Pagi itu, suasana rumah masih terasa sunyi. Matahari mulai meninggi, tetapi kehangatan yang biasanya menyelimuti rumah tersebut tak lagi terasa. Arga duduk di meja makan, menatap secangkir kopi yang mulai mendingin. Hatinya kacau, pikirannya penuh dengan bayangan Naya.
Dari arah kamar, terdengar langkah kaki pelan. Naya keluar dengan wajah yang tampak lebih segar, tetapi matanya menyimpan kelelahan yang tak bisa disembunyikan. Dia berhenti sejenak di pintu dapur, mengamati Arga yang tampak terpaku pada kopinya.
“Selamat pagi,” sapa Naya dengan suara datar.
Arga mendongak, sedikit terkejut mendengar suara itu. “Selamat pagi,” balasnya pelan. Dia berusaha mencari kata-kata, tetapi semuanya terasa salah.
Naya berjalan menuju kulkas, mengambil segelas air, lalu duduk di kursi seberang Arga. Keduanya terdiam, seolah-olah ada dinding tak kasat mata yang memisahkan mereka.
“Jadi, apa rencanamu hari ini?” tanya Arga akhirnya, mencoba memecah keheningan.
Naya mengangkat bahu. “Aku belum tahu. Mungkin membereskan barang-barangku,” jawabnya, menatap lurus ke arah jendela.
Arga tertegun. “Barang-barangmu? Kamu mau pergi ke mana?”
Naya menarik napas panjang sebelum menjawab. “Aku pikir sudah jelas, Arga. Kita sudah sepakat berpisah. Aku akan mencari tempat tinggal sementara.”
Arga menatap Naya dengan tatapan penuh luka. “Apa tidak bisa kita pikirkan lagi, Nay? Mungkin ada cara lain. Kita bisa mencoba lagi…”
Naya menggeleng perlahan. “Kita sudah mencoba, Arga. Berkali-kali. Tapi hasilnya tetap sama. Aku tidak ingin hidup dalam ketidakpastian ini lagi. Aku ingin menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.”
Arga meremas tangannya, berusaha menahan emosi yang bergelut di dadanya. “Kebahagiaan? Apa aku tidak cukup membuatmu bahagia, Nay?”
“Bukan itu,” jawab Naya lembut. “Kamu berusaha, aku tahu. Tapi kebahagiaan itu harus datang dari dua arah. Aku merasa aku yang berjuang sendirian di sini, sementara kamu masih bergelut dengan bayangan masa lalumu.”
Arga tertunduk. “Aku mencintaimu, Nay. Aku sungguh-sungguh mencintaimu.”
Naya menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Cinta saja tidak cukup, Arga. Aku butuh kejelasan, butuh rasa aman, butuh keyakinan. Dan aku tidak mendapatkannya di hubungan ini.”
Keduanya terdiam lagi, membiarkan keheningan memenuhi ruang di antara mereka. Akhirnya, Arga berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah jendela. Dia menatap keluar, ke jalanan yang mulai ramai dengan aktivitas pagi.
“Naya,” katanya tanpa menoleh. “Kalau kamu pergi, aku tidak tahu bagaimana aku akan melanjutkan hidupku. Aku merasa seperti kehilangan bagian dari diriku.”
Naya berdiri dan mendekati Arga. Dia meletakkan tangannya di bahu pria itu. “Kamu tidak kehilangan apa-apa, Arga. Kamu hanya harus belajar melepaskan. Itu akan sulit, aku tahu. Tapi kita berdua akan menjadi lebih baik setelah ini.”
Arga berbalik, matanya penuh dengan harapan yang tersisa. “Bagaimana kalau aku berjanji berubah? Aku akan melepaskan masa laluku, Nay. Aku akan fokus padamu, hanya padamu.”
Naya tersenyum tipis, meskipun air matanya mulai mengalir. “Janji itu sudah terlambat, Arga. Aku tidak bisa terus berharap pada sesuatu yang belum pasti.”
Air mata Arga akhirnya jatuh. Dia menggigit bibir, menahan sesak yang semakin menghimpit dadanya. “Aku mengerti,” katanya dengan suara pelan. “Kalau itu yang kamu inginkan, aku tidak akan menahanmu lagi.”
Naya mengangguk pelan. “Terima kasih, Arga. Untuk semuanya. Aku tidak menyesal pernah bersamamu. Tapi sekarang, kita harus menjalani jalan masing-masing.”
Arga hanya bisa menatapnya, mencoba mengingat setiap detail dari wajah wanita yang pernah menjadi dunianya. Dia tahu, setelah hari ini, segalanya tidak akan pernah sama lagi.
---
Beberapa jam kemudian, Naya sudah selesai mengemas barang-barangnya. Dua koper besar dan beberapa kardus kecil berjejer di ruang tamu. Arga membantu membawanya ke depan rumah tanpa banyak bicara.
“Jadi, kamu sudah punya tempat untuk tinggal?” tanya Arga ketika mereka berdiri di depan mobil taksi yang sudah menunggu.
Naya mengangguk. “Aku akan tinggal sementara di rumah teman. Jangan khawatir, aku baik-baik saja.”
Arga menghela napas panjang. “Kalau kamu butuh apa-apa, tolong hubungi aku. Aku akan selalu ada untukmu, Naya.”
Naya tersenyum, kali ini dengan lebih tulus. “Terima kasih, Arga. Jaga dirimu.”
Dengan itu, Naya masuk ke dalam taksi, meninggalkan Arga yang berdiri sendirian di depan rumah. Mobil itu melaju perlahan, semakin menjauh, hingga akhirnya menghilang di tikungan.
Arga berdiri di sana cukup lama, menatap jalanan kosong. Perasaan hampa memenuhi hatinya. Dia tahu, ini adalah keputusan yang benar, tetapi itu tidak membuatnya lebih mudah.
Kembali ke dalam rumah, Arga menatap ruang tamu yang kini terasa begitu sepi. Barang-barang milik Naya sudah tidak ada, tetapi bayangannya masih terasa begitu kuat. Dia duduk di sofa, menundukkan kepala, dan membiarkan air mata yang selama ini dia tahan akhirnya mengalir tanpa henti.
Malam itu, Arga memutuskan untuk menuliskan surat kepada dirinya sendiri. Sebuah pengakuan, sebuah janji untuk mulai menerima kenyataan, dan sebuah harapan bahwa suatu hari nanti, dia akan menemukan kedamaian dalam kehilangan ini.