Angga memberikan isyarat padaku agar aku mengikutinya. Aku berjalan mengekor dibelakangnya memasuki ruangannya. Menutup pintu ruang kerjanya semua kaca yang tadinya bisa tembus pandang melihat ke segala sudut langsung tertutup oleh gorden berwarna coklat tua. Aku melihat sekeliling ruangan bahkan tidak ada celah sedikitpun yang bisa untuk melihat bagian showroom. "Kamu mau berdiri saja ?" Tanya Angga sambil melihat laptop di depannya. Aku melangkah menuju sofa yang disediakan di ruangan Angga, menunggu dia yang masih sibuk dengan laptopnya. Aku membuang nafas kasar menunggu Angga yang tidak jelas. Aku memilih mengambil ponsel dan membuka aplikasi hijauku yang ternyata sudah ada lima pesan menunggu balasanku. Tiga pesan dari customer yang menanyakan biaya foto , satu orang dari Toni

