Setelah percakapan berat semalam, rumah yang dulunya dipenuhi dengan tawa kini terasa sunyi dan hampa. Arga duduk di ruang tamu, matanya kosong, pikirannya berputar-putar mencerna kata-kata Naya. Hari itu, seperti sebuah titik balik yang tak bisa dihindari. Saat Naya pergi pagi-pagi, tidak ada kata-kata yang diucapkan, hanya langkah-langkahnya yang semakin menjauh. Arga tahu ke mana Naya pergi, atau lebih tepatnya, dia tidak tahu apa lagi yang bisa dia katakan atau lakukan. Semua terasa berbeda.
Naya kembali sekitar tengah hari, wajahnya terlihat lelah seperti baru saja melalui perjalanan panjang yang menguras tenaga. Seolah-olah dia membawa beban yang tidak terlihat, yang lebih berat dari sekadar langkah fisiknya. Begitu sampai di depan rumah, Naya tidak berkata sepatah kata pun pada Arga yang sedang duduk di ruang tamu. Hanya membuka pintu dengan tenang, lalu berjalan masuk tanpa melihat ke arah Arga.
Arga merasa ada yang mengganjal dalam dirinya. “Ke mana kamu tadi?” tanyanya pelan, berusaha memecah kebisuan yang tiba-tiba menyelimuti mereka.
Naya meletakkan tasnya di meja, lalu berjalan menuju dapur, tidak mengubah arah pandangannya sedikit pun. Arga berdiri dan mengikuti Naya. “Naya,” panggilnya lembut, mencoba membuka percakapan meskipun tahu, ini bukanlah percakapan yang mudah. “Kamu tidak perlu pergi, kita bisa bicara.”
Naya berhenti sejenak dan menoleh. Matanya tampak lelah, namun ada kesan ketegasan yang tak terbantahkan. “Kita sudah bicara, Arga. Kita sudah membuat keputusan,” jawabnya datar. “Aku hanya butuh waktu untuk sendiri, untuk berpikir.”
Arga menatapnya, kesulitan menahan perasaan yang bergejolak di dalam dirinya. "Aku tahu aku sudah banyak berbuat salah, Naya," ujarnya dengan suara serak. "Tapi... aku tidak tahu bagaimana harus menerima kenyataan ini."
Naya menghela napas panjang, kemudian menatap Arga dengan tatapan yang penuh kesedihan, seolah mencoba menemukan sesuatu yang hilang di dalam dirinya. “Arga,” jawabnya pelan, “kita sudah memutuskan. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Aku sudah cukup lama terjebak dalam ketidakpastian ini, dan aku tidak ingin hidup dalam bayang-bayangnya lagi.”
Arga merasa sakit mendengar itu. Dia ingin menyampaikan segala hal yang ada di pikirannya, tetapi kata-kata itu seakan tak mampu keluar dari mulutnya. "Aku... aku masih mencintaimu, Naya," katanya, merasa cemas dengan apa yang dia katakan.
Naya tidak langsung menjawab. Dia menunduk, menatap tangannya yang memegang sendok di atas meja, seperti sedang memikirkan setiap kata yang keluar dari mulutnya. “Cinta saja tidak cukup, Arga,” akhirnya dia berkata. “Aku ingin lebih dari itu. Aku ingin merasa dicintai sepenuhnya, bukan hanya menjadi pilihan kedua, bukan hanya pelampiasan dari ketidakpastian yang kamu rasakan.”
Arga merasa tertusuk. “Naya, aku tidak pernah berniat menjadikanmu pelampiasan. Aku mencintaimu, tapi aku juga terjebak dalam perasaan yang sulit aku lepaskan,” jawab Arga dengan suara serak, berusaha menjelaskan semuanya.
Naya menatap Arga dengan tatapan yang hampir kosong. "Aku tahu, Arga. Tapi aku juga harus melepaskan diriku dari hubungan ini. Aku tidak bisa terus hidup seperti ini, dengan perasaan yang tak pernah jelas."
Arga merasakan hati yang semakin sakit. “Tapi kita sudah berjuang, Naya. Bukankah itu artinya kita masih bisa bertahan?”
Naya menggelengkan kepalanya. "Tidak, Arga. Bertahan bukanlah solusi untuk kita. Kita sudah mencoba, tapi ini hanya membuat semuanya semakin sulit. Aku ingin kebahagiaanku sendiri, yang bukan berasal dari penantianmu."
Setelah itu, Naya berbalik dan berjalan menuju kamar tidur. Tidak ada lagi kata-kata, hanya langkah kaki yang semakin menjauh. Arga tetap terdiam, tak bisa berbuat apa-apa.
Arga berdiri, matanya mengikuti langkah Naya yang semakin jauh, tanpa bisa mencegahnya. Dia merasa seperti ada yang hilang, seperti ada bagian dari dirinya yang telah pergi. Ketika Naya memasuki kamar tidur, Arga merasa berat untuk mengikuti. Dia tahu, bahwa dalam beberapa saat lagi, mereka akan berhadapan dengan kenyataan yang tak terhindarkan. Naya tidak akan kembali seperti dulu.
Selama beberapa menit, Arga hanya berdiri di ruang tamu, merenungi setiap kata yang diucapkan oleh Naya. Setiap keputusan yang dibuatnya terasa seperti kejatuhan. Dia tahu, jika ia tidak berbuat sesuatu, mereka akan benar-benar berpisah. Tapi, apa yang bisa dia lakukan? Apa yang harus dia katakan? Naya sudah memutuskan. Arga merasa hatinya seakan terkoyak.
Dia berjalan menuju kamar tidur dan mengetuk pintu pelan. "Naya," panggilnya pelan, meskipun dia merasa sudah terlambat. "Bisa kita bicarakan ini sekali lagi?"
Suasana sepi, hanya terdengar desah napas Naya di balik pintu. Akhirnya pintu dibuka sedikit, dan Naya menatapnya dengan mata yang kosong. "Apa lagi, Arga?" tanyanya, suaranya hampir tidak terdengar. "Kita sudah berbicara tentang semuanya."
Arga ingin memeluknya, memohon agar mereka tidak berakhir seperti ini, tetapi kata-kata itu terhenti di tenggorokannya. "Aku takut kehilanganmu, Naya. Aku tidak tahu harus bagaimana tanpa kamu," ujarnya, hampir berbisik.
Naya memandangi Arga, ada kelembutan di matanya, namun ada ketegasan yang jelas. "Kehilangan adalah bagian dari hidup, Arga. Dan kita harus siap untuk itu."
Arga menatapnya, perasaan perpisahan semakin nyata. "Aku tidak siap, Naya," katanya, suara hampir hilang. "Tapi, aku akan berusaha... untuk melepaskanmu."
Naya hanya mengangguk pelan, kemudian menutup pintu dengan lembut.