Tiga belas hari telah berlalu. Palupi perlahan-lahan mulai menerima perubahan dengan baik. Dia sekarang hidup sebagai Palupi Mahardika, dengan dua orang tua lengkap yang memberinya kasih sayang secara utuh. Meskipun Galuh adalah seorang ayah yang terlalu memanjakan putri dan istrinya di luar kontrol, tetapi secara keseluruhan ia adalah sosok yang baik. Sementara Rosalin, dia sosok Mama yang cerewet, tetapi penuh cinta keibuan. Bisa dibilang Palupi beruntung mendapatkan kedua orang tua ini, mengingat sebelumnya ia hidup nyaris tanpa orang tua sama sekali.
Ada rumus yang terkadang dinilai keluar logika. Ada variabel-variabel asing di dunia ini yang mampu menjadi pemicu keajaiban. Kesempatan kedua Palupi adalah salah satunya.
Dia tak pernah tahu bagaimana bisa Tuhan memberinya kehidupan baru lagi. Mungkinkah seharusnya dia tidak mati dan entah bagaimana takdir melakukan kesalahan sehingga jiwanya dialihkan? Atau mungkin di kehidupan sebelumnya Palupi pernah melakukan kebajikan luar biasa sehingga mampu menghindari kematian dan bertransformasi jiwa?
Entah alasan apa pun itu, yang jelas Palupi sangat bersyukur dengan keadaan ini.
Meski begitu, ada sesuatu yang mengganjal di hati Palupi. Dia memiliki tebakan kasar, tetapi ia perlu mengonfirmasinya secara langsung. Akhirnya di suatu sore, Palupi menyempatkan diri mendatangi sebuah lokasi setelah ia mencari informasi sebelumnya secara akurat.
Apa yang terjadi, sesuai dengan tebakan hatinya.
Palupi menatap sebuah nisan di depannya, dengan ukiran nama "Arcella Palupi Windari". Di bawahnya, terukir tanggal kematian. Tanggal kematian yang sama dengan tanggal ia menetap ke tubuh barunya.
Jadi benar. Seharusnya Palupi telah meninggal. Entah bagaimana nasib jiwa sesungguhnya dari tubuh yang ia diami saat ini.
Diam-diam, ada rasa bersalah yang mulai merasuk ke hati Palupi. Ada sebuah jiwa yang berkorban untuknya. Ada sebuah jiwa yang menggantikan kematiannya. Semua ini membuat Palupi merasa rumit.
Setelah berdiri hampir seperempat jam di makam ini, akhirnya Palupi mengusap nisan dan berbisik lirih.
"Siapa pun kamu. Terimakasih telah memberikan hidup baru untukku! Mungkin, aku egois karena mengambil sesuatu yang seharusnya milikmu. Tapi percayalah! Karena ini sudah terjadi, aku akan menjalani hidupmu dengan baik, menjaga setiap orang-orang yang beeharga di sekelilingmu!"
Akhirnya, hanya inilah yang bisa Palupi sampaikan pada jiwa yang bersemayam di bawah pusara atas namanya.
Sebuah kesempatan harus dimanfaatkan dengan baik. Dan sebagai rasa terimakasihnya, Palupi akan menjaga orang-orang di sekeling tubuh ini sebelumnya yang dianggap penting. Semuanya … kecuali Devano. Untuk satu orang itu, demi apa pun juga, Palupi tak akan pernah mau menggantikan jiwa sebelumnya menikahi Devano.
Masalah cinta masalah lain. Palupi tak ingin mememjarakan hidupnya sendiri dengan masuk ke dalam pernikahan yang tak ia inginkan.
Setelah berdiri kembali, Palupi menatap makan itu selama beberapa detik sebelum akhirnya berbalik dan pergi. Kening Palupi berkerut dalam. Ada mawar bekas nyekar di atas makamnya. Mawar itu masih cukup baru, mungkin diberikan satu atau du hari yang lalu. Hanya saja pertanyaannya adalah, siapa yang mau repot-repot nyekar untuknya? Seluruh keluarga Nehan Abimanya tak ada yang dekat dengannya. Tidak mungkin salah satu dari mereka. Apakah mungkin itu dari teman-teman sekolahnya? Tapi ini sudah hampir dua minggu "Palupi" meninggal. Apakah teman-temannya masih setia "mengunjunginya"?
Membayangkan kemungkinan ini, senyum Palupi tertarik dengan sempurna. Teman-temannya selalu melakukan yang terbaik. Tiba-tiba, Palupi merasakan kerinduan yang amat besar. Kapan dia bisa menyapa kembali teman-temannya dulu?
Mungkinkah bulan depan? Tahun depan? Atau mungkin tak akan pernah?
Wajah Palupi sedikit mendung. Dia belum bisa menemui teman-teman lamanya saat ini. Lebih tak bisa lagi mengatakan apa yang terjadi, mengingat perpindahan jiwa mungkin kasus yang hanya terjadi satu persen di seluruh dunia. Jika dia menceritakan semua itu, sudah pasti semua orang meragukan akal sehatnya. Predikat "orang kaya gila" masih membuatnya bergidik ngeri.
Tampaknya segala sesuatu berjalan tak semudah teori yang ada.
…
Keesokan harinya, Palupi dibangunkan paksa oleh Mbak Sari dan diseret sarapan ke ruang makan untuk menemani kedua orang tuanya. Mata Palupi masih sulit terbuka seratus persen, mengingat ia tadi malam begadang menonton pertandingan bola.
"Sayang, jadi wanita itu jangan terlalu manja. Nggak boleh mengumbar kebiasaan bangun sesiang ini. Apa kabar nanti kalau kamu jadi ibu, heh? Mau kamu didik anak-anakmu dengan cara ini?" Mama menatap Palupi tak suka. Akhir-akhir ini, putrinya tak pernah bangun sebelum jam sembilan. Jam aktifitas Palupi dimulai adalah sekitar pukul sembilan dan sepuluh pagi. Sudah berkali-kali Palupi sering menggabungkan antara sarapan dan makan siang bersama. Bukan karena diet, tapi karena dia selalu bangun kesiangan. Rosalin lama-lama mulai menyerah dengan anak itu. Di masa depan, mungkin dia memang ditakdirkan membesarkan sapi perah dan pemalas.
Sejak hari pembatalan pernikahan, Palupi semakin banyak menunjukkan kesenjangan kebiasaan dari pemilik sebelumnya. Hal yang paling vokal adalah Palupi memilih mengabaikan pekerjaan-pekerjaan yang bisa ia lakukan sebelumnya. Inilah alasan kenapa Mbak Sari membangunkannya pagi ini.
"Kamu sudah lama nggak liat perkembangan usaha pembersihan sarang burung walet kita dan mempelajari perkembangan proyek perumahan yang akan kita pasarkan di bawah naungan nama keluarga Hadyan!" Papa mengingatkan, mencoba menarik ketertarikan putrinya pada salah satu8 bisnis yang mereka kelola.
"Diurus Papa semua aja!" Dengan enteng, Palupi membalas usulan Papa. Dia tahu dengan baik maksud Papa. Galuh pasti ingin Palupi kembalu aktif bekerja seperti sebelumnya, membantu menangani sebagian usaha keluarga milik keluarga Hadyan.
Dalam hal ini, Palupi dengan bijak mengundurkan diri. Dia tak memiliki ketertarikan kuat pada bisnis-bisnis seperti itu. Untuk apa harus membebani dirinya sendiri dengan melakukan hal-hal yang tak ia suka?
"Kebiasaan! Jangan terlalu plin plan. Kamu sudah dewasa sekarang, jadi jangan ambil tindakan maju mundur begini!" Papa mulai terdengar galak.
Palupi hanya cengengesan. Tampaknya jiwa asli pernah mencoba menghindari tanggung jawab seperti ini sebelumnya, sehingga tindakan Palupi saat ini hanya dinilai sebagai tindakan plin plan atas keputusannya dalam bekerja.
"Terakhir kali kamu berjanji sama Papa akan serius bantuin Papa mengawasi dan menjalankan bisnis." Galuh masih sibuk mengingatkan. "Kamu itu anak tunggal, Sayang! Kalau kamu nggak belajar bisnis Papa, siapa yang mau mewarisi kerja keras Papa? Percuma ambil pendidikan tinggi kalau pada kenyataannya tak ada hasil nyata sama sekali!"
Palupi merasa telinganya mengalami gangguan tinnitus mendadak saat mendengar Papa tam habis-habisnya menceramahi Palupi. Jika ini tetap berlanjut, Palupi khawatir telinganya sakir secara permanen. Jadi, akhirnya dengan enggan Palupi menganggukkan kepala. "Oke, oke, Pa! Hari ini Palupi kerja lagi bantuin Papa!"
Saat tak ada cara membujuk yang tersisa, terkadang kita harus berkompromi demi kemaslahatan bersama. Ini hanya langkah mundur sementara sebelum mengambil manuver lain dan mengalihkan kemauan kita.
Bekerja seharusnya tidak terlalu buruk, 'kan?
"Bagus! Bagus! Memang seharusnya beginilah anak Papa!" Galuh manggut-manggut dengan puas, membiarkan lemak yang bergelambir di bawah dagunya terayun maju mundur karena gerakannya yang antusias. Palupi menggosok pelipisnya. Benarkah lelaki di depanya ini sungguh ayah biologis tubuh ini? Kenapa ada banyak perbedaan?
"Ayo sarapannya dihabiskan, sudah siang! Palupi, jangan lupa habis ini kamu mandi dan berangkat ke gudang produksi sarang burung walet! Supaya kamu mengikuti perkembangan apa saja yang terjadi selama dua minggu ini!" Rosalin mengingatkan, membuat suasana hati Palupi semakin jatuh ke bawah tanpa terkendali.
Kerja. Sungguh kegiatan yang saat ini sangat ingin ia hindari.
…
….