Suasana di kafe kecil itu sebenarnya cukup ramai. Beberapa orang sedang berbincang santai, ada yang mengetik di laptop, ada juga yang sekadar menikmati kopi siang mereka. Namun, di satu meja dekat jendela, atmosfernya terasa sedikit berbeda.
Anna Lister yang sedang memakan salmon saladnya dengan ekspresi yang kesal dan cemberut. Namun, masih memiliki kesan imut yang tertinggal di wajahnya. Garpu di tangannya menusuk potongan salmon dengan tenaga yang sedikit berlebihan, seolah-olah makanan itu telah melakukan kesalahan besar terhadapnya. Anna Lister menusuk potongan-potongan salmon tersebut seolah salmon itu adalah pipi Alexandre.
Di seberangnya, Alexandre Henley tampak jauh lebih tenang seperti tidak memiliki masalah. Pria itu hampir menyelesaikan steak sandwich miliknya. Cara makannya cepat, efisien, dan tanpa banyak jeda, ini terlihat seperti kebiasaan seseorang yang terbiasa hidup dengan jadwal yang padat dan rapat yang tidak pernah benar-benar selesai.
Anna melirik mangkuknya yang masih penuh dengan salmon salad. Lalu melirik Alexandre. Lalu kembali menatap makanannya. Wanita 24 tahun itu langsung mengerucutkan bibir. Anna Lister sudah mengenal Alexandre Henley cukup lama untuk tahu bahwa pria itu bukan tipe yang peka terhadap kode-kode emosi yang halus seperti kode wanita yang minta dibujuk.
Namun tetap saja, Anna memutuskan mencoba satu strategi yang menurutnya sangat efektif. Silent treatment. Wanita yang banyak ocehannya itu berhenti berbicara. Anna makan saladnya dengan perlahan. Ia bahkan sengaja mendesah kecil beberapa kali, berharap Alexandre akan menyadarinya dan bertanya.
Namun tiga puluh detik berlalu. Alexandre tetap tenang. Pria itu bahkan mengangkat cangkir kopinya dan menyesapnya dengan santai sebelum akhirnya melirik jam tangan taktis di pergelangan kirinya.
“Aku punya waktu luang tujuh menit sebelumjam istirahat berakhir,” katanya datar. Anna langsung mengangkat kepala. Alexandre menatapnya dengan intensitas yang sama seperti ketika ia menatap laporan strategi militer.
“Kamu mau membahas apa?” lanjut Alexandre, tatapan seperti orang tidak melakukan dosa, sangat polos. “Katakan sekarang.” lanjut Alexandre. Anna hampir tersedak potongan salmonnya sendiri.
Anna Lister meletakkan garpunya dengan lembut dan elegan, tidak ada bunyi sama sekali. “Tujuh menit?” ulangnya tidak percaya. “Kamu pikir ini sesi tanya jawab anggaran kementerian?!”
Alexandre melirik jam tangannya lagi. “Enam menit tiga puluh detik,” katanya dengan nada yang benar-benar serius.
Anna menatapnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Sebagian kesal. Sebagian tidak percaya. Sebagian lagi?ingin tertawa karena pria ini benar-benar luar biasa kaku.
Anna menghela napas panjang. Merajuk kepada Alexandre Henley ternyata benar-benar pekerjaan yang melelahkan. Sebelum pria itu benar-benar berdiri dan pergi, Anna tiba-tiba meraih ponselnya dari meja.
“Kemari!” Anna menggeser kursinya sedikit lebih dekat dan menarik lengan Alexandre. Alexandre mengerutkan kedua alisnya. “Ayo foto sekarang! Gak mau tahu pokoknya!.”
Anna mengangkat ponselnya. “Nanti, foto ini jadi bukti kalau Anna Lister berpacaran dengan manusia, pria normal, mungkin, dan bukan robot.”
Alexandre tampak ragu dan sengit dengan ucapat Anna selama beberapa detik. Namun, pada akhirnya ia berhenti menolak ketika Anna kembali menarik lengannya semakin lebih dekat.
Klik.
Suara kamera kecil terdengar. Anna langsung melihat hasilnya di layar. Lalu ia menghela napas panjang. “Jelek banget sih.”
Ia memutar ponselnya ke arah Alexandre. “Tegang banget kamu di sini, Ale.” ucap Anna tanra rasa bersalah. Tapi, ucapan Anna memang benar. Sangat benar.
Di foto itu, Alexandre terlihat seperti seseorang yang sedang difoto untuk dokumen kepolisian. Tubuhnya tegak lurus, ekspresinya tegang, dan tatapannya tajam.
Sementara Anna tersenyum cerah sambil membuat tanda peace dengan jarinya. Alexandre menatap foto itu beberapa detik. Lalu ia mengangkat tangannya. Gerakannya kaku, tapi lembut.
Pria itu merapikan beberapa helaian rambut Anna yang berantakan karena angin dari pintu kafe.
Jarinya berhenti di sana sedikit lebih lama dari yang diperlukan.
Satu detik… Dua detik.
Anna tiba-tiba merasa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Alexandre menurunkan tangannya perlahan. “Jangan sering-sering cemberut,” gumamnya pelan. Suaranya lebih rendah dari biasanya. “Nanti rating mu turun.”
Anna mengedipkan mata beberapa kali. Namun sebelum ia sempat membalas, Alexandre sudah berdiri dari kursinya. “Aku harus kembali ke kantor.” ucapnya.
“Ah!! Ale, aku belum siap makan!” Seru Anna. Bahkan saladnya saja masih menumpuk penuh di mangkuknya. Alexandre hanya bisa menghela napas dan duduk kembali. “Makanlah cepat” perintahnya.
Anna: “Mana bisa! Ini butuh—”
Alexadre: “Makan!” Potong Alexandre.
Anna hanya bisa cemberut dan mengerucutkan bibirnya, pipinya menggembung. Setelah 20 menit Anna makan seperti siput, akhirnya saladnya habis dan menyisakan beberapa sayur.
“Kebiasaan kalau makan gak pernah dihabisin” cibir Alexandre. Tapi bukan Anna namanya jika gak ngelawan, “Nyenye Nyenye Nyenye”.
Alexandre menekan bel untuk kedua kalinya, kali ini dia meminta struk pembayaran dan dengan cepat ia menyelesaikan pembayaran menggunakan kartunya.
Anna dan Alexandre berjalan keluar, tangan mereka saling bergandeng. Namun kecemberutan masih terlihat jelas di wajah Anna. Mereka berpisah di dekat persimpangan Dan seperti biasa, ekspresi Alexandre kembali serius.
Dalam hati, Anna merutuki Alexandre, ‘Benar-benar menyebalkan!’.
————————————————————————
Satu setengah jam kemudian, suasana santai siang itu berubah menjadi bencana kecil.
Anna baru saja menghempaskan tubuhnya ke sofa besar di apartemen mewahnya ketika ponselnya mulai bergetar tanpa henti.
Notifikasi…. Pesan…. Panggilan masuk.
Nama yang muncul di layar membuatnya langsung menghela napas panjang. Melly Manager. Anna mengangkat telepon itu dengan malas. Namun tepat saat panggilan tersambung terdengar suara keras dari sana.
“ANNA LISTER! APA YANG KAU LAKUKAN?!”
Anna langsung menjauhkan ponselnya dari telinga. Ia memijat pelipisnya. “Apa lagi sih sekarang…”
“Lihat berita!” Anna mengambil remote televisi. Beberapa detik kemudian layar menyala. Dan di sana, terpampang foto dirinya bersama Alexandre di kafe tadi. Namun foto itu diambil dari jarak jauh. Sudutnya buruk. Ekspresi Alexandre terlihat sangat dingin. Wajah Alexandre juga buram, tidak kelihatan jelas.
Sementara Anna tampak seperti sedang cemberut. Headline besar terpampang di layar.
“Hubungan Retak? Anna Lister Terlihat Menangis di Depan Pria Misterius Berwajah Dingin!”
Anna memijat dahinya. Ia tidak terlalu khawatir tentang reputasinya sendiri. Sebagai artis terkenal, rumor seperti ini sudah menjadi bagian dari pekerjaannya.
Yang membuatnya khawatir adalah satu hal. Alexandre. Pria itu adalah Menteri Pertahanan. Ia sangat menjaga citra seriusnya. Jika identitasnya sampai terungkap dalam skandal gosip seperti ini… Anna bahkan tidak mau membayangkannya.
————————————————————————
Di saat yang sama, di gedung Kementerian Pertahanan yang besar dan penuh keamanan. Alexandre duduk, ia berada tepat di tengah meja di ruang rapat.
Matanya memperhatikan bawahannya yang menjelaskan grafik proyeksi anggaran pengadaan alutsista dengan suara tenang dan terukur. Beberapa pejabat tinggi sepertinya duduk di meja panjang. Semua orang memperhatikan presentasinya.
Namun di barisan belakang, beberapa staf muda terlihat saling berbisik. Mereka menatap ponsel lalu menatap Alexandre. Lalu kembali menatap ponsel. Kapten Rei, ajudan pribadi Alexandre, akhirnya mendekat.
Wajahnya sedikit pucat. “Pak…”
Alexandre mengalihkan perhatiannya. Rei menyodorkan tablet di tangannya itu dengan ragu. Alexandre melihat layar tersebut. Foto dirinya di kafe. Headline sensasional. Dan komentar netizen yang menyebutnya “pria dingin tak berperasaan.”
Matanya berkilat tajam. Bukan karena marah pada Anna. Tapi karena satu hal. Privasi mereka diusik.
Brak.
Alexandre menutup tablet itu dengan suara keras. Seluruh ruangan langsung hening. Tidak ada yang berani bernapas terlalu keras. Alexandre menatap Rei.
“Cari tahu siapa yang mengambil foto ini.” Suara Alexandre rendah. Tapi cukup untuk membuat suhu ruangan terasa turun beberapa derajat.
“Siapkan mobil juga”
Ia mengambil jasnya. “Kita ke agensi Anna sekarang.”
————————————————————————
Sementara itu, di apartemen Anna. Melly baru saja masuk tanpa mengetuk pintu. Manajernya membawa setumpuk dokumen kontrak. “Siapa pria kulkas itu, Anna?!” Anna langsung mengangkat kepala.
Anna; “Dia bukan pria kulkas!”
Melly: “Dia terlihat seperti freezer berjalan!”
Anna menghela napas frustrasi. “Dia cuma… butuh waktu lebih lama untuk memproses emosi di wajahnya!”
Melly menatapnya tajam. “Sekarang kita harus klarifikasi. Kamu bilang dia cuma teman atau pacarmu”
Anna dengan enggan mengangguk. Ia dan Melly pun pergi ke agensinya.
————————————————————————
Di depan gedung agensi Anna, tiga SUV hitam berhenti dengan formasi yang sangat teratur.
Para wartawan yang tadi menunggu gosip putus cinta langsung terdiam.
Beberapa pria berbadan tegap keluar dari mobil. Setelan jas hitam dan earpiece di telinga. Mereka membentuk pagar manusia lalu pintu mobil tengah terbuka.
Alexandre Henley turun. Ia hanya mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung.
Namun auranya membuat kerumunan langsung mundur. Tatapannya tajam. Langkahnya tenang. Tanpa mengatakan apa pun, ia berjalan masuk ke gedung.
————————————————————————
Pintu ruangan CEO agensi Anna terbuka. Terlihat Anna dan Melly yang sedang berdiskusi dengan pria paruh baya. Melly yang sedang mencoba menghubungi seseorang terkejut, ia hampir menjatuhkan ponselnya ketika mengenali wajah itu.
Sementara Anna langsung menutup wajahnya dengan bantal sofa, “Matilah aku…”.
Alexandre berjalan masuk dengan tenang. Ia meletakkan tablet yang dipegang oleh ajudannya, Rei, ke depan Anna. Layar itu menampilkan komentar netizen yang menghujatnya.
“Ternyata,” gumam Alexandre pelan, “menjadi pacar seorang artis jauh lebih sulit daripada menyusun strategi pertahanan nasional.”
Anna menurunkan bantalnya perlahan. Alexandre kemudian menoleh ke arah Melly lalu ke arah pria paruh baya yang memiliki posisi sebagai CEO agensi Anna.
Tatapannya membuat manajer itu langsung berdiri tegak. Pria paruh baya itu hanya duduk diam, sudah terbiasa menghadapi tekanan.
“Beritahu media.” Suara Alexandre tenang. “Kami tidak bertengkar.”
“Aku hanya sedang mendengarkan keluhan dan rajukan Anna.”
Melly langsung mengangguk cepat. Alexandre lalu menambahkan satu kalimat lagi, “Dan jangan biarkan siapapun menyebutku kasar padanya lagi di internet.”
Anna menatapnya. Pria itu berdiri di sana dengan wajah yang sama seperti biasanya—tenang, serius, dan galak.
Namun Anna tahu satu hal. Alexandre datang ke agensinya karena pria itu, Alexandre Henley baru saja mendeklarasikan perang pada siapa pun yang mencoba mengganggu hubungan mereka.
Bibir Anna tiba-tiba mengerucut, alexandre Henley hanya menghela napas lagi dan lagi setiap kali wanitanya mengerucut. Pria itu tahu pasti bakal ada sesuatu yang luar biasa akan terjadi.