Bab 6: Awal dari Jalan yang Berbeda

958 Words
Hari itu, suasana rumah Arga benar-benar kosong. Setelah Naya pergi, waktu seolah berjalan lebih lambat. Arga menghabiskan pagi dengan termenung di sofa ruang tamu. Semua barang milik Naya telah diangkut keluar semalam, tetapi bayangannya masih melekat di setiap sudut rumah. Ketukan di pintu tiba-tiba membuyarkan lamunannya. Arga mengangkat kepala, menatap pintu dengan alis berkerut. Dia tidak mengharapkan siapa pun. Dengan langkah malas, dia membuka pintu dan mendapati Reza, sahabatnya, berdiri di sana dengan wajah cemas. “Bro, gue dengar Naya pergi. Bener?” tanya Reza tanpa basa-basi. Arga hanya mengangguk pelan, mempersilakan Reza masuk tanpa banyak bicara. Reza berjalan masuk dan langsung duduk di sofa. “Lo serius? Lo biarin dia pergi gitu aja? Kenapa nggak lo tahan?” Arga menghela napas panjang, lalu duduk di samping Reza. “Dia nggak bahagia, Za. Gue juga nggak tahu apa yang bisa gue lakuin lagi. Kalau gue tahan, apa itu cukup buat dia? Gue cuma bikin dia tambah menderita.” Reza menggelengkan kepala, merasa tidak percaya. “Tapi lo masih sayang sama dia, kan?” “Sayang,” jawab Arga singkat. “Tapi cinta aja nggak cukup buat bikin hubungan ini berhasil.” Reza menatap Arga dalam-dalam. “Lo tahu, gue nggak mau ngehakimin lo. Tapi gue rasa lo nggak benar-benar berusaha. Lo masih kebanyakan mikirin masa lalu lo, bro.” Arga menunduk, meremas tangannya dengan gelisah. Kata-kata Reza terasa seperti hantaman keras, tetapi dia tidak bisa menyangkal kebenarannya. “Mungkin lo bener,” kata Arga akhirnya. “Gue terlalu terjebak di masa lalu. Gue pikir gue udah move on, tapi ternyata bayangan Karin masih ada.” Reza menghela napas berat. “Dengar, Arga. Kadang, kita harus kehilangan sesuatu untuk benar-benar sadar apa yang kita miliki. Tapi kalau lo terus-terusan begini, lo nggak cuma kehilangan Naya. Lo kehilangan diri lo sendiri.” --- Sementara itu, di tempat lain, Naya sedang duduk di sebuah kafe kecil di tengah kota. Ia memilih tempat ini karena suasananya yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk. Segelas teh hangat di depannya sudah hampir dingin, tetapi Naya tidak peduli. Pikirannya melayang-layang, mencoba mencerna segala perubahan yang terjadi dalam hidupnya. Teleponnya bergetar, menampilkan nama Dina, sahabatnya. “Dina,” sapa Naya setelah mengangkat telepon. “Naya, kamu di mana sekarang? Aku baru dengar semuanya. Kamu baik-baik saja?” suara Dina terdengar penuh kekhawatiran. Naya tersenyum kecil. “Aku baik-baik saja, Din. Jangan khawatir. Aku butuh waktu untuk menata semuanya.” “Kamu yakin? Aku bisa datang sekarang kalau kamu butuh teman.” “Terima kasih, Dina. Tapi aku butuh waktu sendiri dulu. Aku harus berpikir tentang langkah selanjutnya.” Dina terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, “Kalau begitu, jangan ragu untuk menghubungi aku, ya. Aku selalu ada buat kamu.” Setelah panggilan selesai, Naya menghela napas panjang. Dia tahu Dina hanya ingin membantu, tetapi ada hal-hal yang hanya bisa dia selesaikan sendiri. --- Di rumah, Arga memutuskan untuk membereskan kamar tidur. Ketika membuka laci meja, dia menemukan buku catatan kecil milik Naya. Dia ragu-ragu sebelum akhirnya membukanya. Halaman pertama berisi tulisan tangan Naya: “Mimpi-mimpi kecilku.” Arga membaca halaman-halaman berikutnya, menemukan daftar mimpi Naya yang sederhana namun penuh makna: Membuka toko kue sendiri. Pergi ke Bali melihat matahari terbit. Membantu anak-anak kurang mampu belajar. Arga merasa dadanya sesak. Selama ini, dia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri hingga melupakan mimpi-mimpi kecil istrinya. Dia menutup buku itu perlahan, lalu meletakkannya kembali di laci. --- Beberapa minggu berlalu, dan Naya mulai menemukan ritme hidupnya. Dia tinggal di apartemen kecil yang disewa dengan bantuan Dina. Setiap hari, dia sibuk mencari pekerjaan baru dan menghadiri berbagai kursus memasak untuk mengejar mimpinya membuka toko kue. Suatu sore, saat dia sedang duduk di taman sambil menikmati udara segar, seorang pria mendekatinya. “Permisi, ini tempat duduk kosong?” tanya pria itu sambil menunjuk bangku di sebelahnya. Naya mengangguk. “Silakan.” Pria itu duduk dengan senyum ramah. “Nama saya Raka,” katanya memperkenalkan diri. “Naya,” balasnya singkat. Percakapan ringan pun dimulai. Raka, yang bekerja sebagai konsultan keuangan, tampaknya sangat ramah dan mudah diajak bicara. Dalam beberapa menit, mereka sudah tertawa bersama. “Jadi, kenapa kelihatan sedih di tempat seindah ini?” tanya Raka tiba-tiba. Naya tertegun. “Sedih? Aku nggak sedih, kok.” “Tapi matamu bilang lain,” jawab Raka sambil tersenyum. “Terkadang, kita butuh seseorang untuk berbagi, meskipun cuma untuk mendengarkan.” Naya terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, “Aku baru memulai hidup baru. Kadang rasanya berat, tapi aku yakin ini yang terbaik.” Raka mengangguk, tampak memahami. “Setiap awal baru memang berat. Tapi biasanya, itu juga yang membawa kita ke hal-hal terbaik.” Kata-kata itu melekat di hati Naya. Percakapan mereka terus berlanjut hingga senja tiba, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Naya merasa sedikit lebih ringan. --- Di sisi lain, Arga mulai menghadapi kenyataan hidupnya dengan lebih baik. Dia mendatangi terapis untuk berbicara tentang masa lalunya dengan Karin, sesuatu yang selama ini dia hindari. “Melepaskan itu bukan berarti melupakan,” kata sang terapis. “Melepaskan berarti menerima bahwa masa lalu itu adalah bagian dari hidupmu, tetapi tidak mendefinisikan siapa kamu sekarang.” Kata-kata itu menjadi titik balik bagi Arga. Dia mulai memahami bahwa untuk benar-benar move on, dia harus memaafkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi di masa lalu. Suatu malam, dia duduk di meja makan, menuliskan surat kepada Naya: “Naya, Aku tahu kita sudah memilih jalan masing-masing. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku menyesal tidak bisa menjadi suami yang lebih baik untukmu. Aku harap kamu menemukan kebahagiaan yang layak kamu dapatkan. Terima kasih telah menjadi bagian dari hidupku, meskipun hanya sementara.” Arga menyimpan surat itu di sebuah kotak kecil bersama buku catatan Naya yang masih ia simpan. Kotak itu menjadi pengingat baginya, bahwa cinta sejati tidak selalu berarti bersama selamanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD