bc

Pacar Menteriku yang Galak

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
fated
badgirl
heir/heiress
drama
sweet
bxg
kicking
city
office/work place
childhood crush
kingdom building
like
intro-logo
Blurb

Di mata publik, Anna Lister adalah bintang yang bersinar terang. Di usia 24 tahun, ia sudah menjadi salah satu artis paling terkenal di negara itu—cantik, ceria, dan selalu berhasil mencuri perhatian di mana pun ia berada. Media menyukainya karena senyumnya yang hangat, fans menyayanginya karena kepribadiannya yang jujur dan sedikit ceroboh. Anna selalu terlihat seperti gadis yang hidup tanpa beban, penuh tawa, dan sering mengatakan apa pun yang muncul di kepalanya tanpa sempat memikirkannya terlebih dahulu.Namun tidak banyak yang tahu bahwa di balik kehidupan glamornya, Anna menyimpan sebuah rahasia yang bahkan bisa membuat seluruh negara gempar.Pacarnya adalah Alexandre Henley.Seorang pria yang hampir menjadi kebalikan dirinya dalam segala hal.Di usia yang masih relatif muda untuk dunia politik, Alexandre sudah memegang posisi yang tidak main-main: Menteri Pertahanan. Ia dikenal sebagai pria yang tegas, rasional, dan dingin. Para wartawan sering menggambarkannya sebagai sosok yang sulit didekati—selalu serius, jarang tersenyum, dan memiliki tatapan tajam yang mampu membuat siapa pun langsung diam.Bagi banyak orang, Alexandre Henley adalah pria yang menakutkan.Bagi Anna?Dia hanya pacar yang galak dan terlalu serius.Hubungan mereka dimulai secara tidak sengaja, di sebuah acara yang mempertemukan dua dunia yang sama sekali berbeda: dunia hiburan yang penuh warna dan dunia politik yang kaku dan penuh aturan. Sejak pertemuan pertama, mereka sudah seperti minyak dan air.Anna terlalu berisik.Alexandre terlalu pendiam.Anna selalu bertingkah tanpa pikir panjang.Alexandre selalu memikirkan segalanya terlalu dalam.Anna suka bercanda.Alexandre hampir tidak pernah tersenyum.Entah bagaimana, dua orang yang sangat berbeda itu justru terus bertemu lagi dan lagi—sampai akhirnya tanpa sadar mereka mulai berjalan berdampingan.Menjalani hubungan dengan seorang menteri tentu bukan hal yang mudah bagi Anna. Ada rahasia yang harus dijaga, sorotan media yang harus dihindari, dan reputasi yang harus dilindungi. Alexandre tidak bisa sembarangan terlihat bersama seorang artis terkenal, sementara Anna juga tidak ingin kehidupan pribadinya menjadi konsumsi publik.Namun menjaga rahasia terasa jauh lebih sulit ketika Anna adalah orang yang sama sekali tidak pandai menyembunyikan perasaannya.Dia sering berbicara tanpa berpikir.Sering menggoda Alexandre tanpa takut.Dan sering mengatakan hal-hal yang membuat pria serius itu hanya bisa menghela napas panjang.Bagi orang lain, Alexandre Henley adalah Menteri Pertahanan yang disegani.Bagi Anna, dia hanyalah pria yang terlalu kaku, terlalu serius, dan terlalu pelit senyum.Namun di balik sikap dinginnya, Alexandre memiliki satu kelemahan yang tidak pernah diketahui siapa pun.Anna.Gadis ceria yang selalu muncul dengan ide-ide aneh, pertanyaan konyol, dan senyum yang terlalu terang untuk dunianya yang penuh tanggung jawab.Kadang Anna membuatnya kesal.Kadang Anna membuatnya lelah.Namun lebih sering lagi, Anna membuat dunia yang selalu terasa berat itu… sedikit lebih ringan.Dan meskipun Alexandre jarang menunjukkannya, ada satu hal yang perlahan mulai disadarinya—Mungkin hanya Anna Lister satu-satunya orang yang bisa membuat Menteri Pertahanan paling serius di negara itu akhirnya tersenyum.

chap-preview
Free preview
Chapter 1 - Senyum yang terlalu mahal
Pagi di kota itu selalu sibuk, tetapi bagi Anna Lister, pagi adalah waktu yang paling menyenangkan. Matahari baru saja naik, sinarnya menembus jendela apartemennya yang besar dan jatuh tepat di lantai kayu yang mengilap. Di atas meja ruang tamu berserakan beberapa naskah drama, secangkir kopi yang hampir dingin, dan sebuah ponsel yang terus bergetar karena notifikasi. Anna duduk bersila di sofa, rambut panjangnya masih sedikit berantakan. Ia mengenakan hoodie besar dan celana pendek, tampak jauh lebih santai dibandingkan citra glamor yang biasa ia tampilkan di layar televisi. Di layar ponselnya, berita pagi sedang ramai membicarakan satu nama. Alexandre Henley. Ia memiringkan kepala, lalu mengetuk salah satu artikel yang muncul. "Menteri Pertahanan Alexandre Henley kembali mengkritik kebijakan pengurangan anggaran militer dalam konferensi pers tadi malam." Foto yang terpampang di sana menampilkan seorang pria tinggi dengan setelan jas navy yang rapi. Wajahnya tegas, rahangnya kaku, dan tatapannya tajam seperti seseorang yang selalu memikirkan hal-hal serius. Anna mengerucutkan bibir. “Hmm.” Ia memperbesar foto itu dengan dua jari, menatapnya beberapa detik. “Kenapa sih dia selalu kelihatan jutek dan galak?” gumamnya sendiri. Ponselnya tiba-tiba bergetar lagi. Nama yang muncul di layar membuat Anna langsung tersenyum lebar. Alexandre. Anna mengangkat telepon itu dengan cepat. “Halo,” katanya ceria. Di sisi lain terdengar suara pria yang dalam dan tenang. “Pagi.” Hanya satu kata, tapi entah kenapa suara itu selalu terdengar berat, seperti seseorang yang sudah memulai hari dengan memikirkan terlalu banyak hal. Anna langsung berbaring di sofa mahalnya. “Kamu sudah baca berita hari ini?” tanya Alexandre. “Eum... Sayangnya, iya.” jawab Anna. “Aku lihat fotomu,” lanjut Anna sambil menahan tawa. “Jutek banget.” Di ujung sana terdengar helaan napas pendek dari Alexandre, “Aku sedang bekerja, Anna.” “Tahu kok!,” jawab Anna cepat. “Tapi kamu selalu kelihatan galak dan jutek banget, kayak gak punya senyuman.” Ada jeda sebentar. Kemudian Alexandre berkata dengan nada datar, “Itu bukan sesuatu yang perlu dipikirkan.” Anna menggigit bibirnya dengan kesal. Ia sudah mengenal pria itu cukup lama untuk tahu satu hal: Alexandre Henley bukan orang yang mudah diajak bercanda. Namun justru itu yang membuatnya semakin ingin menggodanya. “Kalau begitu,” kata Anna ringan, “aku akan datang ke kantormu hari ini.” Jeda. “Tidak.” Jawaban Alexandre dengan cepat. Bahkan pria itu menjawab seperti tidak berpikir. Anna mengangkat alis. “Kenapa?” nada Anna sedikit kecewa. “Kantor kementerian bukan tempat bermain.” jawaban Alexadre membuat Anna langsung tertawa kecil. “Aku bukan anak kecil.” balas Anna sambil menggelengkan kepalanya. “Masa sih?”. Anna langsung mendengus mendengar balasan dari Alexandre. “Hei, aku ini artis terkenal tahu!” Seru Anna. “Justru itu.” balasan ringan dari Alexandre malah membuat Anna semakin kesal. “Justru itu apa?” “Kamu terlalu menarik perhatian.” balasan Alexandre kali ini terdengar dengan nada lembut. Namun, Anna hanya memutar bola matanya, “Ah, jadi kamu malu punya pacar artis?”. “Aku tidak mengatakan itu.” bantah Alexandre. Tapi, Anna tidak mengalah, ia dengan gigih membalas Alexandre dengan sewot, “Tapi kamu memikirkannya.” Alexandre tidak langsung menjawab. Anna bisa membayangkan ekspresinya sekarang: alis sedikit berkerut, wajah tenang tapi terlihat seperti sedang mempertimbangkan sesuatu yang terlalu serius. Akhirnya pria itu berkata pelan, “Aku hanya tidak ingin ada hal yang mengganggu pekerjaanku.” Anna bersandar ke belakang, menghela napas dramatis. Anna: “Selalu saja bicara seperti itu.” Alexandre: “Seperti apa?” Anna: “Seperti… hidup ini hanya soal pekerjaan.” Di sisi lain telepon, Alexandre terdiam. Beberapa detik berlalu. Lalu ia berkata pelan, “Tanggung jawab memang harus diprioritaskan.” Anna menggembungkan pipinya. Ia tahu itu jawaban yang sangat Alexandre. Pria itu selalu seperti ini. Serius. Disiplin. Terkontrol. Sementara Anna? Ia kebalikannya. Wanita ini ceria, impulsif, sering mengatakan apa pun yang terlintas di kepalanya tanpa berpikir terlalu lama. “Baiklah,” kata Anna akhirnya. “Aku tidak akan ke kantormu.” Alexandre: “Bagus.” Anna: “Tapi.” Nada suara Anna berubah nakal. Lalu wanita ini melanjutkan perkataannya, “Kamu harus makan siang denganku.” “Aku punya jadwal rapat.” Alexandre langsung membantah tanpa menunggu sedetik pun. “Aku tahu.” balas Anna. Alexandre: “Lalu?”. Ia mengangkat sebelah alisnya. Anna: “Rapatmu kan selesai jam satu.” Alexandre terdiam lagi. “Kamu menghafal jadwalku?” Anna: “Tidak,” jawab Anna santai. “Aku menyuruh sekretarismu memberitahuku.” Terdengar napas panjang di ujung sana. “Anna.” “Iya?” balas Anna dengan nada riang. Khas seperti wanita itu. “Kamu tidak boleh melakukan itu.” kata Alexandre memberi nasihat. “Kenapa?” Anna malah membalas seolah ia tidak perduli. “Itu informasi pekerjaan.” Anna menahan tawa dan membalas “Aduh, tenang aja, Pak Menteri. Anna yang cantik ini tidak akan membocorkan rahasia negara kok.” Hening beberapa detik. Lalu akhirnya Alexandre berkata pelan, hampir seperti menyerah. “…Di mana?” Senyum Anna langsung melebar, “Aha!” Alexandre: “Katakan saja tempatnya.” Anna: “Kafe biasa kita.” Alexandre: “Kamu akan datang jam berapa?” Anna: “Jam dua belas.” Alexandre: “Rapatku selesai jam satu.” Anna: “Aku tahu.”. Wanita membalas dengan cengiran walaupun Alexandre tidak bisa melihatnya. Alexandre: “Kalau begitu kenapa jam dua belas?” Anna tertawa kecil. Anna: “Supaya kamu punya alasan untuk buru-buru menyelesaikan rapat.” Alexandre benar-benar terdiam kali ini. Kemudian, sangat pelan, terdengar sesuatu yang jarang sekali muncul dari pria itu. Suara tawa singkat. Hanya sebentar. Tapi cukup membuat Anna tertegun. “Baiklah,” kata pria jutek ini akhirnya. “Jam satu.” Anna tersenyum puas, “Deal!” Setelah panggilan berakhir, Anna menjatuhkan dirinya ke sofa. Ia menatap langit-langit apartemen dengan ekspresi puas. “Mission accomplished.” ———————————————————————— Sementara itu, di gedung kementerian pertahanan yang besar dan penuh keamanan, Alexandre Henley baru saja menutup teleponnya. Ia berdiri di dekat jendela kantornya yang luas, memandang ke luar kota yang sibuk. Tangannya masih memegang ponsel. Beberapa detik ia hanya berdiri diam. Kemudian sekretarisnya mengetuk pintu. “Pak Menteri?” “Masuk.” Seorang wanita paruh baya masuk dengan tablet di tangannya. “Rapat dengan komite anggaran dimulai dalam lima menit.” Alexandre mengangguk. “Baik.” Namun sebelum ia berjalan keluar, sekretarisnya menatapnya sedikit lama. “Pak?” “Ada apa?” Wanita bernama Elise ini tersenyum tipis. “Jarang sekali saya melihat Anda tersenyum.” Alexandre berhenti. “Apakah saya tersenyum?”. Elise tetap mempertahankan senyumnya “Baru saja.” Alexandre mengerutkan alis sedikit. “Saya tidak sadar.” Sekretaris pria itu tertawa kecil. “Saya rasa ada seseorang yang membuat pagi Anda lebih baik.” Alexandre tidak menjawab. Ia hanya mengambil map dokumen di meja. Namun sebelum berjalan keluar, ia berkata singkat. “Jangan menyebarkan asumsi yang tidak perlu.” “Tentu, Pak.” Namun ketika Alexandre berjalan menyusuri koridor panjang kementerian, langkahnya terasa sedikit lebih ringan dari biasanya. ———————————————————————— Kafe kecil di sudut jalan itu tidak terlalu ramai siang itu. Anna sudah duduk di meja dekat jendela, mengenakan topi dan kacamata besar untuk menyamarkan dirinya dari penggemar. Di depannya ada dua gelas minuman. Satu miliknya. Satu lagi untuk seseorang yang belum datang. Anna mengayunkan kakinya di bawah meja sambil memainkan sedotan. Jam tangannya menunjukkan pukul 1:07 PM. Ia mengerucutkan bibir dan mengeluh dengan nada yang sangat sebal, “Telat.” Namun tepat saat ia hendak mengeluh pada dirinya sendiri, pintu kafe terbuka. Seorang pria tinggi masuk. Setelan jasnya rapi seperti biasa, dasinya lurus, dan wajahnya… tetap jutek dan galak. Beberapa orang langsung menoleh. Alexandre Henley memang sulit tidak dikenali. Anna mengangkat tangannya kecil. “Di sini.” senyuman Anna merekah. Tatapan Alexandre langsung menemukannya. Ia berjalan mendekat dengan langkah tenang. Ketika sampai di meja, ia menarik kursi dan duduk. “Nunggu lama, ya?” Anna: “Iya lama banget!.” Alexandre: “Maaf.” Anna mengangkat bahu, “Aku sudah biasa.” Alexandre menatapnya, “Kamu seharusnya tidak mengatakan itu.” Anna: “Kenapa?” Alexandre “Kedengarannya seperti aku pacar yang buruk.” Anna menahan senyum. “Hmm.” Alexandre: “Anna.” Anna: “Eung? Iya?” Alexandre: “Katakan yang sebenarnya.” Anna mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. “Baiklah.” Ia menatap wajah Alexandre beberapa detik. Lalu berkata dengan jujur. “Kamu itu jutek dan galak banget. Kaku juga sih, serius juga.” Alexandre menghela napas. “Tapi,” lanjut Anna cepat, “Ale juga lucu.” Alexandre: “Lucu?”. Anna menganggukkan kepalanya antusias. Alexandre: “Aku tidak melakukan apa pun yang lucu.” Anna: “Justru itu yang lucu.” Alexandre benar-benar tidak mengerti. Ia menatap Anna dengan ekspresi bingung. Anna tertawa kecil melihatnya. “Kamu tahu tidak,” kata Anna, “setiap kali kamu mencoba serius, kamu malah terlihat lebih jutek dan galak sekali.” “Gak benar!” bantah Alexandre dengan nada sengit. Anna: “Benar loh!.” Alexandre: “Tidak.” Anna mencondongkan wajahnya sedikit lebih dekat. “Kalau begitu buktikan.” Alexandre mendongakkan wajahnya, “Buktikan apa?”. “Kalau kamu bisa senyum.” Alexandre menatapnya datar. “gak penting.” Anna: “Penting bagiku.” Alexandre: “Kenapa?” Anna berpikir sebentar. Lalu berkata pelan. “Karena kamu jarang banget senyum!” Kalimat itu membuat Alexandre terdiam sebentar. Beberapa detik berlalu. Anna mulai kembali merasa sedikit kesal. Ia meneguk minumannya dengan cepat. “Lupakan saja,” gumamnya. Namun tiba-tiba Alexandre berkata pelan, “Anna.” “Iya?” "Gak jadi. Sudah pesan makanan?" Tanya Alexandre mengeluarkan ponselnya sembari mengecek apakah ada pesan mendesak dari kementrian. "Belum..." Anna kembali merengut. Alexandre hanya bisa mengangkat alisnya sebelah, mempertanyakan emosi kekasihnya yang cepat berubah. Pria itu langsung menekan bel untuk memanggil waiter. Alexandre: “Steak sandwich 1…” Alexandre menoleh ke Anna. Anna: “Lagi diet…” balas gadis itu sambil cemberut. Alexandre tampaknya akan membalas, Anna langsung menjawab sebelum pria itu mengatakan sesuatu yang pedas di telinganya. “Salmon salad!” Alexandre pun menggangguk, “Salmon salad 1”. Waiter yang sudah menuliskan orderan makanan segera pergi menyampaikannya ke tukang masak kafe. Setelah menunggu beberapa saat, makanan datang. Alexandre langsung menyantap steak sandwichnya. Sementara, Anna ia dengan wajah melongo sambil memegang ponselnya untuk mengabadikan momen makan siang bersama kekasihnya runtuh sudah. Anna: “Ale!!! Kamu kebiasaan banget sih!” Alexandre: “Makan cepat, aku sibuk harus langsung kerja” Anna hanya bisa diam dan melongo, kekasihnya ini benar-benar menyebalkan. Sementara itu, Alexandre sudah menghabiskan setengah steak sandwich miliknya. Anna kembali kesal dan langsung memakan saladnya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
7.7K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
36.7K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
15.3K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
52.5K
bc

Desahan Sang Biduan

read
55.5K
bc

Lagi! Jangan Berhenti, Om!

read
9.0K
bc

Unchosen Wife

read
5.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook