Bab 3: Ketika Kejujuran Menjadi Beban

1010 Words
Hari-hari berlalu dengan lambat, dan meskipun Arga berusaha untuk memperbaiki hubungan mereka, semuanya terasa semakin rumit. Naya merasa seperti ia terjebak dalam kebingungannya, seolah ada sebuah tembok yang menghalangi mereka untuk benar-benar saling mengerti. Arga berusaha memberikan perhatian lebih, tetapi Naya bisa merasakan bahwa ada jarak yang semakin besar antara mereka. Ia tidak bisa lagi berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Pagi itu, Naya berdiri di depan cermin, menatap dirinya sendiri dengan tatapan kosong. Ada banyak perasaan yang bergejolak di dalam hatinya, tetapi ia tidak tahu bagaimana mengungkapkannya. Ia sudah mencoba untuk memberi Arga kesempatan, tetapi semakin lama, ia semakin merasa ragu. Apakah ia benar-benar ingin melanjutkan pernikahan ini? Apakah ia bisa mencintai Arga dengan sepenuh hati, setelah mengetahui bahwa ia hanya dijadikan pelampiasan? Pikirannya terhenti saat pintu kamar terbuka. Arga masuk dengan langkah pelan, membawa secangkir kopi. "Pagi, Naya. Kopimu," katanya, memberikan kopi itu dengan senyum yang tampak sedikit canggung. Naya menatapnya, kemudian menerima kopi itu tanpa banyak berkata-kata. "Terima kasih," jawabnya, suara terdengar datar. Arga duduk di sampingnya, mencoba membuka percakapan seperti biasa. "Aku… aku tahu belakangan ini hubungan kita nggak mudah. Aku merasa ada jarak di antara kita, dan aku benar-benar ingin mencoba memperbaikinya. Aku nggak mau kehilangan kamu, Naya." Naya menatapnya, merasakan setiap kata yang keluar dari mulut Arga. Ia tahu bahwa Arga mencoba, tetapi rasanya itu tidak cukup. "Aku tahu kamu berusaha, Arga. Tapi aku… aku merasa nggak bisa terus begini. Aku merasa seperti kita sedang hidup dalam kebohongan." Arga terdiam. Ia sudah menduga bahwa Naya akan mengungkapkan perasaannya, tetapi tetap saja, kata-kata itu terasa seperti pisau yang menoreh hatinya. "Naya, aku… aku nggak tahu harus apa lagi. Aku nggak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Aku hanya bisa berjanji akan berusaha lebih baik." "Berusaha lebih baik?" Naya memutar bola matanya, tidak bisa menyembunyikan rasa frustrasinya. "Kamu pikir berusaha itu cukup? Kamu pikir aku bisa terus hidup dalam kebohongan ini hanya dengan kata-kata kosong dan janji-janji yang nggak jelas?" Arga menunduk, merasa semakin terpojok. "Aku nggak bisa memaksakan perasaan, Naya. Aku tahu aku sudah menyakitimu, tapi aku butuh waktu. Aku masih berusaha untuk sembuh dari luka itu." "Arga," Naya berkata dengan lembut, tetapi penuh dengan ketegasan. "Aku juga butuh waktu untuk sembuh, tapi aku nggak bisa terus menunggu sementara kamu nggak memberi aku apa-apa. Kamu tahu apa yang aku butuhkan, kan? Aku butuh cinta, aku butuh kejujuran. Aku nggak bisa terus hidup dengan ketidakpastian ini." Arga merasakan rasa sakit yang semakin dalam di dadanya. Ia tahu bahwa Naya benar, tetapi ia merasa terjebak dalam masa lalu yang terus menghantuinya. Ia ingin memberikan yang terbaik untuk Naya, tetapi hatinya masih tertahan pada kenangan tentang Rania. "Kalau begitu, apa yang kamu mau, Naya?" Arga bertanya dengan suara serak. "Aku… aku ingin kita bisa bahagia. Tapi aku nggak tahu caranya. Aku nggak tahu harus mulai dari mana." Naya menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan. "Aku ingin kamu jujur padaku, Arga. Aku ingin tahu apakah kamu benar-benar ingin ini, apakah kamu benar-benar ingin aku. Aku nggak bisa terus menjadi tempat pelampiasan. Aku butuh lebih dari itu." Arga terdiam. Perasaan bersalah semakin menghimpitnya. Ia tahu bahwa ia harus memberikan jawaban yang jelas, tetapi di saat yang sama, ia merasa ketakutan untuk menghadapi kenyataan. "Aku… aku nggak tahu, Naya. Aku nggak bisa memberikanmu jawaban yang pasti sekarang." Naya merasa hatinya semakin tertekan. "Kamu tidak tahu? Atau kamu memang tidak mau tahu? Mungkin kamu hanya takut kehilangan Rania, jadi kamu masih belum bisa membuka hatimu untukku sepenuhnya. Aku mengerti, Arga. Aku mengerti." Arga menggigit bibirnya, mencoba menahan air mata yang hampir keluar. Ia tahu bahwa Naya sedang terluka, dan ia adalah penyebabnya. "Aku nggak tahu harus ngomong apa lagi. Aku… aku nggak pernah bermaksud menyakitimu, Naya. Tapi kamu benar, aku masih terjebak dalam masa lalu." "Kalau begitu, kenapa kita tidak berhenti sejenak?" kata Naya, suaranya terdengar rendah dan penuh emosi. "Aku butuh waktu untuk berpikir. Aku nggak tahu apakah aku bisa terus bertahan dalam pernikahan ini jika kamu terus begini. Aku butuh jawaban yang jelas, Arga." Arga menatapnya dengan wajah penuh penyesalan. Ia tahu bahwa ia harus memberikan jawaban, tetapi ia merasa takut kehilangan Naya jika ia mengatakan yang sebenarnya. "Naya, aku… aku nggak tahu apakah kita bisa menemukan jalan kembali ke satu sama lain. Aku ingin memberikan waktu, tetapi aku nggak ingin menyakiti kamu lebih jauh." Naya menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. "Aku juga nggak ingin menyakitimu, Arga. Tapi aku nggak bisa terus hidup dalam ketidakpastian. Aku butuh kejelasan, aku butuh cinta yang nyata." Silence mengisi ruangan itu. Kedua hati yang terluka mencoba mencerna kata-kata yang baru saja terucap. Tak ada jawaban yang memadai untuk mengatasi segala kerumitan yang ada di antara mereka. Naya berdiri, merasa cemas akan keputusan yang akan ia ambil. "Aku… aku akan keluar dulu," kata Naya dengan suara pelan. "Aku perlu waktu untuk berpikir." Arga hanya bisa menatapnya pergi tanpa bisa menghentikannya. Ia tahu bahwa ini adalah titik di mana mereka harus membuat keputusan besar. Namun, Arga merasa semakin terperangkap dalam ketidakpastian dan ketakutan akan kehilangan segalanya. Hari demi hari berlalu dengan kesunyian yang memisahkan mereka. Arga berusaha untuk memperbaiki diri, tetapi setiap kali ia mencoba membuka hatinya kepada Naya, perasaan takut selalu datang menghalangi. Sementara itu, Naya berjuang dengan pikirannya sendiri. Ia tahu bahwa ia tidak bisa terus hidup dalam ketidakpastian, tetapi ia juga tidak bisa dengan mudah melepaskan Arga. Ia mencintainya, meskipun cinta itu belum sepenuhnya terbalas dengan cara yang seharusnya. Ketika akhirnya Naya kembali ke rumah, suasana di antara mereka terasa semakin tegang. Ia sudah membuat keputusan, tetapi ia belum tahu bagaimana mengatakannya pada Arga. Apakah ia akan memberi kesempatan pada pernikahan ini? Ataukah ia akan memilih untuk pergi dan mencari kebahagiaannya sendiri? "Arga," kata Naya, suaranya tegas namun penuh emosi. "Aku sudah memikirkan semuanya. Aku tidak bisa terus begini. Aku membutuhkan kejelasan, dan aku ingin tahu apakah kamu benar-benar ingin aku." Arga menatapnya, matanya penuh penyesalan. "Aku ingin kita bisa menemukan kebahagiaan bersama, Naya. Tapi aku tahu, kalau aku belum siap, kita harus memilih jalan masing-masing." "Jadi, kita harus berpisah?" tanya Naya, matanya mulai berkaca-kaca. Arga hanya bisa mengangguk, merasa berat hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD