Bekerja

1116 Words
Setelah dibimbing oleh seorang security ke sebuah ruangan khusus di lantai enam belas, Palupi menatap seluruh ruangan dengan mata berbinar. Pagi ini setelah melalui bujukan Papa dan Mama, Palupi memutuskan bekerja sama dan datang untuk bekerja. Dia menyesuaikan penampilannya dengan baik, mengambil setelah kerja berwarna gelap—setelan paling sederhana yang mampu ia temukan di lemari lantai tiga—dipadukan dengan blazer senada. Rambut Palupi disanggul, sedangkan kakinya terpaksa menggunakan sepatu berhak sepuluh centi. Penyiksaan. Lagi-lagi penyiksaan. Palupi sudah membongkar semua koleksi sepatunya di rak khusus, dan semuanya tak ada yang memiliki hak di bawah sepuluh centi. Palupi berduka untuk dirinya sendiri, dalam hati diam-diam berjanji akan membeli sepatu yang lebih nyaman. Mungkin kets? "Wow! Bagus juga!" Palupi mengamati ruangan khusus ini dengan pandangan puas. Dua meja dari kayu jati berlapis ditempatkan di tengah dan sudut kiri ruangan. Ada lukisan abstrak—diperkirakan harganya pasti tujuh digit atau lebih—yang digantung di dinding menghadap pintu masuk. Lemari kaca besar tampak megah di sisi kanan ruangan, dipenuhi banyak file dan berkas yang entah isinya apa. Palupi berjalan menuju kursi utama dan menatap seperangkat komputer dengan tipe dan merk yang pernah ia damba-dambakan sebelumnya. Belum habis kekaguman yang ia rasakan, tatapan matanya telah berhenti di papan nama dan keterangan jabatan di atas meja. Chief Executive Officer Palupi Mahardika M.E. "Wow!" Palupi meraih papan nama tersebut, berputar dua kali, dan berteriak antusias. Jadi sekarang dia adalah CEO? CEO? Setelah semua tindakan sembrono yang ia lakukan sepanjang hari-harinya di sekolah, setelah semua pendapat buruk orang-orang tentangnya, setelah semua penghakiman yang ia terima, kini dia menjadi CEO. Ah. Sungguh beruntung. Tampaknya bekerja mulai sekarang tidak lagi menjadi kegiatan yang buruk. Bukankah CEO kerjanya ringan? Semua telah dikerjakan oleh oknum-oknum yang jabatannya ada di bawah Palupi. Hidup Palupi pasti laksana surga. Duduk manis, santai, jadi bos, dan tinggal suruh ini itu. Ini baru hidup yang sebenarnya. Nasib baik telah datang pada Palupi, dan dia tak akan menolak semua ini. Palupi duduk dengan angkuh di atas kursi putar, tersenyum layaknya bos, dan bersenandung bahagia. Surga dunia. Punya uang. Punya jabatan. Punya identitas. Ah. Sempurna. "Pagi, Bu!" Seorang lelaki berusia dua puluhan masuk ke ruangan Palupi dengan membawa nampan minuman lemon tea kesukaan Palupi. Palupi menatap nama dan seragam office boy yang pemuda itu kenakan. Slamet. Pemuda yang ramah, manis, dan sopan. Hari-hari Palupi semakin sempurna. "Slamet! Sini sini! Taruh sini minumannya!" Palupi menghentikan Slamet saat pemuda itu akan menempatkan minuman di meja sudut yang lebih kecil. "Mau ditaruh di meja situ?" Slamet mengerutkan dahi. Palupi selalu tak suka ada makanan atau pun minuman yang ditaruh di meja utama, dekat dengan komputer. Pernah sekali waktu minumannya tumpah dam membasahi dokumen penting. Hasilnya, Slamet sempat dimarahi dan disalahkan. Kecerobohan Palupi membuat pekerjaan Slamet dipertaruhkan. Meski emosi Palupi tidak terlalu meledak-ledak, wanita itu sering bertindak tegas dan cenderung tanpa hati. Beberapa karyawan bisa dipecat hanya karena kesalahan sederhana. "Iya! Taruh sini aja!" Untuk apa minuman itu sengaja ditaruh jauh dari Palupi? Pengaturan ini tak masuk akal. "Nanti kalau tumpah dan mengacaukan dokumen penting, gimana, Bu? Bukannya lebih baik ditaruh di sini aja?" Slamet sedikit bingung. Dia tak ingin melakukan kesalahan serupa. Bagaimanapun, ibunya sedang sakit dan dia butuh pekerjaan ini untuk menebus banyak obat-obatan. "Nggak nggak! Taruh sini aja!" Palupi tak mau kalah. "Tapi, Bu—" "Udah, buruan!" Tak bisa membantah, Slamet hanya bisa meletakkan minuman tersebut di meja utama. Slamet segera berbalik pergi dengan keringat dingin. Jika sampai hari ini ada dokumen yang kacau lagi, bisa jadi hari ini adalah hari terakhirnya bekerja. Palupi menikmati lemon tea, mengangguk puas, dan memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri di atas kursi dengan nyaman. Jika hari-harinya ke depan akan terus sebaik ini, dia tak menyesal bekerja di sini. Perusahaan yang Palupi urus adalah sebuah perusahaan ekspor yang mengkhususkan diri membersihkan sarang burung walet dan menjualnya dalam bentuk jadi ke China. Pasarannya sejauh ini cukup memuaskan. Bangunan lain di sebelah kiri digunakan sebagai tempat produksi. Sementara dua lantai di gedung ini, menjadi kantor utama. "Pagi, Bu!" Salsa, seorang wanita berusia dua puluh enam tahun dengan tubuh langsing dan wajah bulat menyenangkan, datang dengan setumpuk dokumen. Palupi termenung sejenak, kemudian mengingat secara samar-samar wanita ini adalah sekretarisnya. Kinerjanya cukup kompeten dam sigap. Dia juga selalu bersedia bekerja lembur, sehingga jasanya bisa digunakan fleksibel. "Pagi, Salsa!" Palupi mengangguk malas, masih sibuk dengan lemon tea di tangan. Salsa mengerjapkan mata beberapa kali. Sepertinya ada yang berbeda dengan atasannya kali ini. Mungkinkah bajunya? Cara make up? Atau mungkin sikapnya yang tampak malas dan santai? Salsa tersenyum kecil, mencoba menepiskan kecurigaannya. Lupakan. Mungkin dia terlalu berlebihan menilai Palupi. Bisa saja Palupi saat ini sedang dalam suasana hati yang sangat baik, sehingga membawa perbedaan. Ya. Pasti begitulah yang terjadi. "Ini adalah laporan yang sempat tertunda karena ketidakhadiran Ibu beberapa hari yang lalu." Salsa menyerahkan sebagian dokemen. "Dan ini adalah laporan yang Ibu minta terakhir kali sebelum Ibu mengambil cuti nikah!" Salsa memberikan dokumen lainnya yang masih tersisa. Palupi menatap semua dokumen tersebut dengan horor. Apa ini? Apa ini? "Tunggu tunggu!" Palupi merasa tak nyaman. "Ini dokumen apa?" "Laporan produksi partai terakhir dari Manager Produksi, laporan buku besar bulan lalu, laporan penjualan terakhir, laporan harga terbaru penjualan yang saat ini digunakan China, dan laporan pajak. Satu lagi! Ini ada beberapa laporan keluhan dan komplain dari buyer kita. Ada dua laporan yang akan menyusul. Laporan pembelian yang ada di Kalimantan, dan beberapa usulan strategi market dari divisi Marketting!" Laporan. Laporan. Laporan. Laporan. Kepala Palupi mulai pusing mendengarnya. Tiba-tiba perutnya terasa mual dan pantàtnya terasa panas. Tanda-tanda ini tampaknya bukan tanda-tanda yang baik. "Bu, berhubung ibu sudah aktif kembali, Manager Produksi meminta rapat hari ini atas tertundanya rapat yang seharusnya dijadwalkan empat hari yang lalu. Manager Keuangan juga mengalami hal serupa. Bagaimana jika saya jadikan rapat ini jadi rapat bersama? Ibu akan mempelajari laporan ini dulu sebagai bahan evaluasi, ataukah perlu saya jadwalkan rapat lebih dulu?" Salsa bertanya dengan sikap profesional. Meskipun rumor mulai menyebar di perusahaan terkait pelarian Palupi pada hari pernikahan, setiap karyawan yang ada berusaha bersikap profesional, mencoba tidak menunjukkan perubahan sikap dan kinerja mereka. Palupi adalah wanita yang sangat mudah tersinggung. Tidak baik jika dia tersinggung langsung oleh sikap karyawannya sendiri terkait dengan urusan pribadinya. Karena itulah Salsa berusaha dengan baik memperlakukan Palupi seperti biasanya, seolah-olah kejadian heboh dua minggu yang lalu tidak pernah terjadi sama sekali. "Kamu keluar dulu! Biar saya pelajari dokumen ini!" Palupi mengibaskan tangan, membiarkan sekretarisnya keluar dengan anggun dan menutup pintu nyaris tanpa suara. Ada ruangan kecil di sebelah Palupi. Ruangan itu digunakan sebagai tempat Salsa bekerja, mengingat Palupi tak suka satu ruangan dengan orang lain. Setelah kepergian Salsa, Palupi menatap semua dokumen yang terserak di atas meja dengan tatapan ngeri. Tragedi apa lagi ini? … 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD