Pagi berikutnya, Naya bangun dengan kepala pusing dan hati yang berat. Matahari belum sepenuhnya terbit, tetapi di luar jendela rumah mereka, langit sudah mulai memerah. Naya menatap langit melalui kaca jendela kamar mereka. Pikirannya kacau, berputar-putar antara kebingungannya dan perasaan sakit yang baru saja ia rasakan. Arga, suaminya, ternyata menikahinya hanya sebagai pelampiasan dari rasa sakit akibat putus cinta dengan Rania. Sebuah kenyataan yang begitu memilukan, yang membuatnya merasa seperti dirinya hanya sekadar bayang-bayang dalam hidup Arga.
Ia menarik selimut yang membalut tubuhnya lebih erat, seolah berharap bisa menghilangkan rasa dingin yang menggerogoti hati. Dalam beberapa hari terakhir, ia mencoba untuk mengabaikan perasaan ini. Ia berusaha untuk melihat sisi positif dari hubungan mereka. Namun, kini semua terasa berbeda. Arga telah membuka mata Naya akan kenyataan pahit yang tidak bisa ia hindari.
Naya menatap cincin pernikahannya yang kini terasa lebih berat di jarinya. Dia ingat saat pertama kali Arga melamarnya, wajahnya penuh dengan harapan. Namun, kini semuanya terasa begitu kosong. Apa yang ia harapkan dari pernikahan ini? Cinta? Kebahagiaan? Semuanya terasa hampa.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka pelan, dan Arga masuk. Matanya terlihat lelah, seperti baru saja terjaga dari tidur yang gelisah. Naya tidak tahu apa yang harus ia katakan. Semua kata terasa sesak di tenggorokannya, dan ia hanya menatap Arga yang kini berdiri di ambang pintu.
"Selamat pagi," kata Arga, mencoba terdengar normal meskipun ia tahu ada sesuatu yang tidak beres.
Naya tidak menjawab. Ia hanya terus menatapnya, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Akhirnya, ia mengambil napas dalam-dalam dan berbicara dengan suara yang lebih tenang dari yang ia rasakan.
"Arga, aku... aku butuh penjelasan," kata Naya, suaranya bergetar. "Kenapa kamu menikahiku jika perasaanmu tidak sepenuhnya ada? Apa aku hanya pelarian untukmu?"
Arga terdiam, ekspresinya berubah menjadi cemas. Ia menunduk, seolah berusaha mencari kata-kata yang tepat. "Naya... aku tahu aku telah salah. Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu," jawabnya pelan, suara penuh penyesalan.
"Jadi kamu mengakui itu?" Naya menatapnya dengan mata yang penuh emosi. "Kamu menikahiku hanya untuk melupakan seseorang yang bukan aku? Selama ini aku hanya menjadi tempat pelarianmu, bukan?"
Arga menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri sebelum akhirnya berbicara lagi. "Aku... aku tidak tahu apa yang harus kulakukan setelah perpisahan itu. Aku sangat terluka, Naya. Aku berusaha keras untuk melupakan Rania, dan aku berpikir menikahimu bisa membantu. Tapi aku terlalu egois, terlalu takut menghadapi kenyataan. Aku tidak pernah berpikir tentang perasaanmu."
Naya merasakan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, tetapi ia menahannya. "Jadi, kamu pikir menikahi aku adalah solusi untuk melupakan seseorang yang tidak lagi ada dalam hidupmu? Apakah kamu yakin itu adil untukku?"
Arga terlihat semakin bingung. "Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu. Aku ingin mencoba, Naya. Tapi aku juga tidak bisa memaksakan perasaan yang tidak ada. Aku harus jujur padamu, aku belum bisa sepenuhnya melepaskan masa lalu."
Naya terdiam, menelan kata-kata itu. Rasanya seperti ada pisau yang menyayat dalam hatinya, tetapi ia berusaha keras untuk tetap tenang. "Dan bagaimana dengan kita, Arga? Apa yang akan terjadi dengan kita sekarang? Apa yang harus aku lakukan?"
Arga menggelengkan kepala, merasa semakin terjebak dalam kebingungannya. "Aku... aku tidak tahu. Aku ingin kita bisa bahagia, Naya. Tapi aku takut aku tidak bisa memberimu apa yang kamu butuhkan. Aku takut aku hanya akan menyakitimu lebih dalam."
Naya merasa hatinya semakin hancur. Mungkin Arga tidak bisa memberinya jawaban yang ia harapkan, tetapi ia tahu satu hal: ia tidak bisa terus hidup dalam kebohongan. "Arga, aku tidak tahu apakah aku bisa terus bertahan dalam pernikahan ini tanpa cinta yang nyata. Aku tidak bisa terus menjadi pelampiasan. Aku ingin pernikahan ini menjadi sesuatu yang lebih."
Arga merasa seperti dirinya telah gagal. Ia hanya bisa berdiri di sana, terpaku, tanpa tahu harus berkata apa. Selama ini, ia terlalu fokus pada dirinya sendiri, pada luka hatinya yang belum sembuh. Kini ia baru menyadari bahwa ia telah melukai orang yang paling ia sayangi.
"Apakah kamu ingin kita berpisah?" tanya Arga, suara gemetar. "Jika itu yang kamu inginkan, aku akan menghormatinya. Aku tidak ingin memaksamu bertahan dalam hubungan yang tidak adil bagimu."
Naya menatapnya dengan mata yang penuh air mata. Ia merasa bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apakah ia harus pergi? Atau ia harus memberikan Arga kesempatan untuk memperbaiki semuanya? Namun, saat itu juga, Naya menyadari satu hal yang paling penting: ia tidak bisa hidup dalam ketidakpastian ini. Ia butuh kejelasan, dan ia butuh kejujuran.
"Aku tidak tahu apa yang harus aku pilih sekarang," jawab Naya akhirnya. "Tapi aku tahu, aku tidak bisa terus hidup dalam kebohongan. Jika kita tidak bisa menemukan cinta di antara kita, mungkin kita memang harus berpisah."
Arga merasa hatinya teriris mendengar kata-kata itu. Ia tahu Naya benar, dan ia juga tahu bahwa ia telah terlalu lama lari dari kenyataan. Ia tidak bisa terus hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Jika ia benar-benar ingin memperbaiki semuanya, ia harus membuat keputusan yang sulit.
"Naya, aku akan berusaha. Aku akan berjuang untuk kita," kata Arga dengan suara penuh tekad, meskipun ia merasa cemas. "Aku akan mencoba untuk benar-benar terbuka padamu, untuk mencintaimu dengan sepenuh hati."
Naya menatapnya lama, mencoba mencerna kata-kata itu. Tetapi ada keraguan yang masih menyelubungi hatinya. Ia tidak tahu apakah kata-kata Arga bisa menjadi kenyataan. Namun, satu hal yang ia yakini—ia tidak bisa terus terjebak dalam kebohongan.
"Baiklah," jawab Naya akhirnya, suara rendah namun penuh tekad. "Aku akan memberi kamu kesempatan, Arga. Tapi ingat, aku tidak bisa terus begini. Jika kita tidak bisa saling memberi, kita harus berpisah."
Arga mengangguk dengan perlahan, merasa seperti beban berat akhirnya sedikit terangkat. Namun, ia juga tahu bahwa perjalanan mereka masih panjang, dan tidak ada jaminan bahwa mereka akan berhasil. Yang ia tahu sekarang adalah bahwa ia harus berjuang—untuk Naya, untuk pernikahan mereka, dan untuk dirinya sendiri.
Hari itu, sebuah babak baru dalam pernikahan mereka dimulai. Tidak ada kepastian, hanya usaha dan harapan yang masih harus diuji.