarkan dompetnya bermaksud untuk membayarkan novel sesuai janjinya. Namun, di tahan cepat oleh Revan. "Gue aja yang bayar. Gue pacarnya. Sebelumnya terimakasih udah baik hati." Revan mengeluarkan dompetnya dan menyodorkan salah satu kartu dari dompetnya kepada mbak kasir. "Totalin punya saya juga," lanjut Revan menunjuk belanjaannya. Mbak kasir itu mengangguk mengerti dan men-total semua belanjaan Revan. Saat belanjaan Revan dan Cia sudah di kemas. Revan mengambil semua belanjaan itu dengan satu tangannya, dan tangannya yang bebas langsung mengenggam erat tangan Cia. Lalu membawa pergi Cia dari sana tanpa memperdulikan Bintang yang menatapnya dengan tatapan tak bersahabat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD