Revan menarik tangan Cia dengan kasar. Membuat gadis itu sesekali meringis kesakitan saat ia tidak bisa menyamai langkah besar Revan. Ia tidak bisa berontak, dan ia pun juga bingung dengan perubahan sikap cowok itu.
"Masuk," titah Revan dingin saat mereka sudah sampai di mobil.
Cia menatap Revan sambil mengelus-elus lengannya yang terasa sedikit perih. Lalu, ia menunduk dan masuk ke dalam mobil.
Revan menutup pintu mobil dengan keras membuat Cia terkejut. Lalu, Revan mengitari mobil dan masuk ke jok kemudi.
Cia menghadap Revan saat cowok itu sudah duduk di kursinya. Ia melihat ada aura tak bersahabat yang Revan pancarkan. Jujur, Cia takut dengan Revan sekarang.
"Kak Revan, kenap--"
"Lo bisa pintar dikit nggak 'sih?!"
Cia sangat terkejut saat Revan tiba-tiba saja membentaknya. Membuat Cia menunduk takut. Tak sadar, air matanya jatuh.
"Salah Cia apa? Cia nggak tau," cicit Cia dan berusaha menyembunyikan tangsinya.
Revan menyunggingkan senyumnya, "Lo nggak mikir? Otak lo di pake! Pikir, apa kesalahan yang lo buat!"
Cia menggenggam kedua tangannya sendiri dan meremasnya. Ia sangat takut saat Revan membentaknya seperti ini. Apalagi, dirinya tidak mengerti apa yang membuat Revan marah kepadanya.
"Ci--Cia benar-benar nggak tau. Ma--maaf," ucap Cia terbata-bata karena sesugukannya. Cia masih dalam posisi menunduk, tidak berani mengangkat wajahnya dan menatap mata tajam Revan.
"Angkat wajah lo," ucap Revan dengan sabar. Namun, Cia tak kunjung mengangkat wajahnya.
"Angkat, Felicia!"
Cia kembali di buat terkejut saat Revan membentaknya dengan keras. Cia mengangkat wajahnya perlahan dan matanya langsung bertemu dengan sorot mata menakutkan milik Revan.
"Cengeng! Dikit-dikit nangis!" cibir Revan dengan keras. Membuat air mata Cia tidak bisa berhenti keluar.
"Kak, jangan bentak Cia. Cia takut," ucap Cia dengan tangisnya yang kembali meledak. Perasaannya sekarang ini hanya ingin mengadu kepada ibunya. Tapi kenyataannya, ia hanya berdua dengan Revan sekarang. Cia tidak bisa mengadu ke siapa-siapa.
"Gimana gue nggak bentak lo saat lo buat kesalahan bodoh seperti itu?" tanya Revan masih dengan emosinya.
Cia hanya terdiam dengan sesugukannya yang semakin mengeras. Ia menutup matanya kuat tak berani menatap langsung mata Revan.
"Cia benar-benar nggak tau apa kesalahan Cia. Tolong kasih tau," ucap Cia masih dengan sesugukannya.
"Lo selain polos, bodoh juga!"
Cia semakin terisak mendengar ucapan kasar yang tertuju kepadanya. Ia tidak menyangka, pacarnya mengatakan hal menyakitkan itu kepadanya. Hati Cia kembali remuk. Ia tidak ingin, orang yang ia sayang membentaknya seperti ini. Seakan Cia adalah orang asing bagi Revan.
"Kak, Cia mi--minta maaf kalo ada salah. Jangan bentak Cia kayak gini. Cia takut," isak Cia memohon. Air mata Cia sudah tidak bisa ia tahan. Hingga berjatuhan ke rok sekolahnya.
Revan mengusap wajahnya gusar. Ia tidak tega melihat Cia menangis seperti itu. Tapi, saat kembali mengingat kejadian lalu, rasanya, Revan ingin kembali membentak Cia agar gadis itu jera.
Tidak ingin membuat Cia semakin menangis. Revan menghidupkan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan mall.
Dengan terbawa emosi, Revan melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Tak sekali dua kali Revan nyaris menabrak pengendara jalan lainnya. Dalam otaknya hanya terngiang-ngiang tentang Cia berbincang dengan cowok yang di ketahui bernama Bintang itu.
"Turun!"
Cia membuka matanya perlahan saat bentakan itu kembali terdengar. Selama di perjalanan, Cia menutup matanya takut. Tidak berani melihat apa yang ada di hadapannya.
"Jangan lupa bawa novel lo itu," ucap Revan menyindir tanpa menatap wajah Cia.
Cia yang sudah tidak lagi menangis hanya sisa sesugukannya mengambil plastik yang berisikan novel di jok belakang. Dengan takut, Cia menatap wajah Revan dari samping. Terlihat cowok itu sangat marah padanya. Ia kembali menunduk.
"Lo tuli? Turun!" bentak Revan saat Cia tidak kunjung turun dari mobil.
"Iya, Cia turun. Marahnya jangan lama-lama. Kalo udah nggak marah, hubungin Cia. Setidaknya kirim pesan biar Cia nggak khawatir," ucap Cia lirih.
Revan tidak menjawab dan pandangannya masih ter-fokus ke depan.
Cia menghela napasnya. Tanpa mengatakan kata lagi, Cia membuka pintu mobil dan turun. Baru saja Cia turun, mobil Revan langsung hilang dari hadapannya. Cia kembali menitikan air matanya sambil menatap mobil Revan yang begitu cepat menjahuinya.
Ia kembali menunduk dan melangkah menuju apartemennya.
***
Cia menatap ponselnya yang tergeletak di atas meja dengan tatapan penuh harapan. Berharap, cowok yang ia cintai menghubunginya, atau sekedar mengirimkan pesan kepadanya memberitahukan bahwa cowok itu baik-baik saja.
Cia menggelengkan kepalanya saat otaknya dengan sendirinya memutar bahwa Revan akan membencinya. Ia kembali fokus ke buku novel barunya. Namun, perhatian Cia tidak bisa ia ubah dari benda pipih kesayangannya. Cia mendesah frustasi.
"Ayo, Cia. Jangan pikirin, Kak Revan. Mungkin dia lupa buat ngabarin," ucapnya menenangkan dirinya. Bukannya gengsi ingin memulai chat duluan, tapi Cia mengerti bagaiamana sifat kekasihnya itu.
Lalu, ia kembali membaca novelnya. Hingga suara getaran terdengar dari ponselnya. Dengan cepat ia menyambar ponselnya dan melihat notif pesan itu.
Kak Revannya Cia❤
-Gue nggak papa.
Cia tersenyum senang melihat pesan itu. Ternyata, Revan masih menganggapnya dengan cara memberikan kabar seperti itu. Lalu, jari jemari Cia dengan lincah menari di atas layar pipih itu.
Felicia Aurelia
-Alhmdulillah kalo gitu. Kak Revan udah makan?
Baru saja Cia mengirimkan pesan itu. Pesan itu langsung centang biru. Yang artinya, Revan tidak keluar dari room chat dirinya.
Kak Revannya Cia❤
-Udh. Lo?
Cia semakin melebarkan senyumnya. Walau, kata yang cowok iti kirim begitu singkat. Berbeda dengan dirinya yang mengirimkan pesan setiap katanya tidak di singkat.
Felicia Aurelia
-Udah kok.
Cia mengirim pesan itu. Namun, sudah lumayan lama pesan yang ia kirimkan centang biru. Tapi, tidak ada tanda-tanda Revan akan membalas. Typing pun tidak.
Cia menghela napasnya. Ia kembali meletakkan ponselnya di meja belajar dan beranjak dari sana. Dengan satu novel yang baru ia baca di genggamannya. Namun, suara getaran panjang dari ponselnya kembali terdengar. Ia berbalik dan memeriksa siapa yang telah menelponnya.
Cia mengernyit saat nomer tidak di kenal menelponnya. Tanpa ingin berasumsi lebih dengan imajinasinya, ia mengambil ponselnya dan langsung mengangkat telpon itu.
"Halo?" ucap Cia lebih dulu.
"Hai, cantik."
Cia mengangkat sebelah alisnya bingung. Tapi, ia sedikit mengenal siapa suara ini.
"Lupa sama gue? Kayaknya gue harus banyak-banyak ngomong sama lo deh biar lo nggak lupa."
Cia tiba-tiba menjadi kesal dengan orang ini. Ia benar-benar tidak tau siapa dia, dan, dari mana dia mendapatkan nomernya? Karena, nomer w******p Cia cukup privasi. Hanya orang terdekatnya saja yang ia simpan nomernya.
"Kamu siapa? Cia nggak kenal." Cia menjawab dengan setenang mungkin. Walau ia ingin meneriaki orang di sebrang telepon, di tambah suasana hatinya memang sedang tidak baik mengenai pacarnya.
"Serius lo lupa? Gue, Bintang. Cowok yang mau nebar kebaikan ke lo tapi di tahan sama cowok lo."
Otak Cia langsung connect.
"Bintang? Dapet nomer Cia dari mana?" tanya Cia.
Terdengar, suara di seberang telepon tertawa, "Gue iseng mencet-mencet nomer. Eh taunya, nomer si cantik yang gue dapat."
"Beruntung banget 'kan gue?" lanjut Bintang.
Cia menghela napasnya dan memutar kedua bola matanya, "Bullshit banget."
"Omongan gue Insya Allah nggak ada maksud bullshit. Mau gue buktiin?"
Cia menimang-nimang ucapan Bintang untuk menjawabnya. Lalu, ia berkata, "Buktiin gimana?"
"Gue bakal dapetin lo."
Cia membuka matanya lebar, "Eh, Cia udah ada pacar. Minggir aja!"
Bintang terkekeh, "Yakin, pacar lo bakal stay di samping lo?"
Cia menggertakan giginya kesal, "Kok Bintang mancing emosi 'sih?"
"Gue ngomong fakta, Ci. Mana ada cowok yang betah dengan satu cewek."
"Lah terus, Bintang setia?"
"Setia lah."
"Berarti, Bintang cewek?"
"Cowok, Cia."
"Katanya, semua cowok nggak setia."
"Tapi, gue setia. Per--"
"Udah lah!" Cia langsung mematikan sambungan teleponnya dengan perasaan kesal. Bisa-bisanya cowok itu memburukkan Revan dengannya. Cia tidak akan percaya apa yang Bintang katakan.
Lalu, getaran di ponsel Cia kembali berdering. Cia tersenyum ternyata Revan yang menelponnya. Tanpa ragu, Cia mengangkat panggilan itu.
"Halo, Kak Rev--"
"Berada di panggilan lain. Telponan sama cowok di toko buku?"
Cia menggelengkan kepalanya walau Revan tidak melihatnya, "Nggak, Kak. Tadi, temen Cia nelpon."
"Masih mau bohong?"
Cia lagi-lagi menggelengkan kepalanya, "Cia nggak bohong. Cia--"
Cia menjauhkan ponselnya dari telinganya dan menatap layar ponselnya. Ia menunduk lesu. Kenapa Revan menjadi seperti ini? Apakah bisa Cia menghadapi sikap Revan yang anggapannya terlalu pro sedangkan dirinya yang masih noob?